LEBARAN ITU CUMA SETAHUN SEKALI, MASA KAMU NGGAK BISA MUDIK? SEBELUM NIKAH SAMA KAMU, ANAK SAYA TIAP TAHUN PULANG.
Kalimat itu keluar pelan. Tapi rasanya seperti tamparan.
Ruang tamu rumah mertua penuh suara. Sendal berserakan. Kipas angin dinding bunyinya berderit. Toa masjid sebelah rumah sudah mulai latihan takbir pelan-pelan.
Aku duduk di kursi plastik biru. Tangan di paha. Istriku di sebelahku, diam.
Ibu mertua berdiri dekat meja makan. Tangannya melipat-lipat ujung jilbab.
“Sekarang susah banget ya mudik,” katanya lagi.
Aku angkat kepala.
“Bukan nggak mau, Bu. Tiket mahal. Kerja juga lagi ketat.”
Beliau tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Dulu sebelum nikah, tiap tahun bisa kok.”
Kipas makin berderit.
Notifikasi WhatsApp masuk. Grup keluarga istri. Foto sepupu-sepupu sudah kumpul di kampung. Caption: “Kurang satu keluarga nih.”
Aku lihat layar. Matikan.
Anakku, Sean, lari-lari kecil di ruang tamu. Nabrak kakiku. Ketawa. Nggak ngerti apa-apa.
Istriku bisik pelan, “Sudah ya…”
Tapi kalimat itu sudah masuk. Dalam.
Malam itu, di kamar kos kontrakan kami, aku buka notes di HP. Kutik pelan-pelan:
“Lebaran. Tidak bisa mudik. Dicatat.”
Aku tidak marah. Tidak membalas. Aku simpan.
⸻
Setahun berlalu.
Keadaan belum berubah banyak.
Kerja serabutan. Kadang ada, kadang tidak. Mobil? Belum ada. Motor tua bunyinya kasar tiap pagi.
Grup keluarga kembali ramai. Tiket pesawat sudah dipesan. Foto koper sudah berjejer.
Istriku duduk di kasur, menatap layar.
“Kita gimana?” suaranya pelan.
Aku pura-pura cek kalender.
“Nanti lihat rezeki.”
Lebaran kedua setelah menikah, kami tidak mudik lagi.
Dan kalimat itu muncul lagi.
“Lebaran itu cuma setahun sekali loh…”
Aku tidak menjawab.
Malamnya, aku buka lagi notes.
“Tahun kedua. Masih belum.”
⸻
Tahun ketiga.
Ekonomi makin berat. Harga-harga naik. THR tipis.
Aku hampir tidak berani datang ke rumah mertua sebelum lebaran.
Tapi tetap datang.
Ruang tamu sama. Kipas sama. Bau karpet sama.
Kalimat itu keluar lagi. Kali ini lebih pelan. Lebih menusuk.
Aku hanya angguk.
Di parkiran, saat mau pulang, istriku berhenti.
“Kamu jangan dipikirin ya.”
Aku tidak jawab.
Aku buka HP.
Tambah satu baris.
“Tahun ketiga. Masih dicatat.”
⸻
Tahun keempat.
Aku mulai berubah.
Bukan jadi pemarah.
Jadi diam.
Setiap ada omongan soal mudik, aku tidak ikut diskusi.
Aku kerja lebih lama. Ambil apa saja. Ojek, kirim barang, bantu proyek kecil.
Malam-malam, aku duduk sendiri di warung kopi, buka aplikasi tabungan.
Pelan-pelan ada angka.
Tidak besar.
Tapi ada.
Aku berhenti beli rokok.
Berhenti nongkrong lama.
Setiap kali hampir menyerah, aku buka catatan itu.
Empat baris.
Semua sama ujungnya.
“Belum.”
⸻
Masuk Ramadan tahun kelima.
Aku tidak bilang apa-apa ke siapa pun.
Tidak ke istri.
Tidak ke mertua.
Tidak ke teman.
Aku cuma jalan.
Kerja. Nabung. Diam.
Sampai suatu sore, tiga minggu sebelum lebaran, aku berdiri di depan sebuah showroom mobil bekas.
Catnya mengkilap. Lampu-lampu neon memantul di bodi.
Sales mendekat.
“Cari apa, Pak?”
Aku lihat deretan mobil.
Tanganku dingin.
Di kepala, suara itu terngiang lagi:
“Lebaran itu cuma setahun sekali…”
Aku tarik napas.
“Yang penting bisa jalan jauh, Mas. Istri sama anak nyaman.”
Sales tersenyum. “Budget berapa, Pak?”
Aku sebut angka.
Dia angkat alis.
“Bisa sih… ada satu unit.”
Dia bawa aku ke sudut.
Mobil tua. Tahun lama. Catnya tidak sempurna. Tapi mesin katanya masih sehat.
Aku keliling. Sentuh kapnya.
Di kaca depan ada stiker kecil bekas mudik tahun lalu.
Aku duduk di kursi sopir.
Bau jok campur pengharum mobil murahan.
Tangan kiriku pegang setir.
Tanganku gemetar.
Di layar HP, catatan itu masih ada.
Empat baris.
Aku tambah satu lagi.
“Tahun kelima. Mau dibalik.”
Sales berdiri di luar, menunggu.
“Gimana, Pak?”
Aku menatap kaca depan.
Bayangan diriku sendiri terlihat samar.
Aku angkat kepala.
“Kalau hari ini saya DP, bisa keluar sebelum lebaran?”
Sales tersenyum lebar.
“Bisa, Pak. Asal berkas lengkap.”
Tanganku masuk saku.
Kartu ATM ada.
Tabungan lima tahun.
Tidak banyak. Tapi cukup.
Aku angkat kepala lagi.
“Proses sekarang.”
Dan di momen itu, HP-ku bergetar.
Pesan dari ibu mertua.
“Tahun ini mudik nggak?”
Aku menatap layar.
Tidak langsung balas.
Aku berdiri di samping mobil itu.
Matahari sore masuk dari pintu showroom.
Aku ketik satu kalimat.
Lalu berhenti.
Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun, aku tersenyum.
⸻
PART 2
Showroom masih ramai.
Lampu neon putih menyala dingin. Bau semir ban dan bensin tipis di udara.
Aku belum membalas pesan itu.
“Tahun ini mudik nggak?”
Sales kembali dengan map biru.
“Pak, ini simulasi kreditnya. Bisa diatur DP sekian, cicilan sekian.”
Aku duduk di meja kecil kaca. Kursinya agak goyang.
Angka-angka itu seperti barisan tentara.
DP hampir menghabiskan tabungan lima tahun.
Cicilan tidak kecil.
Aku geser HP ke samping.
Notifikasi lagi.
Istriku.
“Kamu lagi di mana?”
Jariku berhenti di atas layar.
Aku balas singkat.
“Di luar. Ada urusan.”
Tiga titik muncul.
Lalu hilang.
Lalu muncul lagi.
“Jangan lama ya. Sean nyariin.”
Di sudut ruangan, ada TV kecil muter berita arus mudik. Jalan tol macet. Orang-orang senyum di dalam mobil baru.
Sales menunjuk angka terakhir.
“Kalau mau aman, DP-nya segini aja Pak. Jangan terlalu dipaksakan.”
Aku diam.
Lima tahun aku dengar kalimat yang sama setiap lebaran.
Lima tahun aku simpan di catatan.
Bukan buat balas.
Buat bukti.
Tanganku buka aplikasi tabungan.
Angka itu cukup untuk DP yang lebih besar.
Artinya cicilan lebih ringan.
Artinya lebih aman.
Tapi tabungan habis.
Benar-benar nol.
Aku angkat kepala.
“Kalau saya DP lebih besar, cicilan turun berapa?”
Sales hitung cepat di kalkulator.
“Lumayan jauh, Pak.”
Aku sandarkan badan.
Di kaca showroom, bayanganku terlihat kecil.
Di kepala, suara itu lagi:
“Dulu sebelum nikah, tiap tahun bisa pulang.”
Aku tarik napas panjang.
“Mas.”
“Iya, Pak?”
“Kalau mesin ada masalah sebelum lebaran?”
Sales langsung jawab.
“Kita servis dulu sebelum keluar. Bapak boleh cek bengkel rekanan.”
Aku angguk pelan.
Lalu aku keluarkan kartu ATM.
“DP besar aja.”
Sales tersenyum, kali ini lebih serius.
“Siap, Pak.”
⸻
Dua hari kemudian.
Mobil itu keluar dari showroom.
Tidak mengkilap sempurna.
Ada baret tipis di pintu kiri.
Tapi mesin halus.
Aku menyetir pelan keluar dari parkiran.
Tangan masih kaku di setir.
AC dingin menyentuh wajah.
HP berbunyi.
Istriku telepon.
“Kamu pakai mobil siapa?”
Aku lihat kaca spion. Refleksi wajahku sendiri.
“Mobil kita.”
Sunyi dua detik.
“Kamu bercanda ya?”
Aku tidak jawab.
Aku belok masuk gang kontrakan.
Anak-anak main bola pinggir jalan berhenti.
Sean berdiri di depan rumah.
Mulutnya terbuka.
Istriku keluar. Tangannya masih pegang sendok kayu.
Aku turunkan kaca.
“Naik.”
Dia mendekat pelan.
“Kamu serius?”
Aku angguk.
Dia buka pintu. Duduk di sampingku.
Tangannya menyentuh dashboard. Seperti memastikan ini nyata.
“Kamu ngapain begini?”
Aku lihat ke depan.
“Lebaran itu cuma setahun sekali, kan?”
Dia menoleh. Matanya langsung basah.
Aku tidak lihat dia lama-lama.
Takut goyah.
Sean sudah duduk di belakang. Pegang-pegang jok.
“Abah, kita mudik?”
Aku pegang setir lebih erat.
“Kita pulang.”
⸻
Malam itu, grup keluarga kembali ramai.
Foto sepupu-sepupu.
Rencana kumpul.
Aku akhirnya balas pesan ibu mertua.
“InsyaAllah, Bu. Tahun ini kami berangkat.”
Balasan datang cepat.
“Serius?”
Aku kirim foto.
Foto dashboard mobil. Jam digital menyala.
Tidak lama, telepon masuk.
Nama beliau muncul di layar.
Aku angkat.
“Assalamualaikum, Bu.”
Suara di seberang hening sebentar.
“Kalian… beneran mudik?”
Aku lihat istriku di samping. Dia senyum tipis.
“Bener, Bu.”
Hening lagi.
Lalu suara yang lebih pelan.
“Ya sudah… hati-hati di jalan.”
Telepon ditutup.
Tidak ada kalimat tambahan.
Tidak ada komentar.
Tapi ada sesuatu yang berubah.
⸻
Tiga hari sebelum lebaran.
Mobil sudah dipasang rak tambahan kecil di atas.
Koper dua buah.
Tas plastik isi baju.
Sean sibuk masukin mainan.
Tetangga lewat, melirik.
“Wah, mudik naik mobil sekarang.”
Aku cuma senyum.
Malam sebelum berangkat, aku duduk sendirian di kursi sopir.
Lampu gang redup.
Aku buka lagi aplikasi notes.
Lima baris.
Semua tahun tercatat.
Aku tambah satu lagi.
“Tahun kelima. Berangkat.”
Aku hampir menutup HP.
Tapi berhenti.
Aku tambahkan satu kalimat kecil di bawahnya.
“Bukan buat balas. Buat bukti.”
Keesokan paginya, sebelum subuh, mesin mobil menyala.
Lampu depan menerangi gang sempit.
Istriku baca doa pelan.
Sean tertidur di kursi belakang.
Aku injak gas perlahan.
Keluar gang.
Masuk jalan raya.
Arus kendaraan mulai padat.
Radio muter takbir pelan.
Di depan, jalan panjang terbuka.
Aku pegang setir lebih mantap.
Tapi tepat saat kami masuk tol…
Lampu indikator di dashboard tiba-tiba menyala merah.
Dan suara mesin berubah.
Sedikit lebih berat.
Istriku menoleh.
“Kok bunyinya beda?”
Aku lihat panel.
Satu lampu kecil berkedip.
Dadaku terasa kosong.
Mobil di belakang mulai klakson.
Dan di momen itu, untuk pertama kalinya sejak lima tahun…
Aku takut.
⸻
PART 3
Lampu merah itu kecil.
Tapi rasanya besar.
Berkedip pelan di dashboard.
Suhu mesin naik sedikit.
Tidak drastis. Tapi naik.
Mobil belakang mulai klakson.
Aku pindah ke lajur kiri.
Cari bahu jalan.
Jantungku berdetak lebih keras dari suara mesin.
Istriku menatap panel.
“Kenapa?”
“Kayaknya overheat.”
Aku jawab pelan. Supaya Sean tidak bangun.
Aku matikan AC.
Buka kaca sedikit.
Udara subuh masuk. Dingin.
Aku arahkan mobil ke rest area terdekat. Jaraknya 2 km.
Lampu merah masih berkedip.
Radio masih muter takbir.
Ironis.
⸻
Akhirnya masuk rest area.
Aku parkir.
Matikan mesin.
Sunyi.
Cuma suara mobil lain lalu lalang.
Aku buka kap mesin.
Uap tipis keluar.
Tidak banyak.
Tapi cukup bikin panik.
Seorang bapak-bapak di sebelah, lagi cek ban mobilnya.
Dia lihat ke arahku.
“Kenapa, Mas?”
“Kayaknya panas, Pak.”
Dia mendekat.
Lihat ke dalam mesin.
“Radiatornya kering tuh.”
Dadaku turun.
Radiator.
Air.
Aku lupa cek ulang tadi malam.
Padahal di showroom sudah dicek.
Tapi perjalanan jauh beda.
Aku lihat ke istri.
Dia turun dari mobil.
Tidak marah.
Tidak panik.
Cuma berdiri di sampingku.
“Kita batal?” suaranya pelan.
Pertanyaan itu seperti lemparan batu kecil.
Kecil.
Tapi tenggelamnya dalam.
Sean bangun. Buka pintu belakang.
“Kok berhenti?”
Aku jongkok di depan mobil.
Lihat mesin.
Lihat jalan tol.
Lihat langit yang mulai terang.
Lima tahun.
Lima catatan.
Tidak mungkin selesai di sini.
Bapak tadi menunjuk minimarket kecil di dalam rest area.
“Beli air galon. Isi dulu. Pelan-pelan aja nanti jalannya.”
Aku angguk cepat.
Lari kecil ke minimarket.
Beli dua galon air.
Orang-orang antre bayar bensin.
Anak kecil nangis minta balon.
Semua normal.
Cuma aku yang rasanya seperti ujian.
⸻
Aku isi radiator pelan-pelan.
Tangan gemetar.
Air masuk.
Tidak bocor.
Bagus.
Bapak tadi bantu pegangin senter kecil dari HP-nya.
“Coba nyalain lagi.”
Aku masuk ke kursi sopir.
Tarik napas.
Putar kunci.
Mesin hidup.
Suara masih sedikit berat.
Tapi stabil.
Lampu merah… mati.
Aku diam dua detik.
Istriku menatapku.
“Gimana?”
Aku senyum tipis.
“Kita lanjut.”
Sean langsung tepuk tangan kecil dari belakang.
“Kita mudik!”
⸻
Kami masuk tol lagi.
Kali ini aku lebih pelan.
Jarak aman.
RPM dijaga.
AC tidak terlalu dingin.
Setiap lima menit, mataku lirik dashboard.
Tidak ada lampu merah.
Tidak ada kedipan.
Hanya angka kecepatan dan jarak tempuh.
Istriku pegang tanganku sebentar.
Tidak bilang apa-apa.
Tapi cukup.
⸻
Tiga jam perjalanan.
Kami keluar tol.
Masuk jalan provinsi.
Kanan kiri sawah.
Warung-warung pasang spanduk “SELAMAT MUDIK”.
Sean bangun penuh.
Tunjuk truk besar.
“Abah, itu gede banget!”
Aku tertawa kecil.
Ketegangan tadi pagi pelan-pelan turun.
HP berbunyi.
Grup keluarga.
Foto mereka sudah kumpul di rumah kampung.
Caption: “Sudah lengkap hampir semua.”
Aku lihat jam.
Kami kurang satu jam lagi.
Istriku lihat layar.
“Udah pada nunggu.”
Aku angguk.
Mobil masuk jalan kecil desa.
Aspal tidak rata.
Anak-anak main petasan kecil.
Suara takbir dari masjid kampung terdengar lebih jelas.
Jantungku mulai cepat lagi.
Bukan karena takut mesin.
Karena akan sampai.
⸻
Rumah itu terlihat dari ujung jalan.
Catnya masih sama.
Pagar besi hijau.
Orang-orang sudah berdiri di depan.
Sepupu-sepupu.
Paman.
Tante.
Ibu mertua berdiri di teras.
Tangannya di depan dada.
Mobilku pelan masuk halaman.
Mesin masih stabil.
Aku parkir.
Matikan mesin.
Sunyi sesaat.
Semua mata ke arah kami.
Aku turun duluan.
Kaki terasa ringan.
Lalu pintu belakang terbuka.
Sean turun.
Istriku menyusul.
Ibu mertua turun dari teras.
Langkahnya pelan.
Berhenti di depan mobil.
Lihat mobilnya.
Lihat aku.
Lihat istri.
Hening dua detik.
Lalu beliau bilang pelan,
“Capek di jalan?”
Aku jawab singkat.
“Nggak, Bu.”
Beliau angguk.
Lalu buka pintu rumah lebar-lebar.
“Masuk. Sudah ditunggu.”
Tidak ada kalimat lain.
Tidak ada sindiran.
Tapi saat aku hampir melangkah masuk…
Beliau berhenti.
Menoleh ke arah mobil.
Tangannya menyentuh kap depan pelan.
Lalu berkata pelan sekali,
“Alhamdulillah.”
Dan di momen itu…
Aku sadar sesuatu.
Tapi belum sepenuhnya mengerti.
⸻
PART 4
Halaman rumah ramai.
Suara sendal gesek lantai.
Anak-anak teriak main petasan.
Bau opor keluar dari dapur.
Aku bantu turunkan koper.
Sepupu-sepupu mendekat.
“Wah sekarang naik mobil!”
“Jauh nggak macetnya?”
Aku jawab seperlunya.
Istriku sudah masuk ke dalam rumah.
Sean lari ikut sepupunya.
Aku berdiri sebentar di samping mobil.
Kap depannya masih hangat.
Tanganku menyentuhnya pelan.
Masih terasa nyata.
⸻
Di dalam rumah, tikar sudah digelar.
Televisi menyala siaran takbir.
Aku duduk di pojok.
Ibu mertua keluar dari dapur, bawa teh manis.
Beliau taruh di depanku.
“Minum dulu.”
Aku angguk.
Tidak ada kalimat macam-macam.
Tidak ada sindiran.
Aneh.
Justru itu yang bikin canggung.
⸻
Malam takbiran selesai.
Orang-orang mulai pulang.
Tinggal keluarga inti.
Aku keluar ke teras ambil udara.
Langit desa penuh suara petasan jauh-jauh.
Ibu mertua ikut keluar.
Berdiri di sampingku.
Diam cukup lama.
Lalu beliau bilang pelan,
“Mobilnya bagus.”
Aku tersenyum tipis.
“Mobil lama, Bu.”
Beliau geleng kecil.
“Bukan itu maksud saya.”
Aku menoleh.
Beliau tidak lihat aku.
Tatapannya ke jalan depan rumah.
“Lima tahun itu lama.”
Aku tidak jawab.
Angin malam lewat pelan.
Beliau lanjut,
“Saya tahu kalian susah.”
Kalimat itu bikin dadaku berhenti sebentar.
“Saya cuma… takut.”
Aku menoleh penuh.
“Takut apa, Bu?”
Beliau tarik napas.
“Takut anak saya jauh. Takut kalian makin jarang pulang. Takut nanti cucu saya nggak kenal kampungnya.”
Suara itu tidak lagi tajam.
Tidak lagi menyudutkan.
Pelan. Berat.
“Makanya tiap tahun saya bilang begitu.”
Aku diam.
Kalimat lima tahun itu… ternyata bukan cuma tekanan.
Tapi ketakutan.
Beliau lanjut lagi,
“Bukan soal mobil. Bukan soal uang. Saya cuma takut kehilangan.”
Suara petasan meledak jauh di ujung desa.
Aku lihat beliau.
Rambutnya sudah lebih banyak putih dibanding lima tahun lalu.
Tangannya tidak lagi sekuat dulu.
Aku baru sadar.
Selama ini aku mencatat kalimatnya.
Tapi tidak pernah mencoba membaca maksudnya.
⸻
Beliau menoleh ke arahku.
“Makasih sudah bawa mereka pulang.”
Sederhana.
Tapi cukup.
Aku angguk pelan.
“Maaf ya kalau dulu kata-kata saya…”
Aku potong cepat.
“Nggak apa-apa, Bu.”
Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar tidak merasa tersinggung saat bilang itu.
⸻
Beliau melangkah turun satu anak tangga.
Mendekati mobil.
Tangannya kembali menyentuh kap depan.
“Kamu kerja keras ya?”
Aku tidak jawab dengan cerita.
Tidak dengan daftar pengorbanan.
Aku cuma bilang,
“Lumayan, Bu.”
Beliau tersenyum kecil.
“Bagus.”
Lalu beliau masuk kembali ke rumah.
⸻
Aku duduk sendirian di kursi plastik teras.
HP di tangan.
Kubuka lagi aplikasi notes.
Enam baris.
Tahun pertama.
Tahun kedua.
Tahun ketiga.
Tahun keempat.
Tahun kelima.
Berangkat.
Aku baca semuanya pelan.
Lalu aku tambah satu baris lagi.
“Sampai.”
Aku hampir tutup.
Tapi jariku berhenti.
Karena di dalam rumah, aku dengar suara ibu mertua memanggil,
“Besok pagi jangan bangun kesiangan. Kita ke masjid bareng.”
Aku tersenyum.
Lima tahun.
Semua tekanan.
Semua catatan.
Semua ternyata bukan tentang siapa benar.
Tapi tentang siapa takut kehilangan.
Namun pagi besok…
Akan ada satu momen lagi yang membuat semuanya benar-benar selesai.
⸻
PART 5 (FINAL)
Subuh.
Udara desa dingin.
Suara ayam bersahut-sahutan.
Aku bangun sebelum alarm berbunyi.
Rumah masih gelap. Hanya lampu dapur yang menyala.
Ibu mertua sudah duduk di ruang tengah. Mukena putihnya rapi. Tangannya memegang tas kecil.
“Kamu siap?” tanyanya pelan.
Aku angguk.
Sean masih setengah tidur. Kugendong ke mobil.
Istriku duduk di sampingku.
Mesin menyala halus.
Tidak ada lampu merah.
Tidak ada kedipan.
Kami jalan pelan menuju masjid kampung.
⸻
Masjid penuh.
Karpet hijau digelar sampai teras.
Orang-orang saling salam.
Beberapa melirik ke arahku.
Bukan karena mobil.
Tapi karena sudah lama kami tidak ikut salat Ied di sini.
Aku berdiri di saf depan, di samping ibu mertua.
Beliau meluruskan saf dengan tangannya sendiri.
Sedikit menyentuh bahuku.
Isyarat kecil.
Tapi terasa.
Takbir berkumandang.
Langit pagi biru pucat.
Saat sujud terakhir, dahiku menyentuh sajadah.
Tanganku terbuka.
Tidak minta mobil.
Tidak minta uang.
Cuma satu hal.
“Jangan sampai hilang lagi momen ini.”
⸻
Selesai salat.
Orang-orang saling peluk.
Anak-anak lari-lari di halaman masjid.
Ibu mertua menoleh ke arahku.
“Tunggu sebentar.”
Beliau masuk ke dalam masjid lagi.
Aku berdiri bingung.
Beberapa menit kemudian beliau keluar membawa sesuatu.
Amplop cokelat kecil.
Diberikannya ke tanganku.
“Ini apa, Bu?”
“Buka nanti saja.”
Aku lihat wajahnya.
Tidak ada sindiran.
Tidak ada beban.
Hanya tenang.
⸻
Siang harinya, rumah kembali ramai.
Ketupat disusun.
Opor panas mengepul.
Sean tertawa keras main sama sepupunya.
Aku duduk di kamar, sendirian sebentar.
Kubuka amplop itu.
Isinya satu lembar kertas kecil.
Tulisan tangan.
“Maaf ya kalau dulu terlalu banyak menekan. Ibu cuma takut kehilangan kalian. Jangan tunggu lama untuk pulang lagi.”
Di bawahnya ada satu baris tambahan.
“Kalau nanti cicilan berat, bilang. Jangan dipendam sendiri.”
Tanganku berhenti.
Aku duduk diam cukup lama.
Lalu terdengar suara dari luar kamar.
“Abah! Cepet! Foto keluarga!”
Aku lipat kertas itu hati-hati.
Masukkan kembali ke amplop.
Simpan di dompet.
⸻
Di ruang tamu, semua sudah berjejer.
Kamera HP dipegang sepupu.
Ibu mertua berdiri di tengah.
Aku berdiri di sampingnya.
Beliau tiba-tiba menggenggam lenganku.
Kencang.
Bukan formalitas.
Bukan sekadar pose.
Benar-benar menggenggam.
“Kita lengkap ya sekarang,” katanya pelan.
Aku menoleh.
“Iya, Bu.”
Jepretan kamera berbunyi.
Sekali.
Dua kali.
Sean loncat kecil di foto ketiga.
Semua tertawa.
Tidak ada sindiran.
Tidak ada kalimat yang perlu dicatat lagi.
⸻
Sore hari, sebelum matahari turun, aku berdiri lagi di samping mobil.
Kali ini bukan untuk membuktikan apa-apa.
Hanya memastikan semuanya siap untuk perjalanan pulang nanti.
Ibu mertua keluar membawa plastik berisi bekal.
“Ini buat di jalan.”
Aku terima.
“Terima kasih, Bu.”
Beliau mengangguk.
Lalu berkata pelan,
“Tahun depan jangan tunggu lima tahun lagi ya.”
Aku tersenyum.
“Nggak akan, Bu.”
Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun…
Kalimat tentang lebaran itu tidak lagi terdengar seperti tekanan.
Tapi undangan.
Aku masuk ke kursi sopir.
Menyalakan mesin.
Halus.
Normal.
Tidak ada lampu merah.
Istriku menatapku.
“Kita pulang?”
Aku lihat ke rumah itu.
Lihat ibu mertua di teras.
Lihat Sean di kursi belakang, tertidur dengan baju lebaran masih rapi.
Aku pegang setir.
“Kita pulang.”
Mobil bergerak pelan meninggalkan halaman.
Di kaca spion, rumah itu makin kecil.
Tapi rasanya tidak lagi jauh.
Catatan di HP sudah tidak perlu ditambah.
Karena yang ingin kubuktikan…
Sudah selesai.
Dan untuk pertama kalinya,
Lebaran terasa benar-benar lengkap.
⸻
Kadang orang tua bukan menekan.
Mereka cuma takut kehilangan.
Kalau kamu pernah ada di posisi ini,
tulis satu kata saja di komentar:
“Akhirnya.”
Biar tahun depan kita semua masih diberi kesempatan pulang.
⸻