ADIKKU BUNGSU ILANG DARI WAKTU MAGHRIB SAMPAI JAM SATU MALAM. KETIKA KAMI MENEMUKANNYA DI BAWAH POHON JAMBU BELAKANG RUMAH — MUKANYA RATA. BUKAN KARENA SAKIT. BUKAN KARENA NANGIS. TAPI SEMUA EKSPRESINYA HILANG. KAYAK SESEORANG SUDAH MENGHAPUS DIA DARI DALAMNYA. DAN YANG PERTAMA DIA UCAPKAN KE BAPAK — DENGAN NADA YANG BUKAN NADA ANAK DELAPAN TAHUN — ADALAH

“Aku nggak pergi ke mana-mana, Pak.”

Hari itu Jumat sore, awal Oktober.
Aku turun dari travel di pertigaan Ciputat jam empat lebih dikit. Angin sore bawa debu dan bau knalpot. Tas ranselku berat di punggung — baju empat hari, laptop, charger yang kabelnya hampir putus. Aku jalan kaki sepuluh menit ke rumah melewati gang yang sama yang aku lewatin dari kecil. Warung Pak Hendra. Mushola kecil dengan toa yang kadang mendecit. Pohon angsana di depan rumah Bu Yati yang rantingnya nggak pernah dipotong.
Rumah kami kelihatan dari ujung gang.
Cat putih yang udah mulai abu di sudut-sudut bawah. Pagar besi hijau tua. Satu pot geranium merah di teras yang disiram Ibu setiap pagi — itu selalu tanda bahwa Ibu baik-baik aja.
Dika duduk di teras. Kaos biru, celana pendek hitam, earphone panjang yang kabelnya udah separuh copot. Dia main game di HP bekas punya Bapak — layarnya udah sedikit retak di sudut kiri bawah tapi masih bisa dipakai.
Waktu aku masuk gang, dia nggak noleh.
Waktu aku buka pagar, dia nggak noleh.
Waktu aku berdiri tepat di depannya, baru dia angkat muka.
“Mas Rian balik.”
Bukan sambutan. Bukan pertanyaan. Cuma pernyataan, sebelum matanya balik lagi ke layar.
Aku ketuk kepalanya pelan. “Iya. Kamu nggak kangen?”
“Nggak.”
Aku ketawa sendiri. Masuk ke dalam.

Rumah terasa seperti biasa.
Suara wajan panas dari dapur. Bau bawang goreng. Kipas angin di ruang tengah berderit tipis setiap kali putarannya balik ke kiri. Ibu lagi masak — tempe goreng sama sayur bening bayam, menu Jumat yang nggak pernah berubah sejak aku SD.
“Rian pulang, Bu.”
“Alhamdulillah. Cuci tangan dulu, sebentar lagi makan.”
Aku taruh tas di kamar. Ganti baju. Cuci muka. Duduk sebentar di tepi kasur, dengerin suara gang dari jendela — suara anak-anak main di ujung, suara motor lewat, suara adzan Ashar yang baru aja selesai dari mushola.
Bapak belum pulang. Shift sore di pabrik tekstil, biasa balik jam tujuhan. Mbak Tari — kakakku yang perempuan — udah nikah, tinggal di Bekasi. Jadi kami bertiga aja di rumah ini sekarang: Ibu, aku, Dika.
Makan sore berlalu pelan.
Aku cerita sedikit soal proyek desain yang hampir kelar. Ibu dengerin sambil ngulek sambal, angguk-angguk. Dika makan cepat — nasi hampir dihabiskan dalam empat menit, tempe dua potong langsung masuk, sayur diminumin kuahnya dulu baru batangnya dimakan. Kebiasaan dia dari kecil yang nggak pernah berubah.
“Abis makan langsung minta izin ya,” kata Ibu sebelum Dika keburu berdiri.
“Mau main ke belakang, Bu. Sebentar.”
“Jangan lama-lama. Sebentar lagi maghrib.”
“Iya.”
Dika taruh piringnya di wastafel dapur, ambil sandal jepitnya di dekat pintu belakang, lari keluar. Pintu belakang menutup dengan bunyi klik yang sudah aku hapal sejak kecil.
Aku nggak mikirin apa-apa.

Adzan maghrib berkumandang jam setengah enam lebih beberapa menit.
Aku masih di kamar. Laptop udah nyala, email klien udah kebuka, tapi aku lebih banyak bengong daripada beneran kerja. Badan masih capek habis perjalanan. Langit di luar jendela udah mulai ungu — yang tipis dulu di barat, terus makin gelap.
Ibu sholat di kamar tengah. Aku bisa dengar suara sajadah digelar.
Lima belas menit berlalu.
Dua puluh menit.
Ibu keluar dari kamar, ketok pintu kamarku. “Rian, Dika belum masuk?”
Aku noleh dari laptop. “Belum kedengeran dari sini.”
“Panggilin, Rian. Udah adzan.”
Aku berdiri. Jalan ke dapur, buka pintu belakang.
Langit di luar udah hampir hitam di timur. Bohlam kuning di atas teras belakang nyala redup, cuma nyinarin sebagian tanah. Sisanya gelap — pohon pisang, ember-ember tanaman Ibu yang berjejer di pinggir pagar, pohon jambu biji tua di pojok belakang yang batangnya udah sebesar betis orang dewasa.
“Dika!”
Nggak ada jawaban.
“Dika, Ibu nyariin! Masuk!”
Sepi. Hanya suara motor dari gang sebelah. Suara jangkrik dari arah got.
Aku turun dari teras. Nyalain senter HP, sorot ke semua sudut. Nggak ada Dika di bawah pohon pisang. Nggak ada di balik tanaman. Nggak ada di got — gotnya sempit dan dangkal, Dika nggak mungkin masuk ke sana.
Aku balik ke dalam. “Bu, Dika nggak ada di belakang.”
Ibu keluar dari kamar, mukanya langsung berubah. “Coba lihat depan.”
Aku keluar lewat pintu depan. Lihat kanan kiri gang. Beberapa anak tetangga masih main di ujung — dua anak yang aku kenal mukanya, satu yang aku nggak tahu siapa.
“Dika di sini?” tanyaku.
Salah satu anak nggeleng. “Dari tadi nggak keliatan, Mas.”
Aku balik ke dalam.
Nafasku sudah mulai nggak karuan.

Bapak pulang jam tujuh tepat.
Waktu dia masuk pintu depan, Ibu langsung nyamperin. Wajah Ibu pucat. “Dika belum pulang, Pak. Dari sebelum maghrib.”
Bapak taruh tas kerjanya di kursi. Satu detik diam. Lalu langsung balik ke kamar, ganti baju dalam tiga menit, keluar lagi.
Kami bertiga nyebar.
Aku ke gang-gang sebelah, muter ke warung, ke lapangan voli kecil di ujung blok. Bapak ke arah jalan besar, nanya ke tukang gorengan, ke warung nasi. Ibu muter ke rumah-rumah tetangga, ngetok pintu satu-satu.
Nggak ada yang lihat Dika sejak sore.
Jam delapan malam, Bapak lapor ke Pak RT. Pak RT langsung keluarkan HT, hubungi beberapa pemuda ronda. Senter-senter nyala. Nama Dika dipanggil dari berbagai arah — dari gang kiri, dari gang kanan, dari arah mushola.
Tidak ada yang menjawab.
Aku hubungi semua nomor yang aku punya. Teman-teman sekolah Dika yang aku tahu namanya lewat cerita Ibu. Orang tua mereka. Guru yang nomornya kebetulan ada di group WhatsApp kelas. Semua bilang tidak tahu. Semua bilang Dika tidak kelihatan hari ini.
HP Dika masih di kamarnya. Chargernya masih nancap di stopkontak. Dika pergi ke belakang tanpa bawa apa-apa.
Jam sembilan malam, Ibu duduk di teras depan dan mulai nangis.
Bukan nangis yang pelan-pelan. Bukan yang bisa ditahan. Nangis yang meledak dari dada dan nggak bisa dikendalikan — suaranya terdengar sampai ke ujung gang dan beberapa tetangga keluar untuk melihat.
Bapak duduk di sebelah Ibu, pegang tangannya. Wajah Bapak — wajah yang biasanya dingin dan terukur — malam itu kelihatan seperti wajah orang yang lagi nahan sesuatu yang berat sekali dari berjatuhan.
Aku duduk di lantai teras, kepala di tangan.
Aku baru pulang sore tadi. Baik-baik saja. Tempe goreng. Dika main HP. Pintu belakang bunyi klik.
Sekarang di mana adikku?

Jam sepuluh malam, Bu Yati datang.
Bu Yati — tetangga sebelah yang rambutnya sudah putih semua, giginya tinggal beberapa, badannya kecil tapi suaranya masih kencang — dia jalan pelan dari rumahnya sambil bawa sandal yang sedikit kebesaran.
“Boleh duduk?” tanyanya ke Bapak.
Bapak tarik kursi plastik. “Duduk, Bu.”
Bu Yati duduk. Lipat tangannya di pangkuan. Diam sebentar. Matanya melirik ke arah samping rumah — ke arah yang tidak kelihatan dari sini, tapi kami semua tahu ke mana dia melirik.
Ke arah belakang rumah.
Ke arah pohon jambu itu.
“Saya mau bilang sesuatu,” kata Bu Yati akhirnya. “Tapi tolong jangan marah dulu.”
Bapak mengangguk.
“Pohon jambu di belakang itu,” kata Bu Yati pelan, “sudah lama saya mau bilang. Pohon itu tua. Sudah ada sebelum rumah ini dibangun. Sudah ada sebelum saya pindah ke sini — dan saya pindah ke sini waktu masih muda.”
Bapak diam.
“Bukan berarti saya percaya yang aneh-aneh,” Bu Yati nambahkan cepat. “Tapi kalau anak kecil main di bawah pohon tua waktu maghrib…” Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.
Aku mau nyela. Mau bilang ini bukan waktunya ngomongin hal-hal kayak gitu, ini waktunya nyari Dika, ini waktunya praktikal. Tapi Bapak angkat tangan sedikit ke arahku — pelan, tapi jelas artinya.
Diam.
“Maksudnya apa yang harus kami lakukan, Bu?” tanya Bapak.
“Baca dulu,” kata Bu Yati. “Al-Fatihah, Ayat Kursi. Terus panggil namanya dari belakang rumah. Tapi bukan teriak — panggil pelan. Kayak manggil orang yang lagi tidur.”
Ibu menutup mukanya dengan kedua tangan.
Aku tidak percaya hal-hal seperti itu. Waktu itu.
Tapi aku lihat Bapak — Bapak yang kerja di pabrik, Bapak yang kalau ada masalah selalu bilang “pikir yang logis dulu” — aku lihat Bapak berdiri dari kursinya, masuk ke dalam rumah, dan aku dengar dia mulai baca sesuatu dengan suara pelan di kamar belakang.
Aku tetap duduk di luar.
Senter HP di tangan. Baterai tinggal dua puluh persen.

Jam sebelas malam, kami nyisir lagi.
Aku, dua pemuda ronda, dan satu tetangga yang punya senter besar. Kami masuk ke kebun kosong di belakang blok — tanah yang sudah lama nggak diurus, penuh ilalang setinggi lutut, bau tanah lembab. Kami muter ke got besar di pinggir jalan. Kami ketok pintu mushola, nanya ke marbot yang masih terjaga.
Tidak ada.
Jam sebelas setengah, kami balik ke rumah dengan tangan kosong.
Bapak masih di luar entah ke mana. Aku duduk di lantai ruang tamu, nyandar tembok. Ubin dingin menembus celana joggingku. Kipas angin di sudut ruangan masih berderit setiap kali berputar ke kiri. Ibu duduk di kursi dekat meja makan, pegang tasbih, gerakkan bibirnya tanpa suara.
Aku udah hubungi IGD rumah sakit terdekat. Tidak ada pasien anak dengan ciri-ciri Dika. Aku sudah lapor ke polsek jam sembilan tadi — mereka bilang akan ditindaklanjuti, tapi nadanya seperti orang yang sudah bilang kalimat itu ribuan kali malam-malam sebelumnya.
Jam dua belas kurang seperempat, aku tidak tahu lagi harus ngapain.
Aku buka kamera HP, scroll foto-foto terakhir. Ada foto Dika yang aku ambil tiga minggu lalu waktu aku masih di rumah — dia lagi makan es krim di teras, matanya menyipit karena silau, tangannya pegang cone dengan dua tangan kayak takut jatuh.
Anak delapan tahun yang takut es krimnya jatuh.
Di mana kamu, Dik.

Jam satu kurang lima menit, HP Bapak berdering.
Aku nggak dengar dari mana Bapak nelpon — tapi tiba-tiba suaranya terdengar dari luar, dari arah gang, makin dekat, makin keras.
“Bu! Rian! Ke belakang cepat!”
Aku dan Ibu bangkit bersamaan.
Kami lari melewati dapur. Buka pintu belakang. Turun dari teras.
Bapak sudah ada di halaman belakang, jongkok di tanah, senternya mengarah ke sudut paling gelap — ke bawah pohon jambu.
Dan di sana.
Di bawah pohon jambu itu — pohon yang sudah kami periksa tiga kali sejak maghrib, pohon yang kami sorot senternya, pohon yang kami panggil-panggil dari tepian — di bawah pohon itu, duduk bersila di atas tanah.
Dika.
Rambutnya berantakan. Ada daun kering nempel di bahunya. Kaosnya kotor di bagian perut dan siku. Sandal jepitnya masih di kaki.
Bapak jongkok di depannya, pegang kedua pundaknya pelan. “Dika. Dika, ini Bapak.”
Dika mengangkat kepalanya.
Dan aku — yang berdiri dua langkah di belakang Bapak, yang sudah berlari sejak namaku dipanggil, yang nafasku belum stabil — aku melihat mukanya.
Ibu di sebelahku menarik nafas dan tidak melepaskannya.
Muka Dika rata.
Bukan rata karena lebam. Bukan rata karena terluka. Hidungnya masih ada, matanya masih ada, bibirnya masih ada. Tapi ekspresinya — semua yang biasanya ada di muka anak delapan tahun itu, semua kegembiraan dan kelelahan dan rasa lapar dan rasa ingin tahu — semuanya tidak ada. Hilang. Seperti seseorang mengambil semua perasaan dari wajahnya dan tidak meletakkan apa pun sebagai penggantinya.
Matanya menatap Bapak.
Bukan menatap seperti orang linglung. Bukan menatap seperti orang baru bangun tidur. Menatap dengan cara yang membuat bulu kudukku berdiri — karena tatapan itu terlalu tenang. Terlalu datar. Terlalu… tua untuk seorang anak delapan tahun.
“Dika,” kata Bapak lagi. Suaranya pecah di ujungnya. “Kamu kenapa, Nak? Kamu dari mana aja? Kamu di mana dari tadi?”
Dika membuka mulutnya.
Ibu pegang lenganku erat — aku bisa rasakan kukunya.
Dan Dika berkata, dengan nada yang sama sekali bukan nada adikku — bukan nada yang aku kenal dari delapan tahun mendengarnya bicara, makan, minta jajan, berantem, tertawa:
“Aku nggak pergi ke mana-mana, Pak.”

Bapak tidak langsung jawab.

Tangannya masih di pundak Dika, tapi aku lihat jari-jarinya gemetar kecil. Senter di tangan kirinya bergeser sedikit, cahaya kuningnya naik ke wajah Dika — dan tetap tidak menemukan apa pun di sana. Tidak ada marah. Tidak ada takut. Tidak ada lega karena ditemukan.

Kosong.

“Dika,” kata Bapak lagi, lebih pelan. “Kamu dengar Bapak, kan?”

Dika berkedip sekali. Lambat.

“Dengar.”

Nada suaranya datar. Tidak naik. Tidak turun. Tidak seperti anak yang habis hilang lima jam.

Aku maju satu langkah.

“Dik,” kataku. “Mas ini.”

Matanya bergeser ke arahku.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku berharap dia tidak mengenaliku.

Karena cara dia melihatku — bukan seperti adik lihat kakaknya. Tapi seperti seseorang sedang… mengingat sesuatu yang pernah dia lihat lama sekali.

“Mas Rian,” katanya.

Bukan memanggil. Lebih seperti memastikan.

Ibu tidak tahan lagi. Dia langsung jongkok, peluk Dika dari samping. “Ya Allah… kamu ke mana aja, Nak… kamu bikin Ibu takut…”

Dika tidak membalas pelukan.

Tangannya diam di pangkuan.

Tidak mengangkat. Tidak menolak. Tidak memeluk balik.

Cuma… ada.

Aku dan Bapak saling pandang.

Dan di situ, tanpa perlu ngomong, kami sama-sama tahu:

yang pulang ini Dika.
tapi tidak sepenuhnya Dika yang kami kenal.

Kami bawa Dika masuk ke dalam rumah.

Ibu langsung bersihin badannya pakai handuk basah di ruang tengah. Lumpur tipis di siku, di lutut. Daun kering nempel di rambutnya. Tapi tidak ada luka.

Tidak ada lecet.

Tidak ada tanda dia jatuh atau terseret.

Seperti dia… hanya duduk di sana selama berjam-jam.

“Dingin nggak?” tanya Ibu.

“Nggak.”

“Lapar?”

“Nggak.”

Haus?

“Nggak.”

Semua jawabannya satu kata.

Pendek. Rata. Tanpa rasa.

Bapak berdiri di dekat pintu dapur. Diam. Tangannya dilipat di dada — kebiasaan dia kalau lagi mikir keras.

Aku duduk di kursi plastik. Nggak lepasin mata dari Dika.

Ada yang salah.

Bukan karena dia diam.

Tapi karena dia terlalu sempurna diamnya.

Jam dua pagi.

Kami paksa Dika tidur di kamar.

Biasanya dia tidur sambil muter-muter, kaki ke mana, tangan ke mana. Tapi malam itu — dia tidur lurus. Tangan di samping badan. Mata tertutup.

Seperti… posisi orang dimasukkan ke peti.

Ibu duduk di samping kasur, elus rambutnya pelan.

“Aneh, Pak…” bisiknya.

Bapak tidak jawab.

Aku berdiri di pintu kamar.

Lampu kamar redup. Kipas angin muter pelan. Suaranya “krek… krek…” tiap balik arah.

Dan di tengah semua itu — Dika tiba-tiba bicara.

Matanya masih tertutup.

“Ada yang manggil dari bawah,” katanya.

Kami semua langsung diam.

Ibu berhenti mengelus.

“Apa, Nak?” suara Ibu hampir tidak keluar.

“Di bawah pohon.”

Aku merinding.

“Bilang jangan pulang dulu.”

Sunyi.

Tidak ada yang berani jawab.

Dika membuka matanya perlahan.

Menatap lurus ke langit-langit.

“Tapi aku pulang.”

Lalu dia menutup mata lagi.

Dan kali ini — benar-benar diam.

Aku tidak tidur malam itu.

Jam tiga lewat, aku masih duduk di ruang tamu. Lampu mati. Cuma cahaya dari luar yang masuk sedikit.

Aku buka HP. Scroll tanpa lihat.

Kepalaku penuh.

Logika berantakan.

Aku tidak percaya hal-hal begituan. Dari dulu.

Tapi aku juga tidak punya penjelasan.

Dan yang paling mengganggu—

kalimat Dika tadi.

“Ada yang manggil dari bawah.”

Bawah apa?

Bawah tanah?

Atau… bawah pohon itu?

Jam empat kurang.

Aku dengar suara pintu belakang.

Pelan.

“klik…”

Aku langsung berdiri.

Jalan pelan ke dapur.

Pintu belakang sedikit terbuka.

Angin masuk pelan. Bau tanah basah.

Aku lihat ke luar.

Gelap.

Tapi—

ada sesuatu bergerak di dekat pohon jambu.

Bukan orang.

Terlalu rendah.

Terlalu… tidak jelas bentuknya.

Aku menelan ludah.

“Dika?” panggilku pelan.

Tidak ada jawaban.

Tapi benda itu berhenti bergerak.

Dan pelan-pelan—

kepalanya… atau apapun itu—

berputar ke arahku.

Aku tidak lari.

Aku tidak tahu kenapa.

Mungkin karena kalau aku lari, berarti aku mengakui apa yang aku lihat itu nyata.

Dan aku belum siap untuk itu.

Aku berdiri di ambang pintu. Tangan masih pegang gagang.

“Bapak…?” panggilku pelan.

Tidak ada jawaban.

Semua masih tidur.

Atau pura-pura tidur.

Benda itu tetap di bawah pohon.

Tidak mendekat.

Tidak pergi.

Hanya… ada.

Aku paksa mataku fokus.

Dan pelan-pelan, bentuknya mulai jelas.

Kecil.

Seukuran anak.

Duduk.

Sama seperti posisi Dika tadi.

Dadaku langsung sesak.

“Dika?” panggilku lagi.

Kali ini sedikit lebih keras.

Benda itu—

tersenyum.

Bukan senyum manusia.

Terlalu lebar.

Terlalu… tidak pas.

Aku langsung tutup pintu.

Kunci.

Tanganku gemetar.

Aku mundur beberapa langkah.

Dan untuk pertama kalinya malam itu—

aku benar-benar takut.

Pagi datang terlalu cepat.

Seperti malam itu tidak pernah terjadi.

Cahaya masuk dari jendela. Suara tukang sayur lewat. Motor-motor mulai ramai.

Dan Dika—

bangun seperti biasa.

Duduk di meja makan.

Makan nasi goreng buatan Ibu.

Lahap.

Cepat.

Seperti tidak ada apa-apa.

Aku duduk di depannya.

Perhatiin tiap gerakannya.

Normal.

Terlalu normal.

“Dik,” kataku. “Kamu inget semalam?”

Dia ngangkat kepala.

Ngelihat aku.

Dan—

untuk pertama kalinya—

ada sedikit ekspresi di wajahnya.

Bingung.

“Semalam kenapa, Mas?”

Aku diam.

Ibu langsung motong. “Udah, jangan dibahas dulu.”

Bapak tidak bicara.

Tapi aku lihat dia melirik ke arah belakang rumah.

Ke arah pohon itu.

Dan kali ini—

tatapan Bapak bukan ragu lagi.

Tapi yakin.

Siang itu, Bapak potong pohon jambu.

Tanpa banyak ngomong.

Tanpa nunggu tukang.

Dia ambil gergaji dari gudang.

Dan mulai dari batang bawah.

Aku bantu.

Bukan karena berani.

Tapi karena aku tahu—

kalau ini dibiarkan, sesuatu akan balik lagi.

Bu Yati datang lagi.

Berdiri di pagar.

Lihat kami kerja.

“Terlambat,” katanya pelan.

Aku berhenti.

“Nggak ada yang terlambat kalau kita belum nyerah,” jawab Bapak.

Suara gergaji lanjut lagi.

Batang pohon itu keras.

Tua.

Setiap kali digergaji, keluar bau aneh.

Bukan bau kayu biasa.

Lebih… asam.

Lebih berat.

Seperti tanah yang lama tidak kena udara.

Satu jam.

Dua jam.

Akhirnya—

pohon itu roboh.

Jatuh ke tanah dengan suara berat.

Dan di saat yang sama—

Dika yang lagi duduk di ruang tamu—

tiba-tiba jatuh dari kursinya.

“Ibu!!” teriakku.

Kami semua lari masuk.

Dika kejang.

Matanya kebuka lebar.

Tapi bukan lihat kami.

Dia lihat ke arah belakang.

Ke arah pohon itu tadi.

“Dia marah…” katanya.

Suara anak kecil.

Tapi penuh takut.

“Dia nggak mau pergi…”

Ibu nangis.

Bapak pegang kepala Dika.

“Bilang apa, Nak. Bilang!”

Dika nangis.

Tangis pertama sejak semalam.

Dan itu—

lebih bikin lega daripada apa pun.

“Dia bilang… aku harus balik…”

Malam itu, kami tidak sendiri.

Bapak panggil ustaz dari mushola.

Bukan yang aneh-aneh.

Bukan yang dramatis.

Ustaz yang biasa ngajar anak-anak ngaji.

Yang suaranya tenang.

Yang datang pakai sarung dan sandal jepit.

Kami duduk di ruang tengah.

Lampu terang.

Semua pintu terbuka.

Dika di tengah.

Tangannya dipegang Ibu.

Ustaz mulai baca pelan.

Ayat demi ayat.

Tidak keras.

Tidak menakutkan.

Tapi… entah kenapa, terasa penuh.

Awalnya tidak ada apa-apa.

Sampai—

angin dari belakang masuk.

Padahal tidak ada angin di luar.

Tirai bergerak pelan.

Lampu sedikit redup.

Dika menggenggam tangan Ibu lebih erat.

“Dia datang lagi…” bisiknya.

Ustaz tidak berhenti baca.

Malah semakin tenang.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Dan tiba-tiba—

Dika menangis keras.

Bukan tangis datar.

Bukan tangis aneh.

Tangis anak delapan tahun yang ketakutan.

Yang butuh dipeluk.

Yang butuh ibunya.

“Ibu… aku takut…”

Ibu langsung peluk dia.

Dan aku—

aku langsung duduk.

Lemas.

Karena akhirnya—

itu suara Dika.
Dika yang asli.

Angin berhenti.

Tirai diam.

Lampu kembali terang.

Semua… selesai.

Hari-hari berikutnya berjalan normal.

Dika kembali seperti biasa.

Main game.

Marah kalau kalah.

Makan cepat.

Ketawa keras.

Dan tiap kali aku lihat dia—

aku selalu ingat malam itu.

Pohon jambu sudah tidak ada.

Diganti tanah kosong.

Bapak tanam rumput.

Ibu taruh pot bunga di situ.

Bu Yati masih lewat tiap sore.

Kadang duduk di teras.

Tapi tidak pernah lagi melirik ke belakang.

Beberapa minggu setelah itu—

aku tanya Dika sekali lagi.

“Dik, kamu inget nggak waktu kamu hilang?”

Dia mikir.

Garuk kepala.

Lalu jawab santai:

“Aku cuma duduk di bawah pohon, Mas.”

“Sendirian?”

Dia nggeleng.

“Ada temen.”

Aku diam.

“Temen siapa?”

Dika senyum kecil.

“Udah lupa.”

Dan untuk pertama kalinya—

aku berharap…

dia benar-benar lupa.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *