RUMAH ITU SUDAH TERJUAL. DP-NYA SUDAH MASUK KE REKENING. TAPI ADIK PEREMPUANKU DATANG… DAN BILANG SEMUA ITU HARUS DIBATALKAN — KARENA IBU KITA SELAMA INI BERBOHONG.

Siang itu panasnya nempel di kulit.

Ubin teras terasa hangat walau aku pakai sandal tipis. Dari luar, suara motor lewat sesekali, lalu hilang di ujung gang.

Aku duduk di ruang tamu rumah orang tua kami.

Rumah lama.

Cat temboknya mulai mengelupas. Bekas paku masih tertinggal di beberapa titik, bekas kalender yang sudah lama nggak diganti.

Kipas angin berdiri di pojok.

Muter pelan.

Kreekk… kreekk…

Di atas meja kayu, ada map coklat.

Sudah terbuka.

Kertas-kertasnya setengah keluar.

Surat tanah.

Surat jual beli.

Dan satu lembar paling penting.

Yang sudah ditandatangani empat orang.

Aku.

Hendra.

Dedi.

Rian.

Tinggal satu.

“Jam berapa dia bilang datang?” tanya Hendra.

Aku lihat jam dinding.

Jarumnya jalan pelan.

“Jam satu,” jawabku.

Sekarang sudah lewat.

Dedi berdiri di dekat jendela.

Ngintip ke luar gang.

“DP-nya sudah masuk. Pembeli sudah nunggu di kantor notaris dari pagi,” katanya.

Nada suaranya mulai kasar.

Rian duduk di lantai, sandar tembok.

Kakinya goyang pelan.

“Kalau batal hari ini, kita bisa kena masalah,” katanya.

Aku nggak jawab.

Tanganku pegang HP.

Buka WhatsApp.

Nama: Sinta.

Terakhir online: 12.01

Pesanku cuma centang dua.

Belum dibaca.

“Coba telepon,” kata Hendra.

Aku langsung tekan call.

Nada sambung.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Klik.

Langsung mati.

Perutku mulai nggak enak.

Bukan lapar.

Kayak ada yang salah.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun rumah ini jadi bahan omongan.

Dari waktu bapak meninggal.

Dari waktu ibu masih duduk di kursi ini, sambil kipas-kipas pakai koran.

“Jangan buru-buru jual,” katanya dulu.

“Tunggu waktunya.”

Tapi waktu terus jalan.

Kami juga.

Aku kerja serabutan.

Kadang ada, kadang nggak.

Hendra pindah kota.

Dedi punya cicilan.

Rian kerja di bengkel, penghasilannya pas-pasan.

Rumah ini kosong.

Atap bocor.

Cat mengelupas.

Pajak nunggak.

Dan yang paling berat…

Setiap masuk ke sini, rasanya seperti masuk ke masa lalu yang nggak bisa diulang.

Makanya kami sepakat.

Jual.

Selesai.

Dan hari ini harusnya jadi akhir dari semuanya.

Tiba-tiba suara mobil berhenti di depan rumah.

Kami semua langsung nengok.

Pintu mobil dibuka.

Sinta turun.

Aku langsung berdiri.

Ada rasa lega.

Tapi juga… aneh.

Dia pakai baju rapi.

Lebih rapi dari biasanya.

Rambutnya diikat.

Mukanya datar.

Di belakangnya, Arman.

Suaminya.

Langkahnya santai.

Tangannya di saku.

Matanya keliling.

Pintu rumah dibuka.

Sinta masuk.

Langkahnya pelan.

Dia berhenti sebentar di depan foto ibu.

Tatap lama.

Seperti ada yang ditahan.

Lalu dia duduk.

“Maaf telat,” katanya.

Datar.

Hendra langsung dorong map ke arahnya.

“Ini sudah siap semua. Tinggal kamu tanda tangan.”

Pulpen diletakkan di atas kertas.

Kipas masih bunyi.

Kreekk… kreekk…

Dari luar, suara tukang bakso lewat.

“BAKSOOO…”

Sinta nggak langsung ambil pulpen.

Dia cuma lihat map itu.

Lama.

Tangannya di atas paha.

Jarinya ngetuk pelan.

Tok… tok… tok…

“Ada apa?” tanyaku.

Dia angkat kepala.

Tatap aku.

“Kalau rumah ini dijual hari ini…” katanya pelan.

Dia berhenti.

Lihat satu per satu wajah kami.

“Kita semua bakal jadi orang paling jahat di keluarga ini.”

Ruangan langsung terasa dingin.

“Apa maksud kamu?” suara Dedi naik.

“Kita sudah sepakat, Sin!”

“Aku nggak setuju.”

Hendra langsung berdiri.

“Kamu nggak bisa tiba-tiba begini! DP sudah masuk!”

“Iya,” kata Sinta.

“Justru itu.”

Aku melangkah mendekat.

“Sinta… kita semua butuh uang ini.”

Dia diam sebentar.

Narik napas.

“Bukan soal uang.”

Arman akhirnya maju.

Berdiri di belakang kursinya.

Tangannya masih di saku.

“Kalau dijual sekarang,” katanya pelan, “akan ada yang hancur.”

“Siapa?” tanya Rian cepat.

Arman nggak jawab.

Cuma lihat aku.

Terlalu lama.

Seperti dia tahu sesuatu… yang aku belum tahu.

Sinta buka tasnya.

Pelan.

Nggak terburu-buru.

Dia keluarkan satu amplop coklat.

Ujungnya sudah lecek.

Ada bekas lipatan lama.

“Aku temuin ini di lemari ibu,” katanya.

Tanganku langsung dingin.

“Di balik tumpukan baju lama. Yang bau minyak kayu putih itu.”

Aku langsung kebayang.

Lemari itu.

Bau khas ibu.

Baju-baju yang nggak pernah dibuang.

“Kenapa baru sekarang?” tanya Hendra.

Sinta lihat dia.

“Aku buka sekali,” katanya pelan.

“Cuma sekali. Habis itu aku tutup lagi.”

Dia tarik napas.

“Nggak sanggup.”

Sunyi.

Kipas tetap bunyi.

Kreekk… kreekk…

“Sekarang buka,” kata Dedi.

Sinta dorong amplop itu ke tengah meja.

Pelan.

Aku yang paling dekat.

Tanganku maju.

Ambil amplop itu.

Kertasnya tipis.

Ringan.

Tapi rasanya berat.

Aku buka.

Suara kertas tua itu kasar.

Krek…

Di dalam ada satu lembar.

Tulisan tangan.

Aku langsung kenal.

Tulisan ibu.

Tulisan itu sedikit goyang di bagian bawah.

Seperti ditulis sambil nahan sesuatu.

Tanganku mulai gemetar.

Aku baca baris pertama.

“Untuk anak-anak ibu…”

Napas semua orang tertahan.

Aku lanjut baca.

Dan detik itu juga…

semuanya berubah.

Karena di situ tertulis:

“Rumah ini… bukan milik kalian semua.”

Dedi langsung maju.

“Apaan itu?!”

Aku lanjut baca.

Mata mulai kabur.

“Rumah ini ibu simpan… untuk seseorang yang selama ini kalian anggap tidak ada.”

Jantungku seperti jatuh.

“Siapa maksudnya?” suara Rian pelan.

Aku belum sempat jawab.

Sinta bicara.

“Bukan siapa…”

Dia berhenti.

Lihat aku.

“Tapi siapa yang kalian buang… tanpa pernah kalian sadari.”

Tanganku lemas.

Kertas itu hampir jatuh.

Dan tiba-tiba…

aku ingat sesuatu.

Sesuatu yang selama ini…

kami semua sepakat untuk tidak pernah dibicarakan lagi.

Tanganku masih pegang surat itu.

Ujung kertasnya sudah sedikit basah oleh keringat.

Ruangan sunyi.

Cuma suara kipas.

Kreekk… kreekk…

“Baca yang jelas,” kata Hendra.

Suaranya pelan, tapi nadanya keras.

Aku telan ludah.

Lanjut baca.

“Kalau kalian membaca ini… berarti ibu sudah tidak ada.”

Tulisan itu makin goyang di bawah.

“Ibu minta maaf… karena selama ini ibu menyembunyikan sesuatu dari kalian semua.”

Dedi mendengus.

“Drama apaan lagi ini…”

Aku lanjut.

“Rumah ini… bukan untuk dibagi lima.”

“Rumah ini… ibu titipkan untuk anak ibu yang selama ini tidak pernah kalian anggap sebagai bagian dari keluarga.”

Rian langsung berdiri.

“Ini maksudnya siapa sih?!”

Tanganku gemetar.

Nafasku mulai pendek.

Aku lanjut baca.

“Namanya… Arman.”

Sunyi.

Kipas masih bunyi.

Tapi rasanya jauh.

Pelan-pelan aku angkat kepala.

Tatap Arman.

Dia nggak kaget.

Nggak heran.

Cuma berdiri.

Tenang.

Seolah… ini bukan hal baru buat dia.

“Ini… bercanda ya?” Dedi ketawa kering.

“Ini kebetulan aja namanya sama?”

Nggak ada yang jawab.

Sinta menunduk.

Tangannya saling menggenggam.

“Sin…” suaraku serak.

“Ini maksudnya apa?”

Dia angkat kepala.

Matanya merah.

“Aku juga kaget waktu baca pertama kali,” katanya pelan.

“Kaget?” Dedi nyolot.

“Ini bukan kaget, ini ngawur!”

Aku lanjut baca.

“Arman adalah anak ibu.”

Tanganku langsung lemas.

Surat itu hampir jatuh.

“Dari sebelum ibu menikah dengan bapak kalian.”

Hendra mundur satu langkah.

Kayak kena pukul.

“Bapak kalian tidak pernah tahu.”

Ruangan makin sempit.

Udara terasa berat.

“Arman dititipkan ke keluarga lain… karena keadaan saat itu tidak memungkinkan.”

Rian geleng-geleng.

“Nggak mungkin… nggak mungkin…”

Aku baca lagi.

“Ibu mengikuti hidupnya dari jauh.”

“Ibu tahu dia tumbuh dengan baik.”

“Ibu tahu dia akhirnya menikah dengan Sinta… tanpa kalian semua tahu siapa dia sebenarnya.”

Aku langsung lihat Sinta.

Dia nangis.

Diam.

Air matanya jatuh satu-satu.

“Jadi…” suara Hendra berat.

“Ini semua… kamu sudah tahu?”

Sinta mengangguk pelan.

“Sejak kapan?” tanya aku.

Dia tarik napas.

“Sejak aku mau nikah sama dia.”

Sunyi lagi.

Dedi langsung maju.

“Jadi kamu sengaja nutupin ini dari kita semua?!”

“Aku nggak boleh bilang!” suara Sinta tiba-tiba naik.

Pertama kali dia emosional.

“Ibu yang minta!”

Tangannya gemetar.

“Ibu bilang… kalau kalian tahu, kalian nggak akan terima dia…”

Rian ketawa kecil.

Pahit.

“Ya jelas lah! Ini bukan hal kecil, Sin!”

Aku nggak bisa ngomong.

Mataku masih ke Arman.

Dia tetap diam.

“Apa semua ini bener?” tanyaku akhirnya.

Langsung ke dia.

Arman tarik napas pelan.

“Gue juga baru tahu beberapa tahun lalu,” katanya.

Suaranya tenang.

Terlalu tenang.

“Ibu lo yang cerita ke gue.”

“Kapan?” tanya Hendra cepat.

“Waktu gue sakit,” jawabnya.

Semua langsung nengok.

“Gue masuk rumah sakit. Dia datang.”

Dia lihat surat di tanganku.

“Dia bilang… gue anaknya.”

Dedi geleng keras.

“Terus lo percaya aja?!”

Arman ngangguk.

“Karena dia bawa bukti.”

“Bukti apa?” tanyaku.

Dia diam sebentar.

“Akta kelahiran lama.”

Jantungku berdetak keras.

“Ada nama ibu lo di situ.”

Sunyi.

Kipas masih muter.

Kreekk… kreekk…

Aku pegang kepala.

Semua mulai nyambung.

Kenapa ibu selalu aneh kalau bahas masa lalunya.

Kenapa dia kadang diam lama kalau lihat anak kecil.

Kenapa dia pernah bilang…

“Semua anak itu punya tempatnya masing-masing.”

Aku nggak pernah mikir sejauh ini.

“Jadi…” suara Rian pelan.

“Lo… abang kita?”

Arman nggak langsung jawab.

Dia lihat kami satu per satu.

Lalu bilang:

“Iya.”

Dedi langsung marah.

“Enak aja lo bilang iya! Datang-datang ngaku anak, terus rumah mau diambil?!”

“Gue nggak pernah minta apa-apa,” jawab Arman.

Masih tenang.

“Dari dulu gue hidup sendiri.”

“Terus sekarang?” Dedi makin keras.

Arman lihat surat itu.

“Sekarang… gue cuma ngelakuin apa yang ibu minta.”

Tanganku makin dingin.

Aku lihat lagi isi surat.

Kalimat terakhir.

“Ibu titipkan rumah ini untuk Arman. Bukan sebagai balasan… tapi sebagai permintaan maaf.”

Aku nggak bisa napas sebentar.

Permintaan maaf.

Sepanjang hidup kami…

ibu menyimpan ini.

Dan kami nggak pernah tahu.

“Jadi rumah ini…” suaraku pelan.

“…harusnya bukan buat kita?”

Sinta geleng pelan.

“Bukan,” katanya.

Hendra langsung duduk.

Kursinya bunyi gesek.

“Berarti… semua ini salah dari awal,” katanya pelan.

Dedi masih berdiri.

Mukanya merah.

“Gue nggak peduli surat apa pun,” katanya.

“Yang kita pegang itu sertifikat. Nama kita semua ada di situ.”

Kalimat itu langsung bikin suasana berubah lagi.

Aku langsung sadar.

Ini belum selesai.

Bahkan baru mulai.

Karena sekarang bukan cuma soal rahasia.

Tapi soal…

siapa yang berhak.

Dan untuk pertama kalinya sejak tadi…

Arman melangkah maju.

Tangannya keluar dari saku.

Dia letakkan sesuatu di atas meja.

Sebuah map.

Lebih tebal.

Lebih rapi.

“Kalau mau ngomong soal hak…” katanya pelan.

Dia dorong map itu ke arah kami.

“Gue juga bawa sesuatu.”

Jantungku langsung turun.

Karena cara dia ngomong…

bukan kayak orang yang minta.

Tapi kayak orang yang…

siap mengambil.

Map itu berhenti tepat di tengah meja.

Lebih rapi dari map kami.

Sudutnya masih tajam. Tidak ada lipatan.

Seperti baru.

Tanganku refleks maju.

Belum sempat aku sentuh…

Dedi lebih dulu menariknya.

“Kita lihat ini apaan lagi,” katanya kasar.

Dia buka map itu cepat.

Kertas di dalamnya banyak.

Lebih dari satu.

Ruangan langsung tegang.

Kipas masih muter.

Kreekk… kreekk…

Dedi baca cepat.

Matanya makin lama makin tajam.

“Ini… apa-apaan ini?” suaranya berubah.

“Baca yang keras,” kata Hendra.

Dedi tarik napas.

“Surat kuasa… pernyataan… pengalihan hak…”

Dia berhenti.

Nelan ludah.

“Ditandatangani… ibu.”

Jantungku langsung berdetak keras.

“Apa maksudnya?” tanyaku.

Dedi lempar satu lembar ke meja.

Aku ambil.

Tulisan resmi.

Ada materai.

Tanda tangan ibu.

Cap notaris.

Tanganku mulai dingin lagi.

Aku baca pelan.

“Ibu… menyatakan bahwa rumah ini… secara moral dan pribadi… diberikan kepada Arman.”

Aku langsung lihat Arman.

Dia diam.

“Ini nggak sah!” Dedi langsung meledak.

“Ini bukan sertifikat! Ini cuma surat omong kosong!”

Arman tetap tenang.

“Bener,” katanya.

“Secara hukum… belum.”

Belum.

Kata itu jatuh pelan.

Tapi berat.

“Belum?” ulangku.

Arman angguk sedikit.

“Makanya gue datang hari ini.”

Sunyi.

Hendra berdiri pelan.

“Lo mau apa?” tanyanya.

Arman tarik napas.

“Gue cuma mau… apa yang harusnya jadi hak gue.”

“HAK?!” Dedi hampir teriak.

“Lo baru muncul sekarang!”

“Aku nggak pernah minta dilahirkan diam-diam,” jawab Arman.

Masih tenang.

Kalimat itu langsung nancep.

Rian yang dari tadi diam… tiba-tiba ngomong.

“Kenapa ibu nggak pernah bilang ke kita?”

Sinta jawab pelan.

“Karena ibu takut.”

“Takut apa?” tanya aku.

Sinta lihat kami satu per satu.

“Takut kalian benci dia.”

Sunyi lagi.

Aku duduk.

Lemah.

Semua mulai masuk akal.

Kenapa ibu selalu menahan sesuatu.

Kenapa dia sering diam.

Kenapa ada bagian hidupnya yang nggak pernah dia ceritakan.

Dan sekarang…

semua itu muncul.

Sekaligus.

“Gue nggak peduli masa lalu,” kata Dedi.

Suaranya masih keras.

“Yang gue tahu, sekarang kita lagi butuh uang.”

Dia tunjuk map di meja.

“Rumah ini sudah ada pembeli. DP sudah masuk.”

Dia lihat Arman.

“Lo datang sekarang, terus mau ambil semua?”

Arman geleng.

“Gue nggak mau ambil semua.”

“Terus?” tanya Hendra.

Arman diam sebentar.

Lalu bilang:

“Gue cuma minta… rumah ini jangan dijual.”

Ruangan langsung panas lagi.

“GILA?!” Dedi teriak.

“Sepuluh tahun kita nunggu, sekarang lo suruh batalin?!”

“Bukan batalin,” kata Arman.

Dia lihat surat di tanganku.

“Menunda.”

Kata itu langsung bikin semua emosi naik.

“Menunda berapa lama?” tanyaku.

Arman jawab tanpa ragu.

“Sepuluh tahun.”

Dedi ketawa keras.

“Ini orang gila,” katanya.

Rian berdiri.

“Kenapa harus sepuluh tahun?”

Arman nggak langsung jawab.

Dia lihat Sinta.

Sinta menunduk.

“Karena…” suara Arman pelan.

“…itu permintaan terakhir ibu.”

Aku langsung lihat surat lagi.

Tanganku balik halaman.

Dan di bagian bawah…

ada satu kalimat kecil.

Yang tadi nggak aku perhatikan.

Tulisan ibu.

Lebih kecil.

Lebih goyang.

“Jangan jual rumah ini sebelum 10 tahun. Tolong.”

Jantungku seperti berhenti.

“Kenapa…?” suaraku hampir nggak keluar.

Arman akhirnya jawab.

“Karena ada sesuatu… yang akan terjadi di rumah ini.”

Sunyi.

“Apa?” tanya Hendra.

Arman diam.

Lalu bilang:

“Kalau rumah ini tetap ada… ada satu orang yang akan pulang.”

Darahku langsung dingin.

“Siapa?” tanya Rian cepat.

Arman lihat aku.

Tepat ke mataku.

“Tergantung… kalian masih mau ngaku dia sebagai keluarga atau nggak.”

Tanganku gemetar.

Karena kalimat itu…

langsung nyambung ke satu hal.

Satu nama.

Satu orang…

yang selama ini…

kami sepakat untuk tidak pernah dibicarakan lagi.

Dan kali ini…

bukan cuma aku yang ingat.

Hendra pelan-pelan duduk.

Mukanya pucat.

Dedi yang tadi paling keras…

langsung diam.

Rian mundur satu langkah.

Sinta nangis tanpa suara.

Dan untuk pertama kalinya…

kami semua sadar.

Masalah ini bukan soal rumah.

Bukan soal uang.

Tapi soal seseorang…

yang selama ini kami anggap sudah tidak ada.

Dan kalau Arman benar…

orang itu…

akan kembali.

Ruangan itu terasa makin sempit.

Padahal tidak ada yang berubah.

Kipas masih muter.

Kreekk… kreekk…

Tapi napas kami semua seperti habis.

“Apa maksud lo… ‘akan pulang’?” suara Hendra pelan.

Serak.

Arman tidak langsung jawab.

Dia tarik kursi.

Duduk.

Akhirnya.

Untuk pertama kalinya sejak tadi.

Tangannya tidak lagi di saku.

Dia taruh di atas meja.

Terbuka.

“Gue nggak datang ke sini buat rebutan,” katanya.

Pelan.

Tapi jelas.

“Gue datang… karena waktu kita tinggal sedikit.”

Kalimat itu langsung bikin bulu kudukku naik.

“Waktu apa?” tanya aku.

Arman lihat aku.

Lama.

“Waktu sebelum dia kembali.”

Dedi berdiri lagi.

Kesabarannya habis.

“JANGAN MUTER-MUTER!” bentaknya.

“SIAPA DIA?!”

Arman tidak marah.

Tidak naik suara.

Dia cuma bilang:

“Anak ibu yang hilang.”

Dunia seperti berhenti.

Aku langsung berdiri.

Kursi tergeser keras.

“Itu nggak mungkin,” kataku cepat.

Terlalu cepat.

Karena aku tahu.

Aku tahu persis siapa yang dia maksud.

Rian mundur.

Tangannya gemetar.

“Dia… kan…” suaranya hilang.

Sinta menutup wajahnya.

Hendra memegang kepala.

Dan Dedi…

yang paling keras tadi…

tidak bicara.

Karena kami semua ingat.

Dua puluh tahun lalu.

Hujan deras.

Lebih deras dari hari ini.

Ibu berdiri di depan pintu.

Menahan seseorang.

Seorang anak.

“Pergi,” kata ibu waktu itu.

Pelan.

Tapi dingin.

Anak itu berdiri di luar.

Basah kuyup.

Tidak melawan.

Tidak marah.

Cuma lihat kami.

Aku masih ingat matanya.

Dia lihat aku.

Seolah minta ditahan.

Tapi aku tidak bergerak.

Tidak ada yang bergerak.

Pintu ditutup.

Dan sejak itu…

nama dia tidak pernah disebut lagi.

“Dia nggak hilang,” kata Arman pelan.

“Kalian yang… membiarkan dia pergi.”

Tanganku gemetar.

“Kenapa sekarang?” tanyaku.

Arman ambil satu kertas dari mapnya.

Bukan surat hukum.

Foto.

Dia letakkan di meja.

Aku lihat.

Seorang laki-laki.

Lebih tua.

Kurus.

Berdiri di depan rumah sakit.

Di tangannya ada gelang pasien.

Tanggal di foto itu…

dua minggu lalu.

“Dia masih hidup,” kata Arman.

Suara itu seperti menghantam dada.

“Dan dia… lagi sakit.”

Sunyi.

Aku duduk pelan.

Kaki terasa lemas.

“Kenapa… dia nggak pulang?” tanya Rian.

Arman tarik napas.

“Karena dia pikir… dia nggak punya rumah lagi.”

Sinta nangis.

Lebih keras sekarang.

“Selama ini…” katanya terputus-putus.

“ibu diam-diam nyari dia…”

Aku langsung lihat dia.

“Maksud kamu?”

“Ibu tahu dia masih hidup,” kata Sinta.

“Dia sering kirim orang buat cari kabar.”

Tanganku mengepal.

“Ibu tunggu…” lanjutnya.

“Dia tunggu sampai dia siap pulang.”

“Dan sekarang?” tanya Hendra.

Arman jawab pelan:

“Sekarang… dia sudah mau pulang.”

Jantungku berdetak keras.

“Tapi…” Arman lanjut.

“…dia cuma mau pulang… kalau rumah ini masih ada.”

Semua langsung diam.

“Kalau rumah ini dijual…” katanya.

“…dia nggak akan pernah datang.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Tapi menghancurkan semuanya.

Aku lihat map di meja.

Lihat surat.

Lihat foto.

Semua mulai jelas.

Kenapa ibu minta tunggu 10 tahun.

Kenapa rumah ini tidak boleh dijual.

Kenapa Arman datang sekarang.

Bukan soal dia.

Tapi soal…

orang yang kami buang.

Tanganku gemetar.

“Berarti…” suaraku pelan.

“…kalau kita tetap jual rumah ini…”

Aku tidak lanjut.

Karena jawabannya sudah jelas.

Kami akan kehilangan dia.

Untuk kedua kalinya.

Dedi pelan-pelan duduk.

Mukanya kosong.

Rian menunduk.

Hendra tidak bergerak.

Dan untuk pertama kalinya…

tidak ada yang bicara soal uang.

Tidak ada yang bicara soal hak.

Semua cuma diam.

Menghadapi satu kenyataan yang lebih berat dari apapun.

Bahwa selama ini…

kami bukan korban.

Kami pelaku.

Dan sekarang…

kami dikasih satu kesempatan.

Satu.

Untuk memperbaiki semuanya.

Atau…

menghancurkan semuanya lagi.

Arman berdiri.

“Gue nggak bisa maksa,” katanya.

Dia lihat kami satu per satu.

“Tapi kalau kalian masih anggap dia keluarga…”

Dia berhenti.

“Jangan jual rumah ini.”

Dia ambil mapnya.

Balik badan.

Sinta ikut berdiri.

Sebelum keluar…

dia lihat aku.

Matanya merah.

“Dia masih ingat kamu,” katanya pelan.

Jantungku berhenti.

“Dia sering nyebut nama kamu…”

Tanganku langsung dingin.

Karena dari semua orang…

aku yang paling ingat wajah itu.

Dan aku juga yang…

tidak melakukan apa-apa waktu dia pergi.

Pintu rumah terbuka.

Cahaya siang masuk.

Arman dan Sinta keluar.

Pintu tertutup lagi.

Sunyi.

Kipas tetap bunyi.

Kreekk… kreekk…

Aku duduk.

Tatap surat itu.

Sepuluh tahun.

Tiba-tiba angka itu bukan lagi soal waktu.

Tapi soal…

apakah kami cukup pantas…

untuk menunggu seseorang yang dulu kami buang.

Dan untuk pertama kalinya…

aku takut.

Bukan kehilangan rumah.

Tapi…

kalau dia benar-benar datang.

Sore itu turun pelan.

Cahaya dari jendela mulai kuning.

Bayangan pintu memanjang di lantai.

Kipas masih muter.

Kreekk… kreekk…

Tidak ada yang bicara.

Map masih di meja.

Surat ibu masih terbuka.

Foto laki-laki itu masih di sampingnya.

Aku berdiri pelan.

Ambil HP.

Tanganku masih gemetar.

Aku buka chat pembeli.

Nama notaris juga masih ada di atas.

Jempolku berhenti di layar.

Lama.

Dedi lihat aku.

“Lo mau ngapain?” suaranya pelan.

Tidak sekeras tadi.

Aku tidak jawab.

Aku tekan tombol.

Ketik.

“Maaf, Pak. Penjualan rumah kami batalkan.”

Tanganku sempat berhenti.

Lalu aku kirim.

Centang satu.

Centang dua.

Sunyi.

Dedi tidak marah.

Tidak teriak.

Dia cuma duduk.

Lihat lantai.

Hendra tutup muka pakai tangan.

Rian duduk di pojok.

Diam.

Dan untuk pertama kalinya sejak siang…

kami semua satu keputusan.

Tanpa debat.

Tanpa ribut.

Kami tidak jadi jual rumah ini.

Malam datang.

Lampu ruang tamu dinyalakan.

Cahaya kuning redup.

Aku duduk sendiri di kursi ibu dulu.

Tanganku pegang surat itu lagi.

Kubaca pelan.

“Maafkan ibu…”

Tulisan itu makin goyang di bagian akhir.

“Kalau dia pulang… peluk dia untuk ibu.”

Tanganku gemetar.

Suara toa masjid mulai terdengar.

Adzan maghrib.

Aku tutup mata sebentar.

Dua puluh tahun.

Dua puluh tahun kami hidup seolah tidak pernah kehilangan siapa-siapa.

Padahal…

kami yang membuangnya.

Hari berikutnya.

Rumah itu mulai dibersihkan.

Bukan untuk dijual.

Tapi…

untuk menunggu.

Hendra datang pagi-pagi.

Bawa alat.

Bersihin atap yang bocor.

Dedi yang biasanya paling keras…

diam-diam ngecat tembok.

Rian betulin pintu belakang.

Aku sapu halaman.

Daun-daun kering dikumpulkan.

Sinta datang siang.

Sendiri.

Dia bawa makanan.

Nggak banyak bicara.

Cuma ikut bersih-bersih.

Untuk pertama kalinya…

kami kerja bareng lagi di rumah ini.

Bukan karena terpaksa.

Tapi karena…

kami semua tahu…

kami lagi nunggu seseorang.

Tiga hari.

Tidak ada kabar.

Lima hari.

Masih sama.

Aku mulai gelisah.

“Gimana kalau dia nggak jadi datang?” tanya Rian suatu malam.

Tidak ada yang jawab.

Karena semua punya pikiran yang sama.

Takut.

Hari ketujuh.

Pagi.

Aku lagi nyapu teras.

Udara dingin.

Masih ada embun.

Dari ujung gang…

aku lihat seseorang jalan.

Pelan.

Langkahnya berat.

Aku berhenti.

Sapu jatuh dari tangan.

Semakin dekat.

Jantungku makin kencang.

Dia pakai jaket tipis.

Wajahnya lebih tua dari di foto.

Lebih kurus.

Tapi matanya…

Aku kenal.

Langkahnya berhenti di depan rumah.

Dia lihat pintu.

Lihat tembok.

Lihat halaman.

Lama.

Seperti memastikan…

ini benar.

Aku tidak bergerak.

Tidak tahu harus bagaimana.

Dia lihat aku.

Mata kami bertemu.

Sunyi.

Dunia seperti berhenti.

“Ini…” suaranya pelan.

Serak.

“Masih rumah yang sama ya?”

Tanganku gemetar.

Aku maju satu langkah.

“Iya…” suaraku hampir hilang.

Dia senyum kecil.

Senyum yang dulu pernah aku lihat.

Senyum yang sama…

waktu dia berdiri di luar, dua puluh tahun lalu.

Mataku panas.

Aku tidak tahan lagi.

Aku jalan cepat.

Lalu…

aku peluk dia.

Keras.

Seperti takut dia hilang lagi.

Tanganku gemetar di punggungnya.

“Maaf…” suaraku pecah.

Aku tidak tahu harus mulai dari mana.

“Maaf…” aku ulang.

Dia diam.

Lalu pelan…

dia balas pelukanku.

“Gue juga…” katanya pelan.

Langkah kaki terdengar dari dalam.

Pintu terbuka.

Hendra.

Dedi.

Rian.

Sinta.

Semua berhenti di pintu.

Lihat kami.

Tidak ada yang bicara.

Sampai akhirnya…

Hendra maju.

Pelan.

“Pulang…” katanya.

Satu kata.

Tapi cukup.

Laki-laki itu angguk.

Matanya basah.

Dan untuk pertama kalinya…

dia melangkah masuk ke rumah itu.

Rumah yang dulu menolaknya.

Sekarang…

menerimanya kembali.

Malam itu.

Kami duduk di ruang tamu.

Bersama.

Tidak ada yang sempurna.

Tidak semua luka hilang.

Tapi tidak ada lagi yang disembunyikan.

Dan rumah itu…

tidak jadi dijual.

Bukan karena harta.

Tapi karena…

akhirnya…

rumah itu kembali punya isinya.

Lengkap.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

rasanya benar-benar seperti rumah.

Akhirnya.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *