AKU MENYERAHKAN SEMUA YANG AKU JAGA SEUMUR HIDUP — DAN DIA MALAH MENINGGALKANKU SEPERTI BARANG PINJAMAN. LEBIH PARAHNYA, DIA MASIH SEMPAT NULIS DI STORY INSTAGRAM: “Mantan adalah jodoh orang yang tidak sengaja kita nikmati.”

Nama gue Desi.

Kalau lo lihat hidup gue sekarang dari luar, mungkin keliatan biasa aja.

Kerja, pulang, makan, tidur.

Kadang nongkrong sama teman kantor, ketawa, update story, pura-pura baik-baik aja.

Padahal di dalam kepala gue… masih berisik.

Masih ada suara yang belum selesai.

Masih ada satu nama yang nggak bisa hilang, walaupun gue sudah berusaha mati-matian buat lupa.

Namanya Rian.

Tujuh tahun.

Gue sama dia tujuh tahun.

Bukan tujuh bulan. Bukan setahun dua tahun yang bisa dibilang “ya udah lah, pengalaman doang.”

Tujuh tahun itu… kebanyakan orang udah nikah, punya anak, bahkan cicilan rumah.

Tapi gue?

Gue malah jadi cerita orang lain.

Semua mulai dari hal yang kelihatannya kecil.

Malam itu, gue lagi duduk di kasur. Kipas angin muter pelan, bunyinya berdecit tiap tiga detik.

HP gue bunyi.

Notifikasi Instagram.

Nama dia muncul.

Rian update story.

Gue sempat diem beberapa detik.

Jempol gue ngambang di atas layar.

Harus buka… atau nggak?

Lima bulan gue nggak buka story dia.

Lima bulan gue tahan.

Lima bulan gue pura-pura dia sudah bukan siapa-siapa.

Tapi malam itu… gue kalah.

Gue buka.

Foto dia lagi di café.

Lampu kuning hangat. Ada cewek di depannya. Rambut panjang, senyum lebar.

Dan di bawahnya…

Tulisan itu.

“Mantan adalah jodoh orang yang tidak sengaja kita nikmati.”

Gue langsung matiin HP.

Cepat.

Secepat orang narik tangan dari api.

Tapi telat.

Kalimat itu sudah masuk.

Nempel.

Dan rasanya… bukan sekadar sakit.

Lebih ke… dihina.

Gue bangkit dari kasur.

Lantai dingin.

Gue jalan ke dapur.

Ambil air minum.

Tangan gue gemetar.

Gelasnya sampai bunyi kena gigi.

Gue coba tarik napas panjang.

Nggak bisa.

Dada gue sesak.

Bukan karena gue masih mau balikan.

Bukan.

Gue sudah capek.

Capek banget.

Tapi… kalimat itu.

Seolah-olah semua yang gue kasih ke dia… cuma “dinikmati.”

Selesai.

Tujuh tahun.

Dan yang paling gue sesali… bukan putusnya.

Tapi… keputusan gue di tahun 2023.

Waktu itu hujan.

Hujan gede.

Kami lagi di kamar kosannya.

Dindingnya tipis, suara TV tetangga kedengeran jelas.

Rian duduk di ujung kasur.

Gue di kursi plastik.

Dia diem.

Gue juga diem.

Sampai akhirnya dia ngomong pelan.

“Des… kita udahan aja kali ya.”

Kalimat itu jatuh… pelan.

Tapi rasanya kayak palu.

Gue langsung nengok.

“Kenapa?”

Dia angkat bahu.

“Ya… udah bosen aja. Kayak nggak ada perkembangan.”

Gue langsung panik.

“Perkembangan gimana?”

Dia nggak jawab.

Cuma ngelihat gue.

Lama.

Dan itu… pertama kalinya gue ngerasa… gue lagi ditimbang.

Bukan dicintai.

“Kalau kita serius… ya harus lebih dari ini.”

Dia ngomong lagi.

Gue bingung.

“Lebih dari ini maksudnya?”

Dia tarik napas.

Lalu kalimat itu keluar.

Santai.

Datar.

Tapi mengubah hidup gue.

“Ya… kamu juga harus bisa ngerti aku. Kebutuhan aku.”

Gue langsung ngerti.

Dan saat itu… gue takut.

Takut kehilangan dia.

Lebih dari takut kehilangan diri gue sendiri.

“Kalau aku nggak mau?”

Gue nanya pelan.

Dia diem sebentar.

Lalu jawab:

“Ya… aku nggak bisa janji kita lanjut.”

Kalimat itu… sederhana.

Tapi cukup buat gue runtuh.

Malam itu… gue pulang dengan kepala kosong.

Di kamar, gue duduk di lantai.

Lampu mati.

Cuma cahaya dari luar jendela.

Gue buka chat lama kami.

Scroll.

Scroll terus.

Tujuh tahun.

Foto.

Video.

Chat lucu.

Rencana masa depan.

Semua ada.

Dan gue cuma mikir satu hal:

“Kalau gue kehilangan dia… semua ini hilang.”

Besoknya… gue balik lagi ke kosannya.

Tanpa banyak ngomong.

Tanpa banyak tanya.

Dan malam itu…

Gue menyerahkan sesuatu yang seharusnya gue jaga.

Bukan karena gue siap.

Tapi karena gue takut ditinggal.

Selesai.

Hening.

Kipas angin masih bunyi.

TV tetangga masih nyala.

Tapi gue… beda.

Gue ngerasa kosong.

Aneh.

Dan dia?

Dia cuma rebahan.

Main HP.

“Udah ya, Des. Jangan dipikirin.”

Dia bilang gitu.

Santai.

Seolah-olah… itu hal biasa.

Dan bodohnya gue…

Gue pikir… setelah itu dia bakal berubah.

Lebih sayang.

Lebih menjaga.

Lebih serius.

Ternyata… enggak.

Beberapa minggu setelah itu… dia mulai berubah.

Balas chat lama.

Jarang nelpon.

Alasan sibuk.

Dan suatu hari…

Dia bilang lagi.

“Des… kayaknya kita udahan dulu deh.”

Gue cuma bisa ketawa kecil waktu itu.

Ironis.

Karena gue baru sadar…

Gue sudah kasih semuanya.

Tapi tetap ditinggal.

Dan yang lebih parah…

Itu bukan yang terakhir.

Pola itu berulang.

Putus.

Balikan.

Putus lagi.

Balikan lagi.

Setiap balik… dia manis.

Setiap gue percaya… dia pergi lagi.

Dan setiap kali dia balik…

Gue selalu bilang:

“Ini terakhir ya.”

Dan setiap kali juga… gue bohong ke diri sendiri.

Sampai akhirnya…

Akhir tahun kemarin.

Hal paling konyol terjadi.

Gue nunggu dia di stasiun.

KRL telat.

Gue salah lihat jadwal.

HP lowbat.

Gue nggak bisa ngabarin.

Dia nunggu di tempat lain.

Nggak ketemu.

Dan cuma karena itu…

Dia marah.

Bukan marah biasa.

Marah yang dingin.

“Udah lah, Des. Capek aku.”

Gue pikir dia bercanda.

Gue jelasin.

Gue minta maaf.

Gue sampai kirim voice note panjang.

Tapi dia cuma balas:

“Oke.”

Dan hilang.

Beberapa hari kemudian… dia muncul lagi.

“Des… aku kangen.”

Gue lihat chat itu.

Lama.

Lama banget.

Tapi kali ini… gue nggak balas.

Bukan karena gue kuat.

Tapi karena gue… sudah habis.

Lima bulan.

Gue bertahan.

Gue ke psikolog.

Tiga kali.

Gue cerita semuanya.

Tentang dia.

Tentang gue.

Tentang malam itu.

Tentang rasa bersalah yang nggak hilang.

Psikolognya cuma bilang:

“Kamu bukan kehilangan dia. Kamu kehilangan versi dirimu yang kamu percayai.”

Dan itu… lebih sakit.

Gue nggak pernah cerita ke Rian soal itu.

Eh, pernah.

Sekali.

Gue bilang:

“Aku sempat ke psikolog, karena aku nggak kuat.”

Dia cuma jawab:

“Oh.”

Cuma itu.

Nggak nanya.

Nggak peduli.

Dan sekarang…

Dia bisa dengan santainya nulis kalimat itu.

“Mantan adalah jodoh orang yang tidak sengaja kita nikmati.”

Gue ketawa kecil di dapur.

Pahit.

Tiba-tiba HP gue bunyi lagi.

WhatsApp.

Nomor nggak dikenal.

“Desi ya?”

Gue diam.

Beberapa detik.

Lalu gue balas:

“Iya. Ini siapa?”

Typing…

Muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

“Aku Maya.”

Gue mengernyit.

Siapa Maya?

“Aku… sekarang sama Rian.”

Jantung gue langsung berdebar.

Kencang.

Gue duduk.

Pelan.

Chat berikutnya masuk.

“Aku cuma mau tanya satu hal…”

Gue nahan napas.

“Bener nggak… waktu papamu meninggal, Rian ada di sana?”

Gue langsung menegang.

Kenapa dia tanya itu?

Jari gue mulai dingin.

Gue balas:

“Iya. Kenapa?”

Lama.

Nggak dibalas.

Satu menit.

Dua menit.

Lalu muncul lagi.

“Aku nemu sesuatu di HP dia…”

Gue langsung berdiri.

Kursi geser bunyi keras.

“Maksudnya apa?”

Typing…

“Ada rekaman suara papamu…”

Dunia gue langsung sunyi.

“…dan isinya… bukan seperti yang kamu pikir selama ini.”

Jantung gue seperti berhenti satu detik.

Apa maksudnya?

Papa gue…

Sebelum meninggal…

Memang sempat pegang tangan Rian.

Dan bilang:

“Tolong jaga Desi.”

Rian jawab:

“Iya, Om. Saya janji.”

Gue dengar sendiri.

Gue lihat sendiri.

Gue pegang tangan papa waktu itu.

Lalu sekarang…

Ada rekaman?

Dan katanya… tidak seperti yang gue pikir?

HP gue bergetar lagi.

“Aku nggak tahu harus percaya atau nggak…”

“Tapi menurutku… kamu harus dengar sendiri.”

Gue langsung ketik cepat:

“Kirim.”

Beberapa detik.

Voice note masuk.

Durasi: 01:47

Jempol gue berhenti di atas tombol play.

Kipas angin masih bunyi.

Di luar, suara motor lewat pelan.

Dan di dalam dada gue…

Satu perasaan muncul lagi.

Takut.

Kalau selama ini…

Ada sesuatu yang gue nggak tahu.

Dan kalau itu benar…

Berarti…

Selama ini…

Gue bukan cuma ditinggalkan.

Gue dibohongi.

Jempol gue akhirnya menekan tombol play.

Voice note itu mulai.

Ada suara rumah sakit.

Bunyi monitor… pelan, ritmis.

Beep… beep… beep…

Lalu suara napas berat.

Serak.

Gue langsung kenal.

Itu suara papa.

“Rian…”

Pelan banget.

Kayak orang yang lagi ngumpulin tenaga terakhir.

“Iya, Om… saya di sini.”

Suara Rian.

Tenang.

Halus.

Persis seperti yang gue ingat.

Gue menahan napas.

Jari gue mencengkeram HP.

“Kalau… Desi…”

Suara papa terputus.

Ada jeda.

Kayak lagi nahan sakit.

“Tolong… jangan paksa dia…”

Gue langsung kaku.

“…jangan ambil sesuatu… yang dia belum siap kasih…”

Dunia gue berhenti.

“…kalau kamu serius… kamu jaga dia…”

Beep… beep…

Suara alat makin jelas.

“…kalau nggak… kamu pergi…”

Sunyi.

Beberapa detik.

Lalu suara Rian masuk.

Lebih pelan.

Lebih dingin dari yang gue ingat.

“Iya, Om.”

Voice note berhenti.

Gue nggak langsung bergerak.

Gue cuma duduk.

HP masih di tangan.

Layar masih nyala.

Kepala gue kosong.

Baru setelah beberapa detik…

Semuanya masuk sekaligus.

Papa gue…

Bukan cuma bilang “jaga Desi.”

Papa gue… sudah tahu.

Dan dia…

Sudah memperingatkan.

Tangan gue langsung gemetar.

Gue buka chat Maya.

“Ini… kamu dapet dari mana?”

Balasan datang cepat.

“Di HP Rian.”

“Dia lagi mandi. Aku buka galeri dia. Terus nemu folder rekaman.”

Gue langsung berdiri lagi.

Jalan bolak-balik di kamar.

Langkah gue bunyi di ubin.

“Kenapa kamu kirim ke aku?”

Typing…

“Aku nggak nyaman, Des.”

“Aku ngerasa… ada yang salah dari dia.”

Gue menelan ludah.

“Maksudnya?”

Balasan berikutnya bikin dada gue makin sesak.

“Dia juga maksa aku.”

Gue langsung berhenti jalan.

“Apa?”

“Dia bilang… kalau aku serius sama dia, aku harus buktiin.”

Jantung gue langsung berdetak keras.

Persis.

Persis banget.

Gue duduk lagi.

Pelan.

“Terus?”

“Aku nolak. Dia marah. Terus dia diem dua hari.”

Gue langsung menutup mata.

Flashback.

Kejadian yang sama.

Pola yang sama.

“Des… ini normal nggak sih?”

Chat Maya muncul lagi.

“Dia bilang semua cowok juga gitu.”

Gue ketawa kecil.

Pahit.

Kalimat itu…

Gue pernah dengar.

Persis.

Kata demi kata.

“Enggak.”

Gue balas.

Singkat.

Beberapa detik.

“Jadi… kamu juga diperlakukan kayak gitu?”

Gue diam.

Lama.

Lalu gue ketik:

“Iya.”

Dan itu pertama kalinya…

Gue jujur ke orang lain.

Chat langsung masuk lagi.

“Des… aku minta maaf ya…”

“Kayaknya… aku salah nilai kamu.”

Gue mengernyit.

“Maksudnya?”

Typing…

“Rian pernah cerita soal kamu.”

Perut gue langsung mual.

“Dia bilang kamu posesif. Drama. Dan… kamu yang minta terus ke dia.”

Gue langsung berdiri lagi.

Kursi gue jatuh ke belakang.

“Apa?!”

“Maaf… aku juga baru sadar setelah lihat ini semua…”

Gue langsung jalan ke jendela.

Buka sedikit.

Udara malam masuk.

Dingin.

Tangan gue gemetar.

Jadi selama ini…

Dia bukan cuma ninggalin gue.

Dia juga…

Ngebalik cerita.

Gue tarik napas dalam.

“May…”

“Iya?”

“Dia pernah cerita soal malam di rumah sakit itu?”

“Nggak.”

“Dia cuma bilang… papamu suka sama dia.”

Gue langsung ketawa.

Kali ini bukan pahit.

Lebih ke… kosong.

Papa gue…

Sampai detik terakhir hidupnya…

Masih mikirin gue.

Masih jagain gue.

Dan orang yang dia titipin…

Justru…

Gue nggak sanggup nerusin pikiran itu.

HP gue getar lagi.

Kali ini bukan dari Maya.

Nama yang muncul…

Bikin dada gue langsung sesak lagi.

Rian.

Chat masuk.

“Des…”

Gue diam.

Beberapa detik kemudian…

Chat lagi.

“Aku tau kamu pasti lihat story aku.”

Gue nggak buka.

“Aku cuma mau jelasin.”

Gue ketawa kecil.

Jelasin?

Setelah lima bulan?

Setelah semua?

HP gue terus bergetar.

“Des, please jawab.”

“Aku nggak enak kalau kayak gini.”

“Aku cuma pengen kita baik-baik aja.”

Gue langsung balas.

“Baik-baik aja?”

Tiga titik langsung muncul.

Typing.

Cepat.

“Iya… kan kita pernah punya masa baik.”

Gue langsung duduk.

Lemah.

“Rian.”

“Iya?”

“Aku mau tanya satu hal.”

“Apa?”

Jari gue berhenti sebentar.

Lalu gue ketik:

“Waktu papa aku sekarat…”

Typing berhenti di sana.

Beberapa detik.

Lalu lanjut:

“Kamu ingat dia bilang apa ke kamu?”

Lama.

Tidak ada balasan.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga titik nggak muncul.

Gue senyum kecil.

Takut.

Dia takut.

Akhirnya…

Chat masuk.

“Iya… dia minta aku jaga kamu.”

Gue langsung balas:

“Cuma itu?”

Lama.

Sangat lama.

Lalu…

“Iya.”

Gue langsung kirim voice note itu.

Tanpa kata.

Centang dua.

Tidak langsung dibuka.

Beberapa detik.

Lalu berubah biru.

Sunyi.

HP gue nggak bunyi.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Tidak ada balasan.

Tapi satu hal yang gue sadari…

Dia nggak menyangkal.

Dia nggak bilang itu palsu.

Dia nggak bilang itu editan.

Dia cuma…

Diam.

Dan itu…

Lebih jelas dari jawaban apa pun.

HP gue getar lagi.

Bukan dari Rian.

Maya.

“Des…”

“Iya?”

“Aku takut.”

“Kenapa?”

“Dia keluar dari kamar mandi… dan sekarang lagi buka HP-nya…”

Jantung gue langsung berdegup keras.

“Aku nggak tau dia lihat atau nggak…”

Gue langsung berdiri.

“May, kamu aman?”

Belum dibalas.

Beberapa detik terasa lama banget.

Lalu…

Chat masuk.

“Dia nanya aku… aku lagi chat siapa.”

Gue langsung mengetik:

“Jangan jawab jujur.”

Belum terkirim…

Muncul chat baru.

“Des…”

“Aku pikir… dia tahu.”

Gue langsung membeku.

“Apa maksud kamu?”

Balasan terakhir masuk.

“Dia lagi senyum ke aku…”

“…tapi matanya… beda.”

Dan setelah itu…

Tidak ada lagi balasan.

Gue langsung nelpon.

Sekali.

Nggak diangkat.

Dua kali.

Masih nggak.

Ketiga kali…

Tersambung.

Nggak ada suara.

Cuma napas.

Pelan.

“May?”

Gue ngomong pelan.

Nggak ada jawaban.

“May, lo denger gue?”

Tiba-tiba…

Suara lain masuk.

“Desi.”

Jantung gue langsung turun.

Rian.

Gue langsung berdiri.

Kaki gue dingin.

“HP-nya Maya ya?”

Gue tanya.

Dia ketawa kecil.

Tipis.

“Iya.”

Sunyi.

“Ngapain lo chat dia?”

Nada suaranya berubah.

Nggak tinggi.

Tapi… tajam.

Gue nahan napas.

“Harusnya gue yang nanya itu.”

Gue jawab.

Dia diam.

Sebentar.

Lalu…

“Lo kirim apa ke dia?”

Gue langsung ngerti.

Dia sudah dengar.

“Rekaman itu ya?”

Gue bilang.

Sunyi.

Beberapa detik…

Yang rasanya lama banget.

“Des…”

Nada suaranya turun.

Lembut.

“Tolong jangan ikut campur hubungan gue sekarang.”

Gue langsung ketawa.

Pendek.

“Hubungan lo?”

“Yang polanya sama kayak gue dulu?”

Dia langsung potong.

“Jangan lebay, Des.”

Kalimat itu.

Persis.

Sama.

Gue pegang meja.

Kuat.

“Lebay?”

“Lo paksa cewek buat buktiin cinta dengan cara itu… terus lo bilang lebay?”

Dia nggak langsung jawab.

“Lo nggak ngerti posisi gue.”

Akhirnya dia ngomong.

Gue langsung potong.

“Gue ngerti banget.”

“Gue pernah di posisi dia.”

Sunyi.

Lalu…

Suara lain.

Pelan.

“Des…”

Maya.

Suaranya gemetar.

“May, lo aman?”

Gue langsung tanya.

“Iya… aku di sini.”

Tiba-tiba Rian ngomong lagi.

“Kita ngobrol bertiga aja sekalian.”

Nada suaranya santai.

Terlalu santai.

Kayak ini semua… biasa.

“Biar nggak ada salah paham.”

Gue langsung duduk.

Pelan.

Oke.

Kalau dia mau buka semuanya…

Gue juga.

“Ya udah.”

Gue bilang.

“Ngomong.”

Dia tarik napas.

“Des… lo kirim itu maksudnya apa?”

“Biar dia tahu siapa lo.”

Gue jawab.

Dia ketawa kecil.

“Gue udah bilang ke dia soal lo.”

Gue langsung potong.

“Iya. Lo bilang gue posesif. Drama. Yang ngejar-ngejar lo.”

Sunyi.

Maya tiba-tiba ngomong.

“Rian… itu nggak sesuai sama yang aku lihat sekarang.”

Rian langsung berubah.

“Lo percaya dia?”

Nada suaranya naik sedikit.

Maya diam.

Gue langsung masuk.

“May… gue nggak butuh lo percaya gue.”

“Lo cukup lihat sendiri.”

Sunyi.

Lalu Rian ngomong lagi.

“Des, gue capek ya kalau lo terus bawa-bawa masa lalu.”

Gue langsung ketawa.

“Masa lalu?”

“Lo masih ngelakuin hal yang sama sekarang.”

Dia langsung diam.

Gue lanjut.

“Lo paksa dia.”

“Lo diem kalau dia nolak.”

“Lo bikin dia ngerasa bersalah.”

“Persis kayak ke gue.”

Sunyi.

Maya napasnya mulai nggak stabil.

“Rian… ini bener?”

Rian langsung jawab cepat.

“Nggak.”

“Tuh kan, Des. Lo cuma mau jelek-jelekin gue.”

Gue pejam mata sebentar.

Oke.

“May.”

Gue panggil.

“Iya…”

“Lo inget dia pernah bilang apa waktu lo nolak?”

Maya diam.

Lalu pelan-pelan…

“Iya…”

“Apa?”

“Dia bilang… kalau aku serius… harus bisa ngerti kebutuhan dia.”

Gue langsung buka mata.

Kena.

Gue langsung ngomong.

“Dan kalau lo nggak mau…?”

Maya lanjut.

Pelan.

“Dia bilang… dia nggak bisa janji hubungan ini lanjut.”

Sunyi.

Gue langsung bersandar.

Persis.

Rian langsung potong.

“Itu kan cuma omongan.”

Gue langsung marah.

“Omongan?!”

“Lo tahu itu tekanan, kan?!”

Dia langsung defensif.

“Semua cowok juga gitu!”

Gue langsung ketawa.

Kali ini keras.

“Gue pernah percaya itu.”

“Dan itu kebodohan terbesar gue.”

Sunyi.

Maya tiba-tiba nangis.

Pelan.

“Rian… kenapa kamu nggak pernah bilang soal rekaman itu?”

Rian langsung jawab.

“Itu nggak penting.”

Gue langsung bangkit.

“NGGAK PENTING?!”

Suara gue pecah.

“Itu pesan terakhir papa gue!”

Sunyi.

Napas gue berat.

“Dia minta lo jangan paksa gue.”

“Dia minta lo jaga gue.”

“Dan lo jawab iya.”

Gue berhenti.

Lalu pelan…

“Tapi yang lo lakuin… kebalikannya.”

Sunyi.

Panjang.

Nggak ada suara.

Lalu Rian ngomong.

Pelan.

“Des… lo juga mau waktu itu.”

Kalimat itu.

Seperti ditampar.

Gue langsung diam.

Maya juga diam.

Dan untuk beberapa detik…

Gue nggak bisa ngomong apa-apa.

Karena itu…

Separuh benar.

Gue memang bilang iya.

Tapi…

Gue tarik napas.

“Gue mau… karena gue takut lo pergi.”

Sunyi.

“Bukan karena gue siap.”

Rian nggak jawab.

Gue lanjut.

“Dan lo tahu itu.”

Sunyi.

Maya tiba-tiba ngomong.

“Rian… kamu tahu aku juga takut?”

Dia nggak jawab.

“Makanya aku bingung… ini cinta atau tekanan.”

Sunyi.

Rian tarik napas panjang.

“Udah lah… ribet.”

Nada suaranya berubah.

Dingin.

“May, kalau lo nggak nyaman… ya udah.”

Gue langsung sadar.

Ini dia.

Cara dia keluar.

“Rian…”

Maya panggil.

“Gue nggak suka dipersulit.”

Kalimat itu keluar.

Sama.

Persis.

Gue langsung merinding.

Ini bukan pertama kali.

Ini pola.

Dan tiba-tiba…

Semua kejadian tujuh tahun itu…

Nyambung.

Bukan gue yang kurang.

Bukan gue yang terlalu.

Dia yang…

Selalu sama.

Maya mulai nangis lebih jelas.

“Jadi… kamu mau ninggalin aku juga?”

Sunyi.

Lalu…

“Kalau lo nggak bisa ngikutin… ya gue cari yang bisa.”

Selesai.

Gue langsung duduk lagi.

Lemas.

Maya terisak.

“Des…”

“Iya…”

“Aku takut dia beneran pergi…”

Gue tutup mata.

Flashback.

Gue dulu.

Persis.

Gue buka mata lagi.

“May.”

“Iya…”

“Denger gue.”

“Kalau dia pergi… itu bukan karena lo kurang.”

“Justru karena lo cukup… untuk nolak dia.”

Sunyi.

Tangis Maya pelan-pelan reda.

Rian nggak ngomong apa-apa lagi.

Beberapa detik kemudian…

Sambungan mati.

Gue lihat layar HP.

Call ended.

Sunyi.

Kipas angin masih bunyi.

Tapi di dalam kepala gue…

Satu hal akhirnya jelas.

Selama ini…

Gue bukan kehilangan seseorang yang baik.

Gue cuma…

Terjebak sama orang yang salah.

HP gue bergetar lagi.

Maya.

“Des…”

“Iya?”

“Aku mau pergi dari sini.”

Jantung gue langsung berdetak.

“Sekarang?”

“Iya…”

“Tapi…”

“Apa?”

Balasan terakhirnya bikin gue langsung berdiri lagi.

“Dia lagi berdiri di depan pintu…”

“…dan dia kunci dari luar.”

Gue langsung berdiri.

Kursi kebentur tembok.

Suara keras.

Tapi gue nggak peduli.

“May, lo di kamar?”

Gue langsung kirim.

“Iya.”

Balasannya cepat.

“Jangan panik. Denger gue.”

Jari gue ngetik cepat.

Di luar, suara toa masjid mulai nyala. Adzan isya.

Aneh.

Dunia tetap jalan… sementara di sini semuanya kacau.

“Lo bisa buka jendela?”

Beberapa detik.

“Bisa… tapi tinggi.”

Gue langsung jalan ke lemari.

Ambil tas.

Masukin HP charger, dompet.

Tangan gue masih gemetar.

“Alamat lo kirim sekarang.”

Centang dua.

Nggak lama…

Share location masuk.

Gue buka.

Daerah Jakarta Timur.

Gue langsung ambil kunci motor.

“May, lo denger gue.”

“Iya…”

“Kalau dia masuk… lo jangan lawan.”

“…cari waktu.”

“Aku takut, Des…”

Gue berhenti sebentar.

Narik napas.

“Takut boleh. Tapi lo jangan sendiri di kepala lo.”

“Aku di sini.”

Sunyi beberapa detik.

“Des…”

“Iya?”

“Kenapa kamu nolong aku?”

Gue diem.

Sebentar.

Lalu gue jawab pelan:

“Karena dulu… nggak ada yang nolong gue.”

Sunyi.

Gue keluar kamar.

Lampu rumah redup.

Suara sendal gue di lantai keramik.

Gue buka pintu.

Udara malam langsung kena muka.

Motor gue nyala.

Suara mesin kasar.

HP gue gue taruh di holder.

Maps nyala.

Jarak: 32 menit.

Gue gas.

Jalanan agak sepi.

Lampu jalan kuning.

Beberapa warung masih buka.

Orang-orang santai.

Nggak ada yang tahu… ada orang lagi terkunci di dalam kamar.

HP gue getar lagi.

Voice note.

Dari Maya.

Gue putar.

Suara napas.

Cepat.

“Des… dia ketuk pintu…”

Tok.

Tok.

Tok.

Kedenger jelas dari voice note.

“May… buka.”

Suara Rian.

Tenang.

Terlalu tenang.

Gue gas motor lebih kencang.

“Jangan buka.”

Gue kirim cepat.

Voice note lanjut.

“Dia bilang cuma mau ngobrol…”

Tok.

Tok.

“May.”

Nada suaranya berubah.

Lebih rendah.

“Lo jangan bikin gue marah.”

Gue merinding.

Persis.

Kalimat yang sama.

Yang dulu bikin gue… menyerah.

Gue langsung kirim lagi:

“Jangan buka.”

Beberapa detik.

Balasan datang.

“Aku kunci dari dalam juga.”

Gue sedikit lega.

Tapi cuma sedikit.

Lampu merah.

Gue berhenti.

Tangan gue ngetuk setang motor.

Cepat.

Cepat.

HP gue bunyi lagi.

Kali ini… bukan Maya.

Rian.

Call.

Gue lihat layar.

Nama dia.

Gue angkat.

“Lo di mana?”

Suara dia langsung masuk.

Gue diam.

“Des, gue tahu lo chat Maya.”

Gue masih diam.

“Lo jangan ikut campur.”

Gue tarik napas.

“Lo ngunci dia di kamar.”

Sunyi.

“Cuma biar dia tenang.”

Dia jawab.

Gue ketawa.

Pendek.

“Lo serius?”

“Dia lagi panik.”

“Dia panik karena lo.”

Sunyi.

Lampu hijau.

Gue gas lagi.

“Des… lo nggak tahu situasinya.”

“Gue tahu banget.”

“Lo manipulasi dia.”

“Lo bikin dia takut kehilangan lo.”

“Lo ulangin semua yang lo lakuin ke gue.”

Dia langsung diam.

Gue lanjut.

“Bedanya… sekarang gue lihat dari luar.”

Sunyi.

Beberapa detik…

“Lo dendam ya sama gue?”

Gue langsung jawab.

“Enggak.”

“Gue cuma… akhirnya sadar.”

Sunyi lagi.

Lalu dia ngomong pelan.

“Des…”

“Apa?”

“Lo juga nggak sempurna.”

Gue ketawa kecil.

“Gue tahu.”

“Tapi gue nggak pernah maksa orang buat buktiin cinta dengan cara itu.”

Sunyi.

Call mati.

Gue langsung fokus ke jalan.

Sepuluh menit lagi.

HP gue getar lagi.

Maya.

“Des…”

“Iya?”

“Dia diem sekarang.”

“Di luar pintu.”

“Gak ngomong apa-apa.”

Gue langsung merinding.

“Lo denger suara dia?”

“Iya… kayak lagi duduk.”

Sunyi.

Gue tambah gas.

Lampu-lampu rumah mulai rapat.

Masuk gang.

Maps bilang: 3 menit lagi.

“May, denger gue.”

“Iya…”

“Kalau dia masuk…”

“Apa?”

Gue tarik napas.

“Lo bilang… ada orang di luar.”

Sunyi.

“Siapa?”

Gue lihat ke depan.

Gang sempit.

“Gue.”

Beberapa detik.

“Des…”

“Iya?”

“Aku takut dia marah…”

Gue langsung jawab:

“Biar gue yang dia marahin.”

Gue belok kiri.

Rumahnya kelihatan.

Pintu depan tertutup.

Lampu nyala.

Motor gue berhenti.

Mesin mati.

Sunyi.

Gue turun.

Langkah gue cepat.

Gue ketuk pintu.

Keras.

“RIAN!”

Nggak ada jawaban.

Gue ketuk lagi.

Lebih keras.

“RIAN! BUKA!”

Dari dalam…

Ada suara kursi geser.

Langkah kaki.

Pintu dibuka.

Rian berdiri di depan gue.

Kaos hitam.

Wajah datar.

Beberapa detik…

Kami cuma saling lihat.

Dia kaget.

Jelas.

“Lo…”

Gue langsung dorong pintu.

Masuk.

“Mana Maya?”

Dia langsung pegang tangan gue.

“Des, jangan—”

Gue lepas.

Keras.

“Mana dia?!”

Sunyi.

Dia nggak jawab.

Gue langsung jalan ke dalam.

Lorong sempit.

Lampu putih.

Pintu kamar di ujung.

Tertutup.

Gue langsung ke sana.

“May!”

Gue teriak.

Dari dalam…

Suara pelan.

“Des…”

Gue langsung pegang gagang.

Terkunci.

Gue nengok ke Rian.

“Buka.”

Dia diam.

“RIAN.”

Nada suara gue berubah.

“Buka.”

Sunyi.

Beberapa detik…

Lalu dia ambil kunci dari saku.

Lempar ke gue.

Kunci jatuh di lantai.

Bunyi kecil.

Gue ambil.

Tangan gue gemetar.

Gue masukin ke lubang kunci.

Klik.

Pintu kebuka pelan.

Dan di dalam…

Maya duduk di lantai.

Dekat kasur.

Mata merah.

Tangan gemetar.

Dia lihat gue.

Dan langsung nangis.

“Des…”

Gue masuk.

Tutup pintu.

Di belakang gue…

Langkah Rian berhenti di ambang.

Sunyi.

Dan untuk pertama kalinya…

Gue lihat semuanya jelas.

Bukan cuma tentang gue.

Bukan cuma tentang Maya.

Tapi tentang siapa sebenarnya Rian.

Dan kenapa… papa gue dulu ngomong seperti itu.

Gue berdiri di antara mereka berdua.

Dan kali ini…

Gue nggak takut.

“Sekarang kita selesain di sini.”

Gue bilang.

Sunyi.

Dan Rian… akhirnya tersenyum.

Senyum yang selama ini gue kira… hangat.

Ternyata…

Dingin.

Rian bersandar di kusen pintu.

Tangan dilipat.

Senyumnya masih ada.

Tipis.

Dingin.

“Drama banget.”

Dia ngomong santai.

Maya langsung menunduk.

Bahunya masih naik turun.

Gue berdiri di tengah kamar.

Nggak maju.

Nggak mundur.

“Buka HP lo.”

Gue bilang.

Rian mengernyit.

“Buat apa?”

“Buka.”

Nada suara gue datar.

Tapi kali ini… tegas.

Dia ketawa kecil.

“Des, lo pikir ini sidang?”

Gue nggak jawab.

Cuma lihat dia.

Beberapa detik…

Akhirnya dia ambil HP dari saku.

“Nih.”

Dia angkat sedikit.

Gue maju satu langkah.

“Buka galeri. Folder rekaman.”

Dia diam.

Tatapannya berubah sedikit.

“Ngapain?”

“Buka.”

Sunyi.

Maya pelan-pelan ngangkat kepala.

“Rian… tolong.”

Dia tarik napas.

Kesal.

Lalu buka HP.

“Udah.”

“Play yang itu.”

Gue tunjuk.

Voice note yang sama.

Suara papa gue kembali terdengar.

Di kamar kecil itu.

Di antara kami bertiga.

“Kalau… Desi…”

Maya langsung nutup mulutnya.

“…jangan paksa dia…”

Sunyi.

“…kalau nggak… kamu pergi…”

Voice note berhenti.

Hening.

Gue lihat ke Rian.

“Kamu dengar ini waktu itu?”

Dia diam.

“Jawab.”

Beberapa detik…

“Iya.”

Jawaban itu keluar.

Pelan.

Maya langsung nangis lagi.

“Terus… kenapa kamu tetap…?”

Rian langsung potong.

“Karena itu cuma omongan orang sakit.”

Gue langsung maju.

“ITU PAPA GUE.”

Suara gue pecah.

Sunyi.

Rian nggak mundur.

“Dan lo tetap maksa gue.”

Gue lanjut.

“Lo tahu gue takut kehilangan lo.”

“Lo tahu gue bakal nurut.”

“Dan lo pakai itu.”

Sunyi.

Maya menatap Rian.

Matanya beda sekarang.

Bukan bingung lagi.

Jelas.

“Rian…”

Suaranya pelan.

“Ini bukan cinta ya?”

Rian langsung jawab.

“Lo terlalu mikir.”

Maya geleng.

“Enggak.”

Air matanya jatuh lagi.

“Tadi aku takut kamu pergi…”

“Sekarang… aku takut tetap di sini.”

Sunyi.

Kalimat itu… nempel.

Gue lihat Maya.

Dia pelan-pelan berdiri.

Kakinya masih gemetar.

Tapi dia berdiri.

Dia jalan ke arah gue.

Berhenti di samping gue.

Nggak di belakang.

Di samping.

“Des…”

“Iya…”

“Aku mau pulang.”

Gue angguk.

“Ya udah.”

Gue nengok ke Rian.

“Buka jalan.”

Dia diam.

Nggak bergerak.

Beberapa detik…

Gue maju satu langkah lagi.

“Rian.”

Nada suara gue rendah.

“Lo udah cukup.”

Sunyi.

Tatapan kami ketemu.

Dan untuk pertama kalinya…

Gue nggak ngerasa kecil.

Nggak takut dia pergi.

Nggak takut kehilangan.

Karena sekarang…

Gue tahu…

Yang harus gue lepas… bukan dia.

Tapi rasa takut gue sendiri.

Beberapa detik…

Rian akhirnya geser.

Pelan.

Ngasih jalan.

Gue pegang tangan Maya.

Hangat.

Gemetar.

Kami jalan keluar kamar.

Lewat dia.

Nggak ada yang ngomong.

Cuma suara langkah.

Pintu depan kebuka.

Udara malam masuk lagi.

Segar.

Kami keluar.

Pintu ditutup.

Dan untuk pertama kalinya…

Gue ngerasa…

Ringan.

Maya duduk di motor gue.

Masih diam.

Gue nyalain mesin.

Sebelum jalan…

Dia ngomong pelan.

“Des…”

“Iya?”

“Makasih ya.”

Gue senyum kecil.

“Udah. Kita pulang aja dulu.”

Motor jalan pelan.

Keluar dari gang.

Lampu jalan satu-satu lewat.

Beberapa menit kami diam.

Lalu Maya ngomong lagi.

“Des…”

“Iya?”

“Aku kira… kalau aku nurut… dia bakal sayang.”

Gue tarik napas.

“Gue juga dulu mikir gitu.”

Sunyi.

“Ternyata… bukan begitu ya.”

“Enggak.”

“Kalau orang sayang… dia nggak bikin kita takut.”

Maya diam.

Lalu pelan…

Dia sandarin kepala ke punggung gue.

Nggak ngomong apa-apa lagi.

Kami terus jalan.

Angin malam kena muka gue.

Dan di tengah jalan itu…

Gue sadar satu hal.

Gue nggak lagi mikirin Rian.

Gue nggak lagi mikirin story Instagram itu.

Gue nggak lagi mikirin tujuh tahun yang hilang.

Karena untuk pertama kalinya…

Yang gue rasain…

Bukan kehilangan.

Tapi…

Selesai.

Beberapa hari kemudian.

Gue duduk di ruang tamu.

HP di tangan.

Notifikasi masuk.

Instagram.

Nama Rian.

Dia update story lagi.

Gue lihat.

Foto dia sendirian.

Tanpa caption.

Gue tutup.

Nggak ada rasa apa-apa.

Biasa aja.

HP gue bunyi lagi.

Maya.

“Des, aku udah di rumah.”

“Aman.”

Gue senyum.

“Bagus.”

Beberapa detik.

“Aku daftar konseling juga.”

Gue ketawa kecil.

“Bagus banget.”

“Pelan-pelan ya.”

“Iya.”

Chat berhenti.

Gue taruh HP.

Di meja.

Di dinding…

Ada foto lama.

Gue sama papa.

Gue berdiri.

Dekat.

Lihat foto itu.

“Pa…”

Gue ngomong pelan.

“Sekarang aku ngerti.”

Sunyi.

“Maaf ya… dulu aku nggak dengar.”

Angin dari jendela masuk.

Tipis.

Gue senyum.

“Sekarang aku jaga diri aku sendiri.”

Dan untuk pertama kalinya…

Kalimat itu terasa… cukup.

Gue nggak lagi nunggu dijaga.

Gue nggak lagi takut ditinggal.

Karena sekarang…

Gue sudah kembali ke diri gue.

Dan itu…

Akhirnya.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *