ISTRIMU TIDAK AKAN SELINGKUH, TAPI DIA BISA CURHAT KE ORANG YANG SALAH,

DAN KALAU ITU TERJADI…
RUMAHMU BISA HANCUR TANPA KAMU SADARI.
Jam 06.12 pagi.
Suara toa masjid baru saja selesai pengumuman pengajian ibu-ibu. Gang masih basah. Bekas air selokan meluap semalam.
Aku duduk di teras.
Kaos oblong.
Sarung setengah naik.
Kopi hitam mengepul.
Dari dapur terdengar suara piring beradu.
Pelan.
Teratur.
Istriku tidak pernah membantah.
Namanya Rina.
Kalau aku pulang malam, dia cuma bilang, “Udah makan?”
Kalau aku marah, dia cuma diam.
Kalau aku salah, dia tetap yang minta maaf duluan.
Aku terbiasa.
“Rin, mana kaus kaki?” teriakku tanpa menoleh.
Dia keluar dari kamar.
Rambutnya masih setengah basah.
Langkahnya cepat.
“Di kursi, Mas.”
Aku mendecak.
“Kok nggak disiapin dari tadi sih?”
Dia tidak menjawab.
Cuma kembali ke dapur.
Jam 06.25.
Suara khas itu terdengar.
“Sayuuuur… bayam… kangkung… tomaaat…”
Tukang sayur keliling.
Motor bebek tua.
Keranjang plastik besar di belakang.
Speaker kecil digantung pakai kabel.
Setiap pagi lewat depan rumah.
Rina biasanya keluar.
Beli cabai.
Beli tempe.
Kadang cuma beli daun bawang.
Aku jarang peduli.
Pagi itu, aku sempat melihat dari balik pagar.
Rina berdiri di depan motor si tukang sayur.
Tangannya memegang plastik bening.
Mereka berbicara agak lama.
Terlalu lama untuk sekadar beli bayam.
Aku mengernyit.
Tapi cuma sebentar.
Kupikir biasa.
Aku berangkat kerja.
Motor kutuntun keluar gang.
Rina melambaikan tangan kecil.
Seperti biasa.
—
Siang hari.
Grup WA RT ramai.
“Warga harap waspada.”
“Jangan mudah percaya orang luar.”
“Ada penipuan berkedok pendataan bantuan.”
Aku cuma baca sekilas.
Lalu notifikasi masuk lagi.
Foto seseorang.
Aku membeku.
Itu tukang sayur yang tiap pagi lewat.
Caption dari Pak RT:
“Orang ini bukan tukang sayur biasa. Hati-hati. Sudah ada yang tertipu.”
Dadaku terasa aneh.
Aku scroll.
Ada yang bilang:
“Dia suka nanya-nanya kondisi rumah.”
“Ada yang sampai dipinjami uang.”
“Ngaku-ngaku bisa bantu urus pinjaman bank.”
Tanganku mulai berkeringat.
Rina tadi pagi ngobrol lama.
Aku coba telepon.
Tidak diangkat.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak diangkat.
Jam 14.07.
Akhirnya Rina balas chat.
“Kenapa, Mas?”
Singkat.
Aku langsung kirim foto dari grup RT.
“Ini tukang sayur yang sering lewat, kan?”
Centang dua.
Biru.
Lama.
Sangat lama.
Lalu dia membalas.
“Iya.”
Hanya itu.
“Iya” saja.
Jantungku makin tidak enak.
“Kamu tadi ngobrol apa sama dia?”
Titik-titik mengetik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Akhirnya pesan masuk.
“Cuma cerita-cerita aja.”
Cerita?
Cerita apa?
Kenapa harus cerita?
Aku merasa kesal.
Tapi juga mulai takut.
Sore itu aku pulang lebih cepat.
Gang terasa berbeda.
Entah kenapa lebih sunyi.
Rumahku setengah terbuka.
Lampu ruang tamu menyala meski belum magrib.
Aku masuk.
Sepi.
“Rin?”
Tidak ada jawaban.
Di meja ada secarik kertas.
Tanganku gemetar saat mengambilnya.
Tulisan tangan Rina.
“Maaf, Mas. Aku cuma butuh didengar.”
Kertas itu jatuh dari tanganku.
Di luar, terdengar suara motor bebek tua berhenti tepat di depan rumahku.
“Sayuuuur… bayam… kangkung…”
Suara itu.
Persis.
Padahal di grup RT tadi sudah bilang dia kabur dari komplek sebelah.
Aku menoleh ke pintu.
Pelan.
Dan seseorang mengetuk.
Tiga kali.
Tok.
Tok.
Tok.
—
Ketukan ketiga belum sempat menghilang saat dadaku seperti dihantam sesuatu dari dalam. Aku tidak langsung membuka pintu. Nafasku berat. Tanganku masih memegang kertas Rina yang tadi jatuh, kini terlipat dan basah oleh keringatku sendiri. Suara motor bebek tua itu masih menyala pelan di luar, knalpotnya pincang seperti biasa.
“Mas…” suara laki-laki dari luar. Tenang. Tidak terburu-buru.
Aku mengintip dari celah jendela. Helm hitam. Jaket lusuh. Keranjang plastik di belakang motor. Sama persis. Tapi kali ini tidak ada sayur tergantung. Keranjangnya kosong. Dadaku makin dingin.
“Rina mana?” tanyaku tanpa membuka pintu penuh.
Ia melepas helmnya perlahan. Wajahnya lebih bersih dari yang kubayangkan. Bukan tampang penipu seperti di foto grup. Tatapannya lurus. Tidak menghindar. “Istri sampeyan yang minta saya datang lagi.”
Kalimat itu seperti tamparan. “Datang lagi?”
“Iya. Tadi pagi kan sudah ketemu.”
Aku merasa lantai bergeser sedikit. “Ngapain kamu ke rumah saya?”
Dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaket. Sebuah amplop cokelat. Sudah agak lecek. “Ini titipan.”
Aku tidak langsung mengambilnya. “Titipan apa?”
“Titipan dari istri sampeyan.”
Angin sore masuk lewat sela pintu. Bau selokan masih samar. Gang tetap sepi. Tidak ada ibu-ibu. Tidak ada anak kecil. Seolah semua orang sengaja menghilang.
Aku akhirnya meraih amplop itu. Isinya tebal. Bukan kertas biasa. Ketika kubuka sedikit, terlihat bundelan uang. Pecahan seratus ribu. Banyak. Terlalu banyak untuk ukuran belanja sayur.
“Ini apa?” suaraku pecah tanpa sengaja.
Dia menatapku beberapa detik sebelum menjawab. “Dia bilang, kalau Mas pulang lebih cepat hari ini, kasih itu. Kalau Mas pulang malam, jangan dikasih.”
Jantungku berhenti sepersekian detik. “Maksudnya?”
Dia tidak menjawab. Hanya menoleh ke arah dalam rumah. Seolah memastikan sesuatu. Lalu berkata pelan, “Saya cuma diminta jadi perantara. Saya bukan mau nipu.”
Aku menahan pintu agar tidak terbuka lebih lebar. “Rina mana sekarang?”
Dia menghela napas pendek. “Sampeyan belum tahu?”
Kata-kata itu membuat tengkukku panas. “Tahu apa?”
Ia menunjuk ke arah meja ruang tamu di belakangku. “Coba lihat lagi suratnya.”
Tanganku gemetar saat membuka kembali kertas itu. Tulisan Rina tampak sama, tapi kini mataku menangkap bagian bawah yang tadi tidak kubaca dengan benar. Ada kalimat kecil di sudut kanan, hampir seperti catatan tambahan.
“Mas selalu pulang jam 19.30.”
Aku merasa mual. Itu bukan permintaan maaf biasa. Itu jadwal. Itu perhitungan.
“Apa maksudnya ini?” suaraku makin keras.
Tukang sayur itu menggeleng pelan. “Saya cuma dengar dia cerita. Dia bilang, kalau Mas tahu soal uang ini, berarti Mas pulang tidak seperti biasanya.”
Keringat dingin turun di pelipisku. Uang itu bukan pinjaman. Bukan hasil ditipu. Ini seperti… tabungan. Disiapkan. Direncanakan.
“Dia cerita apa sama kamu?” tanyaku, hampir berbisik.
Ia menatap lurus ke mataku. Kali ini tanpa ragu. “Dia cerita tentang Mas.”
Dadaku terasa ditusuk.
“Dia bilang Mas bukan orang jahat. Cuma… tidak pernah benar-benar dengar.”
Aku mundur setengah langkah. Kalimat itu lebih menyakitkan dari tuduhan apa pun.
“Tapi itu bukan urusan kamu,” kataku kasar, berusaha menutup celah yang mulai retak.
Ia tidak tersinggung. “Betul. Bukan urusan saya. Makanya saya datang cuma bawa itu.”
Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar bunyi sesuatu jatuh. Pelan. Seperti gelas menyentuh lantai.
Aku dan dia sama-sama menoleh.
Jantungku berdetak liar. “Rin?”
Tidak ada jawaban.
Tukang sayur itu memicingkan mata. “Sampeyan yakin istri sampeyan nggak di rumah?”
Aku tidak menjawab. Langkahku perlahan masuk ke ruang tamu. Lantai terasa dingin. Di dapur, lampu masih menyala. Piring tertata rapi. Tidak ada tanda orang pergi terburu-buru.
Lalu aku melihatnya.
Pintu kamar setengah terbuka.
Di balik celah itu, ada bayangan bergerak.
Bukan bayangan Rina.
Tubuhku membeku.
Di belakangku, suara motor bebek tua itu mati mendadak.
Dan sebelum aku sempat memanggil nama istriku lagi, suara laki-laki dari arah kamar terdengar pelan.
“Mas akhirnya pulang lebih cepat juga.”
Suara itu tidak keras. Justru terlalu tenang.
Tenang seperti orang yang sudah menunggu lama.
Aku berdiri di tengah ruang tamu, amplop masih di tangan. Tukang sayur di belakangku tidak bergerak. Gang di luar hening. Bahkan suara ayam tetangga pun tidak terdengar.
“Siapa kamu?” tanyaku, suaraku serak.
Pintu kamar terbuka sedikit lebih lebar.
Seorang pria keluar perlahan. Usianya sekitar empat puluhan. Kemeja rapi, lengan digulung setengah. Wajahnya bukan wajah asing. Aku pernah melihatnya. Di foto lama. Di lembar brosur bank yang pernah Rina simpan.
Dia menatapku tanpa senyum.
“Saya Budi. Dari koperasi tempat Mas dulu ajukan pinjaman.”
Dadaku seperti dipukul dari dalam.
Pinjaman itu. Yang gagal. Yang aku bilang sudah selesai. Yang sebenarnya… belum.
“Ngapain kamu di kamar saya?” suaraku meninggi.
Dia tidak langsung menjawab. Hanya melirik ke arah dapur. “Saya tidak masuk sembarangan. Istri Mas yang minta saya duduk.”
Tanganku mengepal. “Rina mana?”
Seolah menjawab pertanyaanku, terdengar langkah pelan dari arah dapur. Rina muncul.
Wajahnya pucat. Rambutnya masih diikat asal. Matanya sembab, tapi kering. Seperti orang yang sudah terlalu lama menahan tangis sampai air matanya habis.
Dia berdiri beberapa langkah dari kami.
“Mas…” suaranya hampir tidak terdengar.
Aku merasa campur aduk. Marah. Takut. Malu. Curiga. Semua bercampur jadi satu.
“Ini apa?” aku mengangkat amplop.
Rina menelan ludah. “Tabungan.”
“Tabungan apa?”
“Buat nutup utang Mas.”
Ruang tamu mendadak terasa sempit.
Aku menoleh ke Budi. Dia mengangguk kecil. “Ibu Rina datang dua bulan lalu. Tawar cicilan. Dia bilang Mas lagi berat. Jadi dia yang mau tanggung.”
Aku seperti tidak percaya. “Dua bulan lalu?”
Rina mengangguk pelan. “Aku jual gelang emas Mama. Sama sedikit-sedikit dari belanja.”
Tanganku bergetar. “Kenapa nggak bilang?”
Dia tertawa kecil. Bukan tawa bahagia. Lebih seperti napas yang patah. “Setiap aku mau ngomong, Mas lagi capek. Lagi marah. Lagi sibuk.”
Aku ingin membantah. Tapi tidak ada kalimat yang keluar.
Budi memasukkan kedua tangannya ke saku. “Saya datang cuma mau konfirmasi. Karena ada sisa yang belum lunas. Tapi Ibu Rina minta waktu. Dia bilang, kalau Mas tahu dan pulang lebih cepat, berarti Mas masih peduli.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.
Rina menatapku. Kali ini tidak menghindar.
“Aku nggak pernah selingkuh, Mas. Aku cuma… butuh didengar. Aku takut rumah ini hancur bukan karena orang luar. Tapi karena kita nggak pernah ngomong.”
Sunyi.
Suara jam dinding terdengar jelas. Tik. Tik. Tik.
Aku sadar, selama ini aku merasa jadi kepala keluarga. Tapi bahkan utangku sendiri aku biarkan dia tanggung diam-diam.
“Kenapa lewat dia?” aku menunjuk ke arah tukang sayur.
Rina mengusap ujung jarinya yang gemetar. “Karena dia tiap hari lewat. Dia nggak kenal kita. Dia cuma dengar. Nggak menghakimi.”
Tukang sayur itu menunduk sedikit. “Saya cuma dengerin, Mas. Istri sampeyan cuma butuh tempat cerita. Itu aja.”
Aku merasa seperti orang paling kecil di ruangan itu.
Budi berdeham pelan. “Masalah cicilan bisa kita atur. Saya nggak datang buat ribut. Saya datang karena Ibu Rina minta transparan. Dia bilang, hari ini harus selesai. Entah Mas marah atau tidak.”
Rina mengangguk. “Aku capek sembunyi-sembunyi. Aku nggak mau ada rahasia lagi.”
Intensitasnya terasa di dada. Seolah semuanya ada di ujung jurang. Sedikit saja salah bicara, semuanya jatuh.
Aku menatap Rina lama. Wajah yang setiap pagi menyiapkan kaus kakiku. Wajah yang selalu minta maaf duluan. Wajah yang ternyata memikul beban sendirian.
Nafasku berat.
“Aku pikir kamu…,” kalimatku terpotong. Malu melanjutkan.
Dia tersenyum tipis. “Aku tahu Mas pikir apa.”
Sunyi lagi. Tapi kali ini bukan sunyi yang menakutkan. Lebih seperti ruang kosong yang menunggu diisi.
Aku berjalan pelan mendekat. Tanganku yang tadi mengepal kini terbuka. Aku memegang tangannya.
Dingin.
“Maaf,” ucapku pelan. Bukan karena terpaksa. Bukan karena kalah. Tapi karena sadar.
Matanya langsung basah.
“Aku nggak butuh Mas sempurna,” katanya lirih. “Aku cuma butuh Mas mau duduk sebentar. Dengar.”
Budi mundur selangkah. “Kalau begitu, saya pamit. Soal cicilan, kita atur minggu depan. Bareng-bareng.”
Tukang sayur itu juga mengangkat helmnya. “Besok saya tetap lewat. Tapi nggak buat cerita lagi. Buat jualan beneran.”
Ada senyum kecil di wajahnya.
Motor bebek tua itu menyala kembali. Kali ini suaranya tidak terdengar mengancam. Hanya seperti suara pagi biasa.
Pintu tertutup.
Tinggal aku dan Rina.
Lampu ruang tamu menyala lembut. Di luar, azan magrib mulai terdengar dari masjid ujung gang.
Aku menarik kursi. Duduk. Menepuk kursi di sebelahku.
Rina ragu sebentar. Lalu duduk.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kami duduk tanpa televisi, tanpa ponsel, tanpa teriakan soal kaus kaki.
“Aku takut kehilangan kamu,” katanya pelan.
Aku menatapnya. “Aku hampir kehilangan kamu hari ini.”
Dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Napasnya hangat. Nyata. Ada.
Aku memegang amplop itu lagi. Lalu meletakkannya di meja.
“Besok kita ke koperasi bareng,” kataku. “Utang ini kita hadapi bareng. Dan… mulai sekarang, kalau ada apa-apa, jangan cari tukang sayur.”
Rina tersenyum kecil. “Kalau Mas pulang cepat terus, aku nggak perlu cari siapa-siapa.”
Aku tertawa pelan. Tawa yang ringan. Bukan tawa menutup rasa bersalah. Tapi tawa lega.
Di luar, suara “sayuuur… bayam…” terdengar makin jauh.
Rumah ini tidak hancur.
Hampir saja.
Tapi sore itu, untuk pertama kalinya, kami benar-benar berbicara.
Dan ternyata… itu yang selama ini hilang.
TAMAT….