MANTAN ISTRI GUE MAKIN CANTIK.DAN SIALNYA, DIA BUKAN MILIK GUE LAGI.DAN LEBIH SIAL LAGI…GUE JATUH CINTA UNTUK KEDUA KALINYA.

Sore itu panasnya Tangerang nggak ada sopan-sopannya.
Aspal parkiran Indomaret berkilau.
Motor keluar masuk.
Klakson tipis-tipis.
Angin bau knalpot.

Gue berdiri depan etalase minuman dingin.
Milih air mineral paling murah.

Dompet tipis.
Kepala juga lagi penuh.

Pintu geser bunyi.

“Cklek.”

Gue nggak nengok.

Sampai ada suara heels kecil ngetok lantai keramik.

Tak.
Tak.
Tak.

Gue kenal suara itu.

Dan bodohnya… jantung gue langsung salah irama.

Gue nengok.

Dia.

Rambutnya lebih panjang.
Dulu cuma sebahu. Sekarang jatuh sampai punggung.
Lurus. Hitam. Mengkilap.

Mukanya lebih tirus.
Kulitnya bersih.
Nggak ada lagi jerawat kecil yang dulu sering dia tutupin pakai bedak tebal.

Blouse krem simpel.
Celana hitam.
Tas kecil di bahu.

Elegan.

Bukan lagi perempuan yang dulu rebutan remote TV sama gue.

Itu mantan istri gue.

Rani.

Empat tahun lalu kami tanda tangan surat cerai di Pengadilan Agama.
Tanpa drama.
Tanpa ribut.
Cuma diam panjang.
Dan tatapan kosong.

Sekarang dia berdiri tiga meter dari gue.

Ngecek rak camilan.

Seolah-olah dunia nggak pernah hancur.

Dia nengok.

Tatapan kami tabrakan.

Diam.

Cuma suara kulkas minuman berdengung.
Anak kecil nangis di luar.

“Jun?”

Suara dia masih sama.

Gue telan ludah.

“Iya.”

Dia senyum kecil.
Nggak canggung.
Nggak panik.

“Lama nggak ketemu.”

“Iya.”

Bego banget jawaban gue.

Dia lihat keranjang belanja gue.
Mie instan tiga.
Telur setengah kilo.

Dia nggak komentar.

Tapi gue tau.

Dia dulu paling nggak suka gue makan mie malam-malam.

“Masih di ruko yang dulu?” dia tanya.

“Iya.”

Gue mau tanya balik.
Tapi takut.

Takut denger jawabannya.

Dan Tuhan kayaknya lagi hobi ngetes mental gue sore itu.

Pintu geser bunyi lagi.

“Cklek.”

Seorang laki-laki masuk.

Tinggi.
Rapi.
Kemeja biru muda.
Jam tangan mahal.
Kunci mobil digantung di jari.

Dia langsung berdiri di samping Rani.

Refleks.
Natural.
Kayak itu tempatnya.

“Udah, Say?” dia tanya lembut.

Say.

Gue denger jelas.

Rani nengok ke dia.
Senyum yang beda.

Senyum yang dulu buat gue.

“Iya, bentar.”

Laki-laki itu baru sadar ada gue.

“Oh.”

Rani cepat ngomong.

“Ini Junaidi… mantan suami aku.”

Mantan suami aku.

Resmi.
Final.
Tanpa koma.

Laki-laki itu ulur tangan.

“Rizal.”

Tangannya hangat.
Pegangannya mantap.
Percaya diri.

Gue angguk.

Dia suaminya sekarang.

Dan anehnya…

Gue nggak marah.

Gue cuma sadar satu hal.

Rani kelihatan bahagia.

Bukan bahagia pura-pura.
Bukan senyum basa-basi.

Matanya beda.

Gue tau mata itu.

Dulu mata itu sering sembab karena gue pulang larut.
Karena gue sibuk ngejar proyek nggak jelas.
Karena gue gengsi ngaku usaha gue lagi jatuh.

Sekarang matanya terang.

Rizal bayar belanjaan.
Rani berdiri di sampingnya.

Gue keluar duluan.

Nggak kuat.

Udara luar panas banget.
Tapi dada gue lebih panas.

Motor gue parkir di pojok.

Gue duduk di jok.
Helm belum dipakai.

Pintu geser bunyi lagi.

Mereka keluar.

Rizal buka pintu mobil. SUV hitam. Kinclong.

Rani masuk.

Sebelum pintu nutup…
dia nengok ke arah gue.

Sepersekian detik.

Nggak ada kebencian.
Nggak ada penyesalan.

Cuma tenang.

Mobil jalan.

Gue masih duduk.

Motor gue lebih tua dari pernikahan mereka kayaknya.

Dan di situ gue sadar sesuatu yang bikin dada makin sesak.

Gue masih cinta sama dia.

Bukan nostalgia.
Bukan ego.

Tapi cara dia berdiri tadi.
Cara dia ngomong.
Cara dia kelihatan utuh.

Gue nyalain motor.

Mesin batuk dua kali.

“Tek… tek… brum.”

Lampu merah bikin gue berhenti lama.

HP gue getar.

Notifikasi WhatsApp.

Nama yang muncul bikin tangan gue dingin.

Rani.

Pesannya cuma satu:

“Jun, boleh ketemu sebentar? Ada yang mau aku omongin.”

Lampu hijau nyala.

Belakang gue diklaksonin.

Gue masih bengong.

Bukannya semuanya udah selesai empat tahun lalu?

Gue balas singkat.

“Di mana?”

Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.

“Besok sore. Di tempat biasa kita dulu.”

Tempat biasa.

Warung kopi kecil di ujung gang kontrakan pertama kami.

Tempat gue dan dia dulu ngitung uang receh buat bayar listrik.
Tempat kami pelan-pelan retak.

Gue matiin HP.

Angin sore nabrak muka gue.

Empat tahun gue pikir perasaan ini udah mati.

Ternyata cuma tidur.

Dan besok…

gue bakal duduk lagi di meja yang dulu jadi saksi kita berantem soal uang sewa.

Bedanya sekarang,
dia datang sebagai istri orang.

Dan gue datang…
dengan perasaan yang belum selesai.

PART 2

Warung kopi itu masih sama.

Plastik bening nutup separuh depan.
Kipas tua muter pelan.
Suara toa masjid magrib samar dari ujung gang.

Gue datang duluan.

Duduk di meja pojok.

Meja kayu yang dulu pernah gue pukul pakai tangan karena tagihan listrik nunggak.

Bekas goresannya masih ada.

Gue geser kursi.

Bunyi gesekan kayu bikin kepala makin penuh.

Abang warung datang.

“Seperti biasa, Bang?”

Gue angguk.

Kopi hitam tanpa gula.

Dulu Rani selalu ngomel tiap gue pesen itu.

“Lambung kamu rusak nanti, Jun.”

Sekarang nggak ada yang ngomel.

HP gue di atas meja.

Layar mati.

Jam 17.21.

Dia belum datang.

17.24.

Ada suara motor masuk gang.

Bukan.

Lewat.

17.28.

Jantung gue makin nggak jelas.

Lalu suara mobil pelan masuk gang sempit.

Mesinnya halus.

Gue nggak perlu nengok buat tau itu mobil siapa.

Pintu mobil nutup.

Suara heels itu lagi.

Tak.
Tak.
Tak.

Dia berhenti depan meja gue.

Blouse putih hari ini. Rambutnya diikat setengah.

Lebih sederhana dari kemarin.

Tapi tetap… bikin napas gue berat.

“Lama?” dia tanya.

“Baru.”

Padahal gue udah dari setengah jam lalu.

Dia duduk.

Jarak meja itu kecil.

Terlalu kecil buat dua orang yang pernah serumah.

Abang warung datang.

“Teh manis hangat, Bang.”

Masih sama.

Dia nggak pernah suka kopi.

Diam.

Kipas berderit.

Orang ketawa di meja belakang.

Rani tarik napas pelan.

“Aku nggak lama, Jun. Cuma mau ngomong sebentar.”

Gue angguk.

Tangan gue di bawah meja saling genggam sendiri.

“Aku sama Rizal… baik.”

Kalimat itu masuk pelan. Tapi berat.

Gue cuma bilang, “Iya.”

Dia lihat mata gue.

“Nggak ada apa-apa antara aku sama kamu yang belum selesai.”

Kalimat itu bikin dada gue kayak dipukul.

Belum selesai?

Atau memang udah selesai… cuma gue yang belum move on?

Dia lanjut.

“Kemarin aku kirim pesan bukan buat buka luka lama.”

Gue diam.

Dia ambil sesuatu dari tasnya.

Map cokelat tipis.

Gue kenal map itu.

Map murah beli di fotokopian depan gang.

Empat tahun lalu… gue pernah bawa map yang sama ke Pengadilan Agama.

Tangan gue mulai dingin.

Dia dorong map itu ke arah gue.

“Aku mau balikin ini.”

Gue buka pelan.

Di dalamnya ada sertifikat ruko.

Nama di atasnya: Junaidi Karo Karo.

Tangan gue berhenti.

Itu ruko kecil yang dulu gue pertahanin mati-matian.

Yang akhirnya gue lepas karena butuh nutup utang.

Gue tatap dia.

“Ini… kan udah aku jual.”

Dia geleng pelan.

“Nggak pernah kejual, Jun.”

Dunia kayak berhenti satu detik.

“Waktu itu kamu pikir aku setuju jual ke orang luar.”

Dia lihat ke arah jalan sebentar.

“Yang beli… aku.”

Suara sendok jatuh di meja belakang.

Gue nggak kedip.

“Aku pakai tabungan yang aku simpan diam-diam. Tambah pinjam dari orang tua.”

Dada gue naik turun.

“Kenapa?”

Suara gue serak.

Dia jawab pelan.

“Karena aku tau satu hari kamu bakal bangun lagi.”

Angin masuk lewat plastik depan warung.

Map itu masih di tangan gue.

“Oke… terus sekarang?”

Dia tatap gue lurus.

“Aku mau balikin.”

Jantung gue makin kacau.

“Rizal tau?”

Dia angguk.

“Dia yang nyuruh.”

Nama itu bikin gue makin bingung.

“Kenapa?”

Rani tersenyum kecil.

“Karena dia bilang, masa lalu itu nggak harus dihapus. Tapi harus diselesaikan dengan benar.”

Kata “diselesaikan” bikin kepala gue berputar.

Diselesaikan gimana?

Gue lihat sertifikat itu lagi.

Nama gue.

Ruko itu.

Tempat gue mulai semuanya.

Tempat gue jatuh.

Dan sekarang…

Dia mau balikin?

Kenapa sekarang?

Kenapa setelah empat tahun?

Kenapa setelah dia jadi istri orang?

Rani berdiri pelan.

“Aku cuma mau kamu tau satu hal.”

Gue ikut berdiri.

“Apa?”

Dia lihat mata gue lebih dalam dari kemarin.

“Kita dulu gagal bukan karena kita nggak cinta.”

Angin berhenti.

“Toa masjid mulai adzan.”

Dia lanjut.

“Tapi karena kita sama-sama gengsi.”

Dia ambil tasnya.

“Aku nggak mau kamu terus mikir aku ninggalin kamu waktu kamu jatuh.”

Gue masih berdiri kaku.

“Karena kenyataannya… aku nggak pernah benar-benar ninggalin.”

Kalimat itu nggak selesai di kepala gue.

Dia melangkah pergi.

Heels itu menjauh.

Tak.
Tak.
Tak.

Gue berdiri di warung kopi dengan map di tangan.

Sertifikat ruko atas nama gue.

Dan satu kalimat yang terus muter di kepala.

“Aku nggak pernah benar-benar ninggalin.”

Tiba-tiba HP gue bunyi.

Pesan masuk.

Dari nomor yang nggak gue simpan.

“Mas Jun, saya Rizal. Bisa ketemu sebentar malam ini? Saya rasa kita perlu ngobrol.”

Gue lihat ujung gang.

Mobilnya belum jalan.

Rani masih berdiri di samping pintu mobil.

Nunggu.

Dan entah kenapa…

Gue merasa cerita ini belum masuk ke bagian yang paling sakit.

PART 3

Mobilnya belum jalan.

Rani berdiri di samping pintu.
Nggak masuk.
Nggak pergi.

HP gue masih di tangan.
Pesan dari Rizal kebuka.

“Mas Jun, saya di dalam mobil. Kalau berkenan, sekarang saja.”

Sekarang.

Bukan nanti.

Bukan besok.

Sekarang.

Gue tarik napas.

Langkah gue berat tapi tetap jalan.

Setiap langkah bunyi kerikil kecil di bawah sendal.

Rizal turun dari mobil sebelum gue sampai.

Dia tutup pintu pelan.

Rani masuk ke dalam mobil tanpa ngomong apa-apa.

Sekarang cuma gue dan dia di bawah lampu jalan yang mulai nyala.

Gang sempit.
Bau gorengan dari ujung.
Suara anak kecil main bola.

Rizal buka duluan.

“Saya nggak mau ini jadi salah paham.”

Gue diam.

Dia lanjut.

“Ruko itu memang atas nama Mas lagi mulai malam ini.”

Mulai malam ini.

Kalimatnya tegas.

“Kenapa?” gue tanya.

Rizal nggak langsung jawab.

Dia lihat ke arah warung kopi sebentar.

“Waktu saya kenal Rani… dia cerita semuanya.”

Semuanya.

Tentang gue juga.

Tentang utang.

Tentang proyek gagal.

Tentang gue yang gengsi.

Tentang dia yang diam-diam nangis di kamar mandi.

Rizal lanjut pelan.

“Dia nggak pernah jelek-jelekin Mas.”

Dada gue ketarik.

“Dia cuma bilang… dia dan Mas sama-sama keras kepala.”

Angin lewat lagi.

Lampu motor nyorot sebentar lalu hilang.

“Mas tau kenapa dia simpan ruko itu?” Rizal tanya.

Gue geleng pelan.

“Karena itu satu-satunya hal yang Mas bangun pakai keringat sendiri.”

Suara dia tenang.

Bukan nada orang menang.

Bukan nada orang pamer.

Lebih kayak… orang yang lagi ngerapihin sesuatu.

“Saya nggak pernah merasa bersaing sama Mas,” dia lanjut.

Itu kalimat yang bikin gue angkat kepala.

“Karena cerita Mas dan Rani sudah selesai sebelum saya datang.”

Selesai.

Kata itu lagi.

“Tapi kalau ada yang belum selesai secara tanggung jawab… ya harus diberesin.”

Gue liat dia lama.

“Lo nggak takut?” gue tanya akhirnya.

Rizal senyum tipis.

“Takut apa?”

“Kalau gue… masih punya rasa.”

Dia nggak langsung jawab.

Beberapa detik cuma suara kipas warung dari kejauhan.

“Ada rasa itu manusiawi, Mas,” dia bilang pelan.
“Yang penting pilihan.”

Pilihan.

Dia lihat ke arah mobil.

Rani kelihatan dari balik kaca.
Duduk diam.
Nggak lihat ke arah kami.

“Dia milih saya,” Rizal lanjut.
“Dan saya milih percaya sama dia.”

Kalimat itu nggak tinggi.
Tapi kuat.

Gue ngerasa kayak lagi ngaca.

Empat tahun lalu…
gue nggak pernah benar-benar percaya sama dia.

Gue terlalu sibuk curiga sama keadaan.

“Ruko itu bukan hadiah,” Rizal bilang lagi.
“Bukan juga rasa kasihan.”

“Terus?”

“Penutup.”

Gue diam.

“Biar Mas bisa mulai lagi tanpa bawa beban masa lalu.”

Kata “mulai lagi” bikin kepala gue berat.

Rizal masukin tangan ke saku.

“Ada satu hal lagi yang Mas harus tau.”

Nada suaranya berubah sedikit.

Lebih serius.

“Waktu Mas jual ruko itu dulu… utangnya nggak cukup tertutup.”

Jantung gue berhenti satu detik.

“Maksud lo?”

“Selisihnya dibayar Rani.”

Suara anak kecil berhenti main bola.

Gang jadi lebih sunyi.

“Dia nggak mau Mas tau,” Rizal lanjut.
“Karena dia tau Mas bakal nolak.”

Gue nggak bisa ngomong.

Dulu gue pikir gue sendirian waktu jatuh.

Ternyata nggak.

Ternyata ada tangan yang tetap pegang dari belakang…
dan gue nggak pernah nengok.

“Sekarang semua sudah lunas,” Rizal bilang.
“Secara hukum. Secara uang. Secara cerita.”

Dia tatap gue lurus.

“Mas bebas.”

Bebas.

Kata itu nggak langsung enak.

Kadang bebas justru bikin kosong.

Rizal buka pintu mobil.

Sebelum masuk, dia berhenti.

“Mas Jun.”

Gue lihat dia.

“Rani nggak pernah berhenti doain Mas.”

Pintu mobil nutup.

Mesin mobil nyala halus.

Mobil mundur pelan keluar gang.

Gue berdiri sendirian di bawah lampu jalan.

Map cokelat masih di tangan gue.

Sertifikat atas nama gue.

Utang lunas.

Cerita selesai.

Harusnya gue lega.

Tapi kenapa dada gue justru berat?

HP gue getar lagi.

Pesan dari Rani.

“Maaf kalau selama ini caranya salah.”

Lalu satu lagi.

“Sekarang kamu bisa mulai lagi tanpa benci aku.”

Gue berdiri lama di situ.

Sampai mobilnya benar-benar hilang dari ujung gang.

Dan untuk pertama kalinya sejak empat tahun lalu…

Gue nggak merasa kalah.

Tapi gue juga belum merasa selesai.

Karena ada satu hal yang baru gue sadari malam itu.

Selama ini gue pikir gue kehilangan dia.

Padahal yang sebenarnya gue kehilangan…

adalah diri gue sendiri.

Dan mungkin…

ruko itu bukan cuma tentang bangunan.

Tapi tentang kesempatan kedua.

PART 4

Malam itu gue nggak langsung pulang.

Gue duduk lagi di warung kopi.

Map cokelat di atas meja.

Abang warung liat gue heran.

“Kopi lagi, Bang?”

Gue angguk.

Kali ini gue tambahin gula.

Abang warung sampai senyum tipis.

Empat tahun lalu Rani selalu bilang kopi pahit bikin gue makin keras kepala.

Mungkin dia nggak salah.

HP gue masih di tangan.

Pesan terakhir dari Rani belum gue balas.

“Sekarang kamu bisa mulai lagi tanpa benci aku.”

Tanpa benci.

Gue baru sadar…

selama ini gue nggak pernah marah sama dia.

Gue marah sama diri gue sendiri.

Karena waktu usaha jatuh, gue nutup diri.

Karena waktu dia ajak ngobrol, gue bilang, “Udah, kamu nggak ngerti.”

Padahal dia ngerti.

Lebih dari yang gue kira.

Gue buka map lagi.

Sertifikat itu asli.

Stempel notaris baru.

Tanggal hari ini.

Artinya ini bukan rencana mendadak.

Ini disiapin.

Dirapihin.

Diselesaikan.

Bukan cuma perasaan.

Tapi administrasi.

Jam di HP nunjukin 20.47.

Gue akhirnya balas.

“Makasih.”

Cuma itu.

Beberapa detik.

Centang biru.

Lalu tiga titik muncul.

“Aku cuma nggak mau kamu terus bawa beban yang bukan sepenuhnya salah kamu.”

Gue baca pelan.

Beban yang bukan sepenuhnya salah kamu.

Berarti… sebagian salah gue.

Dan untuk pertama kalinya, kalimat itu nggak bikin gue defensif.

Gue berdiri.

Bayar kopi.

Langkah gue lebih ringan waktu keluar dari gang.

Motor gue masih sama.

Tua. Catnya mulai kusam.

Tapi malam itu gue liat beda.

Bukan karena motornya berubah.

Tapi karena kepala gue nggak lagi penuh suara lama.

Besok paginya gue datang ke ruko itu.

Pintu rolling door masih abu-abu kusam.

Gemboknya baru.

Gue buka pelan.

“Cekrek.”

Debu tipis bau kayu lama langsung nyambut.

Ruangan kosong.

Dinding masih ada bekas rak gitar dulu.

Bekas paku.

Bekas kabel.

Gue berdiri di tengah ruangan.

Dulu tempat ini rame.

Orang coba gitar.

Anak kecil belajar kunci dasar.

Gue teriak-teriak nawar harga.

Lalu semuanya berhenti.

Karena gue nggak mau denger saran siapa pun.

Termasuk saran Rani.

HP gue bunyi.

Pesan dari nomor yang sama.

Rizal.

“Mas, semoga tempat itu hidup lagi.”

Gue balas.

“InsyaAllah.”

Beberapa detik kemudian, pesan dari Rani masuk.

“Aku nggak akan datang ke situ lagi. Biar kamu bangun tanpa bayang-bayang.”

Gue senyum kecil.

Itu kalimat paling dewasa yang pernah gue baca dari dia.

Dan mungkin… dari gue juga.

Gue mulai bersihin lantai.

Sendirian.

Keringat turun.

Tapi rasanya beda.

Nggak kayak dulu yang penuh ambisi panik.

Sekarang lebih tenang.

Menjelang siang, pintu ruko diketuk.

“Tok tok.”

Gue nengok.

Seorang anak SMA berdiri di depan.

“Bang, ini dulu toko gitar ya? Masih buka nggak?”

Gue berhenti nyapu.

Liat ruangan kosong di belakang gue.

Liat debu yang belum selesai gue bersihin.

Liat masa lalu yang baru aja gue lepas.

Gue angkat kepala.

“Iya.”

Anak itu senyum.

“Kalau buka lagi, kabarin ya Bang. Saya nabung mau beli gitar.”

Dia pergi.

Gue berdiri sendirian lagi.

Tapi kali ini bukan sendirian yang kosong.

Lebih ke… sendirian yang siap.

HP gue bunyi lagi.

Rani.

“Satu hal lagi, Jun.”

Gue baca cepat.

“Jangan jatuh cinta lagi sama aku. Jatuh cintanya sama hidup kamu yang baru.”

Gue ketawa kecil.

Bukan ketawa sedih.

Bukan ketawa pahit.

Ketawa lega.

Karena untuk pertama kalinya…

gue nggak pengen balikan.

Gue nggak pengen ngulang.

Gue cuma pengen beres.

Dan rasanya…

hampir.

PART 5 (TERAKHIR)

Rolling door ruko gue buka setengah.

Belum ada papan nama.

Belum ada spanduk.

Cuma tulisan kecil pakai spidol di karton bekas:

“BUKA LAGI.”

Sederhana.

Kayak hidup yang mulai dari nol lagi.

Siang itu panas.
Debu masih ada di sudut.
Rak belum semua kepasang.

Tapi bau kayu dan suara senar yang gue petik pelan bikin ruangan itu hidup lagi.

“Ngiiing…”

Nada fals sedikit.

Gue setel.

“Cek.”

Pas.

HP gue bunyi.

Grup lama, teman-teman musisi.

“Eh Jun, katanya buka lagi?”

Berita cepet banget nyebar.

Gue cuma balas singkat.

“Pelan-pelan.”

Sore menjelang.

Anak SMA kemarin datang lagi.

Kali ini bawa dua temennya.

“Bang, jadi buka beneran?”

Gue senyum.

“Masuk aja. Liat-liat dulu gratis.”

Mereka ketawa.

Suara sepatu mereka masuk ke ruko itu bikin ruangan nggak kosong lagi.

Satu gitar gue turunin dari rak.

Anak itu pegang hati-hati.

“Bang, ini berapa?”

Gue sebut harga.

Dia melirik temennya.

“Masih kurang dikit tabungan gue.”

Gue inget diri gue sendiri umur segitu.

Gue duduk di kursi plastik.

“Nabung berapa lagi?”

Dia sebut angka.

Nggak jauh.

Gue liat gitar itu.
Liat muka dia.

“Ambil aja dulu.”

Dia bengong.

“Bang?”

“Nanti lunasin pelan-pelan. Jangan kabur aja.”

Temennya ketawa.

Anak itu hampir nangis.

Dan entah kenapa… dada gue hangat.

Dulu gue terlalu sibuk ngejar untung cepat.

Sekarang gue ngerti…

yang bikin tempat ini hidup bukan cuma transaksi.

Tapi cerita.

Menjelang magrib, toa masjid bunyi.

Gue berdiri di depan ruko.

Lampu dalam ruangan nyala kuning hangat.

Anak-anak itu pamit.

“Besok kita balik lagi ya Bang!”

Gue angguk.

Saat gue mau nutup rolling door…

sebuah mobil berhenti pelan di seberang jalan.

SUV hitam.

Gue tau itu mobil siapa.

Kaca jendelanya turun sedikit.

Rani duduk di kursi penumpang.

Rizal nyetir.

Nggak ada drama.

Nggak ada tatapan lama.

Cuma senyum.

Rizal angkat tangan sedikit.

Gue balas angguk.

Rani juga angkat tangan kecil.

Bukan panggilan.

Bukan ajakan.

Cuma… restu.

Mobil itu jalan lagi.

Nggak berhenti.

Nggak turun.

Dan anehnya…

gue nggak pengen mereka berhenti.

Karena untuk pertama kalinya…

gue nggak lihat mereka sebagai sesuatu yang gue kehilangan.

Tapi sebagai bagian dari cerita yang udah selesai dengan baik.

Gue masuk lagi ke dalam ruko.

Liat ruangan yang belum sempurna.

Liat gitar yang masih kurang.

Liat cat dinding yang harus diperbaiki.

Tapi kali ini…

nggak ada rasa kalah.

Nggak ada rasa pengen rebut kembali.

Gue duduk.

Petik gitar pelan.

Nada sederhana.

Tenang.

HP gue bunyi sekali lagi.

Pesan dari Rani.

“Bangga sama kamu.”

Gue baca.

Senyum.

Gue balas.

“Terima kasih. Jaga diri baik-baik.”

Centang biru.

Nggak ada lanjutan.

Dan nggak perlu ada.

Karena yang gue rasain sekarang bukan cinta yang salah tempat.

Bukan rindu yang kepaksa.

Tapi lega.

Lega karena akhirnya semuanya selesai tanpa benci.

Lega karena gue nggak kehilangan dia.

Gue cuma kehilangan versi gue yang lama.

Dan sekarang…

gue ketemu lagi sama diri gue sendiri.

Rolling door gue tarik pelan.

“Brakk.”

Lampu dimatiin.

Di luar, suara motor lewat gang.

Angin sore masuk tipis.

Besok gue buka lagi.

Bukan buat balikan.

Bukan buat buktiin apa-apa.

Tapi buat hidup.

Dan untuk pertama kalinya setelah empat tahun…

gue jatuh cinta lagi.

Bukan sama mantan istri gue.

Tapi sama hidup gue sendiri.

Selesai.

Similar Posts

2 Comments

    1. senang sekali dengar kata “menyejukkan”. berarti ending-nya nggak gagal total 😄 terima kasih doanya, semoga saya bisa terus konsisten nulis dan nggak cuma semangat di awal doang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *