Cerita Mudik Lebaran: Ayahku Meninggal Saat Malam Takbiran Ketika Menungguku Pulang
Setiap menjelang Lebaran, rumah kontrakan kecil kami selalu terasa lebih sempit dari biasanya.
Bukan karena barang bertambah.
Tapi karena satu pembicaraan yang sama selalu muncul setiap tahun.
Pulang kampung.
Sore itu aku duduk di ruang tamu dengan ponsel di tangan. Layar aplikasi tiket bus terbuka. Angkanya terus berubah setiap beberapa menit.
Di dapur, istriku menggoreng bawang untuk opor. Bau harum itu memenuhi seluruh rumah.
Tapi pikiranku tetap tertahan di angka di layar.
“Tiketnya berapa sekarang?” tanya istriku dari dapur tanpa menoleh.
Aku menghela napas pelan.
“Naik lagi.”
Sendok di tangannya berhenti sebentar.
“Berapa?”
“Hampir satu juta satu kursi.”
Ia keluar dari dapur sambil mengelap tangan di celemek.
“Serius?”
Aku hanya mengangguk.
Kami menatap layar ponsel itu bersama-sama.
Kalau kami pulang bertiga — aku, istriku, dan anak kami — berarti hampir tiga juta hanya untuk tiket bus.
Belum ongkos dari terminal.
Belum oleh-oleh.
Belum uang lain yang biasanya muncul tiba-tiba saat mudik.
Istriku duduk di sampingku.
“Kalau ke rumah Mama cuma tiga jam naik mobil.”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku sudah tahu arah pembicaraan ini sejak awal membuka aplikasi tiket.
“Tahun ini ke rumah Mama dulu saja ya,” katanya pelan.
Aku menatap layar ponsel beberapa detik lagi.
Lalu menutup aplikasinya.
“Iya.”
Jawaban itu keluar seperti keputusan paling logis di dunia.
Tidak ada yang diperdebatkan.
Tidak ada yang dipaksakan.
Hanya perhitungan sederhana tentang uang.
Di luar rumah, suara anak-anak mulai mencoba petasan kecil.
Satu dua meledak di ujung gang.
Takbir dari masjid kecil di dekat kontrakan juga mulai terdengar latihan.
Ponselku bergetar di meja.
Nama yang muncul membuat dadaku sedikit mengeras.
Ibu.
Aku mengangkat telepon itu.
“Halo Bu.”
Suara ibu di seberang sana seperti biasa.
Pelan.
Hangat.
Sedikit serak.
“Mas lagi di rumah?”
“Iya Bu.”
Ada jeda kecil.
“Kapan pulang?”
Pertanyaan itu selalu datang setiap tahun.
Dan setiap tahun aku selalu menjawab dengan cara yang hampir sama.
“Tahun ini… belum bisa Bu.”
Hening beberapa detik.
Aku bisa mendengar suara kipas angin di rumah ibu dari ujung telepon.
Kipas tua yang berderit pelan.
“Oh… ya sudah.”
Tidak ada protes.
Tidak ada keluhan.
“Yang penting sehat di sana.”
Aku mengangguk.
Padahal ibu tidak bisa melihat.
Di belakang suara ibu, terdengar bapak batuk.
Batuk kering yang berat.
“Bapak sehat Bu?”
“Sehat.”
Jawabannya terlalu cepat.
Aku tahu ibu berbohong.
Tapi aku tidak bertanya lagi.
Telepon itu ditutup dengan kalimat yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Hati-hati kalau nanti mudik.”
Padahal ibu sudah tahu aku tidak pulang.
Malamnya, pesan WhatsApp masuk.
Ibu mengirim foto.
Sebuah toples besar berisi kue nastar.
Captionnya pendek.
“Bapak bilang ini kesukaan kamu.”
Aku menatap foto itu lama.
Toples plastik biru yang sama sejak aku kecil.
Tutupnya masih retak sedikit di satu sisi.
Aku mengetik balasan.
“Wah enak itu Bu.”
Aku hampir menambahkan satu kalimat.
“Tahun depan aku pulang.”
Tapi aku menghapusnya.
Beberapa detik kemudian ibu membalas.
“Kalau pulang masih ada.”
Hari-hari menjelang Lebaran berjalan cepat.
Di rumah orang tua istriku, suasana selalu ramai.
Saudara datang dari berbagai kota.
Anak-anak berlarian.
Dapur tidak pernah sepi.
Aku membantu memotong ketupat.
Mengangkat galon.
Mengantar anak-anak beli es krim di warung depan gang.
Semua terlihat normal.
Sangat normal.
Sampai malam takbiran.
Aku duduk di teras rumah mertua.
Lampu-lampu tetangga menyala terang.
Anak-anak menyalakan petasan di jalan kecil depan rumah.
Langit dipenuhi suara takbir dari masjid.
Ponselku bergetar.
Nama yang muncul membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Pak Hasan.
Tetangga rumah orang tuaku.
Aku mengangkat telepon itu.
“Halo Pak.”
Suara Pak Hasan terdengar ragu.
“Mas… ini saya Hasan.”
“Iya Pak.”
“Ayahmu tadi siang sempat ke pos ronda.”
Aku diam.
“Dia bilang… mungkin tahun ini kamu pulang.”
Aku menelan ludah.
“Dia bawa dua kursi tambahan ke teras rumah.”
Dadaku terasa aneh.
“Katanya… buat kamu sama cucumu kalau datang.”
Di ujung telepon terdengar suara takbir dari masjid kampung.
Pak Hasan melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Tapi dari tadi sore dia duduk di situ terus.”
Langit malam di atas rumah mertua penuh cahaya kembang api.
Anak-anak berteriak kegirangan menyalakan petasan.
Pak Hasan berkata satu kalimat lagi.
“Mas… kursinya masih kosong.”
Aku tidak langsung menjawab.
Angin malam terasa dingin.
Lampu teras berpendar kuning.
Dan untuk pertama kalinya sejak Lebaran tahun itu dimulai…
aku merasa ada sesuatu yang sangat salah.
Tiba-tiba ponselku bergetar lagi.
Pesan WhatsApp dari Ibu.
Hanya satu foto.
Foto teras rumah.
Dua kursi di sana.
Satu kursi bambu.
Satu kursi plastik kecil.
Dan captionnya cuma satu kalimat.
“Bapak masih nunggu kamu.”
**PART 2**
Aku menatap foto yang dikirim Ibu itu lama sekali.
Lampu teras rumah terlihat redup. Warna kuningnya pucat. Kursi bambu di sebelah kiri. Kursi plastik kecil di sebelah kanan.
Kosong.
Di belakangnya pintu rumah terbuka sedikit. Dari dalam terlihat cahaya lampu ruang tamu.
Tidak ada bapak di foto itu.
Aku mengetik cepat.
“Bapak di mana Bu?”
Centang dua biru.
Tapi tidak dibalas.
Aku menatap layar ponsel beberapa detik lagi. Lalu mengetik lagi.
“Bu?”
Masih tidak ada balasan.
Di halaman rumah mertua, anak-anak sedang menyalakan petasan korek. Suaranya memecah malam. Orang-orang tertawa. Takbir dari masjid semakin keras.
Ponselku bergetar.
Pak Hasan.
Aku langsung mengangkat.
“Halo Pak.”
Suara Pak Hasan terdengar pelan.
“Mas… ini saya Hasan.”
“Iya Pak.”
“Bapakmu tadi masih duduk di kursi itu.”
Dadaku langsung menegang.
“Masih nunggu?”
“Iya.”
Pak Hasan menarik napas panjang di ujung telepon.
“Dari habis maghrib dia duduk di situ.”
Aku menatap foto yang masih terbuka di layar.
Dua kursi.
Kosong.
“Sekarang bapak di mana Pak?” tanyaku pelan.
Pak Hasan tidak langsung menjawab.
Beberapa detik hanya ada suara takbir dari masjid kampung di belakangnya.
Lalu ia berkata pelan.
“Tadi sempat berdiri sebentar.”
“Ngapain Pak?”
“Lihat ke jalan.”
Dadaku terasa makin berat.
“Dia bilang… mungkin bus kamu terlambat.”
Aku menutup mata.
Di belakangku, suara anak-anak tertawa.
Di depan rumah ada bau sate dari tetangga.
Semua terasa sangat normal.
Terlalu normal.
Pak Hasan kembali bicara.
“Tapi sekarang bapakmu sudah masuk rumah.”
Aku menghela napas panjang.
“Syukurlah.”
“Tapi tadi sebelum masuk rumah… dia bilang sesuatu.”
“Apa Pak?”
“Dia bilang… kalau kamu datang malam-malam, jangan lupa ketuk pintu.”
Aku tidak bisa menjawab.
Ponselku tiba-tiba berbunyi lagi.
Pesan WhatsApp.
Dari Ibu.
Aku langsung membuka.
Hanya satu kalimat.
“Bapak sudah tidur.”
Aku menatap pesan itu beberapa detik.
“Tidur di mana Bu?”
Centang dua.
Lalu balasan masuk.
“Di kursinya.”
Jantungku seperti berhenti.
Aku langsung menelpon Ibu.
Sekali.
Tidak diangkat.
Dua kali.
Tidak diangkat.
Aku menelpon lagi.
Masih tidak diangkat.
Tanganku mulai berkeringat.
Aku berdiri dari kursi teras rumah mertua.
“Kenapa?” tanya istriku dari dalam rumah.
Aku tidak menjawab.
Aku menelpon Pak Hasan lagi.
“Halo Pak!”
Suara Pak Hasan terdengar tergesa.
“Iya Mas.”
“Bapak tidur di kursi maksudnya gimana?”
Pak Hasan tidak langsung menjawab.
Aku bisa mendengar suara pintu kayu dibuka di belakangnya.
Langkah kaki.
Suara orang memanggil.
Lalu Pak Hasan kembali ke telepon.
Suaranya berubah.
Lebih tegang.
“Mas… kamu bisa pulang sekarang?”
Dadaku langsung dingin.
“Kenapa Pak?”
Pak Hasan menelan ludah.
“Bapakmu… dari tadi dipanggil Ibumu…”
Ia berhenti sebentar.
Lalu kalimat berikutnya keluar pelan.
“…tapi tidak bangun.”
**PART 3**
Aku berdiri di halaman rumah mertua dengan ponsel masih menempel di telinga.
Suara Pak Hasan di ujung telepon terdengar semakin panik.
“Ibumu sekarang lagi nangis, Mas.”
Darahku seperti turun ke kaki.
“Bapak masih di kursi?”
“Iya.”
“Coba bangunin Pak.”
Sudah beberapa detik tidak ada jawaban.
Hanya terdengar suara orang-orang di belakang Pak Hasan. Langkah kaki. Pintu kayu dibuka keras. Ada suara ibu memanggil.
“Pak… Pak… bangun…”
Suara itu jauh. Tapi aku mengenalnya.
Suara ibuku.
Tanganku mulai gemetar.
“Pak Hasan?”
Masih tidak ada jawaban.
Lalu tiba-tiba suara Pak Hasan kembali di telepon.
Lebih pelan.
“Mas… bapakmu dingin.”
Kepalaku langsung kosong.
“Apa?”
“Tangannya dingin.”
Aku tidak sadar sudah berjalan keluar pagar rumah mertua.
Suara petasan di jalan terasa seperti datang dari tempat yang sangat jauh.
“Mas… kamu bisa pulang sekarang?”
Aku menatap jalan.
Lampu-lampu rumah tetangga terang.
Anak-anak berlari sambil membawa petasan.
Dunia tetap berjalan seperti biasa.
“Pak… bapak… masih napas?”
Pak Hasan tidak menjawab beberapa detik.
Lalu suara ibu terdengar lagi di belakangnya.
Lebih keras.
Lebih panik.
“Pak Hasan… bapaknya tidak bangun…”
Pak Hasan menutup telepon sebentar.
Aku berdiri sendirian di pinggir jalan.
Takbir dari masjid semakin keras.
Dadaku terasa sesak.
Beberapa detik kemudian teleponku berdering lagi.
Pak Hasan.
Aku langsung angkat.
“Pak!”
Suara Pak Hasan terdengar berat.
“Mas… kita lagi bawa bapakmu ke puskesmas.”
“Masih hidup kan Pak?”
Pak Hasan tidak langsung menjawab.
“Pak?”
“Aku belum tahu, Mas.”
Tanganku makin gemetar.
“Mas… kamu bisa pulang sekarang?”
Aku melihat ke arah rumah mertua.
Lampu ruang tamu terang.
Orang-orang tertawa.
Televisi menyala keras.
Istriku berdiri di pintu memandangku bingung.
“Kenapa?” katanya.
Aku tidak bisa menjawab.
Ponsel masih di telingaku.
Pak Hasan berkata lagi.
“Mas… tadi sebelum duduk di kursi itu…”
“Apa Pak?”
“Bapakmu sempat ke warung.”
“Ngapain?”
“Beli sesuatu.”
Aku menelan ludah.
“Apa?”
“Dia beli dua botol teh kotak.”
Dadaku langsung terasa ditusuk sesuatu.
“Buat apa Pak?”
Pak Hasan menjawab pelan.
“Katanya… kalau kamu datang malam-malam… kamu pasti haus.”
Aku menutup mata.
Takbir terus menggema dari masjid.
Angin malam terasa dingin.
Pak Hasan berkata lagi.
“Mas…”
“Iya Pak…”
“Kursinya masih dua.”
Aku menatap jalan yang kosong.
Lampu-lampu rumah berpendar.
Lalu Pak Hasan berkata pelan.
“…tapi sekarang yang duduk cuma satu.”
**PART 4**
Aku tidak ingat kapan tepatnya aku mulai berlari masuk ke rumah mertua.
Ponsel masih di tangan.
Pak Hasan masih di ujung telepon.
Suara takbir dari masjid seperti menghantam kepalaku.
“Aku pulang sekarang, Pak.”
Pak Hasan tidak menjawab.
Aku masuk ruang tamu dengan napas tidak teratur.
Semua orang menoleh.
Televisi masih menyala keras. Anak-anak duduk di lantai makan kue kering. Saudara-saudara istriku tertawa di sofa.
Dunia mereka masih normal.
Istriku berdiri.
“Kenapa?”
Aku menatapnya.
Beberapa detik aku tidak bisa bicara.
Lalu kalimat itu keluar pelan.
“Bapak… dibawa ke puskesmas.”
Ruang tamu langsung hening.
“Kenapa?” tanya istriku cepat.
Aku menggeleng.
“Belum tahu.”
Tanganku masih gemetar.
Istriku langsung mengambil tas dari meja.
“Kita berangkat sekarang.”
Aku menatapnya.
“Kamu sama anak di sini saja.”
“Enggak.”
“Perjalanan jauh.”
“Enggak apa-apa.”
Aku menoleh ke arah ayah mertuaku.
“Pak… saya pinjam mobil.”
Ayah mertua langsung berdiri tanpa banyak tanya.
“Ambil saja.”
Ia mengambil kunci mobil dari gantungan dekat pintu.
Kunci itu jatuh ke tanganku.
Dingin.
Di luar rumah, petasan masih meledak di gang.
Kami masuk mobil terburu-buru.
Mesin mobil menyala.
Jam di dashboard menunjukkan **22:47**.
Perjalanan ke kampungku hampir delapan jam.
Aku menginjak gas.
Mobil keluar dari gang.
Lampu-lampu rumah lewat satu per satu.
Takbir masih terdengar dari berbagai arah.
Di kursi sebelahku, istriku membuka ponsel.
“Sudah ada kabar?”
Aku menggeleng.
Beberapa menit kemudian ponselku bergetar lagi.
Pak Hasan.
Aku langsung menekan tombol speaker.
“Halo Pak!”
Suara di ujung sana terdengar dari dalam kendaraan.
“Mas… kita sudah di puskesmas.”
Suara mesin ambulans terdengar di belakangnya.
“Gimana Pak?”
Tidak ada jawaban beberapa detik.
Hanya suara langkah kaki.
Pintu dibuka.
Orang berbicara.
Lalu Pak Hasan kembali.
“Dokter lagi periksa.”
Aku menatap jalan gelap di depan.
Lampu mobil memotong jalan desa yang sepi.
Tanganku mencengkeram setir lebih keras.
Beberapa detik terasa seperti sangat lama.
Lalu Pak Hasan berkata lagi.
“Mas…”
“Iya Pak…”
“Dokter bilang… bapakmu kena serangan jantung.”
Dadaku seperti dipukul.
“Sekarang gimana Pak?”
“Masih dicoba.”
Aku menarik napas panjang.
Istriku menatapku.
“Masih hidup?” bisiknya.
Aku tidak menjawab.
Karena aku juga belum tahu.
Mobil terus melaju.
Lampu-lampu jalan lewat cepat.
Beberapa kilometer kemudian, ponselku berbunyi lagi.
Pak Hasan.
Aku langsung menjawab.
“Pak!”
Di ujung sana, suara Pak Hasan terdengar pelan.
Sangat pelan.
“Mas…”
Aku menggenggam setir lebih kuat.
“Iya Pak.”
Pak Hasan berhenti beberapa detik.
Lalu ia berkata satu kalimat yang membuat seluruh dunia terasa berhenti.
“Dokter bilang… bapakmu sebenarnya sudah meninggal… sebelum sampai puskesmas.”
**PART 5**
Aku tidak langsung menginjak rem.
Mobil tetap melaju di jalan gelap.
Lampu depan menyapu aspal yang kosong.
Di kursi sebelahku, istriku menatap wajahku.
“Apa kata Pak Hasan?”
Aku tidak menjawab.
Tanganku masih memegang setir.
Tapi rasanya seperti bukan tanganku.
“Mas?”
Aku menelan ludah.
“Bapak… sudah tidak ada.”
Suara itu keluar pelan.
Istriku langsung menutup mulut.
Di kursi belakang, anak kami masih tidur. Kepalanya miring ke jendela.
Mobil terus melaju.
Takbir dari radio mobil terdengar pelan.
Aku mematikan radio itu.
Sunyi.
Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Hanya suara mesin mobil.
Dan napasku sendiri.
Ponselku kembali bergetar.
Pak Hasan lagi.
Aku menyalakan speaker.
“Halo Pak.”
Suara Pak Hasan terdengar berat.
“Mas… kamu tetap pulang ya.”
“Iya Pak.”
“Ibumu sekarang di rumah.”
Aku menelan ludah.
“Dia… nangis terus.”
Aku memejamkan mata sebentar.
“Bapak sekarang di mana Pak?”
“Sudah dibawa pulang.”
Aku mengangguk meski Pak Hasan tidak bisa melihat.
Mobil terus melaju.
Lampu jalan semakin jarang.
Di luar hanya gelap.
Beberapa menit kemudian Pak Hasan berkata lagi.
“Mas…”
“Iya Pak?”
“Tadi waktu di kursi…”
Aku menunggu.
“Bapakmu sempat pegang sesuatu.”
Dadaku menegang.
“Apa Pak?”
Pak Hasan terdengar membuka sesuatu di ujung telepon.
Suara plastik.
Lalu ia berkata.
“Ada amplop.”
“Amplop?”
“Iya.”
“Ada tulisan namamu.”
Tanganku langsung dingin.
“Apa isinya Pak?”
Pak Hasan menarik napas.
“Aku belum buka.”
Aku menatap jalan di depan.
Lampu mobil memotong kabut tipis.
“Pak… tolong jangan dibuka dulu.”
“Iya Mas.”
Beberapa detik hening.
Lalu Pak Hasan berkata lagi.
“Mas… ada satu lagi.”
“Apa Pak?”
“Tadi di samping kursi bapakmu…”
“Iya?”
“Ada kantong plastik dari warung.”
Dadaku terasa semakin berat.
“Isinya apa?”
Pak Hasan menjawab pelan.
“Dua teh kotak.”
Aku menutup mata.
Setir mobil terasa dingin di tanganku.
Pak Hasan melanjutkan.
“Mas… satu sudah dibuka.”
“Yang satu lagi?”
“Masih utuh.”
Aku menatap jalan yang gelap.
Lalu Pak Hasan berkata lagi.
“Mas…”
“Iya Pak…”
“Di kursi plastik kecil itu… bapakmu juga taruh satu bungkus nastar.”
**PART 6**
Jam di dashboard mobil menunjukkan **01:38**.
Jalan antar kota hampir kosong.
Lampu-lampu warung yang biasanya ramai saat mudik sekarang hanya tinggal beberapa yang masih menyala.
Aku tidak bicara sejak telepon dengan Pak Hasan tadi.
Istriku juga diam.
Di kursi belakang, anak kami masih tidur. Nafasnya pelan. Kepalanya terguncang sedikit setiap mobil melewati jalan yang tidak rata.
Tanganku terus mencengkeram setir.
Kepalaku hanya dipenuhi satu gambar.
Teras rumah.
Dua kursi.
Teh kotak.
Nastar.
Ponselku bergetar lagi.
Pak Hasan.
Aku langsung menjawab.
“Halo Pak.”
Suara Pak Hasan terdengar lebih tenang sekarang.
“Mas… kamu sudah di mana?”
“Masih di jalan, Pak.”
“Kira-kira subuh sampai.”
“Iya.”
Di ujung telepon terdengar suara orang berbicara pelan.
Seperti suara orang-orang di rumah duka.
Pak Hasan berkata lagi.
“Mas… bapakmu sekarang sudah dimandikan.”
Dadaku terasa berat.
“Di rumah?”
“Iya.”
Aku tidak menjawab.
Lampu mobil menyorot papan nama desa yang kami lewati.
Masih jauh.
Pak Hasan kembali bicara.
“Tadi waktu kami angkat bapakmu dari kursi…”
Aku menelan ludah.
“Iya Pak?”
“Tangannya masih pegang amplop itu.”
Tanganku langsung menegang.
“Ada tulisan apa Pak?”
Pak Hasan membuka amplop itu.
Suara kertas terdengar dari telepon.
Lalu ia membaca pelan.
“Untuk ongkos pulang kamu.”
Aku langsung mengerem sedikit.
Mobil oleng sebentar sebelum kembali lurus.
Istriku menatapku kaget.
“Kenapa?”
Aku tidak menjawab.
Di ujung telepon, Pak Hasan masih memegang amplop itu.
“Mas…”
“Iya Pak…”
“Di dalamnya ada uang.”
“Berapa Pak?”
Pak Hasan menghitung.
Suara kertas.
Lalu ia berkata pelan.
“Tiga juta.”
Tanganku langsung gemetar.
Pak Hasan melanjutkan.
“Mas… ini persis harga tiket bus yang kamu bilang waktu terakhir pulang ke kampung.”
Aku menatap jalan di depan.
Tiba-tiba pandanganku buram.
Pak Hasan berkata lagi.
“Mas… bapakmu tidak pernah bilang ke siapa-siapa.”
“Bilang apa Pak?”
“Kalau dia sudah menabung lama buat itu.”
Aku tidak bisa bicara.
Beberapa detik hanya ada suara mesin mobil.
Lalu Pak Hasan berkata satu hal lagi.
“Mas… ternyata bapakmu bukan menunggu kamu datang.”
Dadaku langsung menegang.
“Maksudnya Pak?”
Pak Hasan menjawab pelan.
“Dia sebenarnya… mau kasih kamu uang itu kalau kamu benar-benar datang malam ini.”
**PART 7**
Mobil berhenti di pinggir jalan.
Aku tidak sadar kapan kakiku menginjak rem.
Lampu hazard berkedip pelan.
Jalan antar kota kosong. Hanya satu truk lewat pelan dari arah berlawanan.
Tanganku masih memegang setir.
Tapi aku tidak melihat jalan lagi.
Yang kulihat hanya amplop itu.
Tiga juta rupiah.
Uang yang selama ini kupakai sebagai alasan untuk tidak pulang.
Di kursi sebelah, istriku menatapku.
“Mas… kamu berhenti kenapa?”
Aku tidak langsung menjawab.
Dadaku terasa sesak.
Akhirnya kalimat itu keluar.
“Bapak nabung uang buat tiket pulangku.”
Istriku membeku.
“Apa?”
Aku menelan ludah.
“Pak Hasan bilang… ada amplop. Isinya tiga juta.”
Istriku menutup mulut.
Beberapa detik mobil hanya dipenuhi suara napas kami.
Takbir dari masjid desa yang jauh terdengar samar melalui kaca mobil.
Aku kembali menyalakan mesin.
Mobil bergerak lagi.
Perjalanan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Beberapa jam kemudian, langit mulai sedikit terang.
Subuh hampir datang.
Ketika mobil masuk ke jalan kampung, aku langsung mengenali gang kecil itu.
Gang sempit dengan lampu kuning di tiap tiang.
Beberapa tetangga sudah duduk di teras rumah.
Mereka menoleh saat mobilku masuk.
Mobil berhenti di depan rumah.
Rumah itu terlihat sama seperti terakhir kali aku pulang dua tahun lalu.
Cat temboknya mulai pudar.
Lampu teras menyala redup.
Dan di sana.
Dua kursi masih ada.
Kursi bambu.
Dan kursi plastik kecil.
Kosong.
Aku keluar dari mobil.
Kakiku terasa berat saat melangkah ke teras.
Beberapa tetangga berdiri pelan.
Pak Hasan keluar dari dalam rumah.
Matanya merah.
Ia langsung mendekat.
“Mas…”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya melihat kursi bambu itu.
Di atas meja kecil di sampingnya ada dua teh kotak.
Satu sudah terbuka.
Sedotannya masih menempel.
Yang satu lagi masih utuh.
Pak Hasan berdiri di sampingku.
“Bapakmu duduk di sini sampai hampir jam sebelas malam.”
Aku tidak bergerak.
Pak Hasan menunjuk kursi plastik kecil.
“Yang ini buat cucumu.”
Tanganku gemetar.
Aku duduk pelan di kursi bambu itu.
Kursi itu berderit pelan.
Seperti ada yang baru saja bangun dari sana.
Pak Hasan mengeluarkan amplop cokelat dari sakunya.
“Ini yang bapakmu pegang.”
Tanganku mengambil amplop itu.
Kertasnya sudah sedikit kusut.
Di depan amplop ada tulisan tangan bapak.
Tulisan yang sangat kukenal.
“Untuk ongkos pulang kamu.”
Tanganku bergetar saat membuka amplop itu.
Tiga juta rupiah.
Uang seratus ribuan.
Disusun rapi.
Di dalam amplop itu juga ada satu kertas kecil.
Aku membukanya.
Tulisan tangan bapak.
Pendek.
Sederhana.
“Kalau uangnya kurang, bilang bapak.”
Aku tidak sadar kapan air mata mulai jatuh.
Pak Hasan berdiri di sampingku.
Lalu ia berkata pelan.
“Mas…”
Aku mengangkat kepala.
Pak Hasan menunjuk ke dalam rumah.
“Bapakmu sebenarnya masih mau ngomong sesuatu malam itu.”
Dadaku langsung menegang.
“Apa Pak?”
Pak Hasan menarik napas panjang.
“Dia sempat bilang…”
Aku menunggu.
Lalu Pak Hasan menyelesaikan kalimat itu.
“…kalau kamu benar-benar datang malam ini, dia mau kasih kejutan.”
**PART 8**
Aku masih duduk di kursi bambu itu.
Amplop dari bapak masih di tanganku.
Kertas kecil dengan tulisan tangannya masih terbuka.
Angin subuh masuk pelan ke teras.
Lampu kuning di atas pintu bergetar sedikit.
Pak Hasan berdiri di depanku.
“Mas…”
Aku mengangkat kepala.
“Apa kejutan itu, Pak?”
Pak Hasan tidak langsung menjawab.
Ia menoleh ke dalam rumah.
Beberapa orang kampung berjalan keluar membawa ember air. Ada yang menunduk saat melewati teras. Ada yang menepuk bahuku pelan.
Suasana rumah duka terasa berat.
Pak Hasan kembali menatapku.
“Bapakmu sempat cerita beberapa hari lalu.”
“Apa Pak?”
Pak Hasan menghela napas.
“Dia bilang… tahun ini kamu pasti pulang.”
Dadaku langsung terasa sempit.
“Kenapa dia yakin?”
Pak Hasan menunjuk amplop di tanganku.
“Karena uang itu sudah cukup.”
Aku tidak bicara.
Pak Hasan melanjutkan.
“Bapakmu bilang… kalau kamu datang malam takbiran…”
Ia berhenti sebentar.
“…dia mau kasih uang itu supaya kamu tidak perlu mikir biaya pulang lagi tahun depan.”
Aku menunduk.
Tanganku masih memegang amplop.
Pak Hasan duduk di kursi plastik kecil.
Kursi yang tadi disiapkan untuk anakku.
“Mas… ada satu lagi yang kamu belum tahu.”
Aku menatapnya.
“Apa Pak?”
Pak Hasan menunjuk ke arah ruang tamu.
“Coba kamu lihat di dalam.”
Aku berdiri perlahan.
Kakiku terasa berat saat melangkah melewati pintu.
Ruang tamu rumah itu masih sama.
Karpet lama.
Lemari kayu.
Foto keluarga di dinding.
Di lantai ada tikar tempat bapak dibaringkan sebelum dimandikan.
Sekarang kosong.
Aku melihat meja kecil di dekat jendela.
Di atasnya ada sesuatu.
Sebuah tas plastik.
Aku mendekat.
Tanganku membuka tas itu.
Di dalamnya ada baju koko kecil.
Masih baru.
Masih ada label harga.
Aku menelan ludah.
“Pak Hasan…”
Pak Hasan berdiri di belakangku.
“Bapakmu beli itu kemarin di pasar.”
Dadaku seperti diremas.
“Buat siapa?”
Pak Hasan menunjuk ke arah luar.
“Buat cucunya.”
Aku menutup mata sebentar.
Di dalam tas plastik itu juga ada satu barang lagi.
Kotak kecil.
Aku membukanya.
Di dalamnya ada peci anak-anak.
Masih baru.
Pak Hasan berkata pelan.
“Bapakmu bilang… kalau cucumu datang Lebaran ini…”
Ia berhenti sebentar.
“…dia mau ajak salat Ied bareng.”
**PART 9**
Aku masih berdiri di ruang tamu dengan tas plastik itu di tangan.
Baju koko kecil.
Peci anak-anak.
Masih baru.
Label harganya masih menempel.
Di luar rumah, suara orang-orang mulai berdatangan. Tetangga satu per satu masuk membawa termos, karpet, dan kursi lipat.
Suasana rumah duka semakin ramai.
Pak Hasan berdiri di dekat pintu.
“Mas…”
Aku menoleh.
“Ibumu di kamar.”
Dadaku langsung menegang.
Aku berjalan pelan menuju kamar orang tuaku.
Pintu kayu itu setengah terbuka.
Lampu di dalam menyala redup.
Ibu duduk di pinggir ranjang.
Matanya merah.
Di tangannya ada handuk kecil.
Ketika melihatku masuk, ia berdiri.
Beberapa detik kami hanya saling menatap.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Ibu yang lebih dulu bicara.
“Kamu datang.”
Suara itu pelan.
Aku mengangguk.
“Iya Bu.”
Ibu menatap wajahku lama.
Lalu ia memegang lenganku.
Tangannya dingin.
“Kamu capek?”
Aku tidak bisa menjawab.
Aku hanya menggeleng.
Ibu menatap tas plastik di tanganku.
“Itu kamu sudah lihat?”
Aku mengangguk.
Ibu duduk kembali di ranjang.
Tangannya memegang ujung selimut.
“Bapak kamu beli itu kemarin.”
Aku duduk di kursi kecil di depan ranjang.
Ibu menatap lantai.
“Dia bangun pagi sekali.”
Aku mendengarkan.
“Dia bilang… tahun ini cucunya pasti datang.”
Dadaku terasa semakin berat.
Ibu menarik napas panjang.
“Dia pergi ke pasar sendirian.”
Ibu mengusap matanya.
“Dia pulang bawa baju itu.”
Aku menunduk.
Ibu melanjutkan.
“Dia juga beli dua teh kotak.”
Aku langsung teringat plastik dari warung.
Ibu menatapku.
“Dia bilang… kalau kamu datang malam takbiran…”
Ia berhenti sebentar.
“…kamu pasti haus.”
Ruangan itu sunyi beberapa detik.
Lalu ibu berkata lagi.
“Tapi kamu tidak datang.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan marah.
Tidak juga dengan nada menyalahkan.
Justru sangat pelan.
Itulah yang membuat dadaku terasa lebih sakit.
Aku memegang tas plastik itu lebih erat.
“Bu…”
Ibu menatapku.
Aku menarik napas panjang.
“Maaf.”
Ibu tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap wajahku.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan.
“Bapak kamu tidak pernah marah.”
Aku menunduk.
Ibu melanjutkan.
“Dia cuma bilang satu hal sebelum duduk di teras malam itu.”
Aku mengangkat kepala.
“Apa Bu?”
Ibu menatap pintu kamar.
Seolah melihat kembali kejadian tadi malam.
Lalu ia berkata pelan.
“Dia bilang… kalau anakku datang malam ini…”
Aku menunggu.
Ibu menyelesaikan kalimat itu dengan suara yang hampir berbisik.
“…Lebaran tahun ini akhirnya lengkap.”
**PART 10**
Subuh sudah lewat ketika matahari mulai muncul pelan dari balik rumah-rumah di kampung.
Udara pagi terasa dingin.
Di halaman rumah, orang-orang kampung mulai berdatangan untuk melayat.
Beberapa membawa kursi plastik.
Beberapa membawa termos kopi.
Suara salam dan langkah sandal memenuhi teras.
Aku duduk di kursi bambu yang sama.
Kursi tempat bapak menungguku semalam.
Di tanganku masih ada amplop cokelat itu.
Tiga juta rupiah.
Uang yang selama ini kupakai sebagai alasan untuk tidak pulang.
Di sebelahku, anakku berdiri kecil memegang tanganku.
Ia baru bangun beberapa menit lalu.
Rambutnya masih berantakan.
Ia menatap dua teh kotak di meja kecil.
“Papa…”
Aku menoleh.
“Kenapa ada minum di sini?”
Aku tidak langsung menjawab.
Istriku keluar dari dalam rumah membawa tas plastik.
Baju koko kecil.
Peci anak-anak.
Ia berjongkok di depan anak kami.
“Ini dari Kakek.”
Anakku menatap baju itu.
Matanya berbinar.
“Buat aku?”
Istriku mengangguk.
Anakku langsung memeluk baju koko itu.
“Bagus…”
Aku menutup mata sebentar.
Angin pagi masuk pelan ke teras.
Lampu teras dimatikan oleh Pak Hasan.
Cahaya matahari mulai menggantikan.
Pak Hasan berdiri di dekat pintu.
“Mas… sebentar lagi orang-orang mau salat Ied.”
Aku mengangguk pelan.
Anakku masih memegang baju koko itu.
“Papa… aku pakai sekarang?”
Aku menatapnya.
Beberapa detik aku tidak bisa bicara.
Lalu aku mengangguk.
“Iya.”
Istriku membantu memakaikan baju koko itu.
Pas.
Seolah bapak sudah mengukur ukurannya sejak awal.
Peci kecil dipasang di kepalanya.
Anakku berdiri di depanku.
“Papa… aku ganteng?”
Aku tersenyum.
“Iya.”
Beberapa menit kemudian kami berjalan menuju lapangan kecil di ujung kampung.
Orang-orang sudah mulai berkumpul.
Takbir masih terdengar dari pengeras suara masjid.
Anakku berjalan di sampingku.
Tangannya menggenggam tanganku erat.
Ketika kami sampai di lapangan, Pak Hasan berdiri di sebelahku.
Ia melihat anakku dari ujung kepala sampai kaki.
“Bapakmu pasti senang lihat ini.”
Dadaku terasa hangat sekaligus berat.
Aku menatap anakku yang sedang melihat orang-orang saling bersalaman.
Tak lama kemudian imam mulai berdiri di depan.
Orang-orang merapatkan barisan.
Aku berdiri di saf.
Anakku berdiri di sampingku.
Tiba-tiba ia menarik bajuku.
“Papa…”
Aku menunduk.
“Kenapa?”
Ia berbisik pelan.
“Kalau kakek masih ada… dia berdiri di mana?”
Dadaku terasa sesak.
Aku menatap barisan di depan.
Lalu menunduk lagi ke arah anakku.
“Di sebelah kita.”
Anakku mengangguk pelan.
Lalu ia berdiri lebih rapat ke sampingku.
Takbir mulai dikumandangkan.
Aku mengangkat tangan.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
Lebaran itu akhirnya terasa lengkap.
Bukan karena semuanya sempurna.
Tapi karena aku akhirnya pulang.