GUE BARU TAU UANG WARISAN BOKAP GUE HILANG 100 JUTA… DAN YANG NGAMBIL BUKAN ORANG LAIN. TAPI ABANG GUE SENDIRI—SETELAH DIA RESMI NIKAH.

Kipas angin di ruang tamu bunyinya seret.
Krek… krek… krek…

Udara panas nempel di kulit.
Bau minyak kayu putih masih samar dari kamar bokap.

Gue duduk di lantai, bersandar ke tembok yang catnya mulai ngelupas.
Lantai keramik dingin, tapi kepala gue panas.

Di depan gue, meja kayu kecil.
Di atasnya ada map cokelat.

Map itu belum gue buka.

Sejak bokap meninggal tiga hari lalu, rumah ini nggak pernah benar-benar sepi.
Tetangga keluar masuk.
Suara sandal di teras.
Toa masjid tiap sore.

Tapi hari ini beda.

Sepi banget.

Abang gue, Rian, lagi di dapur.
Suara sendok kena gelas.

Ting.
Ting.

Gue lihat ke arah dapur.

“Lu udah makan?” suara Rian dari sana.

Gue nggak jawab.

Bukan karena nggak dengar.
Tapi karena gue nggak punya tenaga buat pura-pura normal.

Rian keluar, bawa dua gelas teh.
Dia taruh satu di depan gue.

“Minum dulu,” katanya.

Gue tetap diam.

Rian duduk di kursi.
Matanya kelihatan capek, tapi… ada sesuatu yang aneh.

Kayak dia lagi nahan sesuatu.

“Besok kita ke notaris ya,” dia bilang pelan.

Gue angkat kepala.

“Ngapain?”

“Ngurus warisan bokap.”

Gue lihat map di meja.

“Emang bokap ninggalin apa aja?”

Rian narik napas.

“Rumah ini… sama tabungan.”

“Berapa?”

Dia nggak langsung jawab.

Kipas angin makin kenceng bunyinya.

Krek… krek… krek…

“Lumayan,” katanya akhirnya.

Gue ketawa kecil.
Kering.

“Lumayan itu berapa, bang?”

Dia minum teh dulu.
Lama banget.

“Sekitar… 150 juta.”

Jantung gue kayak kejedot.

150 juta.

Gue tahu bokap selama ini nabung.
Tiap malam dia selalu catat pengeluaran di buku kecil.

Gue pernah lihat.

Tapi 150 juta…

Lumayan banget buat ukuran kita.

“Dibagi dua?” gue nanya.

Rian geleng pelan.

“Nggak.”

Gue langsung tegak.

“Kenapa nggak?”

Rian ngelirik map di meja.

“Itu… nanti dijelasin sama notaris aja.”

Ada sesuatu yang nggak enak.

Gue diam beberapa detik.

“Bang,” suara gue mulai berat, “bokap pernah bilang ke gue… kalau tabungannya itu buat gue.”

Rian langsung diam.

Matanya turun.

Gue lanjut.

“Dia bilang… lu udah kerja. Udah punya penghasilan. Jadi yang itu… buat gue.”

Sunyi.

Cuma suara kipas.

Rian ngelus muka.

“Iya,” katanya pelan.

“Iya gimana?”

“Iya… bokap memang bilang gitu.”

Dada gue tiba-tiba sesak.

“Terus kenapa lu bilang ‘nanti dijelasin notaris’?”

Rian nggak jawab.

Dia berdiri.

“Gue ke belakang dulu.”

Dia jalan cepat ke dapur.

Gue lihat punggungnya.

Ada yang salah.

Malamnya, hujan turun.
Rintik-rintik di atap seng belakang rumah.

Gue di kamar bokap.

Lampu redup.

Kasur masih rapi, tapi kosong.

Bau obat masih ada.

Di samping lemari, ada kursi plastik.
Tempat bokap biasa duduk sambil nonton TV.

Gue duduk di situ.

Lihat lemari.

Pelan-pelan gue buka.

Baju-bajunya masih tergantung.
Rapi.

Di rak bawah, ada kotak kecil.

Gue ambil.

Isinya buku catatan.

Yang sering dia tulis itu.

Gue buka.

Tulisan tangan bokap… rapi, kecil-kecil.

Tanggal, pengeluaran, sisa uang.

Gue balik halaman.

Terus.

Terus.

Sampai gue nemu satu halaman yang beda.

Ada tulisan lebih tebal.

“TABUNGAN ANAK BUNGSU — JANGAN DIGANGGU”

Di bawahnya angka.

150.000.000

Tangan gue langsung dingin.

Gue tutup buku itu pelan.

Napas gue pendek.

Jadi bener.

Uang itu… buat gue.

Bukan dibagi dua.

Bukan untuk siapa-siapa.

Buat gue.

Gue berdiri.

Langsung keluar kamar.

Rian lagi di ruang tamu, main HP.

Cahaya layar kena mukanya.

Gue jalan cepat.

“Bang.”

Dia nengok.

“Iya?”

Gue lempar buku catatan itu ke meja.

Dia lihat.

Matanya langsung berubah.

“Lu tau ini?” gue nanya.

Dia diam.

“Lu tau ini?” suara gue naik.

“Iya.”

“Terus kenapa lu tadi muter-muter?”

Rian narik napas panjang.

“Gue mau jelasin besok aja di notaris—”

“GUE NANYA SEKARANG!”

Suara gue keras banget sampai gema di ruang tamu.

Hujan di luar makin deras.

Rian berdiri.

“Tenang dulu—”

“Tenang apaan?!”

Gue tunjuk buku itu.

“ITU UANG BUAT GUE, BANG! BOKAP NULIS SENDIRI!”

Rian ngelus kepala.

Matanya merah.

“Aku tau.”

“KALAU TAU, KENAPA LU NGOMONGNYA AJA NGGAK JELAS?!”

Sunyi.

Beberapa detik.

Rian akhirnya ngomong.

Pelan banget.

“…karena uangnya… nggak utuh lagi.”

Kayak ada yang jatuh dari dalam dada gue.

“Nggak… utuh… gimana?”

Rian nggak langsung jawab.

Dia duduk lagi.

Tangannya gemetar sedikit.

“Bang,” suara gue mulai serak, “maksud lu apa?”

Rian ngangkat kepala.

Tatap gue.

“Uangnya… kepake.”

Dunia gue kayak berhenti.

“Kepake…?”

“Iya.”

“Siapa yang pake?”

Rian nggak jawab.

Gue maju satu langkah.

“SIAPA YANG PAKE?!”

Rian nutup mata.

“…gue.”

Sunyi.

Cuma suara hujan.

Gue ketawa.

Pelan.

Nggak percaya.

“Lu bercanda kan?”

Rian geleng.

Gue langsung maju.

“Nih ya, bang… ini bukan uang jajan. Ini bukan receh. Ini 150 juta!”

“Iya.”

“DAN LU PAKE?!”

“Iya.”

Gue dorong meja.

Gelas teh jatuh.
Pecah.

“BUAT APA?!”

Rian nggak jawab.

Gue tarik kerah bajunya.

“BUAT APA, BANG?!”

Dia akhirnya buka mulut.

“Buat nikah.”

Gue langsung lepas.

Kayak kena setrum.

“…apa?”

“Buat nikah gue.”

Gue mundur.

Satu langkah.

Dua langkah.

Otak gue kosong.

“Lu… nikah… pake uang gue?”

Rian langsung berdiri.

“Gue niatnya pinjam!”

“PINJAM DARI SIAPA?!”

“Dari lu!”

“GUE NGGAK TAU APA-APA!”

Rian diem.

Gue ketawa lagi.

Lebih keras.

“Gila… gila…”

Gue jalan mondar-mandir.

“Lu nikah… pake uang warisan gue… DAN LU NGGAK BILANG KE GUE?!”

Rian ngomong cepat.

“Waktu itu mepet! Gue butuh dana! Keluarga cewek minta cepat!”

“TERUS LU PIKIR SOLUSINYA NGAMBIL UANG GUE DIAM-DIAM?!”

“Gue bakal balikin!”

“KAPAN?!”

Rian diam.

Gue mendekat lagi.

“Jawab!”

“…setelah nikah.”

Gue langsung dorong dia.

“LU UDAH NIKAH, BANG!”

Rian jatuh ke kursi.

Napasnya berat.

Gue berdiri di depannya.

Tangan gue gemetar.

“Lu nikah kapan?”

“…sebulan lalu.”

Semua suara hilang.

Yang ada cuma denging.

Sebulan.

Berarti… selama ini…

“Jadi selama ini… gue di rumah… jaga bokap… bolak-balik rumah sakit…”

Suara gue pecah.

“Lu lagi nikah?”

Rian nggak berani lihat gue.

“Gue mau bilang—”

“TAPI LU NGGAK BILANG!”

Gue ambil buku catatan itu.

Gue banting ke lantai.

“LU TAU NGGAK, BOKAP ITU NABUNG BUAT GUE DARI DULU!”

“Iya—”

“DIA SAMPE NULIS ‘JANGAN DIGANGGU’!”

Gue tunjuk tulisan itu.

“DAN LU… NGGANGGU!”

Rian nutup muka.

“Gue kepepet—”

“SEMUA ORANG JUGA KEPEPET!”

Gue duduk di lantai.

Napas gue nggak beraturan.

Air mata jatuh, tapi gue nggak sadar.

“Bang…” suara gue pelan sekarang, “kenapa nggak bilang ke gue aja?”

Rian diam.

Lama.

Baru dia jawab.

“…karena gue takut.”

Gue angkat kepala.

“Takut apa?”

Dia lihat gue.

“…takut lu nolak.”

Hening.

Kalimat itu nempel.

Gue ketawa kecil.

“Jadi… daripada gue nolak… lu pilih… nyuri?”

Rian langsung ngomong.

“Gue bukan nyuri!”

“TERUS APA?!”

“Gue pinjam!”

“PINJAM TANPA IZIN ITU NAMANYA APA?!”

Rian nggak bisa jawab.

Hujan mulai reda.

Suara tetesan air dari talang.

Gue berdiri pelan.

“Berapa yang lu pake?”

Rian nunduk.

“…100 juta.”

Kaki gue lemes.

“Seratus… juta…”

Gue ulang pelan.

“Dari 150?”

“Iya.”

“Jadi sisa 50?”

“Iya.”

Gue ketawa lagi.

Kali ini benar-benar kosong.

“50 juta…”

Gue lihat ke arah kamar bokap.

“Bokap nabung puluhan tahun…”

Gue balik ke Rian.

“…buat gue.”

Suara gue jadi dingin.

“Tapi yang gue terima… setengahnya… karena abang gue mau nikah diam-diam.”

Rian berdiri.

“Gue bakal balikin—”

“Gue nggak butuh janji!”

Gue ambil jaket di kursi.

Pakai.

“Lu mau kemana?” Rian tanya.

“Keluar.”

“Udah malam—”

“BIARIN!”

Gue buka pintu.

Angin dingin masuk.

Sebelum gue keluar, gue berhenti.

Tanpa nengok.

“Bang.”

“Iya?”

“Lu bukan cuma ngambil uang gue.”

Sunyi.

Gue lanjut.

“Lu ngambil kepercayaan gue.”

Gue keluar.

Pintu gue banting.

Di luar, jalanan basah.
Lampu jalan memantul di genangan air.

Motor lewat, cipratan air kena kaki gue.

HP gue getar.

Notifikasi WhatsApp.

Dari nomor nggak dikenal.

Gue berhenti.

Buka.

Pesannya cuma satu:

“Maaf… saya istri Rian. Saya perlu bicara sama kamu. Soal uang itu… tidak seperti yang kamu kira.”

Jantung gue langsung kencang.

Gue lihat lagi pesan itu.

Ada yang aneh.

“Tidak seperti yang kamu kira.”

Gue angkat kepala.

Hujan berhenti total.

Udara dingin.

Dan untuk pertama kalinya malam itu…
gue ngerasa… ini belum selesai.

Lampu warung di ujung gang masih nyala.
Bau gorengan basi nyampur sama udara habis hujan.

Gue berdiri di bawah tiang listrik.
HP masih di tangan.

Pesan itu gue baca lagi.

“Tidak seperti yang kamu kira.”

Jempol gue sempat hover di layar.
Mau bales… tapi gue tahan.

Akhirnya gue ketik.

“Ketemu dimana?”

Centang dua.

Langsung dibalas.

“Di depan minimarket seberang jalan besar. Saya sudah di sini.”

Gue lihat jam.
22:47.

Gue tarik napas.
Langsung jalan.

Minimarket itu terang banget.
Lampu putih bikin mata perih.

Parkiran hampir kosong.

Di dekat pintu, ada perempuan berdiri.
Pakai jaket tipis. Rambut diikat asal.

Dia pegang HP dua tangan.
Gelisah.

Pas gue mendekat, dia angkat kepala.

“Adik Rian?”

Gue cuma angguk.

Dia maju satu langkah.

“Saya… Nisa.”

Gue lihat dia dari atas sampai bawah.
Sederhana. Nggak kayak orang yang baru nikah besar-besaran.

“Jadi… ini istri abang gue.”

Dia angguk pelan.

Kita sama-sama diam beberapa detik.

Suara pintu minimarket bunyi “ting”.

Orang keluar bawa plastik.

Gue langsung ngomong.

“Lu tau nggak suami lu ngambil uang gue 100 juta?”

Nisa langsung kaku.

Matanya langsung berkaca.

“Saya tau…”

Gue ketawa kecil.

“Oh, jadi lu tau.”

“Tapi—”

“Dan lu tetap nikah sama dia?”

Dia narik napas.

“Saya nggak tau kalau itu uang kamu.”

Gue berhenti.

“Apa?”

“Saya taunya itu uang tabungan Rian sendiri.”

Dunia kayak berhenti sebentar.

“Dia bilang itu uang dia?”

Nisa angguk.

“Dia bilang sudah lama nabung buat nikah…”

Gue langsung mundur satu langkah.

Otak gue mulai muter.

“Jadi… lu nggak tau itu uang warisan bokap?”

Nisa geleng.

Air matanya mulai jatuh.

“Saya baru tau… tadi siang.”

“Dari siapa?”

“Dari dia.”

Gue diam.

“Terus kenapa baru sekarang lu hubungi gue?”

Nisa nahan napas.

“Karena… ada yang kamu harus tau.”

Nada suaranya berubah.

Lebih serius.

Gue langsung waspada.

“Apa?”

Dia ngelirik sekitar.
Kayak takut ada yang denger.

“Kita nggak bisa ngomong di sini.”

Gue langsung kesal.

“Kenapa semua orang ngomongnya muter-muter sih?!”

“Saya nggak muter-muter…”

“Terus apa?!”

Nisa maju sedikit.

“Ini bukan cuma soal uang.”

Gue langsung diam.

Kalimat itu… beda.

“Terus soal apa?”

Dia nunduk sebentar.

Lalu lihat gue lagi.

“Rian… nggak cuma ngambil uang itu.”

Jantung gue langsung deg-degan.

“Maksud lu?”

Dia nggak langsung jawab.

Tangannya gemetar.

“Ada sesuatu… yang dia sembunyiin dari kamu. Dari lama.”

Gue ngerasa dingin.

“Ngomong yang jelas.”

Nisa narik napas panjang.

“Waktu bokap kamu sakit…”

Gue langsung tegang.

“Kenapa?”

“…Rian sempat hampir jual rumah ini.”

Gue langsung maju.

“APA?!”

Nisa langsung buru-buru ngomong.

“Tapi nggak jadi! Dia batal!”

“Kenapa gue nggak tau?!”

“Karena… dia nggak mau kamu panik.”

Gue ketawa pahit.

“Hebat. Jadi dia nyembunyiin semua dari gue.”

Nisa langsung geleng.

“Bukan itu…”

“Terus apa?!”

Dia menatap gue.

Lama.

“…karena dia lagi nutupin sesuatu yang lebih besar.”

Sunyi.

Angin malam lewat.

Plastik di tong sampah gerak pelan.

Gue pelan-pelan ngomong.

“Lu dari tadi ngomong nggak jelas.”

Nisa gigit bibir.

Lalu akhirnya dia buka suara.

“Uang 100 juta itu… bukan sepenuhnya buat nikah.”

Gue langsung fokus.

“Terus buat apa?”

Dia menelan ludah.

“…setengahnya… buat nutup utang.”

Dada gue langsung sesak.

“Utang apa?”

“Utang lama.”

“Utang apa?!”

Nisa langsung jawab cepat.

“Utang rumah sakit.”

Gue langsung beku.

“…rumah sakit?”

Dia angguk.

“Waktu bokap kamu pertama kali drop… sebelum kamu tau… Rian sempat bawa dia ke rumah sakit swasta.”

Gue langsung ingat.

Beberapa bulan lalu… bokap sempat hilang seharian.

Katanya cuma ke klinik.

“Tagihannya besar…” lanjut Nisa, “dan waktu itu… Rian nggak punya uang.”

Gue pelan-pelan ngomong.

“Terus…?”

Dia lihat gue.

“…dia pakai tabungan itu.”

Kaki gue lemes.

“Berapa?”

“…sekitar 40 juta.”

Gue langsung hitung cepat.

“Berarti… sisanya buat nikah?”

Nisa geleng.

“Nggak semuanya.”

“Terus?!”

“Masih ada utang lain…”

“APA LAGI?!”

Nisa langsung nangis.

“Dia pinjam sana-sini… buat nutup biaya itu… dan buat acara nikah yang sudah terlanjur disepakati…”

Gue pegang kepala.

Semua mulai nyambung.

Sedikit.

Tapi belum jelas.

“Kenapa dia nggak bilang ke gue?”

Nisa pelan jawab.

“…karena dia janji sama bokap kamu.”

Gue langsung angkat kepala.

“Janji apa?”

Nisa menatap gue.

“Bokap kamu… nggak mau kamu tau dia sakit parah dari awal.”

Jantung gue berhenti.

“…apa?”

“Dia nggak mau kamu berhenti kerja… nggak mau kamu kepikiran…”

Gue mundur satu langkah.

“Jadi selama ini…”

Nisa angguk pelan.

“…Rian yang urus semua di belakang.”

Sunyi.

Suara motor lewat cepat.

Gue berdiri diam.

Semua yang gue pikir… mulai goyang.

Tapi belum runtuh.

Belum.

“Kalau gitu… kenapa dia tetap pakai uang itu tanpa bilang ke gue?”

Nisa langsung jawab.

“Karena dia kepepet.”

“Semua orang kepepet!”

“Tapi dia sendirian waktu itu!”

Gue langsung diam.

Nisa lanjut.

“Kamu nggak tau… dia bolak-balik rumah sakit sendirian… dia yang negosiasi… dia yang cari pinjaman…”

Gue ngerasa dada gue makin berat.

“Tapi itu bukan alasan buat dia bohong.”

“Iya,” suara Nisa pelan, “dan dia tau itu.”

Sunyi.

Gue lihat ke arah jalan.

Lampu merah berkedip.

Beberapa detik.

Lalu gue ngomong.

“Dia tetep salah.”

“Iya.”

“Dia tetep ngambil hak gue.”

“Iya.”

“Dan dia tetep bohong.”

“Iya.”

Nisa nggak bantah.

Dia cuma nangis pelan.

Gue tarik napas panjang.

“Terus… lu mau apa dari gue?”

Nisa hapus air mata.

“Kasih dia waktu.”

Gue langsung ketawa kecil.

“Waktu buat apa?”

“Buat benerin semuanya.”

Gue geleng.

“Uang 100 juta bukan receh, Nisa.”

“Saya tau.”

“Kepercayaan juga bukan barang murah.”

Dia cuma diam.

Gue mulai jalan mundur.

“Gue nggak bisa langsung percaya semua ini.”

Nisa cepat ngomong.

“Kalau kamu nggak percaya…”

Gue berhenti.

Dia lanjut.

“…besok ikut ke notaris.”

Gue lihat dia.

“Kenapa?”

“Karena ada satu hal lagi… yang kamu belum tau.”

Jantung gue langsung naik lagi.

“Apalagi?”

Nisa pelan ngomong.

“…soal surat dari bokap kamu.”

Gue langsung kaku.

“Surat apa?”

Dia menatap gue.

Lama.

“…yang belum pernah kamu baca.”

Pagi itu, matahari masuk dari jendela ruang tamu.
Cahaya kena debu-debu kecil yang melayang.

Rumah terasa lebih dingin.

Rian sudah siap.
Pakai kemeja rapi.

Gue berdiri di pintu kamar.

Kita nggak ngomong apa-apa sejak semalam.

Cuma tatap.
Kosong.

“Berangkat sekarang?” dia nanya pelan.

Gue cuma angguk.

Kantor notaris itu kecil.
AC dingin banget.

Ada bau kertas lama.

Seorang pria berkacamata duduk di balik meja.

“Silakan duduk,” katanya.

Gue duduk di samping Rian.

Nisa di seberang.

Notaris buka map.

“Ini terkait peninggalan almarhum bapak kalian,” katanya tenang.

Gue langsung fokus.

Dia keluarkan beberapa dokumen.

Satu per satu.

“Rumah ini atas nama bersama, tapi—”

“Langsung ke tabungan,” gue potong.

Notaris angguk.

“Baik.”

Dia ambil satu kertas.

“Tabungan sebesar 150 juta rupiah…”

Gue tahan napas.

“…secara tertulis memang ditujukan untuk anak bungsu.”

Gue lihat ke Rian.

Dia nunduk.

“Tapi,” lanjut notaris, “ada catatan tambahan.”

Gue langsung tegang.

“Catatan apa?”

Notaris ambil satu amplop cokelat.

Lebih kecil.

Kelihatan lama.

“Ini surat dari almarhum.”

Jantung gue langsung kencang.

“Untuk siapa?”

“Untuk… kalian berdua.”

Gue lihat Rian.

Dia masih nunduk.

“Kenapa baru sekarang dikasih?” gue nanya.

Notaris jawab tenang.

“Karena almarhum berpesan… surat ini dibuka setelah pemakaman.”

Gue langsung merinding.

Notaris buka amplop itu.

Pelan.

Dia keluarkan kertas.

Tulisan tangan bokap.

Gue langsung kenal.

“Silakan dibaca,” katanya.

Tangan gue gemetar.

Gue ambil.

Gue buka.

“Tolong jangan berantem soal uang ini.

Kalau kamu baca ini, berarti bapak sudah nggak ada.

Uang itu memang bapak siapkan untuk kamu, Nak.

Tapi kalau suatu saat abangmu butuh… dan kamu mampu… bantu dia.

Karena dia tidak pernah minta, tapi selalu memikul lebih banyak dari yang kamu lihat.

Bapak tau kamu kuat.

Tapi abangmu… sering pura-pura kuat.

Jangan lihat dia dari apa yang dia ambil.

Lihat dari apa yang dia sembunyikan.”

Tangan gue langsung lemas.

Kertas itu hampir jatuh.

Ruangan jadi sunyi.

AC tetap dingin, tapi badan gue panas.

Gue pelan-pelan lihat ke Rian.

Dia masih nunduk.

Air matanya jatuh ke lantai.

Semua potongan mulai nyatu.

Tapi… belum selesai.

Belum.

“Masih ada satu hal lagi,” kata notaris.

Gue langsung angkat kepala.

“Apa lagi?”

Dia lihat ke Rian.

“Mas Rian, silakan.”

Rian pelan-pelan berdiri.

Dia ambil napas.

Lalu akhirnya dia ngomong.

Dengan suara yang gemetar.

“…uang itu… gue bakal balikin.”

Gue langsung potong.

“Bukan soal itu lagi.”

Rian angkat kepala.

Matanya merah.

“Gue tau.”

Dia lanjut.

“Gue cuma… mau lu tau semuanya sekarang.”

Jantung gue naik lagi.

“Apa lagi yang belum gue tau?”

Rian menatap gue.

Lama.

“…utang gue… belum lunas.”

Kata-kata itu jatuh pelan… tapi rasanya kayak dihantam palu.

“…utang gue belum lunas.”

Gue langsung berdiri.

“Berapa lagi?”

Rian nggak langsung jawab.

Tangannya gemetar.

“…sekitar 30 juta.”

Gue langsung ketawa kosong.

“Jadi total semua… lebih dari 100 juta?”

“Iya.”

“Dan lu masih punya utang?”

“Iya.”

Ruangan jadi sempit.

Napas gue pendek.

“Bang… lu sadar nggak sih ini semua jadi apa?”

Rian angguk pelan.

“Sadar.”

“Lu hampir bikin gue kehilangan semua yang bokap tinggalin!”

“Iya.”

“Dan sekarang… lu masih belum selesai?!”

“Iya.”

Dia nggak ngelawan.

Nggak bantah.

Cuma jawab pelan.

Gue duduk lagi.

Kepala gue berat.

Notaris diam.

Nisa juga diam.

Sunyi.

Lama.

Akhirnya gue ngomong.

“…lu rencana gimana?”

Rian langsung jawab.

“Gue jual motor gue.”

“Berapa dapetnya?”

“Paling 15.”

“Masih kurang.”

“Iya.”

“Terus?”

Rian tarik napas.

“Gue cari tambahan. Kerja lembur. Apa aja.”

Gue lihat dia.

Untuk pertama kalinya… gue lihat dia bukan sebagai abang yang nyebelin.

Tapi sebagai orang… yang lagi tenggelam.

Dan berusaha naik.

Gue tutup mata sebentar.

Kata-kata di surat bokap muter lagi di kepala.

“Jangan lihat dia dari apa yang dia ambil…”

Gue buka mata.

“…lu yakin bisa balikin semua?”

Rian langsung jawab.

“Bisa.”

Gue lihat dia.

“…berapa lama?”

Dia mikir.

“…satu tahun.”

Gue diam.

Satu tahun.

Bukan sebentar.

Tapi juga bukan selamanya.

Nisa tiba-tiba ngomong.

“Kami sudah hitung semuanya.”

Gue lihat dia.

“Kami siap hemat. Nggak ada acara macam-macam.”

Rian lanjut.

“Gue nggak minta lu maafin sekarang.”

Sunyi.

“Tapi… kasih gue kesempatan benerin.”

Gue tarik napas panjang.

Lihat meja.

Lihat surat bokap.

Lihat tangan gue sendiri.

Gemetar.

Gue pelan ngomong.

“…satu tahun.”

Rian langsung angkat kepala.

“Satu tahun,” gue ulang.

“Kalau dalam satu tahun… lu balikin semua… gue anggap ini selesai.”

Rian langsung berdiri.

“Gue janji—”

“Jangan janji.”

Gue potong.

“Buktiin.”

Rian angguk cepat.

Matanya penuh air.

Gue berdiri.

Ambil surat bokap.

Lipat pelan.

Masukin ke saku.

Sebelum keluar, gue berhenti.

Lihat ke Rian.

“…bang.”

“Iya?”

“Ini terakhir kali gue percaya sama lu.”

Sunyi.

Dia cuma angguk.

Hari itu… semua terasa berat.

Tapi untuk pertama kalinya… jelas.

Nggak ada lagi yang disembunyiin.

Tinggal satu hal.

Waktu.

Satu tahun itu nggak terasa cepat.
Tapi juga nggak lambat.

Hari pertama… canggung.
Hari-hari berikutnya… sepi.

Gue tetap di rumah itu.

Rian pindah ke kontrakan kecil sama Nisa.

Motor dia benar-benar dijual.

Setiap minggu, dia transfer.

Jumlahnya nggak besar.

Kadang 2 juta.
Kadang 3 juta.

Kadang cuma 1 juta.

Tapi selalu ada.

Setiap transfer, cuma satu pesan:

“Ini cicilan.”

Nggak ada basa-basi.

Gue juga nggak pernah bales panjang.

Cuma:

“Masuk.”

Hubungan kita… nggak kembali normal.

Tapi juga nggak hancur.

Kayak luka yang masih kering… tapi belum hilang.

Bulan ke-6.

Suatu malam, listrik mati.

Rumah gelap.

Gue duduk di teras.

Dengar suara motor lewat di gang.

Tiba-tiba HP gue nyala.

Notifikasi.

Transfer masuk.

5 juta.

Lebih besar dari biasanya.

Gue lihat pesan.

“Bonus lembur.”

Gue diam.

Untuk pertama kalinya… gue ngetik lebih panjang.

“Hati-hati badan.”

Centang dua.

Lama.

Baru dibalas.

“Iya.”

Bulan ke-10.

Gue lagi bersihin kamar bokap.

Debu mulai tebal.

Gue buka lemari lagi.

Baju-bajunya masih ada.

Tapi kali ini… nggak sesakit dulu.

Gue duduk di kursi plastik itu.

Sama seperti malam itu.

Gue ambil surat dari saku.

Gue baca lagi.

Pelan.

“Jangan lihat dia dari apa yang dia ambil…”

Gue senyum kecil.

Tipis.

Tepat satu tahun.

Pagi.

Pintu diketuk.

Tok.

Tok.

Tok.

Gue buka.

Rian berdiri di depan.

Pakai kemeja sederhana.

Nisa di belakang.

Mereka kelihatan lebih kurus.

Tapi… lebih tenang.

Rian pegang amplop.

Cokelat.

Dia masuk.

Duduk.

Nggak banyak ngomong.

Dia dorong amplop itu ke gue.

“Ini sisa terakhir.”

Gue lihat.

Nggak langsung ambil.

“Udah semua?”

Rian angguk.

“Udah.”

Gue ambil.

Buka.

Isi slip transfer.

Jumlahnya pas.

Nggak kurang.

Nggak lebih.

Gue lihat ke Rian.

Dia nunduk.

Nisa pegang tangannya.

Sunyi.

Beberapa detik.

Gue tarik napas.

Pelan.

“…bang.”

Dia angkat kepala.

Matanya langsung tegang.

Gue lihat dia.

Lama.

Semua kejadian setahun ini… lewat di kepala.

Marah.
Kecewa.
Capek.

Tapi juga…

Usaha.
Tanggung jawab.
Perubahan.

Gue akhirnya ngomong.

“…udah lunas.”

Rian langsung diam.

Matanya berkaca.

Gue lanjut.

“Uang.”

Sunyi.

Beberapa detik.

Gue tambah pelan.

“…dan yang lain.”

Rian langsung berdiri.

Dia maju.

Pelan.

“…maaf.”

Cuma itu.

Gue lihat dia.

Lalu gue angguk.

Nggak langsung peluk.

Nggak langsung ketawa.

Tapi… cukup.

Nisa senyum kecil.

Air matanya jatuh.

Gue lihat mereka berdua.

Dan untuk pertama kalinya… sejak semua ini mulai…

Dada gue ringan.

Siang itu, kita makan bareng di ruang tamu.

Nggak mewah.

Nasi, telur dadar, sambal.

Kipas angin masih bunyi.

Krek… krek… krek…

Tapi kali ini… nggak ganggu.

Rian cerita soal kerjaannya.

Nisa sesekali nyeletuk.

Gue ikut ketawa.

Pelan.

Nggak besar.

Tapi nyata.

Sore hari, gue berdiri di depan kamar bokap.

Gue buka pintu.

Cahaya masuk.

Gue lihat kursi itu lagi.

Kosong.

Tapi… nggak terasa kehilangan seperti dulu.

Gue masuk.

Duduk.

Ambil buku catatan.

Gue buka halaman terakhir.

Tulisan itu masih ada.

“TABUNGAN ANAK BUNGSU — JANGAN DIGANGGU”

Gue senyum.

Pelan.

“Udah aman, Pak…”

Gue tutup buku itu.

Taruh kembali.

Keluar kamar.

Dan untuk pertama kalinya…

Rumah ini… terasa utuh lagi.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *