| |

GUE DIPECAT HARI INI. BUKAN KARENA KORUPSI. BUKAN KARENA MALAS. TAPI KARENA ISTRI GUE CEMBURUAN.

Jam 08.12 pagi.
Lift kantor bau kopi sachet dan parfum murahan.

Gue berdiri di pojok, pegang tas laptop.
Notifikasi WA bunyi tiga kali.

Nama istri gue muncul di layar.

“Dia duduk sebelah kamu lagi?”
“Kamu pikir aku nggak lihat story kantor?”
“Kenapa dia pegang bahu kamu?”

Gue tarik napas.
Pintu lift kebuka.

Lantai 12.
AC terlalu dingin seperti biasa. Printer pojok bunyi nyeret kertas.

Atasan gue, Bu Rani, lagi berdiri di meja resepsionis. Blazer abu-abu, rambut diikat rapi.
Dia lihat gue.

“Saya butuh laporan jam sepuluh ya.”

Gue angguk.
Normal.

Semua normal.

Sampai jam 09.47.

HP gue getar lagi.

Video call.

Gue tolak.

Getar lagi.

Gue angkat.

Wajah istri gue muncul. Mata merah.
“Kamu di mana?”

“Di kantor.”

“Putar kamera.”

Gue putar.
Ruangan open space. Cubicle. Karyawan lagi ngetik.

Dia diam beberapa detik.

“Mana dia?”

“Siapa?”

“Jangan pura-pura.”

Gue lihat ke arah ruangan kaca.
Bu Rani lagi berdiri di depan whiteboard, jelasin sesuatu ke tim marketing.

“Dia ada di ruangan meeting.”

“Deketin.”

“Ngapain?”

“Deketin!”

Suara toa masjid dari kejauhan masuk ke mic HP gue.
Adzan dhuha samar-samar.

Gue jalan pelan ke arah ruang meeting.
Beberapa orang lihat gue aneh.

Gue berdiri di depan kaca.
Bu Rani lagi nulis target penjualan di papan.

Istri gue lihat layar.

“Zoom.”

“Ini kantor, bukan sinetron.”

“Kamu belain dia?”

Gue tutup telpon.

Jam 10.05.

Gue dipanggil ke ruangannya.

Pintu ditutup pelan.

“Masalah pribadi kamu mulai masuk ke kantor,” katanya tanpa senyum.

“Maaf, Bu.”

“Kemarin suami saya kirim screenshot chat dari istri kamu.”

Gue kaku.

“Kami tidak nyaman.”

Suara AC dengung panjang.

“Dia DM saya. Menuduh saya punya hubungan dengan kamu.”

Gue nggak bisa jawab.

Karena memang benar.

Istri gue kirim DM. Panjang.
Nuduh. Nyerang.
Bilang Bu Rani terlalu sering ngajak meeting berdua.

Padahal meeting itu soal proyek.

Bu Rani geser map coklat ke arah gue.

“Ini sudah dibahas dengan HR.”

Jantung gue kayak dipukul dari dalam.

“Saya nggak bisa kerja dalam situasi seperti ini.”

“Kamu karyawan bagus. Tapi ini kelewatan.”

Kata “kelewatan” digantung lama.

“Perusahaan butuh suasana kerja yang sehat.”

Gue lihat ke meja.
Ada foto keluarga Bu Rani di pojok. Suaminya senyum lebar.

Gue ngerti.

Jam 11.22.

Gue keluar gedung dengan amplop coklat di tangan.

Satpam depan cuma angguk kecil.

Motor lewat ngebut di depan trotoar.

HP gue bunyi lagi.

Istri gue.

“Udah selesai meetingnya?”

Gue diam beberapa detik.

“Gue dipecat.”

Sunyi.

Hanya suara angin lewat sela helm orang yang parkir.

“Apa?”

“Gue dipecat.”

“Karena dia?”

“Karena kamu.”

Telpon mati.

Gue duduk di tangga depan gedung.
Orang-orang keluar masuk.
Semua masih punya kerjaan.

Gue nggak.

Jam 13.05.

Gue sampai rumah.

Gerbang bunyi berderit.

Istri gue berdiri di pintu.
Mata sembab.

“Beneran?”

Gue kasih amplopnya.

Dia buka.
Tangannya gemetar.

Beberapa detik.
Dia duduk.

“Ini salah dia.”

Gue ketawa kecil.

“Masih?”

Dia nangis.

“Tapi dia memang terlalu dekat sama kamu…”

Gue angkat muka.

“Dekat gimana?”

“Kalian sering makan bareng.”

“Itu satu tim.”

“Kamu sering lembur.”

“Itu kerjaan.”

Dia diam.

Jam dinding bunyi tik.

Tik.

Tik.

HP gue bunyi lagi.

Nomor nggak dikenal.

Gue angkat.

Suara laki-laki.

“Mas, saya suaminya Bu Rani.”

Gue berdiri.

“Bisa ketemu sekarang?”

Gue lihat istri gue.

Wajahnya pucat.

Suara di telpon lanjut pelan.

“Ini sudah terlalu jauh.”

Gue jawab pelan,
“Di mana?”

“Parkiran kantor saya. Setengah jam lagi.”

Telpon mati.

Istri gue berdiri.
“Siapa?”

“Suaminya.”

Dia pegang lengan gue.

“Jangan datang.”

Gue ambil kunci motor.

“Ini harus selesai.”

Gue keluar.

Pintu rumah nutup keras.

Motor gue hidup.
Knalpot getar kasar.

Angin sore panas nabrak muka.

Gue nggak tahu ini bakal jadi apa.

Tapi satu hal pasti.

Hari ini belum selesai.

Dan gue punya feeling…
Yang dipecat mungkin bukan cuma gue.

PART 2

Parkiran kantor suaminya Bu Rani lebih sepi. Gedung ruko tiga lantai. Cat krem mulai kusam. Tulisan notaris di papan depan.

Gue parkir motor. Mesin mati. Sunyi. Cuma suara kipas outdoor AC berdengung.

Dia sudah berdiri di samping mobil hitam. Kemeja lengan panjang digulung. Wajahnya datar. “Mas?” Gue angguk.

Dia nggak senyum. Nggak marah juga. “Terima kasih sudah datang.” Gue berdiri dua meter dari dia.

“Saya nggak ada hubungan apa-apa sama istri Bapak.” Dia angkat tangan sedikit. “Saya tahu.”

Gue kaku. “Apa?” “Saya tahu kamu nggak ada apa-apa.”

Angin sore lewat pelan. Plastik kresek nyangkut di pagar gerak-gerak. “Yang DM istri saya itu istri kamu, kan?” Gue angguk.

Dia tarik napas panjang. “Masalahnya bukan cuma DM.” Perut gue langsung dingin. “Apa lagi?”

Dia buka pintu mobil. Ambil sesuatu dari dashboard. Print-out. Screenshot. Chat. Nomor istri gue.

Gue baca cepat. Kalimatnya tajam. “Jauh-jauh dari suami saya.” “Perempuan nggak tahu diri.” “Saya bisa datang ke kantor.”

Tanggal. Jam. Ada yang bikin dada gue turun. Jam 23.48. Hari Minggu.

Itu jam gue lagi di rumah. Nonton TV bareng dia. “Mas,” katanya pelan. “Ini sudah mengganggu keluarga saya.”

Gue genggam kertas itu. “Tapi saya sudah dipecat.” Dia lihat gue. “Iya. Istri saya nggak nyaman kerja kalau terus diganggu.”

Kalimatnya tenang. Tapi nusuk. “Dia nggak minta kamu dipecat.” Gue angkat kepala. “Apa?”

“HR yang memutuskan. Karena situasinya jadi nggak sehat.” Gue diam. Motor lewat di depan ruko. Suara knalpot pecah.

“Mas, saya mau ini selesai.” “Caranya?” “Kita ketemu bertiga. Kamu, saya, istri kamu.”

Gue langsung tegang. “Untuk apa?” “Biar jelas.” Dia tatap gue lurus.

“Saya nggak mau keluarga saya rusak karena prasangka.” Kata itu. Prasangka. Gue terdiam.

“Kalau perlu,” dia lanjut, “kita buka semua chat.” Gue telan ludah. Karena gue yakin.

Gue nggak pernah hapus apa pun. Tapi… Istri gue? Gue ingat satu hal.

Minggu lalu. HP gue sempat hilang lima menit di rumah. Dia bilang cuma mau lihat foto anak. Dada gue mulai nggak enak.

“Kapan?” gue tanya. “Malam ini.” Cepat. Terlalu cepat.

Gue lihat jam. 16.27. “Di mana?” “Rumah saya.”

Dia kasih alamat. “Jam delapan.” Gue angguk. Dia masuk mobil.

Sebelum pintu nutup, dia bilang satu kalimat. “Mas, kadang yang bikin rusak bukan orang ketiga.” Dia berhenti sebentar. “Tapi rasa takut yang nggak pernah diberesin.”

Pintu mobil nutup. Mobil jalan pelan keluar parkiran. Gue berdiri sendirian. Kertas screenshot masih di tangan.

Angin sore makin panas. HP gue bunyi. Istri gue.

Gue angkat. “Udah ketemu?” “Udah.” “Dia marah?” “Enggak.”

Dia diam. “Apa katanya?” Gue lihat screenshot itu lagi. “Malam ini kita ke rumahnya.”

Sunyi. “Kita?” “Iya. Kita.”

Napasnya terdengar cepat di telpon. “Aku nggak mau.” Gue jawab pelan. “Kalau nggak datang, masalahnya nggak selesai.”

Beberapa detik hening. Lalu dia bilang pelan, “Aku takut.” Gue pejam mata.

Di kepala gue cuma satu pertanyaan: Takut karena cemburu? Atau… Takut karena ada sesuatu yang belum gue tahu?

PART 3

Jam 19.42.

Ruang tamu rumah Bu Rani terang. Lampu putih. Sofa abu-abu. Bau pengharum ruangan terlalu manis.

Gue duduk di ujung.

Istri gue di samping. Tangannya dingin.

Suaminya duduk di seberang.

Bu Rani keluar dari dapur. Rambutnya masih rapi seperti di kantor.

Tidak ada senyum.

Hanya suara sendok aduk gelas dari dalam.

“Terima kasih sudah datang,” Bu Rani bilang.

Istri gue tidak jawab.

Dia cuma menunduk.

Meja di tengah sudah ada laptop terbuka.

Suaminya bicara duluan.

“Kita buka saja semuanya. Biar selesai.”

Gue angguk.

Bu Rani putar layar laptop menghadap kami.

Chat WhatsApp.

Nama gue di atas.

Istri gue menegang.

Scroll pelan.

Isi chat.

Semua profesional.

“Bu, revisi sudah saya kirim.”

“Baik, nanti kita bahas besok.”

“Meeting jam 3 ya.”

Tidak ada emoji aneh.

Tidak ada panggilan sayang.

Tidak ada apa-apa.

Istri gue menelan ludah.

“Sekarang yang ini,” kata suaminya.

Dia buka folder screenshot.

DM Instagram.

Nama istri gue.

Pesan panjang.

Kata-kata tajam.

Tuduhan.

Ancaman datang ke kantor.

Ruangan jadi sunyi.

Jam dinding bunyi pelan.

Bu Rani menatap istri gue.

“Saya tidak pernah menyentuh suami kamu di luar konteks kerja.”

Istri gue masih diam.

Suaminya lanjut.

“Sekarang kita cek satu hal lagi.”

Dia menatap gue.

“Minggu malam, jam 23.48. Kamu di mana?”

“Di rumah.”

“Bisa buktikan?”

Gue langsung buka galeri.

Foto anak gue lagi tidur.

Timestamp 23.51.

Video TV nyala.

Suara tawa acara komedi.

Istri gue duduk di sebelah gue di video itu.

Tiga orang lihat layar.

Waktu cocok.

Berarti…

Gue menoleh pelan ke istri gue.

“Minggu malam itu… kamu pegang HP gue, kan?”

Tangannya langsung gemetar.

“Aku cuma lihat foto.”

“Lima menit?”

Dia diam.

Suaminya angkat alis sedikit.

Bu Rani tidak bicara.

Tapi matanya tajam.

“Istriku tidak mungkin kirim chat dari HP saya,” gue bilang pelan.

Semua mata ke istri gue.

Napasnya mulai cepat.

“Aku cuma mau pastiin…” suaranya pecah.

“Pastikan apa?” gue tanya.

“Aku takut kamu berubah.”

Sunyi.

Tapi itu belum menjawab.

Suaminya geser laptop.

“Mas, kami cek IP login Instagram istri saya.”

Gue tidak paham.

Dia lanjut pelan.

“Ada login percobaan dari HP yang sama dengan nomor kamu.”

Gue menoleh ke istri gue lagi.

Mukanya pucat.

“Kamu masuk ke akun dia?”

Air mata langsung jatuh.

“Aku cuma mau lihat… apakah kalian chat di luar WhatsApp.”

Ruangan seperti mengecil.

“Kamu tebak password saya?” tanya Bu Rani.

Istri gue mengangguk pelan.

Gue merasa lantai hilang.

Berarti bukan cuma DM.

Bukan cuma tuduhan.

Dia mencoba masuk ke akun atasan gue.

Suaminya bicara datar.

“Itu sudah masuk ranah pelanggaran.”

Kata itu berat.

Pelanggaran.

Istri gue menangis tanpa suara.

“Aku cuma takut kehilangan dia,” katanya sambil menunjuk gue.

Tangan gue gemetar.

Karena tiba-tiba satu hal nyambung.

Minggu lalu.

HP gue hilang lima menit.

Bukan cuma lihat foto.

Dia kirim DM.

Dia coba login akun orang.

Semua dari HP gue.

Kalau sampai dilaporkan…

Gue bukan cuma kehilangan kerjaan.

Gue bisa kehilangan lebih dari itu.

Suaminya berdiri pelan.

“Saya tidak mau ini panjang.”

Bu Rani ikut berdiri.

“Tapi ini tidak bisa dianggap kecil.”

Gue berdiri juga.

Jantung gue berdetak keras.

Karena sekarang pertanyaannya bukan lagi soal cemburu.

Tapi…

Apa mereka akan membawa ini ke jalur hukum?

PART 4

Suaminya Bu Rani berdiri di depan meja.

Tangannya di saku celana.

Wajahnya tetap datar.

“Secara hukum, ini bisa kami laporkan.”

Kata itu jatuh pelan.

Laporkan.

Istri gue langsung berdiri.

“Aku minta maaf.”

Suaranya pecah.

Bu Rani tidak langsung jawab.

Dia tarik kursi. Duduk lagi.

“Kamu tahu dampaknya?”

Istri gue geleng pelan. Air matanya jatuh ke lantai.

“Login tanpa izin itu pelanggaran. Mengancam juga.”

Sunyi.

Suara motor lewat di luar pagar.

Anjing tetangga menggonggong sebentar.

Gue berdiri di samping istri gue.

Tangan gue kaku.

“Saya tanggung jawab,” gue bilang.

Semua mata ke gue.

“Kalau ada konsekuensi, saya yang hadapi.”

Istri gue langsung pegang tangan gue.

“Jangan.”

Suaminya Bu Rani menghela napas panjang.

“Saya bukan mau menghancurkan hidup orang.”

Dia lihat istrinya.

Bu Rani akhirnya bicara.

“Saya cuma mau ini berhenti.”

Nada suaranya tegas.

Bukan marah.

Tapi capek.

“Sejak DM itu, saya tiap hari ditanya suami saya. Anak saya lihat saya tegang. Di kantor orang mulai bisik-bisik.”

Istri gue menunduk lebih dalam.

“Aku salah.”

Ruangan hening beberapa detik.

Suaminya kembali duduk.

“Kita buat jelas saja.”

Dia menatap istri gue.

“Kamu akui semua ini dilakukan karena cemburu. Bukan karena ada hubungan apa pun.”

Istri gue angguk cepat.

“Aku akui.”

“Kamu siap minta maaf secara langsung dan tertulis.”

“Aku siap.”

“Dan kamu berhenti menghubungi istri saya. Selamanya.”

“Aku janji.”

Suaminya menoleh ke Bu Rani.

Bu Rani mengangguk kecil.

Belum selesai.

Dia lalu melihat gue.

“Mas.”

Gue tegak.

“Kamu mau tetap membela istri kamu?”

Pertanyaan itu seperti tes.

Gue lihat istri gue.

Wajahnya hancur.

Dia salah.

Jelas salah.

Tapi dia istri gue.

“Iya,” gue jawab pelan. “Saya tetap di samping dia.”

Sunyi.

Beberapa detik yang panjang.

Lalu suaminya Bu Rani berkata pelan,

“Itu jawaban yang benar.”

Gue tidak langsung lega.

“Masalah kantor bagaimana?” gue tanya.

Bu Rani menatap gue beberapa detik.

“Kamu dipecat bukan karena performa.”

Gue diam.

“HR waktu itu tidak tahu detailnya. Mereka cuma tahu ada konflik pribadi yang mengganggu.”

Dia tarik napas.

“Kalau konflik ini selesai, saya bisa ajukan klarifikasi.”

Jantung gue berdegup.

“Tapi,” dia lanjut, “keputusan tetap di manajemen.”

Ada harapan kecil.

Istri gue angkat kepala pelan.

“Kalau saya bikin surat pernyataan malam ini… apakah… apakah masih ada kesempatan?”

Suaminya Bu Rani tidak langsung jawab.

Dia berdiri lagi.

Jalan ke jendela.

Buka sedikit.

Angin malam masuk.

“Kami beri satu kesempatan.”

Kalimat itu membuat ruangan terasa longgar.

“Tapi semua harus bersih. Tidak ada lagi drama.”

Istri gue mengangguk berkali-kali.

Air matanya belum berhenti.

Bu Rani ambil kertas kosong dan pulpen.

“Sekarang juga.”

Istri gue duduk.

Tangannya gemetar saat mulai menulis.

Gue berdiri di belakangnya.

Melihat setiap huruf yang dia tulis.

Pengakuan.

Permintaan maaf.

Janji.

Jam dinding menunjukkan 21.18.

Setiap detik terasa berat.

Begitu surat itu selesai, dia serahkan dengan dua tangan.

Bu Rani membaca pelan.

Suaminya ikut melihat.

Beberapa detik sunyi.

Lalu Bu Rani menutup kertas itu.

“Saya terima.”

Istri gue langsung menangis lebih keras.

Tapi belum ada kepastian.

Belum ada jawaban soal kerjaan.

Suaminya menatap gue sekali lagi.

“Besok pagi saya dan istri saya akan kirim email klarifikasi ke HR.”

Gue menahan napas.

“Tapi hasilnya… kita lihat.”

Masih ada satu malam panjang sebelum keputusan itu datang.

Dan untuk pertama kalinya sejak gue keluar gedung siang tadi…

Ada secercah kemungkinan.

PART 5 (TERAKHIR)

Jam 06.12 pagi.

Gue sudah bangun sebelum alarm bunyi.

Langit masih abu-abu.

Suara toa masjid subuh baru saja selesai.

Istri gue duduk di ujung kasur.

Matanya bengkak.

Semalaman kami hampir tidak tidur.

HP gue ada di meja.

Layar menghadap ke atas.

Menunggu.

Jam 08.03.

Notifikasi email masuk.

Subjek: Klarifikasi Situasi Internal.

Tangan gue langsung dingin.

Gue buka.

Email dari suaminya Bu Rani dan Bu Rani sendiri.

Ditujukan ke HR. CC ke gue.

Isinya jelas.

Bahwa tidak ada hubungan pribadi.

Bahwa tuduhan datang dari kecemburuan.

Bahwa mereka tidak merasa dilecehkan secara hukum karena sudah ada permintaan maaf tertulis.

Gue baca pelan.

Tidak ada kalimat menjatuhkan.

Hanya fakta.

Jam 09.17.

Telpon masuk.

Nomor kantor.

Gue angkat.

Suara HR.

“Mas, bisa datang sebentar?”

Nada suaranya tidak dingin.

Tidak juga ramah.

Netral.

Jam 10.05.

Gue kembali berdiri di lobby gedung yang kemarin gue tinggalkan dengan amplop coklat.

Satpam yang sama lihat gue.

Kali ini dia angguk lebih dalam.

Gue masuk.

Ruang HR masih sama.

AC masih terlalu dingin.

HR duduk dengan map di meja.

“Kami sudah menerima email klarifikasi.”

Gue diam.

“Secara prosedur, keputusan kemarin memang terlalu cepat.”

Deg.

“Kami mempertimbangkan kembali.”

Beberapa detik yang panjang.

“Kami cabut surat pemutusan kerja.”

Gue tidak langsung paham.

“Maaf?”

“Kamu bisa kembali bekerja. Dengan catatan masalah pribadi tidak masuk ke kantor lagi.”

Dunia terasa pelan.

“Terima kasih, Pak.”

HR angguk.

“Dan satu lagi.”

Gue tegang lagi.

“Kami sarankan kamu dan istri ikut konseling pasangan. Itu bukan urusan kantor. Tapi ini demi kamu.”

Gue angguk.

Jam 11.22.

Gue keluar gedung yang sama.

Tapi kali ini tanpa amplop coklat.

HP gue bunyi.

Istri gue.

“Gimana?”

Gue sengaja diam dua detik.

Biar dia deg-degan.

“Gue masuk lagi.”

Sunyi.

Lalu suara tangis.

Bukan panik.

Bukan takut.

Lega.

Jam 13.40.

Gue pulang lebih cepat.

Gerbang berderit seperti kemarin.

Istri gue buka pintu sebelum gue ketuk.

Dia langsung peluk gue.

Kencang.

Tanpa kata-kata.

Gue balas pelan.

Di ruang tamu, surat pernyataan semalam masih di meja.

Belum dilipat.

Belum disimpan.

Gue ambil.

Lipat rapi.

“Ini jadi pengingat,” gue bilang.

Dia angguk.

“Aku takut kehilangan kamu,” katanya pelan.

Gue tidak jawab dengan teori.

Gue cuma bilang,

“Kalau takut, ngomong. Jangan perang sendiri.”

Dia angguk lagi.

Malamnya kami duduk di teras.

Motor lewat gang.

Anak kecil main bola teriak-teriak.

Semua terasa normal lagi.

Besok gue kerja lagi.

Bukan karena gue paling benar.

Bukan karena mereka paling baik.

Tapi karena semua orang akhirnya mau jujur.

Dan hari itu gue sadar satu hal:

Yang hampir bikin gue kehilangan kerja bukan atasan gue.

Bukan kantornya.

Tapi rasa takut yang nggak pernah dibicarakan.

Sekarang sudah dibicarakan.

Sudah dibereskan.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini mulai…

Rasanya cuma satu.

Akhirnya.

TAMAT…

Similar Posts

5 Comments

    1. terima kasih sudah mampir dan baca sampai selesai. doa dan semangatnya saya terima baik-baik. semoga tulisan berikutnya bisa lebih bikin mikir dan lebih bikin deg-degan lagi.

    1. terima kasih banyak sudah menyempatkan membaca dan memberi semangat.
      komentar seperti ini sering jadi bahan bakar supaya saya terus menulis cerita berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *