AKU MENIKAHI ANAK ORANG KAYA DEMI UANGNYA.

AKU MEMBUATNYA JATUH CINTA, LALU AKU MENINGGALKANNYA SAAT AKU BOSAN.

DAN AKU KIRA HIDUP AKAN BAIK-BAIK SAJA.

Namanya Nisa.

Anak tunggal Pak Haji Rahmat. Bos sawit paling disegani di kabupaten kami. Rumahnya besar. Dua lantai. Pagar hitam tinggi. Mobil Fortuner putih terparkir rapi di garasi yang lantainya mengilap seperti kaca.

Aku pertama kali ke sana pakai motor bebek tua. Knalpotnya berisik. Satpam menatapku dari atas sampai bawah.

Aku pura-pura grogi. Padahal aku sudah menyusun semuanya.

Nisa berbeda dari bayanganku tentang anak orang kaya. Tidak sombong. Tidak banyak gaya. Hijabnya polos. Senyumnya lembut. Suaranya pelan.

Dia gampang percaya.

Aku tahu caranya membuat perempuan merasa dipahami. Aku tahu kapan harus diam. Kapan harus bilang, “kamu capek ya?”

Kami sering duduk di teras belakang rumahnya. Bau tanah basah setelah hujan. Kipas angin berdengung pelan. Dia cerita tentang tekanan jadi anak Pak Haji.

“Ayah selalu bilang aku harus nikah sama orang yang bisa jaga bisnis,” katanya suatu malam.

Aku menggenggam tangannya. “Aku nggak butuh bisnis ayahmu.”

Padahal itu tujuanku.

Enam bulan pacaran, aku sudah ikut rapat sawit. Duduk di samping Pak Haji. Pakai kemeja baru. Jam tangan yang Nisa belikan.

Aku mulai pegang proyek kecil. Dana cair cepat kalau lewat Nisa.

Setahun kemudian kami menikah.

Gedung serbaguna penuh. Catering mahal. Lampu-lampu kristal menggantung. Aku berdiri di pelaminan. Senyum lebar. Di bawah, orang-orang kampungku berbisik kagum.

Aku menang.

Setelah menikah, hidupku berubah cepat. Mobil. Rumah kecil hadiah dari Pak Haji. Transfer bulanan ke rekeningku.

Tapi Nisa tetap sama.

Dia bangun pagi. Masak sendiri. Kadang masih naik motor kalau ke minimarket dekat rumah, meski punya mobil.

Aku mulai bosan.

Bukan karena dia jahat.

Justru karena dia terlalu baik.

Dia percaya semua ucapanku. Tidak pernah cek ponselku. Tidak pernah tanya detail proyek.

Di luar sana, aku mulai kenal perempuan lain. Lebih berani. Lebih menantang.

Nisa mulai jarang tertawa.

Suatu malam, dia berdiri di dapur. Lampu putih neon membuat wajahnya pucat.

“Kamu berubah,” katanya pelan.

Aku tidak jawab.

Notifikasi WhatsApp masuk. Nama perempuan lain muncul di layar. Aku cepat-cepat membalikkan ponsel.

Nisa melihat.

Dia tidak marah. Hanya duduk di kursi plastik dapur. Diam lama.

Beberapa minggu kemudian, aku yang mengajukan cerai.

Alasanku klasik. “Kita sudah nggak cocok.”

Pak Haji tidak bicara apa-apa waktu itu. Hanya menatapku lama di ruang tamu besar rumahnya.

Aku keluar dari gerbang dengan perasaan ringan.

Aku pikir hidupku tetap aman. Aku masih punya koneksi. Masih punya proyek.

Ternyata tidak.

Dalam tiga bulan, semua proyek ditarik. Kontrak diputus. Teleponku tidak lagi diangkat.

Aku mencoba menghubungi Pak Haji. Tidak pernah dibalas.

Uangku menipis cepat.

Perempuan-perempuan yang dulu mendekat, satu per satu menghilang.

Rumah hadiah itu ternyata atas nama Nisa. Aku harus keluar.

Aku pindah ke kontrakan sempit di belakang pasar. Dindingnya lembap. Kamar mandi bau selokan.

Malam-malamku sunyi. Hanya suara motor lewat gang dan toa masjid subuh.

Aku mulai memikirkan Nisa.

Teringat caranya menyeduh teh. Caranya menutup pintu pelan supaya aku tidak terbangun. Caranya menatapku saat aku bicara tentang mimpi-mimpi kosongku.

Tanganku gemetar setiap kali membuka galeri lama di ponsel.

Aku mencoba menemuinya.

Rumah Pak Haji tetap megah. Tapi satpam tidak lagi ramah.

“Nisa sudah jarang ke sini,” katanya.

“Dia di mana?”

“Di kota.”

Beberapa minggu kemudian, aku melihat fotonya di Instagram.

Dia tersenyum. Berdiri di samping seorang pria. Jas rapi. Background gedung tinggi Jakarta.

Captionnya singkat: Bismillah.

Jantungku terasa ditekan.

Aku mulai sadar. Yang kurasakan bukan sekadar kehilangan uang.

Aku kehilangan dia.

Aku menghubunginya berkali-kali. Tidak dibalas.

Sampai suatu sore, aku mendapat undangan digital lewat WhatsApp dari nomor tak dikenal.

Nama pengantin perempuan: Nisa Rahmat.

Nama pengantin pria: seorang direktur perusahaan logistik di Jakarta.

Akad dua minggu lagi.

Tanganku berkeringat.

Aku duduk di lantai kontrakan. Ubin dingin menempel di kulit.

Aku baru sadar aku mencintainya.

Bukan karena uangnya.

Bukan karena ayahnya.

Karena dia satu-satunya orang yang pernah percaya padaku tanpa syarat.

Dua hari sebelum akad, aku nekat ke Jakarta.

Gedung hotel sudah dihias. Karpet merah. Petugas WO mondar-mandir.

Aku melihat Nisa dari jauh.

Dia lebih dewasa. Lebih tenang.

Aku mendekat.

“Nisa…”

Dia menoleh.

Tatapannya tidak marah.

Tidak benci.

Kosong.

“Aku salah,” kataku.

Dia tidak langsung jawab.

Lalu pelan dia berkata, “Kamu datang terlambat.”

Aku hampir berlutut di lobi hotel itu.

Tapi sebelum aku bisa bicara lagi, seorang pria berdiri di sampingnya.

Tinggi. Tenang. Tatapannya tajam ke arahku.

Dia menggenggam tangan Nisa.

Dan Nisa tidak melepaskannya.

Pria itu tidak berkata apa-apa. Hanya berdiri setengah langkah di depan Nisa, cukup untuk membuatku sadar aku sudah bukan siapa-siapa di sini. Jasnya abu-abu gelap, potongannya pas di badan. Tangannya tetap menggenggam tangan Nisa, tapi bukan dengan cara posesif—lebih seperti seseorang yang tahu apa yang sedang dia lindungi. Aku bisa melihat nadi di leherku sendiri berdenyut di pantulan kaca lobi hotel. Udara wangi parfum mahal bercampur pendingin ruangan terasa menusuk. “Nisa, aku cuma mau bicara sebentar,” suaraku serak, jauh dari percaya diri yang dulu sering kupamerkan. Dia menatapku datar. Tidak ada getar. Tidak ada sisa perempuan yang dulu duduk di kursi plastik dapur sambil menahan air mata. “Semua sudah selesai,” katanya pelan. Kalimat itu pendek, tapi menghantam seperti pintu besi ditutup keras tepat di wajahku. Pria di sampingnya akhirnya bersuara. Tenang. Terkontrol. “Mas, sebaiknya pulang.” Logat Jakartanya halus, tidak meninggi. Itu justru membuatku makin kecil. Aku hampir menjawab, tapi Nisa menarik napas panjang, lalu berkata, “Kita sudah pernah bicara soal ini, kan?” Aku terdiam. Pernah? Kapan?

Dia membuka tas kecilnya. Mengeluarkan sebuah amplop cokelat. Sudutnya sedikit terlipat. “Aku sebenarnya mau kasih ini setelah akad. Tapi mungkin memang harus sekarang.” Tanganku gemetar saat menerima amplop itu. Beratnya tipis, tapi rasanya seperti batu. Pria itu tetap di sana. Tidak menghalangi. Hanya mengawasi. Di dalamnya ada fotokopi rekening koran atas namaku. Tiga tahun lalu. Angka-angka transfer masuk berjejer rapi. Jumlah besar. Berkali-kali. Sumbernya sama: perusahaan sawit milik ayahnya. Jantungku mulai tidak nyaman. “Aku tahu semuanya sejak sebelum kita menikah,” suara Nisa stabil. “Tentang proyek fiktif itu. Tentang fee yang kamu ambil diam-diam.” Darahku seperti turun ke kaki. “Itu… itu cuma sistem pembagian biasa,” kataku, tapi suaraku terdengar tipis bahkan di telingaku sendiri. Dia menggeleng pelan. “Ayah tahu. Dari awal.”

Aku menatapnya tidak percaya. Bayangan ruang tamu besar itu muncul lagi. Tatapan Pak Haji yang lama dan hening sebelum aku keluar gerbang. Bukan tatapan orang yang kalah. Tapi orang yang sudah menghitung. “Ayah sengaja biarkan kamu merasa menang,” lanjut Nisa. “Semua proyek yang kamu pegang itu proyek yang memang sudah mau dihentikan.” Tanganku melemas. Jadi selama ini aku bukan pemain. Aku umpan. Aku ingat bagaimana kontrak-kontrakku tiba-tiba diputus. Bagaimana telepon tak lagi diangkat. Bukan karena marah. Tapi karena memang dari awal aku tidak pernah benar-benar diberi apa-apa. “Tapi aku tetap menikah denganmu,” katanya lagi. Untuk pertama kalinya ada sesuatu yang retak di matanya. “Karena aku pikir kamu bisa berubah.” Kalimat itu tidak keras, tapi terasa paling kejam. Jadi dia tahu. Dan tetap memilih percaya. Bukan karena bodoh. Tapi karena berharap.

Aku ingin bicara. Ingin membela diri. Tapi memori-memori kecil menyerang lebih dulu. Cara dia menyeduh teh. Cara dia menutup pintu pelan. Semua itu bukan kepolosan. Itu pilihan. Pria di sampingnya akhirnya bergerak sedikit lebih dekat. “Mas, surat aslinya masih ada,” katanya. “Kalau keluarga Nisa mau, kasus itu bisa dibuka lagi.” Nadanya tetap sopan. Tapi pesannya jelas. Ini bukan sekadar pernikahan baru. Ini garis batas. “Nisa…” suaraku pecah, “kamu nggak pernah bilang…” Dia menatapku untuk terakhir kalinya sore itu. “Karena aku ingin kamu mencintaiku tanpa takut.” Sunyi beberapa detik. Lalu dia menambahkan, lebih pelan, “Tapi kamu memang tidak pernah benar-benar mencintaiku waktu itu.”

Kata “waktu itu” menggantung. Seolah ada kemungkinan lain yang sengaja tidak dia lanjutkan. Aku menatap pria itu lagi. Tiba-tiba ada sesuatu yang ganjil. Wajahnya seperti pernah kulihat. Di ruang rapat lama. Duduk di ujung meja. Diam. Mengamati. Direktur logistik Jakarta, kataku dalam hati. Atau seseorang yang memang sejak awal dikirim untuk memastikan aku tidak menghancurkan lebih dari yang seharusnya? “Besok pagi kami akad,” kata pria itu akhirnya. “Dan setelah itu, semua ini benar-benar selesai.” Nisa melepaskan tanganku yang sejak tadi tanpa sadar menggenggam ujung amplop. Dia berbalik. Gaunnya yang sederhana bergerak pelan mengikuti langkahnya. Aku berdiri di tengah lobi, sendirian, dengan kertas-kertas bukti di tangan. Sebelum pintu lift menutup, Nisa menoleh sekali lagi. Bukan dengan kosong. Tapi dengan sesuatu yang lebih sulit kuterjemahkan. Penyesalan? Atau rahasia lain yang belum dia buka? Lift tertutup. Pantulan wajahku sendiri tersisa di dinding kaca. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar mungkin pernikahan besok bukan satu-satunya hal besar yang sedang disiapkan keluarga itu untukku.

Telepon itu datang lima belas menit setelah lift menutup. Nomor tidak dikenal. Aku masih berdiri di lobi, amplop cokelat terlipat di tangan, keringat dingin merembes di punggung. “Selamat sore. Kami dari kuasa hukum PT Rahmat Agro,” suara pria di seberang tenang, formal. “Mas sudah menerima salinan dokumen, ya?” Aku tidak menjawab. Tenggorokanku kering. “Besok pagi sebelum pukul sembilan, kami tunggu klarifikasi tertulis. Jika tidak, proses hukum tetap berjalan.” Sambungan terputus. Sunyi di sekelilingku terasa lebih keras dari teriakan.

Aku keluar hotel dengan langkah goyah. Jakarta menjelang magrib padat dan bising. Lampu kendaraan menyala satu per satu, klakson saling sahut. Di kaca halte, wajahku tampak pucat. Aku membuka lagi amplop itu. Angka-angka transfer seperti menatap balik. Bukan sekadar bukti. Itu peta kebohonganku sendiri. Angin sore membawa bau asap dan gorengan. Perutku mual.

Ponselku bergetar lagi. Kali ini pesan singkat dari nomor yang sama. Alamat kantor notaris. Jam delapan pagi. Di bawahnya ada satu kalimat: “Kesempatan hanya sekali.” Jempolku gemetar di atas layar. Aku bisa saja naik bus malam, kembali ke kontrakan, pura-pura tidak tahu. Aku pernah pandai menghilang. Tapi untuk pertama kalinya, pilihan kabur terasa lebih menakutkan daripada tinggal.

Aku duduk di bangku halte. Mengingat dapur kecil itu. Lampu neon. Nisa yang berkata, “Kamu berubah.” Waktu itu aku memilih diam. Sekarang, diam berarti tenggelam. Aku menutup mata. Suara adzan dari masjid seberang jalan terdengar tipis tertelan mesin-mesin. Dulu aku sering berjanji akan berubah setelah dapat yang kuinginkan. Sekarang tidak ada lagi yang bisa diambil.

Malam itu aku tidak kembali ke hotel. Aku menyewa kamar murah di gang sempit dekat stasiun. Spreinya kasar. Dindingnya tipis. Aku menyalakan lampu meja yang redup dan menulis. Bukan pembelaan. Pengakuan. Satu per satu proyek fiktif itu kucatat. Tanggal. Nominal. Cara aku menyelipkan fee. Tanganku pegal, tapi untuk pertama kalinya aku tidak berusaha membenarkan apa pun. Pukul dua dini hari, aku memotret surat itu dan mengirimkannya ke nomor kuasa hukum. Tidak ada balasan.

Pagi datang terlalu cepat. Aku berdiri di depan kantor notaris yang disebutkan. Gedungnya rapi, kaca bening, satpam berseragam menyapaku datar. Di ruang tunggu, pria berjas abu-abu itu sudah ada. Duduk tegak. Wajahnya tetap tenang seperti kemarin. Di meja resepsionis, map biru tergeletak. Namaku tertulis di sudutnya. “Mas datang,” katanya singkat. Tidak ada senyum.

Pintu ruang rapat terbuka. Dan di dalam, Pak Haji Rahmat sudah duduk. Lebih kurus dari yang kuingat. Sorot matanya tajam, tapi tidak marah. Di sampingnya, kursi kosong. Untukku. Aku melangkah masuk. Suara AC mendesis pelan. Map biru didorong ke arahku. “Baca,” katanya.

Isinya bukan tuntutan. Bukan ancaman. Itu pernyataan pengakuan yang sudah dirapikan secara hukum. Lengkap dengan skema pengembalian dana dan opsi pelaporan pidana jika aku mengingkari. Di halaman terakhir ada satu tambahan: pengunduran diri permanen dari seluruh afiliasi bisnis keluarga. Tanda tangan Nisa tercetak sebagai saksi. Tanganku berhenti di atas kertas itu. Nafasku berat.

“Kenapa sekarang?” tanyaku, suaraku sendiri terdengar asing. Pak Haji menatapku lama. “Karena kamu akhirnya datang tanpa meminta apa-apa.” Kalimat itu tidak lembut. Tapi tidak juga menghina. Hanya fakta. Aku menelan ludah. “Saya siap tanda tangan,” kataku. Tidak ada drama. Tidak ada tawar-menawar.

Saat pena menyentuh kertas, pintu kembali terbuka. Nisa masuk. Hijabnya polos seperti dulu. Wajahnya tenang. Dia berdiri beberapa langkah dariku. Tidak mendekat. Tidak menjauh. Aku menandatangani halaman terakhir. Suara gesekan pena terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Setelah selesai, aku mendorong map itu kembali.

“Nisa,” kataku pelan. Dia menatapku. Tidak ada kebencian di sana. Hanya jarak. “Aku tidak datang untuk menghentikan akadmu,” lanjutku. “Aku datang untuk menghentikan kebohonganku.” Kalimat itu terasa berat, tapi tidak lagi menusuk. Dia menarik napas perlahan. “Terlambat untuk kita,” katanya. “Tapi tidak terlambat untuk kamu.”

Pria berjas abu-abu berdiri di ambang pintu. Waktu seperti berhenti di antara kami bertiga. Pak Haji mengangguk kecil pada notaris. Proses selesai. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pelukan. Hanya tanda tangan dan konsekuensi.

Aku berdiri. Kakiku terasa ringan sekaligus kosong. Sebelum keluar, aku menoleh. “Besok… semoga lancar,” ucapku. Nisa tidak menjawab. Tapi untuk pertama kalinya sejak kemarin, tatapannya tidak kosong. Ada sesuatu yang lain. Bukan harapan. Bukan juga penolakan. Seperti sebuah pintu yang tidak lagi dikunci, tapi juga tidak dibuka.

Di luar gedung, matahari pagi sudah tinggi. Ponselku bergetar sekali lagi. Pesan dari nomor tak dikenal: “Terima kasih sudah memilih datang.” Tidak ada nama. Tidak ada tanda tangan.

Aku mengangkat wajah. Di seberang jalan, sebuah mobil hitam berhenti sebentar. Kaca belakangnya turun setengah. Aku melihat siluet Nisa di dalamnya. Dia tidak melambai. Hanya menatap lurus ke depan saat mobil itu kembali melaju.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak mengejar.

Besok paginya aku tidak pergi ke hotel. Aku bangun lebih cepat dari biasanya, bukan karena gelisah, tapi karena tubuhku sudah tidak mau lari lagi. Kontrakan sempit itu terasa berbeda. Dinding lembap. Ember biru di sudut kamar mandi. Semua nyata. Tidak ada lagi ilusi gedung kaca atau kartu akses rapat. Di atas meja kayu kecil, salinan pernyataan yang kutandatangani semalam tergeletak rapi. Tinta hitam di namaku sudah kering. Tidak bisa dihapus.

Pukul delapan lewat sepuluh, pesan masuk dari kuasa hukum. “Dokumen diterima. Proses pengembalian dana tahap pertama berjalan.” Singkat. Profesional. Tidak ada ucapan selamat. Aku duduk lama menatap layar. Aku tahu ini baru awal. Cicilan pengembalian itu akan memakan waktu bertahun-tahun. Tapi untuk pertama kalinya, hutang itu terasa seperti jalan keluar, bukan jebakan.

Jam sembilan kurang sedikit, aku mendengar suara sirene jauh di luar gang. Bukan untukku. Hanya ambulans lewat. Tapi jantungku tetap berdetak lebih cepat. Hari ini akad Nisa. Hotel yang sama. Karpet merah yang sama. Aku membayangkan dia duduk di kursi rias, jemarinya dingin, matanya fokus pada cermin. Aku tidak tahu apakah dia menangis atau tidak. Aku tidak lagi berhak tahu.

Pukul sepuluh tepat, ponselku bergetar. Bukan dari nomor asing. Dari Nisa.

Hanya satu pesan.

“Terima kasih.”

Tidak ada emotikon. Tidak ada penjelasan. Aku membaca ulang berkali-kali. Terima kasih untuk apa? Untuk datang? Untuk tanda tangan? Untuk tidak membuat keributan? Aku hampir membalas. Hampir menulis sesuatu yang panjang. Tapi akhirnya hanya mengetik: “Semoga bahagia.” Lalu kuhapus. Kukunci layar tanpa mengirim apa-apa.

Siang itu hujan turun tiba-tiba. Air merembes dari celah atap seng. Aku memindahkan kasur sedikit ke kiri. Lalu terduduk lagi. Anehnya, dadaku tidak sesak seperti kemarin. Ada rasa kosong, iya. Tapi bukan kosong yang memaksa berteriak. Lebih seperti ruangan setelah tamu terakhir pulang.

Sore menjelang magrib, nomor pria berjas abu-abu itu muncul di layar. Aku sempat ragu sebelum mengangkat. “Mas,” suaranya tetap tenang. “Akad sudah selesai.” Kalimat itu menggantung beberapa detik. “Dan laporan pidana tidak kami lanjutkan. Dengan catatan komitmen pengembalian tetap berjalan.” Aku menutup mata. “Saya mengerti,” jawabku pelan.

Sebelum sambungan ditutup, dia menambahkan satu hal yang tidak kuduga. “Nisa yang meminta itu.” Sunyi. Aku tidak tahu harus merasa lega atau hancur. “Dia bilang, hukuman yang paling adil bukan penjara. Tapi hidup dengan pilihan sendiri.” Klik. Telepon mati.

Malamnya, aku berjalan keluar gang. Hujan sudah reda. Bau tanah basah naik dari aspal. Di warung kopi kecil, televisi menayangkan siaran ulang pernikahan selebritas. Orang-orang tertawa, mengomentari gaun pengantin. Aku duduk di bangku plastik. Memesan kopi hitam. Panasnya menyentuh bibirku, pahitnya jujur.

Aku membuka Instagram untuk pertama kali hari itu. Foto Nisa muncul di beranda. Dia duduk di samping pria itu. Wajahnya tenang. Bukan senyum lebar. Tapi damai. Captionnya singkat: “Bab baru.”

Tanganku berhenti di atas layar. Tidak ada rasa ingin merusak. Tidak ada dorongan untuk mengirim pesan panjang. Hanya satu kesadaran pelan yang muncul seperti cahaya tipis di ujung lorong: aku tidak lagi ingin memiliki dia. Aku ingin dia baik-baik saja.

Angin malam bertiup pelan. Aku meneguk sisa kopi. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidak merasa kalah. Aku merasa… selesai dengan diriku yang lama.

Tapi tepat saat aku berdiri hendak pulang, ponselku bergetar lagi.

Nomor tidak dikenal.

Kali ini hanya satu kalimat.

“Kita perlu bertemu lagi. Bukan soal uang.”

Jantungku berdenyut pelan.

Nama pengirimnya membuat langkahku berhenti di tengah trotoar.

Pak Haji Rahmat.

Pertemuan itu bukan di kantor. Bukan di hotel. Tapi di rumah lama yang dulu selalu membuatku merasa kecil. Pagar hitamnya masih sama. Lantai garasinya masih mengilap. Aku datang dengan kemeja sederhana yang sudah dua kali kucuci seminggu ini. Tidak ada mobil. Tidak ada jam mahal. Hanya motor tua yang dulu pernah membuat satpam menatapku sinis.

Pak Haji Rahmat menungguku di teras belakang. Tempat yang sama di mana Nisa dulu sering duduk sambil memegang cangkir teh. Kipas angin berdengung pelan. Bau tanah basah setelah hujan sore masih terasa. Wajahnya lebih tenang dari terakhir kali kulihat. Tidak keras. Tidak juga hangat.

“Kamu datang,” katanya singkat.

“Saya tidak mau lari lagi, Pak,” jawabku.

Dia menatapku lama. Bukan seperti orang yang menginterogasi. Lebih seperti orang yang menilai kayu sebelum dipakai membangun rumah. Di meja ada map tipis. Bukan dokumen hukum. Bukan kontrak.

“Itu laporan perkembangan pengembalian dana kamu,” katanya. “Saya tahu kamu kerja sekarang di gudang distribusi kecil di pinggir kota.”

Aku mengangguk. Tangan kasarku tanpa sadar saling menggenggam.

“Kenapa kamu tetap bayar meski kami sudah tidak lanjutkan pidana?”

Aku tidak langsung menjawab. Angin sore menggerakkan ujung tirai. “Karena itu memang uang yang bukan hak saya, Pak.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu beliau berkata sesuatu yang tidak pernah kuduga.

“Nisa membatalkan pernikahannya.”

Dunia seperti berhenti satu detik. “Apa?”

“Bukan karena kamu,” katanya tegas. “Karena dia sadar dia belum selesai dengan dirinya sendiri. Dia tidak mau menikah hanya untuk menutup luka.”

Dadaku tidak meledak dengan harapan. Justru terasa berat. “Saya tidak datang untuk meminta dia kembali, Pak.”

“Saya tahu,” jawabnya pelan. “Itu sebabnya saya mau bertemu kamu.”

Langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Aku tidak menoleh. Aku sudah tahu siapa itu dari cara napasnya.

Nisa berhenti beberapa meter dariku. Hijabnya sederhana. Tidak ada riasan berlebihan. Dia terlihat lebih dewasa. Lebih kuat.

“Ayah, biar aku saja,” katanya pelan.

Pak Haji berdiri. Masuk ke dalam. Meninggalkan kami berdua di teras yang pernah menyimpan terlalu banyak kebohongan.

Kami tidak langsung bicara.

Hanya suara kipas dan burung sore.

“Aku lihat laporan transfermu tiap bulan,” katanya akhirnya. “Kamu tidak pernah telat.”

“Itu kewajiban,” jawabku.

Dia mengangguk kecil. “Dulu kamu selalu punya alasan. Sekarang tidak.”

Aku tersenyum tipis. “Dulu saya selalu mau terlihat hebat.”

“Sekarang?”

“Sekarang saya cuma mau jadi cukup.”

Tatapannya berubah. Bukan lembut seperti dulu. Tapi jernih. “Aku tidak akan kembali hanya karena kamu berubah.”

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak membatalkan pernikahan karena kamu.”

“Aku tahu.”

Kalimat-kalimat itu tidak menyakitkan. Justru terasa bersih.

“Aku cuma mau bilang satu hal,” lanjutnya. “Aku memaafkanmu.”

Udara terasa lebih ringan. Tapi bukan ringan karena harapan. Lebih seperti beban yang akhirnya diletakkan.

“Aku juga memaafkan diriku sendiri,” kataku pelan.

Dia tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, senyum itu tidak menyisakan luka.

Kami duduk berdampingan beberapa menit. Tidak bersentuhan. Tidak berjanji apa-apa.

Matahari turun perlahan di balik atap rumah.

“Aku mau lanjut sekolah lagi,” katanya tiba-tiba. “Ke luar kota.”

“Itu bagus.”

“Kamu?”

“Aku lagi nabung. Mau buka usaha kecil sendiri. Bukan dari koneksi siapa-siapa.”

Dia tertawa pelan. Bukan mengejek. Bukan sinis. Tertawa yang ringan.

“Akhirnya kamu benar-benar mulai dari nol.”

“Iya.”

Dia berdiri lebih dulu. “Jangan berhenti bayar. Bukan karena kami butuh. Tapi karena itu cara kamu menghargai dirimu sendiri.”

“Aku tidak akan berhenti.”

Kami berjalan sampai pagar depan bersama. Tidak ada pelukan. Tidak ada adegan dramatis.

Sebelum aku naik ke motor, dia berkata pelan, “Kalau suatu hari kita bertemu lagi sebagai dua orang yang sudah selesai dengan masa lalu, kita lihat saja nanti.”

Bukan janji. Bukan penolakan.

Hanya kemungkinan.

Aku menyalakan mesin motor. Kali ini suara knalpot tua itu tidak terasa memalukan. Aku melaju pelan meninggalkan rumah besar itu.

Dulu aku keluar dari gerbang itu dengan perasaan menang.

Sekarang aku keluar dengan perasaan cukup.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa kehilangan apa pun.

Aku merasa tumbuh.

TAMAT….

Similar Posts

2 Comments

  1. mungkin ending nya lebih seruh jika berlanjut.. mereka ketemu secara kebetulan disuatu kota dan apa yg dikatakan nisa jika bertmu mungkin bisa rujuk lagi dan endingnya bahagia dgn rmh sederhana dgn motor butut penuh dgn kisah lama yg menjadi ikatan mereka berdua hingga kembali bersatu.. ini hanya isi kepala biar ending ceritanya ada tawa dan senyum para pembaca.. hehe

    1. “terima kasih banyak sudah membaca sampai sedetail ini dan bahkan ikut memikirkan kemungkinan akhir ceritanya. jujur komentar seperti ini sangat menyenangkan bagi penulis, karena artinya ceritanya benar-benar diikuti. semoga nanti di cerita berikutnya saya bisa terus memberikan kisah yang tetap meninggalkan senyum seperti yang anda harapkan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *