|

DIA BILANG AKU WARAS.PADAHAL MALAM ITU AKU BERLUTUT DI DEPAN MBAH DUKUN MINTA ILMU PELET.DAN BESOK PAGINYA, ANAK PAK LURAH ITU RESMI TUNANGAN.

Namanya Rani.

Anak Pak Lurah di kampungku.

Rumahnya paling besar. Cat krem. Pagar besi hitam. Tiap sore mobil Fortuner parkir miring sedikit karena gangnya sempit.

Aku cuma anak tukang servis AC.

Kalau lagi sepi order, aku nongkrong di bengkel depan rumah. Duduk di kursi plastik, dengar suara motor lewat, bau solar nyampur gorengan.

Pertama kali aku lihat dia waktu acara 17-an.

Dia pakai kaos putih, rambut diikat asal. Ketawa keras waktu balon air meletus di kepala anak kecil.

Sejak itu, tiap sore aku sengaja lewat depan rumahnya.

Alasan pura-pura beli es di warung Bu Iis.

Padahal cuma mau lihat dia nyiram bunga.

Kadang dia balas senyum.

Kadang enggak.

Tapi yang bikin dadaku panas, dia sering dijemput cowok pakai mobil Brio merah.

Namanya Fajar.

Katanya kerja di bank di kota.

Kemeja selalu rapi. Jam tangannya mahal. Kalau turun dari mobil, dia selalu bukain pintu buat Rani.

Orang-orang kampung sudah tahu.

“Calon mantu Pak Lurah itu,” kata Pak RT waktu ronda.

Aku cuma senyum tipis.

Malamnya, kipas angin kamarku berderit.

Notifikasi WhatsApp bunyi.

Status Rani muncul.

Foto dia dan Fajar. Caption: “Bismillah menuju yang lebih serius.”

Tanganku gemetar pegang HP.

Aku zoom foto itu.

Ada cincin di jari manisnya.

Besoknya kabar menyebar cepat.

Lamaran minggu depan.

Aku berhenti makan.

Nasi di piring masih setengah.

Ibu nanya, “Kau kenapa?”

Aku cuma bilang masuk angin.

Tapi malam itu aku nggak bisa tidur.

Suara toa masjid isya lewat lama sekali.

Aku buka lagi foto itu.

Zoom lagi cincin itu.

Ada sesuatu yang aneh.

Fajar terlihat terlalu santai.

Tangannya di saku.

Matanya tidak lihat ke Rani.

Entah kenapa dadaku makin sesak.

Bukan cuma karena cemburu.

Ada rasa nggak enak.

Dua hari kemudian aku dengar bisik-bisik di warung.

Katanya Fajar sering ke kota sampai malam.

Katanya pernah ada yang lihat dia sama perempuan lain.

Tapi belum ada bukti.

Aku tahu aku nggak punya hak apa-apa.

Aku bukan siapa-siapa.

Tapi tiap lihat Rani senyum ke Fajar, rasanya seperti ada yang diremas di dalam dada.

Malam sebelum lamaran, hujan deras.

Gang becek.

Aku pakai jaket, naik motor tua, pergi ke ujung kampung.

Ke rumah kayu kecil dekat kebun bambu.

Orang-orang bilang, kalau sudah mentok, ke situ saja.

Lampunya kuning redup.

Bau kemenyan tajam.

Mbah Darto duduk di tikar.

Rambutnya putih, matanya kecil tapi tajam.

“Apa yang kau mau?” suaranya pelan.

Aku duduk.

Lututku dingin kena ubin semen.

“Aku mau dia,” kataku.

“Dia siapa?”

“Rani. Anak Pak Lurah.”

Mbah Darto diam lama.

Hujan masih deras di atap seng.

“Kau tahu dia sudah punya calon?”

Aku angguk.

“Kalau kau pakai cara ini, hidupmu bisa berubah.”

“Aku sudah berubah sejak dia pilih orang lain.”

Tanganku basah oleh keringat.

Mbah Darto ambil botol kecil berisi air keruh.

“Kau harus campur ini ke minumnya. Tapi ingat. Ilmu itu cuma membuka mata orang. Bukan memaksa hati.”

Aku tidak terlalu dengar kalimat terakhirnya.

Yang kupikir cuma satu.

Aku tidak mau kehilangan dia.

Besok paginya, rumah Pak Lurah ramai.

Tenda biru dipasang.

Kursi plastik berjejer.

Ibu-ibu pakai kebaya.

Bapak-bapak pakai batik.

Aku berdiri di luar pagar.

Rani pakai dress hijau muda.

Dia cantik sekali.

Fajar datang dengan keluarganya.

Mobilnya parkir depan gang.

Aku genggam botol kecil di saku jaket.

Tanganku gemetar.

Minuman tamu disusun di meja panjang.

Teh manis dalam gelas plastik.

Aku tahu ini gila.

Aku tahu ini salah.

Tapi langkahku tetap maju.

Saat semua orang sibuk foto-foto, aku mendekat ke meja minuman.

Aku buka tutup botol itu pelan.

Bau aneh tipis keluar.

Aku tuang sedikit ke satu gelas.

Persis saat suara MC bilang, “Kita masuk ke acara inti.”

Aku lihat Rani ambil gelas itu.

Gelas yang sama.

Dia angkat.

Minum.

Beberapa detik.

Lalu dia berhenti.

Matanya membelalak.

Tangannya gemetar.

Gelas jatuh ke lantai.

Semua orang teriak.

Rani pegang kepalanya.

Dia menoleh ke arahku.

Tatapannya berbeda.

Bukan kosong.

Bukan pusing.

Tapi seperti… baru sadar sesuatu.

Dan tepat di depan semua orang, sebelum acara lamaran dimulai, Rani menunjuk Fajar dan berkata keras:

“Aku nggak mau nikah sama dia.”

Semua langsung sunyi.

Pak Lurah berdiri.

Wajahnya merah.

Fajar pucat.

Dan Rani… terus menatapku.

Rani masih menunjuk Fajar. Tangannya gemetar, tapi suaranya tidak lagi goyah. Orang-orang berbisik. Sendok jatuh di piring terdengar nyaring di tengah sunyi yang tiba-tiba tebal. Fajar berdiri kaku, mencoba tersenyum tipis seperti ini cuma drama kecil yang bisa diselesaikan dengan satu kalimat manis.

“Apa maksud kamu, Ran?” suaranya pelan, tapi rahangnya mengeras.

Rani tidak menjawab dia. Matanya justru bergerak, pelan, menyapu wajah-wajah tamu, lalu berhenti tepat ke arahku di balik pagar. Tatapan itu membuat tengkukku dingin. Bukan tatapan orang yang baru sadar karena pelet. Itu tatapan orang yang menemukan potongan puzzle terakhir.

Pak Lurah melangkah maju. “Rani, jangan bikin malu keluarga,” katanya tertahan.

Rani menelan ludah. “Ayah nggak tahu siapa dia sebenarnya.”

Beberapa orang mulai mengangkat HP, merekam. Fajar mendekat, berusaha memegang tangan Rani, tapi Rani menarik tangannya cepat. Gelas plastik yang pecah diinjak seseorang, bunyinya retak kecil di bawah sepatu.

“Aku tahu kamu sering ke kota,” lanjut Rani, suaranya meninggi. “Tapi bukan cuma buat kerja.”

Fajar tertawa pendek. “Kamu dapat gosip dari siapa?”

Rani menggeleng. “Bukan gosip. Aku lihat sendiri.”

Kerumunan makin rapat. Ibu-ibu berbisik cepat. Aku masih berdiri membeku. Botol kecil di sakuku terasa panas, seolah-olah semua orang bisa mencium baunya dari jauh.

Fajar mulai kehilangan tenang. “Lihat apa?”

Rani menarik napas panjang. “Kamu sudah punya istri.”

Kalimat itu jatuh seperti batu besar di tengah tenda. Suara kipas angin berdengung kasar. Pak Lurah mundur satu langkah. Ibunya Fajar berdiri setengah, wajahnya pucat.

“Itu fitnah,” kata Fajar cepat. “Aku bisa jelaskan.”

Rani menggeleng lagi, kali ini lebih mantap. “Aku sudah ketemu dia. Perempuan itu datang ke rumah kontrakanmu minggu lalu. Dia bawa anak kecil.”

Beberapa tamu langsung saling pandang. Fajar terlihat ingin bicara, tapi suaranya tersangkut. Keringat mulai muncul di pelipisnya.

Aku merasa lututku lemas. Ini bukan efek air dari Mbah Darto. Ini bukan sekadar membuka mata. Ini seperti sesuatu yang sudah lama mengendap dan tiba-tiba pecah.

Tiba-tiba Rani berbalik lagi. Tatapannya kembali menancap ke arahku. Dia melangkah keluar dari tenda, melewati kursi-kursi plastik, melewati orang-orang yang otomatis memberi jalan. Aku ingin mundur, tapi kakiku tidak bergerak.

Dia berhenti hanya beberapa langkah dariku. Hujan sisa semalam masih menyisakan bau tanah basah.

“Kamu,” katanya pelan.

Dadaku serasa dipukul dari dalam. “Aku?” suaraku serak.

Rani menatapku lama. “Kamu pikir aku nggak tahu?”

Jantungku berhenti satu detik.

“Kamu datang ke rumah Mbah Darto semalam.”

Dunia seperti mengecil. Suara orang-orang mendadak jauh.

Aku menelan ludah. “Aku cuma—”

“Jangan bohong,” potongnya. “Aku lihat motormu parkir di depan kebun bambu.”

Tanganku spontan menyentuh saku jaket. Botol itu masih di sana.

Rani tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah kulihat sebelumnya. “Kamu pikir aku butuh pelet supaya sadar?”

Aku tidak bisa menjawab.

Dia mendekat sedikit, cukup dekat sampai aku bisa mencium wangi sabunnya. “Aku sudah tahu soal Fajar sebelum kamu ke sana.”

Kepalaku berdengung.

“Dan aku tahu kamu yang campur sesuatu ke minumanku,” lanjutnya pelan, nyaris berbisik. “Aku lihat tanganmu.”

Darahku seperti turun ke kaki.

“Tapi kamu salah satu hal,” katanya lagi.

Aku menatapnya, takut dengan kalimat berikutnya.

“Air itu bukan buat aku.”

Aku membeku.

Rani memiringkan kepala sedikit. “Gelas itu awalnya dipegang ayahku. Aku tukar karena aku haus.”

Napas di sekitarku seperti berhenti.

Di belakang kami, Pak Lurah tiba-tiba memegang dadanya. Wajahnya berubah pucat. Orang-orang mulai panik lagi. Seseorang berteriak memanggil air. Seseorang lain memanggil mobil.

Dan di tengah kekacauan itu, Rani masih menatapku.

Tatapan yang kali ini bukan marah.

Tapi seperti menyimpan sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar rahasia Fajar.

“Kita belum selesai,” katanya pelan.

Di kejauhan, suara sirene mulai terdengar.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku sadar… mungkin yang akan hancur bukan cuma lamaran.

Tapi seluruh hidupku.

Rani masih menunjuk Fajar. Tangannya gemetar, tapi suaranya tidak lagi goyah. Orang-orang berbisik. Sendok jatuh di piring terdengar nyaring di tengah sunyi yang tiba-tiba tebal. Fajar berdiri kaku, mencoba tersenyum tipis seperti ini cuma drama kecil yang bisa diselesaikan dengan satu kalimat manis. “Apa maksud kamu, Ran?” suaranya pelan, tapi rahangnya mengeras. Rani tidak menjawab dia. Matanya justru bergerak, pelan, menyapu wajah-wajah tamu, lalu berhenti tepat ke arahku di balik pagar. Tatapan itu membuat tengkukku dingin. Bukan tatapan orang yang baru sadar karena pelet. Itu tatapan orang yang menemukan potongan puzzle terakhir.

Pak Lurah melangkah maju. “Rani, jangan bikin malu keluarga,” katanya tertahan. Rani menelan ludah. “Ayah nggak tahu siapa dia sebenarnya.” Beberapa orang mulai mengangkat HP, merekam. Fajar mendekat, berusaha memegang tangan Rani, tapi Rani menarik tangannya cepat. Gelas plastik yang pecah diinjak seseorang, bunyinya retak kecil di bawah sepatu. “Aku tahu kamu sering ke kota,” lanjut Rani, suaranya meninggi. “Tapi bukan cuma buat kerja.” Fajar tertawa pendek. “Kamu dapat gosip dari siapa?” Rani menggeleng. “Bukan gosip. Aku lihat sendiri.”

Kerumunan makin rapat. Ibu-ibu berbisik cepat. Aku masih berdiri membeku. Botol kecil di sakuku terasa panas, seolah-olah semua orang bisa mencium baunya dari jauh. Fajar mulai kehilangan tenang. “Lihat apa?” Rani menarik napas panjang. “Kamu sudah punya istri.” Kalimat itu jatuh seperti batu besar di tengah tenda. Suara kipas angin berdengung kasar. Pak Lurah mundur satu langkah. Ibunya Fajar berdiri setengah, wajahnya pucat. “Itu fitnah,” kata Fajar cepat. “Aku bisa jelaskan.” Rani menggeleng lagi, kali ini lebih mantap. “Aku sudah ketemu dia. Perempuan itu datang ke rumah kontrakanmu minggu lalu. Dia bawa anak kecil.” Beberapa tamu langsung saling pandang. Fajar terlihat ingin bicara, tapi suaranya tersangkut. Keringat mulai muncul di pelipisnya.

Aku merasa lututku lemas. Ini bukan efek air dari Mbah Darto. Ini bukan sekadar membuka mata. Ini seperti sesuatu yang sudah lama mengendap dan tiba-tiba pecah. Tiba-tiba Rani berbalik lagi. Tatapannya kembali menancap ke arahku. Dia melangkah keluar dari tenda, melewati kursi-kursi plastik, melewati orang-orang yang otomatis memberi jalan. Aku ingin mundur, tapi kakiku tidak bergerak. Dia berhenti hanya beberapa langkah dariku. Hujan sisa semalam masih menyisakan bau tanah basah. “Kamu,” katanya pelan. Dadaku serasa dipukul dari dalam. “Aku?” suaraku serak. Rani menatapku lama. “Kamu pikir aku nggak tahu?” Jantungku berhenti satu detik.

“Kamu datang ke rumah Mbah Darto semalam.” Dunia seperti mengecil. Suara orang-orang mendadak jauh. Aku menelan ludah. “Aku cuma—” “Jangan bohong,” potongnya. “Aku lihat motormu parkir di depan kebun bambu.” Tanganku spontan menyentuh saku jaket. Botol itu masih di sana. Rani tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah kulihat sebelumnya. “Kamu pikir aku butuh pelet supaya sadar?” Aku tidak bisa menjawab. Dia mendekat sedikit, cukup dekat sampai aku bisa mencium wangi sabunnya. “Aku sudah tahu soal Fajar sebelum kamu ke sana.” Kepalaku berdengung. “Dan aku tahu kamu yang campur sesuatu ke minumanku,” lanjutnya pelan, nyaris berbisik. “Aku lihat tanganmu.” Darahku seperti turun ke kaki.

“Tapi kamu salah satu hal,” katanya lagi. Aku menatapnya, takut dengan kalimat berikutnya. “Air itu bukan buat aku.” Aku membeku. Rani memiringkan kepala sedikit. “Gelas itu awalnya dipegang ayahku. Aku tukar karena aku haus.” Napas di sekitarku seperti berhenti. Di belakang kami, Pak Lurah tiba-tiba memegang dadanya. Wajahnya berubah pucat. Orang-orang mulai panik lagi. Seseorang berteriak memanggil air. Seseorang lain memanggil mobil. Dan di tengah kekacauan itu, Rani masih menatapku. Tatapan yang kali ini bukan marah. Tapi seperti menyimpan sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar rahasia Fajar. “Kita belum selesai,” katanya pelan. Di kejauhan, suara sirene mulai terdengar. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku sadar… mungkin yang akan hancur bukan cuma lamaran. Tapi seluruh hidupku.

Sirene makin dekat. Suaranya memantul di tembok gang sempit, bercampur teriakan orang-orang yang panik. Pak Lurah sudah duduk di kursi plastik, satu tangan mencengkeram dada, satu lagi meremas ujung meja sampai gelas-gelas bergeser. Wajahnya abu-abu. Rani langsung berlari ke arahnya. “Ayah, lihat aku. Tarik napas pelan,” suaranya tegas, jauh lebih tenang daripada semua orang di situ.

Aku berdiri seperti orang paling asing di kampung sendiri. Botol kecil itu masih di sakuku. Tanganku gemetar. Mbah Darto bilang itu cuma membuka mata, bukan memaksa hati. Tapi bagaimana kalau yang kubuka justru pintu bencana?

Fajar mendadak bergerak cepat. Bukan ke arah Rani. Bukan ke arah Pak Lurah. Tapi ke arahku.

“Kamu yang bikin ini semua, ya?” suaranya rendah, napasnya berat.

Beberapa orang langsung menghalangi, tapi tatapannya sudah menancap padaku. Aku tidak menjawab. Lidahku kelu.

Ambulans berhenti di depan gang. Dua petugas turun, membawa tandu. Orang-orang memberi jalan. Pak Lurah diangkat pelan-pelan. Rani ikut naik ke ambulans tanpa ragu.

Sebelum pintu ditutup, dia menoleh ke arahku.

Tatapannya kali ini bukan marah. Bukan juga takut.

Tapi kecewa.

Ambulans pergi. Suaranya menjauh. Tenda biru masih berdiri. Kursi-kursi masih berjejer. Tapi suasananya seperti habis perang kecil.

Ibunya Fajar menangis. Beberapa keluarga mereka langsung masuk mobil. Fajar masih berdiri di depanku.

“Kamu pikir kamu menang?” katanya pelan. “Kamu nggak tahu apa-apa.”

Aku akhirnya bicara. “Kamu sudah punya istri.”

Rahangnya mengeras. “Itu urusanku.”

“Dan kamu tetap mau nikah sama Rani?”

Dia tidak jawab. Dia cuma mendekat sedikit. “Kamu pikir Rani bakal pilih kamu setelah ini?”

Kalimat itu menampar lebih keras dari apa pun.

Malamnya, kabar cepat menyebar. Pak Lurah masuk rumah sakit di kota. Serangan jantung ringan, kata orang. Kondisinya stabil, tapi harus observasi. Lamaran batal. Fajar dan keluarganya pulang tanpa sepatah kata ke warga.

Aku tidak pulang ke rumah. Aku duduk di bengkel, kursi plastik yang biasa jadi saksi aku pura-pura santai tiap sore. Bau solar dan besi panas terasa lebih menyengat malam itu.

Sekitar jam sembilan, motorku berhenti oleh suara langkah.

Rani berdiri di depan bengkel.

Dia masih pakai dress hijau muda itu. Rambutnya kini terurai. Wajahnya lelah, tapi matanya tetap tajam.

“Ayah stabil,” katanya pelan.

Aku mengangguk. “Syukurlah.”

Sunyi sebentar. Hanya suara jangkrik dan motor lewat jauh.

“Aku nggak tahu harus marah atau terima kasih sama kamu,” lanjutnya.

Aku menunduk. “Aku nggak pantas dapat dua-duanya.”

Dia tertawa kecil, hambar. “Kamu pikir semua ini karena air dari botol itu?”

Jantungku berdegup lagi. “Bukan?”

Rani menggeleng pelan. “Aku sudah mau batalkan lamaran itu sejak tiga hari lalu.”

Aku terdiam.

“Aku ke kota. Aku cari sendiri alamat kontrakan Fajar. Aku ketemu istrinya. Dia nggak tahu apa-apa soal aku.” Suaranya sedikit bergetar, tapi dia menahannya. “Aku mau bilang ke ayah pelan-pelan. Tapi ayah sudah telanjur undang orang sekampung.”

Aku menatapnya. “Terus… tadi?”

“Tadi aku cuma capek,” katanya jujur. “Capek pura-pura kuat. Capek pura-pura nggak lihat.”

Aku menelan ludah. “Dan soal aku?”

Dia menatap sakuku. “Kamu nekat.”

Aku keluarkan botol kecil itu. Isinya tinggal sedikit. “Aku bodoh.”

Rani tidak langsung ambil. Dia cuma lihat lama. “Kamu tahu nggak apa yang paling bikin aku takut?”

Aku menggeleng.

“Bukan karena kamu datang ke dukun. Tapi karena kamu pikir aku cuma bisa milih dengan cara begitu.” Matanya mulai basah, tapi tidak ada air mata jatuh. “Seolah-olah aku nggak punya kehendak.”

Kalimat itu menusuk.

“Aku cuma takut kehilangan kamu,” kataku pelan.

“Kamu nggak pernah punya aku,” jawabnya, lembut tapi tegas.

Sunyi lagi. Angin malam lewat, bikin spanduk bekas lamaran di ujung gang berkibar lemah.

Rani akhirnya duduk di kursi plastik sebelahku. Jarak kami tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

“Ayah hampir kena minuman itu,” katanya pelan.

Aku meremas botol di tangan. “Aku tahu.”

“Kalau ayah kenapa-kenapa, kamu sanggup hidup dengan itu?”

Pertanyaan itu tidak perlu dijawab. Wajah Pak Lurah yang pucat tadi sudah cukup jadi bayangan seumur hidup.

Rani berdiri. “Aku nggak mau hidupku ditentukan Fajar. Dan aku juga nggak mau ditentukan kamu… atau Mbah Darto.”

Aku ikut berdiri.

“Besok aku ke rumah Mbah Darto,” lanjutnya.

Aku tertegun. “Buat apa?”

Dia menatapku lurus. “Karena bukan cuma kamu yang datang ke sana semalam.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Apa maksud kamu?”

Rani tidak langsung jawab. Dia melangkah mundur, lalu berhenti di bawah lampu jalan yang redup.

“Fajar juga ke sana,” katanya pelan. “Dua hari sebelum kamu.”

Aku merasa dunia kembali goyah.

“Dan yang dia minta…” Rani berhenti sejenak, menatapku dalam-dalam. “Bukan cuma supaya aku cinta sama dia.”

Angin malam tiba-tiba terasa lebih dingin.

“Besok aku cari tahu semuanya,” katanya. “Tentang kamu. Tentang dia. Tentang apa sebenarnya yang sedang dimainkan.”

Dia berbalik, berjalan menyusuri gang yang sempit itu. Langkahnya mantap.

Aku berdiri sendirian di depan bengkel, botol kecil itu masih di tangan.

Untuk pertama kalinya aku sadar… mungkin aku bukan satu-satunya yang mencoba mengubah takdir malam itu.

Dan mungkin, permainan ini jauh lebih besar dari sekadar cinta segitiga.

Lampu bengkel berkedip sekali… lalu mati.

Tamat.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *