SEORANG ANAK PERGI DARI RUMAH KARENA MALU PUNYA IBU PENJUAL NASI UDUK. LIMA TAHUN KEMUDIAN, DIA BALIK… SAAT IBUNYA SUDAH SUKSES. TAPI DIA TIDAK TAHU—ADA SEBUAH RAHASIA BESAR YANG SELAMA INI DISIMPAN TENTANG DIRINYA.

Subuh di gang itu selalu sama.

Gelap masih nempel di dinding-dinding rumah. Lampu kuning temaram. Udara dingin yang sedikit bau tanah basah.

Toa masjid mulai hidup.

“Allahu akbar… Allahu akbar…”

Di ujung gang, suara sendok beradu dengan panci sudah lebih dulu ada.

Bu Sari.

Tangannya cekatan. Nasi uduk panas mengepul. Uap santan naik pelan. Bau daun pandan menyebar sampai ke jalan depan.

Gerobaknya sudah tua. Catnya terkelupas. Kayunya mulai kusam.

Tapi setiap pagi, orang tetap datang.

“Bu, dua ya. Satu pake ayam, satu telur.”

“Iya, Bang. Duduk aja.”

Suara kipas kecil di pojok gerobak berderit.

Minyak goreng mendesis.

Sendal jepit orang-orang bunyi “cekrek… cekrek…” di lantai semen yang dingin.

Hidup Bu Sari sederhana.

Bangun jam tiga.

Masak.

Dorong gerobak.

Jualan sampai habis.

Pulang.

Ulang lagi.

Sudah lima belas tahun.

Dan satu-satunya alasan dia bertahan… adalah seorang anak laki-laki.

Raka.

“Raka… bangun, Nak. Udah pagi.”

Tidak ada jawaban.

Bu Sari mendorong pintu kamar.

Engselnya bunyi pelan.

Di dalam, kasur tipis. Meja kecil. Buku-buku berserakan. Seragam SMA tergantung rapi.

“Raka?”

Kosong.

Tidak ada suara.

Tidak ada gerakan.

Perut Bu Sari langsung terasa dingin.

Dia masuk pelan.

Matanya langsung menangkap sesuatu di atas meja.

Selembar kertas.

Tangannya mengambil.

Tulisan tangan terburu-buru.

“Bu, aku pergi. Jangan cari aku.”

Tangan Bu Sari gemetar.

Kertas itu seperti berat.

Dia baca lagi.

Sama.

Tidak berubah.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada alamat.

Tidak ada apa-apa.

Malam sebelumnya, semuanya terasa biasa.

Terlalu biasa.

Raka duduk di depan TV. Badannya sedikit membungkuk. Sendoknya pelan-pelan masuk ke nasi uduk.

Bu Sari di dapur, cuci piring.

Air keran mengalir.

“Bu…”

“Iya, Nak?”

“Besok ada acara di sekolah.”

“Oh ya? Bagus dong.”

Sunyi sebentar.

Cuma suara air.

“Orang tua pada datang semua.”

“Iya.”

“Bu…”

“Iya?”

“Jangan datang ya.”

Air keran berhenti.

Hening.

“Kenapa?”

Raka tidak langsung jawab.

Dia tetap lihat TV.

“Temen-temen aku… orang tuanya beda.”

“Beda gimana?”

“Ya… kerja di kantor. Pake mobil.”

Suara TV makin keras.

Bu Sari berdiri diam.

“Kamu malu ya?”

Tidak ada jawaban.

Raka cuma mengunyah.

Pelan.

Itu sudah cukup.

Pagi itu, Bu Sari tetap jualan.

Seperti biasa.

Seperti tidak terjadi apa-apa.

Tangannya tetap bekerja.

Nasi disendok.

Lauk disusun.

Sambal dituangkan.

Tapi beberapa kali salah.

“Bu, ini sambalnya banyak banget.”

“Oh… maaf, Bang.”

Setiap ada anak SMA lewat, matanya refleks menoleh.

Berharap.

Mungkin Raka.

Mungkin dia cuma keluar sebentar.

Mungkin dia balik.

Tapi tidak.

Hari berganti.

Minggu.

Bulan.

Tahun.

Raka tidak pernah kembali.

Nomornya mati.

Tidak ada kabar.

Bu Sari tidak pernah pindah rumah.

Tidak pernah ganti nomor.

Gerobak tetap di tempat yang sama.

Seolah-olah Raka bisa pulang kapan saja.

Lima tahun kemudian.

Gang itu masih sama.

Cuma beberapa rumah sudah dicat ulang.

Ada warung kopi kecil di ujung.

Tapi gerobak Bu Sari masih di situ.

Dengan cat mengelupas yang sama.

Dengan roda miring yang sama.

Yang berubah hanya satu.

Bu Sari.

Rambutnya mulai banyak putih.

Tangannya tidak secepat dulu.

Kadang harus berhenti sebentar, pegang pinggang.

“Bu, sehat?”

“Sehat, Bang.”

Dia tetap tersenyum.

Selalu.

Suatu pagi, mobil hitam berhenti di depan gang.

Bersih.

Mengkilap.

Orang-orang langsung nengok.

Pintu terbuka.

Seorang pria turun.

Kemeja putih. Sepatu hitam. Jam tangan mahal.

Dia berdiri sebentar.

Melihat sekeliling.

Lalu matanya berhenti di gerobak.

Dia jalan mendekat.

“Bu… masih ada nasi uduknya?”

“Ada, Pak.”

“Bungkus satu.”

Bu Sari bekerja seperti biasa.

Tidak ada yang spesial.

Tapi saat pria itu makan…

Dia berhenti.

Sendoknya menggantung di udara.

Matanya sedikit melebar.

Dia lihat nasi itu.

Seperti… mengenali sesuatu.

“Bu…”

“Iya, Pak?”

“Ini… rasanya…”

Dia tidak lanjut.

Cuma mengangguk.

“Tambah satu lagi.”

Sejak hari itu, dia datang terus.

Setiap pagi.

Kadang sendirian.

Kadang bawa orang lain.

Selalu pesan yang sama.

Dan selalu diam.

Suatu hari, dia berdiri lebih lama.

“Bu, boleh saya bicara?”

“Boleh, Pak.”

“Kalau saya bantu Ibu buka restoran… Ibu mau?”

Sendok di tangan Bu Sari berhenti.

Orang sekitar ikut diam.

“Hah?”

“Saya serius.”

Bu Sari menatapnya.

“Saya cuma jualan begini aja, Pak.”

“Justru itu.”

Dia menunjuk nasi uduk itu.

“Ini bukan sekadar makanan.”

Sunyi.

“Semua biaya saya tanggung. Tempat, karyawan, semuanya.”

“Terus saya?”

“Ibu tetap masak.”

“Resepnya?”

“Tidak saya ambil.”

Bu Sari menelan ludah.

“Kenapa Bapak mau bantu saya?”

Pria itu tersenyum tipis.

“Kadang… kita ketemu sesuatu yang rasanya… terlalu familiar.”

Dia tidak jelaskan.

Beberapa minggu kemudian, semuanya berubah.

Gerobak itu masih ada.

Tapi di jalan besar, berdiri restoran baru.

“Nasi Uduk Sari Rasa”

Lampu terang.

Meja rapi.

Orang mulai datang.

Awalnya sedikit.

Lalu ramai.

Lalu penuh.

Bu Sari sekarang di dapur besar.

Tapi tangannya masih sama.

Gerakannya masih sama.

Cepat. Tepat.

Kadang dia masih lihat ke arah pintu.

Refleks.

Seperti menunggu seseorang.

Suatu malam, pria itu duduk di dapur.

“Bu… saya mau jujur.”

Bu Sari menoleh.

“Rasa ini… saya pernah makan.”

Bu Sari tersenyum kecil.

“Mungkin mirip, Pak.”

Pria itu menggeleng.

“Nggak.”

Dia diam.

“Dulu… ibu saya sering masak nasi uduk.”

Tangan Bu Sari berhenti.

“Rasanya… sama persis.”

Sunyi.

“Tapi ibu saya sudah meninggal.”

Bu Sari tidak menjawab.

Bulan berganti.

Restoran itu makin besar.

Nama Bu Sari mulai dikenal.

Orang datang dari jauh.

Foto-foto.

Upload.

Ramai.

Suatu sore.

Pintu restoran terbuka.

Seorang laki-laki masuk.

Kemeja rapi.

Sepatu bersih.

Wajahnya lebih dewasa.

Tapi matanya…

Bu Sari langsung kaku.

Tangannya lepas dari sendok.

“Raka…”

Laki-laki itu berhenti.

Menatap ibunya.

Pelan.

“Bu…”

Suara itu.

Masih sama.

Tidak ada yang bergerak.

“Kamu… kemana aja, Nak…”

Suara Bu Sari pecah.

Raka menunduk.

“Maaf, Bu.”

Dua kata.

Lima tahun.

Belum sempat mereka mendekat…

Pria itu muncul dari belakang.

Langkahnya berhenti.

Matanya berpindah.

Dari Bu Sari.

Ke Raka.

Lalu kembali.

Wajahnya berubah.

Seperti mengenali.

Dia melangkah pelan.

“Ini… anak Ibu?”

“Iya…”

Sunyi.

Pria itu menatap Raka lama.

Terlalu lama.

“Nama kamu Raka?”

“Iya…”

Pria itu menarik napas.

Pelan.

Matanya tajam.

“Karena… saya sudah lama mencari kamu.”

Bu Sari langsung menoleh.

“Apa maksudnya…?”

Pria itu tidak menjawab.

Dia mendekat.

Satu langkah lagi.

“Dan kamu… akhirnya datang sendiri.”

Raka mengernyit.

“Apa sih, Pak?”

Pria itu menatap lurus ke matanya.

“Karena… selama ini…”

Dia berhenti.

Senyumnya tipis.

“…kamu adalah bagian dari sesuatu yang belum pernah diceritakan ke kamu.”

Jantung Bu Sari berdegup keras.

Ada sesuatu yang selama ini dia simpan.

Dan sekarang…

Orang lain yang membuka.

Ruang restoran tiba-tiba terasa sempit.

Suara piring, sendok, obrolan pelanggan—semuanya seperti ditarik jauh.

Yang tersisa cuma tiga orang.

Bu Sari.

Raka.

Dan pria itu.

“Bapak ngomong apa sih?”

Raka melangkah maju setengah langkah. Nadanya naik sedikit.

Pria itu tetap tenang.

“Duduk dulu.”

“Saya nggak kenal Bapak.”

“Justru itu masalahnya.”

Kalimat itu jatuh berat.

Bu Sari menelan ludah.

“Pak… ini maksudnya apa?”

Pria itu akhirnya menoleh ke Bu Sari.

“Bu… saya minta maaf. Harusnya ini saya sampaikan dari awal.”

“Awal apa?”

“Awal kita ketemu.”

Sunyi.

Kipas dapur berdengung pelan.

Raka melirik ibunya.

“Bu… ini siapa sih?”

Bu Sari tidak langsung jawab.

Tangannya dingin.

Pria itu menarik kursi.

Duduk.

“Nama saya Arman.”

Tidak ada reaksi.

Raka tetap berdiri.

“Kemudian?”

Arman menatap langsung ke Raka.

“Lima belas tahun lalu… saya pernah hampir kehilangan seseorang.”

Bu Sari langsung kaku.

“Pak…”

Arman angkat tangan pelan.

“Biarkan saya selesai.”

Dia tarik napas.

“Waktu itu… saya belum seperti sekarang. Masih kacau. Kerja serabutan. Hidup nggak jelas.”

Matanya sebentar kosong.

“Dan saya punya seorang istri.”

Raka diam.

Bu Sari menunduk.

“Dia hamil.”

Sunyi.

Suara dari luar restoran terdengar samar.

“Waktu itu… saya pergi. Ninggalin dia.”

Raka mengerutkan kening.

“Terus?”

Arman menatapnya.

“Beberapa bulan kemudian… saya balik.”

Dia berhenti.

“Dia sudah nggak ada.”

Jantung Bu Sari berdegup keras.

Raka masih belum paham.

“Terus hubungannya sama saya apa?”

Arman tidak langsung jawab.

Dia menatap wajah Raka lama.

Seperti memastikan sesuatu.

“Karena… waktu itu… saya diberitahu… anaknya juga tidak selamat.”

Bu Sari menutup mata sebentar.

Tangannya menggenggam ujung baju.

“Tapi ternyata… saya dibohongi.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Raka menegang.

“Apa maksudnya?”

Arman mencondongkan badan.

“Anak itu… tidak meninggal.”

Sunyi.

Keras.

“Dan saya baru tahu… beberapa tahun lalu.”

“Dari siapa?”

“Dari orang yang dulu membantu istri saya… sebelum dia meninggal.”

Bu Sari mulai gemetar.

Raka melirik.

“Bu…?”

Tidak ada jawaban.

Arman melanjutkan.

“Dia bilang… bayi itu diselamatkan. Diserahkan ke seseorang… yang mau merawat.”

Jantung Raka mulai berdetak lebih cepat.

“Apa hubungannya sama saya?”

Arman tidak langsung jawab.

Dia merogoh tas kecilnya.

Mengeluarkan sesuatu.

Sebuah foto lama.

Sudutnya sudah kusam.

Dia letakkan di meja.

“Ini.”

Raka melihat.

Foto seorang bayi.

Digendong oleh seorang perempuan muda.

Perempuan itu… Bu Sari.

Versi lebih muda.

Raka membeku.

“Ini…”

Tangannya gemetar saat mengambil foto itu.

“Bu… ini…?”

Bu Sari tidak berani menatap.

Air matanya jatuh pelan.

“Maaf…”

Hanya itu.

Raka langsung berdiri tegak.

Wajahnya berubah.

“MAAF?”

Suaranya keras.

Beberapa pelanggan menoleh.

“Ini maksudnya apa, Bu?!”

Bu Sari menangis.

“Maaf, Nak…”

Raka menoleh ke Arman.

“Jadi… maksud Bapak… saya ini…?”

Arman menatapnya lurus.

“Kamu… anak saya.”

Sunyi.

Tidak ada suara.

Tidak ada gerakan.

Seperti dunia berhenti.

Raka tertawa kecil.

Tidak percaya.

“Lucu, Pak.”

Dia menggeleng.

“Saya punya ibu.”

Dia menunjuk Bu Sari.

“Ini ibu saya.”

Arman mengangguk pelan.

“Iya.”

“Terus Bapak siapa?”

“Orang yang selama ini… nyari kamu.”

Raka mundur satu langkah.

Kepalanya terasa penuh.

“Bu… ini nggak lucu.”

Bu Sari menangis.

“Maaf, Nak…”

“Kenapa Ibu nggak pernah bilang?!”

Tidak ada jawaban.

Hanya tangis.

Raka mengacak rambutnya.

Napasnya berat.

“Jadi… selama ini… saya ini… bukan anak Ibu?”

Bu Sari langsung menggeleng keras.

“Kamu anak Ibu!”

“TAPI KATANYA—”

“Kamu anak Ibu!”

Tangisnya pecah.

“Dari kecil… yang gendong kamu siapa?! Yang jagain kamu sakit siapa?! Yang cari makan siapa?!”

Raka diam.

Dadanya naik turun.

“Tapi… saya bukan darah Ibu…”

Bu Sari menunduk.

Air matanya jatuh ke lantai.

“Bukan…”

Kalimat itu seperti memotong semuanya.

Sunyi.

Raka menutup mata.

Lama.

Saat dia buka lagi…

Tatapannya berubah.

Dingin.

“Jadi… selama ini… saya dibohongi.”

Bu Sari langsung menggeleng.

“Bukan begitu—”

“Tapi saya dibohongi.”

Tidak ada yang bisa menyangkal.

Arman berdiri pelan.

“Raka—”

“Jangan panggil nama saya.”

Suasana makin tegang.

Raka menggenggam foto itu kuat.

Tangannya gemetar.

“Kenapa baru sekarang?”

Tidak ada yang jawab.

“KENAPA BARU SEKARANG?!”

Suara itu menggema di restoran.

Arman menarik napas.

“Karena saya baru tahu.”

Raka menoleh tajam.

“Dan sekarang Bapak datang… terus mau apa?”

Arman diam sebentar.

Matanya tidak lepas dari Raka.

“Mau memperbaiki semuanya.”

Raka tertawa kecil.

Pahit.

“Telat, Pak.”

Dia menatap Bu Sari.

Lama.

“Semua ini… telat.”

Dia letakkan foto itu di meja.

Pelan.

Lalu mundur.

Satu langkah.

Dua langkah.

Bu Sari langsung maju.

“Raka… jangan pergi lagi, Nak…”

Tangannya mencoba meraih.

Raka mundur.

“Jangan sentuh saya dulu.”

Kalimat itu pelan.

Tapi lebih sakit dari teriakan.

Bu Sari berhenti.

Tangannya menggantung di udara.

Raka menoleh sekali lagi.

Ke dua orang itu.

Lalu berbalik.

Dan berjalan keluar.

Pintu restoran terbuka.

Suara jalanan langsung masuk.

Motor lewat.

Orang ngobrol.

Tapi di dalam…

Sunyi.

Lebih sunyi dari sebelumnya.

Raka berjalan cepat.

Langkahnya panjang.

Tidak jelas arah.

Yang penting menjauh.

Dari restoran itu.

Dari ibunya.

Dari semua hal yang barusan hancur.

Suara klakson terdengar.

Orang-orang lewat.

Tapi semuanya seperti kabur.

Di kepalanya cuma satu suara.

“Bukan darah Ibu…”

Dia berhenti di pinggir jalan.

Tangannya mengepal.

Napasnya berat.

“Gila…”

Dia tertawa kecil.

Kosong.

Di restoran, Bu Sari masih berdiri di tempat yang sama.

Tangannya masih menggantung.

Seperti belum sadar Raka benar-benar pergi lagi.

“Bu…”

Arman pelan.

“Maaf…”

Bu Sari menoleh.

Matanya merah.

“Kenapa sekarang, Pak…”

Suara itu lemah.

“Kenapa nggak dari dulu…”

Arman menunduk.

“Karena saya juga baru tahu…”

“Harusnya… jangan sekarang…”

Air mata jatuh lagi.

“Dia baru balik…”

Tangannya gemetar.

“Baru balik…”

Arman tidak punya jawaban.

Malam itu, hujan turun.

Raka duduk di halte kecil.

Basah.

Tidak peduli.

Tangannya memegang foto tadi.

Dia lihat lagi.

Bu Sari versi muda.

Menggendong bayi.

“Jadi… ini gue…”

Dia menelan ludah.

Flashback kecil muncul.

Bu Sari menyuapi dia.

Bu Sari menggendong dia saat demam.

Bu Sari bangun malam.

Bu Sari kerja.

Bu Sari… selalu ada.

Tapi…

“Kenapa bohong…”

Tangannya meremas foto itu.

Di sisi lain kota, Arman duduk di mobilnya.

Diam.

Mesin mati.

Kaca sedikit berembun.

Dia membuka dompet.

Ada satu foto lain.

Perempuan.

Istrinya dulu.

Dia lihat lama.

“Harusnya… gue lebih cepat…”

Keesokan paginya, Bu Sari tetap masak.

Tapi tangannya gemetar.

Beberapa kali salah.

Karyawan saling pandang.

“Bu, istirahat aja dulu…”

“Nggak.”

Suara Bu Sari pelan.

“Tetap buka.”

Dia tetap berdiri.

Walau matanya sembab.

Pintu restoran terbuka.

Arman masuk.

Dia langsung ke dapur.

“Bu…”

“Sudah makan, Pak?”

Nada Bu Sari datar.

“Belum.”

Bu Sari tetap masak.

Tidak menatap.

“Raka kemana?”

Bu Sari berhenti sebentar.

Lalu lanjut lagi.

“Nggak tahu.”

Sunyi.

Arman menarik napas.

“Saya akan cari dia.”

Bu Sari langsung menoleh.

Matanya tajam.

“Kalau ketemu…”

Suara itu bergetar.

“Jangan paksa dia.”

Arman mengangguk.

Sore hari, Raka muncul lagi.

Bukan ke restoran.

Ke rumah lama.

Pintu masih sama.

Cat mulai pudar.

Dia buka pelan.

Bau rumah itu… masih sama.

Kayu. Minyak kayu putih. Sedikit lembab.

Dia masuk.

Langkahnya pelan.

Semua masih di tempatnya.

Kasur.

Meja.

Lemari kecil.

Dia duduk di kasur.

Tangannya menyentuh bantal.

Sunyi.

Dia membuka laci meja.

Masih ada.

Kertas itu.

“Bu, aku pergi. Jangan cari aku.”

Dia tersenyum pahit.

“Dulu gue yang ninggalin…”

Dia menutup mata.

Lama.

Lalu membuka lagi.

Tatapannya berubah.

Tidak sekacau tadi.

Lebih tenang.

Tapi lebih dalam.

“Apa… selama ini… dia nyari gue juga?”

Pertanyaan itu muncul.

Dan tidak bisa dihindari.

Di luar rumah, sebuah mobil berhenti.

Arman turun.

Dia berdiri di depan pintu.

Diam sebentar.

Lalu mengetuk.

Tok.

Tok.

Tok.

Raka menoleh.

Jantungnya langsung berdetak cepat.

Dia berdiri.

Langkah pelan.

Membuka pintu.

Dan mereka berdiri berhadapan.

Tanpa kata.

Hanya hujan di belakang.

Hujan turun lebih deras.

Air mengalir di atap seng.

Suara tetesan jatuh cepat.

Raka berdiri di ambang pintu.

Arman di luar.

Basah.

“Masuk.”

Raka bicara pelan.

Arman masuk.

Sepatu basah meninggalkan jejak di lantai.

Mereka duduk.

Berhadapan.

Sunyi.

Cuma suara hujan.

“Kenapa baru sekarang?”

Raka akhirnya bicara.

Arman menghela napas.

“Karena saya baru tahu… kamu masih hidup.”

“Siapa yang bohong?”

“Orang yang dulu bantu istri saya.”

“Kenapa?”

“Karena… dia bilang… kondisi waktu itu tidak memungkinkan saya membesarkan anak.”

Raka tertawa kecil.

“Terus?”

“Dia titipkan kamu… ke Bu Sari.”

Sunyi.

Raka menatap lantai.

“Kenapa Bu Sari mau?”

Arman menatap sekeliling rumah itu.

“Karena waktu itu… dia juga sendirian.”

“Suaminya?”

“Sudah pergi.”

Raka menutup mata.

“Jadi… dia juga ditinggal.”

“Iya.”

Sunyi lagi.

Lebih dalam.

“Dan dia milih… besarin gue.”

“Iya.”

Raka menarik napas panjang.

Tangannya gemetar sedikit.

“Kenapa dia nggak pernah bilang…”

Arman pelan.

“Mungkin… dia takut kehilangan kamu.”

Kalimat itu langsung menusuk.

Raka terdiam.

Flashback lagi.

Bu Sari berdiri di depan gerobak.

Bu Sari menunggu di depan rumah.

Bu Sari memanggil namanya tiap pagi.

Dan…

Dirinya sendiri yang pergi.

Karena malu.

Tangan Raka mengepal.

“Kampret…”

Suara itu pelan.

Bukan marah ke siapa-siapa.

Ke dirinya sendiri.

Di restoran, Bu Sari duduk sendiri.

Lampu sebagian sudah dimatikan.

Dia memegang foto lama itu.

Tangannya bergetar.

“Maaf ya, Nak…”

Air matanya jatuh lagi.

Di rumah, Raka berdiri.

Tiba-tiba.

“Ayo.”

Arman kaget.

“Kemana?”

“Ke restoran.”

Arman berdiri.

Mobil berhenti di depan restoran.

Lampu masih redup.

Pintu setengah terbuka.

Raka masuk cepat.

Arman di belakang.

Di dalam, Bu Sari masih duduk.

Dia menoleh.

Kaget.

“Raka…”

Raka tidak langsung jawab.

Dia berjalan mendekat.

Langkahnya pelan.

Wajahnya tidak lagi marah.

Tapi penuh sesuatu yang lain.

Penyesalan.

Dia berhenti di depan Bu Sari.

Sunyi.

Beberapa detik.

Lalu…

“Bu…”

Suara itu pecah.

Tangannya gemetar.

“Maaf…”

Bu Sari langsung berdiri.

“Jangan, Nak…”

Raka menggeleng.

Air matanya jatuh.

“Gue yang harus minta maaf…”

Dia menunduk.

“Gue pergi… karena malu…”

Tangannya mengepal.

“Padahal… yang harusnya gue malu itu diri gue sendiri.”

Bu Sari menangis.

Langsung memeluk.

Kuat.

Seperti takut hilang lagi.

“Jangan pergi lagi, Nak…”

Raka membalas pelukan itu.

Kuat.

“Enggak, Bu…”

Suara itu serak.

“Enggak…”

Arman berdiri di belakang.

Diam.

Melihat.

Tidak ikut masuk.

Tidak mengganggu.

Pagi itu, restoran buka seperti biasa.

Tapi suasananya beda.

Lebih hangat.

Lebih hidup.

Di dapur, Bu Sari masak.

Seperti biasa.

Tapi sekarang…

Ada satu orang di sampingnya.

“Bu, ini sambalnya udah bener belum?”

Raka.

Pakainya celemek.

Tangannya masih kaku.

Bu Sari tertawa kecil.

“Kebanyakan gula itu.”

“Oh… pantesan manis banget.”

Raka nyengir.

Karyawan pada senyum.

Di depan, Arman duduk.

Tidak di pojok lagi.

Di tengah.

Melihat mereka.

Kadang tersenyum sendiri.

Beberapa hari berlalu.

Raka mulai terbiasa.

Bangun pagi.

Bantu masak.

Layani pelanggan.

Kadang masih kikuk.

Tapi dia tidak berhenti.

Suatu siang, restoran agak sepi.

Raka duduk di depan.

Arman mendekat.

“Capek?”

“Lumayan.”

Mereka duduk bersebelahan.

Tidak sekaku dulu.

“Terima kasih… sudah datang.”

Raka bicara tanpa menoleh.

Arman mengangguk pelan.

“Harusnya saya yang bilang itu.”

Sunyi sebentar.

“Pak…”

“Iya?”

Raka menelan ludah.

“Maaf… kemarin gue kasar.”

Arman tersenyum kecil.

“Wajar.”

Raka mengangguk.

Pelan.

“Gue belum bisa langsung… manggil Bapak.”

Arman mengangguk lagi.

“Saya ngerti.”

Sunyi.

Tapi tidak canggung.

Lebih… ringan.

Di dapur, Bu Sari memperhatikan dari jauh.

Matanya sedikit basah.

Tapi dia tersenyum.

Malamnya, mereka makan bersama.

Untuk pertama kalinya.

Satu meja.

Bu Sari.

Raka.

Arman.

“Ini enak banget, Bu.”

Arman bicara.

Bu Sari tertawa kecil.

“Dari dulu juga enak, Pak.”

Raka menyenggol pelan.

“Maksudnya… dari dulu juga enak.”

Mereka bertiga tertawa kecil.

Setelah makan, Raka berdiri.

Mengambil sesuatu dari tasnya.

Sebuah kertas.

Dia letakkan di meja.

Bu Sari langsung mengenali.

Kertas lama itu.

“Bu…”

Raka bicara pelan.

“Yang ini… boleh gue buang ya?”

Tangannya gemetar sedikit.

Bu Sari menatap.

Lalu mengangguk.

Pelan.

Raka menarik napas.

Lalu merobek kertas itu.

Pelan.

Tidak ada suara lain.

Hanya kertas sobek.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Selesai.

Dia membuangnya ke tempat sampah.

Lalu kembali duduk.

Menatap Bu Sari.

“Sekarang… gue di sini.”

Bu Sari mengangguk.

Air matanya jatuh.

Tapi dia tersenyum.

Di luar, suara motor lewat.

Angin malam masuk sedikit.

Lampu restoran tetap menyala.

Hangat.

Hidup.

Dan untuk pertama kalinya…

Tidak ada yang ditinggalkan.

Tidak ada yang disembunyikan.

Tidak ada yang hilang.

Semuanya… akhirnya pulang.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *