SEMUA SAUDARA GUE DAPET TANAH DAN RUMAH. GUE CUMA DAPET VESPA TUA. 10 TAHUN KEMUDIAN, BARU GUE TAU… SIAPA SEBENARNYA YANG DITITIPKAN DI DALAMNYA.
Suara toa masjid masih panjang ketika gue sampai di rumah.
Gang sempit itu penuh sandal. Ada yang duduk di teras, ada yang berdiri sambil lipat tangan. Bau minyak kayu putih nyampur kopi hitam. Ada yang bisik-bisik, sesekali nengok ke dalam.
Gue lewat aja.
“Dateng juga akhirnya…” bisik salah satu tante.
Gue nggak jawab.
Di ruang tengah, bapak sudah ditutup kain putih. Kipas angin berdiri di pojok, bunyinya berderit pelan, muter tapi nggak ngasih angin.
Nyokap duduk di sampingnya. Matanya merah, tapi sudah nggak nangis. Kayak airnya habis.
Gue jongkok di dekat kepala bapak.
Dingin.
Padahal semalem gue masih lihat dia duduk di depan rumah, nyalain rokok sambil ngomel soal harga bensin.
“Motor tua itu masih lebih setia dari manusia sekarang,” katanya.
Gue sempet ketawa.
Sekarang… nggak ada yang bisa diketawain.
Gue pegang tangannya.
Kaku.
“Pak…”
Sunyi.
Dari belakang, suara kakak gue, Rudi.
“Udah, jangan lama-lama. Banyak yang nunggu.”
Gue nengok.
Dia rapi banget. Kemeja hitam, rambut disisir. Kayak mau meeting, bukan kehilangan bapak.
Di sampingnya ada Sinta. Matanya sembab, tapi tangannya sibuk megang HP.
Gue berdiri pelan.
Ada yang aneh.
Bukan cuma karena bapak meninggal.
Tapi cara mereka berdiri di ruangan itu… terlalu siap.
Pemakaman selesai sore.
Tanah masih basah. Sepatu gue penuh lumpur. Orang-orang pulang satu-satu.
Yang tersisa cuma kami.
Gue duduk di pinggir kuburan. Ngelihat nama bapak ditulis pakai spidol di papan kayu.
“Pak… maaf gue belum jadi apa-apa.”
Angin lewat.
Nggak ada jawaban.
Dari belakang, suara Rudi lagi telpon.
“Ya… nanti kita beresin. Tenang aja.”
Nada suaranya santai.
Kayak ini semua cuma urusan administrasi.
Malamnya, rumah berubah.
Sunyi… tapi cuma sebentar.
Jam delapan, ruang tamu penuh lagi.
Kali ini bukan tetangga.
Keluarga.
Om, tante, sepupu.
Dan satu orang yang bikin suasana langsung beda: Pak Hendra.
Notaris.
Gue langsung ngerti.
Ini bukan kumpul doa.
Ini pembagian.
Gue duduk di pojok, dekat pintu.
Rudi duduk paling depan, di samping Pak Hendra.
Sinta di sebelahnya.
Nyokap di tengah. Diam.
Pak Hendra buka map coklat.
“Baik… kita mulai saja. Ini sesuai dengan wasiat almarhum.”
Kata “wasiat” bikin semua orang langsung fokus.
Gue angkat kepala.
Bapak… ninggalin ini?
Pak Hendra mulai baca.
“Tanah di daerah Cibinong, seluas 500 meter persegi, diberikan kepada anak pertama, Saudara Rudi.”
Rudi angguk kecil. Mukanya tetap datar.
“Rumah utama ini… diberikan kepada anak kedua, Saudari Sinta.”
Sinta tarik napas panjang. Matanya berkaca-kaca.
Gue tahu itu bukan sedih.
Itu lega.
Gue masih nunggu.
Tangan gue mulai dingin.
“Tabungan di Bank… sejumlah…”
Gue nggak denger angkanya jelas. Tapi dari reaksi orang-orang, itu besar.
“Diberikan kepada Ibu… sebagai istri sah.”
Nyokap cuma angguk.
Gue telan ludah.
Tinggal gue.
Pak Hendra berhenti sebentar.
Buka halaman berikutnya.
Ruangan makin sunyi.
Gue bisa dengar suara sendal geser.
“Untuk anak ketiga… Saudara Junaidi.”
Semua mata langsung ke gue.
Gue tegak.
Pak Hendra lihat kertas kecil.
“Almarhum memberikan satu unit kendaraan roda dua… Vespa tua… yang saat ini berada di gudang belakang.”
Sunyi.
Bener-bener sunyi.
Kayak semua orang lagi nahan sesuatu.
Gue nggak langsung ngerti.
“Vespa…?”
Pak Hendra angguk.
“Iya. Itu saja.”
Gue bengong.
Cuma itu?
Dari belakang, ada yang ketawa kecil. Cepat ditutup batuk.
Rudi pura-pura beresin lengan baju.
Sinta langsung lihat HP.
Gue lihat nyokap.
Dia nggak lihat gue.
Gue berdiri.
“Pak… maksudnya cuma itu?”
Pak Hendra buka lagi kertasnya.
“Iya. Tidak ada yang lain.”
Gue ketawa kecil.
Kering.
“Tiga tahun gue yang nemenin bapak tiap hari.”
Semua langsung diam.
“Gue yang anter kontrol. Gue yang ngurus obat. Gue yang jagain tiap malam.”
Suara gue naik.
“Terus gue dapet… vespa?”
Rudi angkat bahu.
“Udah lah, Di. Itu juga masih lumayan.”
Lumayan?
Gue lihat dia.
“Lu dapet tanah, rumah, duit. Terus vespa butut ini lumayan?”
Sinta ikut.
“Mungkin itu yang paling cocok buat kamu.”
Cocok?
Dada gue panas.
Nyokap akhirnya ngomong.
“Junaidi… sudah. Jangan ribut.”
Gue diam.
Gue lihat dia.
Dia tetap nggak lihat gue.
Ada yang aneh.
Semua orang di ruangan ini… kayak sudah tahu.
Cuma gue yang baru dengar.
Pak Hendra nutup map.
“Kalau tidak ada pertanyaan, berarti selesai.”
Selesai.
Sesimpel itu.
Hidup bapak… dibagi dalam 20 menit.
Dan gue… dapet vespa.
Malam makin larut.
Orang-orang pulang.
Rudi dan Sinta masih ngobrol pelan.
Gue keluar ke belakang.
Gudang itu gelap.
Bau debu.
Gue buka pintunya.
Engsel bunyi keras.
Dan di pojok…
Vespa itu.
Ketutup kain lusuh.
Gue tarik.
Debu beterbangan.
Catnya pudar. Biru tua, hampir abu-abu. Joknya sobek. Ban kempes.
Tapi gue kenal.
Ini vespa bapak.
Gue pegang stangnya.
Dingin.
Gue duduk di atasnya.
Sunyi.
Kenangan lewat.
Bapak boncengin gue waktu kecil.
Bapak ngajarin gue bawa motor.
Bapak marah waktu gue jatuhin ini.
Gue tarik napas.
“Ini doang ya, Pak…”
Angin malam masuk dari pintu.
Tiba-tiba…
Kertas kecil jatuh dari bawah jok.
Gue berhenti.
Gue jongkok.
Ambil.
Dilipat kecil. Udah kuning.
Gue buka pelan.
Tulisan tangan.
Tulisan bapak.
Tangan gue langsung gemetar.
“Jangan jual.”
Cuma dua kata.
Gue balik kertasnya.
Kosong.
Gue lihat lagi vespa itu.
Ada goresan di samping.
Kayak pernah dibuka.
Atau dibongkar.
Gue raba.
Aneh.
Kenapa bapak nulis ini… terus sembunyiin di sini?
Dari depan, suara Rudi.
“Di! Ngapain lu di situ?”
Gue cepat masukin kertas ke saku.
“Liat-liat.”
Rudi muncul di pintu.
Dia lihat vespa.
Terus lihat gue.
Tatapannya beda.
“Udah lah. Itu rongsokan. Besok kalau mau jual, gue kenal orang.”
Gue langsung jawab.
“Nggak dijual.”
Dia berhenti.
“Kenapa?”
Gue genggam stang lebih kuat.
“Nggak pengen aja.”
Dia senyum tipis.
“Terserah.”
Dia pergi.
Tapi sebelum hilang, dia sempat bilang pelan.
“Kadang… yang kelihatan nggak berharga… memang nggak berharga.”
Langkahnya menjauh.
Gue sendirian lagi.
Di depan vespa itu.
Dan kertas di saku gue… rasanya berat.
Gue nyalain lampu kecil.
Gue perhatiin lagi.
Lebih detail.
Goresan itu…
Kayak bekas baut yang pernah dibuka.
Gue miringkan kepala.
“Ini apaan sih…”
Tiba-tiba…
Suara pintu depan dibanting.
Keras.
Nyokap.
“Rudi! Kamu jangan mulai lagi!”
Gue langsung keluar pelan.
Dari celah pintu, gue lihat mereka di ruang tamu.
Rudi berdiri, emosi.
“Aku cuma nanya! Kenapa harus dia yang dapet itu?!”
Sinta ikut.
“Iya, Bu! Dari dulu bapak beda ke dia!”
Nyokap gemetar.
“Sudah! Jangan sekarang!”
Rudi ketawa sinis.
“Kenapa? Takut dia tahu?”
Jantung gue langsung berhenti.
Takut… gue tahu?
Sinta bilang pelan.
“Memang sudah waktunya dia tahu.”
Sunyi.
Beberapa detik.
Gue tahan napas.
Rudi mendekat.
Dan bilang pelan…
“Dia itu… bukan anak bapak.”
Kalimat itu nggak langsung masuk ke kepala gue.
“Dia itu… bukan anak bapak.”
Kayak suara jauh. Pelan. Tapi nusuk.
Gue masih berdiri di balik pintu, napas gue ketahan.
Nyokap langsung duduk. Tangannya nutup muka.
“Rudi… jangan…”
Sinta berdiri di sampingnya.
“Bu, kita capek pura-pura. Dari dulu semua harus muter ngikutin dia.”
Rudi jalan mondar-mandir.
“Bapak itu selalu beda ke dia. Selalu! Kita ini apa? Anak tiri di rumah sendiri?”
Gue mundur satu langkah.
Lantai keramik dingin.
Kepala gue penuh.
Bukan anak bapak?
Terus… gue siapa?
Nyokap akhirnya ngomong, pelan.
“Dia tetap anak kita.”
Rudi langsung potong.
“Anak IBU, mungkin. Tapi bukan anak bapak.”
Sunyi.
Gue nggak kuat dengar lagi.
Gue balik ke gudang. Duduk di vespa itu.
Tangan gue dingin.
Kertas kecil itu gue keluarin lagi.
“Jangan jual.”
Dua kata itu sekarang rasanya beda.
Kayak… ada sesuatu yang dititipin.
Bukan sekadar motor.
Dari depan, suara langkah mendekat.
Nyokap.
Dia berdiri di pintu gudang. Mukanya lelah.
“Junaidi…”
Gue nggak lihat dia.
“Bener ya?”
Dia diam.
Gue angkat kepala.
“Gue bukan anak bapak?”
Nyokap duduk di bangku kayu.
Lama.
Baru dia jawab.
“Iya.”
Sederhana.
Nggak muter.
Gue ketawa kecil.
“Keren. Baru tahu setelah bapak meninggal.”
Nyokap nunduk.
“Bapakmu yang minta. Dia nggak mau kamu tahu.”
“Kenapa?”
Dia tarik napas.
“Karena dia sayang kamu.”
Gue langsung berdiri.
“Kalau sayang, kenapa gue dikasih vespa doang?!”
Suara gue keras.
Nyokap kaget.
Air matanya jatuh lagi.
“Karena itu yang paling berharga.”
Gue ketawa.
“Serius, Bu? Vespa butut ini?”
Nyokap geleng pelan.
“Itu bukan sekadar vespa.”
Gue diam.
Dia lihat gue.
“Sepuluh tahun lalu… bapakmu hampir bangkrut.”
Gue mengerut.
“Dia punya utang.”
Jantung gue pelan-pelan berubah ritmenya.
“Banyak?”
Nyokap angguk.
“Sangat banyak.”
Gue langsung ingat.
Dulu bapak sering keluar malam. Sering ribut sama orang di depan rumah.
Gue kira itu biasa.
Ternyata…
“Terus?”
Nyokap lanjut.
“Semua aset hampir dijual. Tanah, rumah… semuanya.”
Gue lihat ke arah depan rumah.
Semua yang tadi dibagi…
Hampir hilang?
“Tapi… bapakmu nggak jadi jual.”
“Kenapa?”
Nyokap lihat ke vespa itu.
“Karena ada seseorang yang bantu dia.”
Gue ikut lihat vespa itu.
Sunyi.
“Siapa?”
Nyokap geleng.
“Bapakmu nggak pernah cerita detail.”
Gue makin nggak ngerti.
“Terus hubungannya sama ini apa?”
Nyokap berdiri.
“Dia cuma bilang satu hal.”
Dia mendekat ke gue.
“Kalau suatu hari dia nggak ada… kamu yang harus jaga vespa itu.”
Gue bengong.
“Kenapa gue?”
Nyokap senyum tipis.
“Karena kamu satu-satunya yang dia percaya.”
Dada gue tiba-tiba… berat.
Tapi tetap…
Masih banyak yang nggak masuk akal.
“Terus soal… gue bukan anak dia?”
Nyokap pegang tangan gue.
“Dia tahu dari awal.”
Gue kaget.
“Hah?”
“Waktu aku nikah sama dia… kamu sudah ada di kandungan.”
Sunyi.
Dunia gue pelan-pelan geser.
“Dia tahu… dan tetap nerima gue?”
Nyokap angguk.
“Dia bahkan lebih sayang kamu dari yang lain.”
Air di mata gue mulai naik.
Gue cepat-cepat buang muka.
Dari depan, suara Rudi.
“Udah selesai dramanya?”
Dia berdiri di pintu.
Sinta di belakangnya.
Rudi lihat ke gue.
“Sekarang lu sudah tahu kan?”
Gue diam.
Dia lanjut.
“Jadi jangan banyak nuntut.”
Sinta ikut.
“Dan soal vespa itu…”
Dia berhenti.
Tatapannya tajam.
“…sebaiknya kamu jual.”
Gue langsung lihat dia.
“Kenapa?”
Rudi senyum tipis.
“Nggak ada gunanya.”
Gue ingat kertas itu.
“Jangan jual.”
Gue geleng.
“Nggak.”
Rudi melangkah masuk.
“Lu keras kepala ya dari dulu.”
Dia mendekat ke vespa.
Matanya… beda.
Bukan meremehkan.
Tapi… kayak takut.
“Gue kasih lu duit. Lu kasih itu ke gue.”
Gue langsung berdiri di depan vespa.
“Nggak.”
Sinta langsung naik nada.
“Lu kenapa sih? Barang rongsok gitu dipertahanin!”
Gue diam.
Rudi pelan.
“Lu nggak ngerti apa yang lu pegang, Di.”
Gue jawab pelan.
“Justru itu… gue mau ngerti.”
Sunyi.
Rudi lihat gue lama.
Terus dia bilang pelan.
“Kalau gitu… jangan nyesel.”
Dia balik.
Sinta ikut.
Nyokap diam.
Gue lihat vespa itu lagi.
Dan untuk pertama kalinya…
Gue ngerasa…
Ini bukan sekadar motor.
Ini… masalah.
Dan gue sudah terlanjur masuk.
Malam itu, gue nggak tidur.
Jam dua pagi, gue ke gudang lagi.
Bawa obeng.
Gue lihat bagian samping vespa.
Bekas goresan itu.
Kayak pernah dibuka.
Gue coba buka pelan.
Bautnya keras.
Butuh waktu.
Keringat gue turun.
Tangan gue gemetar.
Akhirnya…
Kletek.
Kebuka.
Gue tahan napas.
Di dalamnya…
Ada sesuatu.
Bungkusan plastik hitam.
Rapet.
Gue tarik pelan.
Berat.
Gue buka.
Dan isi di dalamnya…
Bikin jantung gue langsung berhenti.
Plastik itu gue buka pelan.
Di dalamnya… bukan uang.
Bukan emas.
Tapi map.
Beberapa lembar dokumen.
Kertasnya tebal.
Ada stempel.
Ada tanda tangan.
Gue baca satu.
Sertifikat.
Tanah.
Lokasi… sama seperti yang tadi disebut Pak Hendra.
Cibinong.
Nama pemilik…
Bukan Rudi.
Bukan Sinta.
Nama itu…
Nama gue.
Junaidi.
Jantung gue langsung berisik.
Gue buka lembar lain.
Masih sertifikat.
Jumlahnya… banyak.
Bukan satu.
Lebih.
Gue duduk.
Lantai dingin.
Kepala gue panas.
Ini…
Ini yang tadi dibagi?
Tapi… kenapa ada di sini?
Kenapa atas nama gue?
Tiba-tiba…
Lampu gudang mati.
Gelap.
Gue langsung tegang.
Dari belakang…
Ada suara langkah.
Pelan.
Masuk ke gudang.
Gue tahan napas.
Suara itu berhenti.
Di belakang gue.
Terus…
Klik.
Lampu nyala lagi.
Rudi.
Dia berdiri di pintu.
Tangannya di saklar.
Matanya langsung ke map di tangan gue.
Sunyi.
Dia lihat.
Gue lihat dia.
Beberapa detik.
Terus dia senyum.
Tipis.
“Ya… akhirnya ketemu juga.”
Darah gue langsung naik.
“Ini apa?”
Rudi masuk pelan.
“Nggak usah pura-pura kaget.”
Sinta muncul di belakangnya.
Muka dia tegang.
“Dari dulu bapak simpan itu di situ.”
Gue berdiri.
“Terus kenapa di wasiat beda?!”
Rudi ketawa kecil.
“Karena kita yang ubah.”
Kata itu… jatuh berat.
Gue maju satu langkah.
“Lu… apa?”
Rudi angkat bahu.
“Cuma sedikit penyesuaian.”
Gue dorong dadanya.
“Lu palsuin wasiat?!”
Sinta langsung teriak.
“Turunin suara lu!”
Rudi tetap tenang.
“Semua itu harusnya punya kita.”
Gue pegang map itu lebih kuat.
“Ini atas nama gue.”
Rudi langsung berubah.
Mukanya keras.
“Itu kesalahan.”
Gue ketawa.
“Kebetulan banget ya, kesalahan semua atas nama gue?”
Sunyi.
Sinta ngomong pelan.
“Bapak memang niatnya kasih itu ke kamu.”
Gue lihat dia.
“Terus kalian ubah?”
Dia diam.
Rudi maju.
“Karena itu nggak adil.”
Gue langsung emosi.
“Yang nggak adil itu kalian!”
Suara gue keras.
Gudang kecil itu jadi panas.
Rudi tiba-tiba dorong gue.
Map hampir jatuh.
“Lu bukan siapa-siapa di sini!”
Kalimat itu…
Lebih sakit dari dorongan tadi.
Gue langsung balas dorong.
“Gue yang jagain bapak!”
Rudi langsung pukul meja.
“Karena lu mau balas budi!”
Gue berhenti.
“Hah?”
Dia mendekat.
“Lu pikir kita nggak tahu?”
Sunyi.
Sinta pelan.
“Orang yang nolong bapak waktu itu…”
Dia lihat gue.
“…itu keluarga kamu.”
Dunia gue langsung berhenti.
Keluarga… gue?
Rudi lanjut.
“Makanya bapak balikin semua itu ke kamu.”
Gue mundur.
Kepala gue penuh.
“Jadi… semua ini…”
Nyokap muncul di pintu.
Dia nangis.
“Sudah cukup…”
Gue lihat dia.
Dia bilang pelan.
“Bapakmu cuma mau balikin yang bukan miliknya.”
Gue duduk.
Semua potongan mulai nyambung.
Bapak punya utang.
Ada yang nolong.
Sebagai gantinya…
Semua ini…
Harus balik.
Ke gue.
Karena gue…
Anak dari orang itu.
Rudi ketawa kecil.
“Tapi sekarang… kita yang pegang.”
Dia lihat map di tangan gue.
“Kasih ke gue.”
Gue peluk map itu.
“Nggak.”
Sunyi.
Rudi tarik napas panjang.
Terus dia bilang pelan.
“Lu tahu nggak… kalau ini keluar… kita semua bisa hancur?”
Gue diam.
Dia lanjut.
“Pemalsuan dokumen. Bisa masuk penjara.”
Sinta langsung pucat.
Gue lihat mereka.
Pelan-pelan…
Gue mulai ngerti.
Ini bukan soal warisan.
Ini soal…
Siapa yang berani ngakuin kebenaran.
Dan siapa yang siap kehilangan semuanya.
Gue berdiri.
Pegang map itu.
Dan bilang pelan…
“Gue mau balikin semua… sesuai yang seharusnya.”
Rudi langsung tersenyum.
Tapi kali ini…
Bukan sinis.
Lebih ke… ancaman.
Rudi nggak langsung marah.
Dia justru ketawa pelan.
Pelan banget.
Kayak orang yang sudah siap dari awal.
“Balikin?”
Dia ulang kata gue.
Gue berdiri di depan dia. Map itu gue pegang erat.
“Iya.”
Sinta langsung geleng.
“Lu nggak ngerti situasinya, Di.”
Gue lihat dia.
“Justru sekarang gue ngerti.”
Nyokap nangis di belakang.
“Sudah… jangan dilanjutin…”
Rudi jalan pelan ke arah gue.
Dekat.
Terlalu dekat.
“Lu pikir hidup ini sesimpel itu?”
Gue diam.
Dia lanjut.
“Kalau ini keluar… bukan cuma kita yang kena.”
Gue mengerut.
“Maksudnya?”
Dia senyum.
“Orang yang dulu nolong bapak… itu bukan orang biasa.”
Jantung gue langsung berdetak lebih cepat.
“Siapa?”
Rudi mendekat, bisik pelan.
“Rentenir.”
Darah gue dingin.
Sinta cepat-cepat ngomong.
“Bapakmu waktu itu hampir habis. Dia pinjam ke orang yang salah.”
Nyokap nangis lebih keras.
“Sudah… jangan…”
Rudi lanjut.
“Yang nolong bukan karena baik. Tapi karena ada perjanjian.”
Gue pegang kepala.
“Perjanjian apa?”
Sunyi.
Rudi lihat gue dalam.
“Semua aset bapak… suatu hari harus balik.”
Gue lihat map itu.
Semua sertifikat.
Atas nama gue.
Jadi…
Ini bukan hadiah.
Ini…
Titipan.
Gue duduk.
Kepala gue pusing.
Semua yang gue pikir selama ini…
Salah.
Bapak bukan pilih kasih.
Dia… cuma ngembalikan.
Sinta duduk di sebelah gue.
“Makanya… kita ubah wasiat itu.”
Gue lihat dia.
“Supaya semuanya tetap di keluarga.”
Gue ketawa kecil.
“Keluarga?”
Gue lihat mereka satu-satu.
“Dari tadi kalian bilang gue bukan keluarga.”
Sunyi.
Kena.
Rudi tarik napas.
“Lu tetap di sini. Tapi bukan pemilik.”
Gue berdiri lagi.
“Sekarang gue tahu.”
Gue angkat map itu.
“Dan ini bukan punya kalian.”
Suasana jadi tegang lagi.
Rudi mulai emosi.
“Lu mau hancurin kita semua?!”
Gue jawab pelan.
“Gue cuma mau bener.”
Nyokap tiba-tiba berdiri.
Suaranya gemetar.
“Tolong… jangan berantem lagi…”
Dia lihat gue.
Air matanya jatuh.
“Bapakmu nggak mau ini.”
Gue diam.
“Dia cuma mau kalian tetap keluarga.”
Sunyi.
Kalimat itu… kena.
Rudi juga diam.
Sinta nunduk.
Gue lihat vespa itu.
Motor tua.
Yang semua orang anggap nggak berharga.
Ternyata…
Ini yang paling penting.
Bukan isinya.
Tapi… alasan kenapa dikasih ke gue.
Bapak tahu.
Kalau semua ini suatu hari bakal terbongkar.
Dan dia pilih…
Gue.
Bukan karena gue paling kuat.
Tapi karena gue…
Nggak akan tega hancurin semua.
Gue tarik napas panjang.
“Besok… kita ke notaris.”
Rudi langsung angkat kepala.
“Buat apa?”
Gue jawab.
“Kita benerin semuanya.”
Sinta tegang.
“Dan setelah itu?”
Gue lihat mereka.
Pelan.
“Kita bagi… dengan cara yang bener.”
Sunyi.
Rudi nahan emosi.
“Terserah lu.”
Dia jalan keluar.
Sinta ikut.
Nyokap duduk lagi.
Gue sendirian.
Di depan vespa itu.
Dan untuk pertama kalinya…
Gue nggak marah lagi.
Gue cuma…
Capek.
Tapi di ujung capek itu…
Kayak ada jalan.
Kecil.
Tapi ada.
Pagi itu, udara masih dingin.
Gue duduk di atas vespa.
Mesinnya gue hidupin pelan.
Suara khasnya keluar. Serak. Tua.
Tapi jalan.
Gue berhenti di depan rumah.
Rudi sudah siap. Kemeja rapi.
Sinta juga.
Nyokap di belakang.
Nggak ada yang ngomong.
Kami berangkat.
Ke kantor Pak Hendra.
Ruangan itu sama seperti semalam.
Tapi suasananya beda.
Lebih berat.
Pak Hendra kaget lihat kami datang bareng.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Gue duduk.
Map itu gue taruh di meja.
“Saya mau perbaiki wasiat.”
Sunyi.
Rudi lihat gue.
Sinta nahan napas.
Pak Hendra buka map itu.
Satu per satu dia lihat.
Matanya berubah.
“Kalian… tahu konsekuensinya?”
Gue angguk.
“Iya.”
Nyokap pelan.
“Bapak mereka nggak mau ada yang salah.”
Pak Hendra tarik napas panjang.
“Baik.”
Prosesnya lama.
Tapi jelas.
Semua dokumen disesuaikan.
Tanah, aset, semuanya kembali sesuai nama aslinya.
Atas nama gue.
Tapi…
Gue lihat Rudi.
Gue lihat Sinta.
Dan gue bilang.
“Setelah ini… kita bagi.”
Mereka kaget.
“Hah?” Sinta pelan.
Gue lanjut.
“Bapak mau semuanya tetap keluarga.”
Sunyi.
Rudi lihat gue lama.
“Lu serius?”
Gue angguk.
“Kita jual sebagian. Kita bagi rata. Sisanya kita jaga bareng.”
Sinta langsung nangis.
Nyokap nutup mulut.
Rudi… diam.
Lama.
Terus dia duduk.
Mukanya berubah.
Nggak ada lagi sinis.
Nggak ada lagi marah.
Cuma… capek.
“Kenapa lu lakuin ini?”
Gue senyum tipis.
“Karena bapak ngajarin gue… jangan jadi manusia yang serakah.”
Sunyi.
Kalimat itu…
Kayak kena semua orang.
Sore itu, kami pulang.
Rumah terasa beda.
Lebih ringan.
Rudi duduk di teras.
Gue duduk di sampingnya.
Lama nggak ngomong.
Terus dia bilang.
“Maaf.”
Gue lihat dia.
Dia lanjut.
“Gue takut kehilangan semuanya.”
Gue angguk.
“Gue juga.”
Sinta keluar bawa teh.
Duduk di antara kami.
“Mulai ulang ya?”
Gue senyum.
“Iya.”
Malamnya, gue ke gudang lagi.
Vespa itu masih di situ.
Gue duduk di atasnya.
Gue tepuk pelan stangnya.
“Pak… gue ngerti sekarang.”
Angin masuk pelan.
Gue lihat kertas kecil itu lagi.
“Jangan jual.”
Gue senyum.
“Iya, Pak. Nggak gue jual.”
Karena sekarang gue tahu…
Yang dititipin bukan cuma motor.
Tapi…
Kepercayaan.
Dan untuk pertama kalinya…
Gue merasa…
Bapak benar-benar ninggalin sesuatu buat gue.
Bukan barang.
Tapi… cara hidup.