WARISAN DIBAGI HARI ITU. SEMUA DAPET. GUE DOANG YANG DIBILANG “NGGAK USAH”—KARENA KATANYA GUE UDAH PERNAH DIKASIH… SESUATU YANG GUE SENDIRI NGGAK TAU.

Kipas angin di ruang tamu muter pelan. Bunyinya seret. “kreeet… kreeet…” tiap putaran.

Gue duduk di kursi plastik biru. Kaki gue nempel ke ubin yang dingin. Telapak kaki agak basah, tadi habis wudhu karena keringat lengket dari pagi.

Jam dinding nunjuk jam 09:58.

Dua menit lagi mulai.

Di luar, suara motor lewat gang. Knalpotnya cempreng. Tetangga depan rumah lagi nyapu, bunyi sapu lidi gesek tanah kasar.

Semua normal.

Harusnya.

Meja di depan gue penuh map cokelat. Ada stempel, pulpen, sama segelas teh manis yang udah dingin. Lapisan gula nempel di bibir gelas.

Om Darto duduk di ujung meja. Kemeja putih, lengan digulung. Kacamata agak turun di hidung.

Di sampingnya, Ibu.

Rambut disanggul rapi. Kebaya warna cokelat muda. Tangannya dilipat di pangkuan.

Di sebelah Ibu, Kak Rian.

Kaos hitam, celana jeans, HP di tangan.

Di sebelahnya lagi, Mbak Sari.

Kuku panjang, dicat merah. Lagi scroll sesuatu.

Gue paling ujung.

Seperti biasa.

“Baik, kita mulai ya,” kata Om Darto.

Semua langsung sedikit lebih tegak.

Gue tarik napas.

Pelan.

“Terkait pembagian aset almarhum Bapak Hendra…”

Nama itu bikin dada gue agak sesak.

Bokap.

Tiga bulan lalu masih duduk di kursi itu.

Nonton TV.

Ngomel soal listrik.

Sekarang…

Tinggal map.

Om Darto buka berkas pertama.

“Rumah utama, atas nama almarhum…”

Dia baca data.

“…disepakati jatuh kepada anak pertama, Rian.”

Rian angkat kepala sebentar.

“Ya.”

Singkat.

Balik lagi ke HP.

Gue diam.

Masih masuk akal.

Anak pertama.

“Tanah belakang, luas tiga ratus meter…”

Om Darto lanjut.

“…dibagi kepada anak kedua, Sari.”

Sari senyum.

“Makasih ya Bu.”

Ibu cuma angguk.

Gue mulai ngerasa ada yang kosong.

Tapi gue tahan.

“Selanjutnya, ruko di jalan utama…”

Om Darto berhenti sebentar.

Ngeliat kertas.

“…akan dijual dan hasilnya dibagi dua, untuk Rian dan Sari.”

Jantung gue langsung ngehentak.

Ruko itu.

Bokap pernah ngomong soal itu.

Pelan.

Waktu kita duduk di teras malam-malam.

“Yang itu nanti Papa urusin.”

Gue nunggu.

Mungkin ada bagian gue setelah ini.

Om Darto nutup map.

“Baik. Itu seluruh aset utama.”

Dia lihat ke semua orang.

“Ada yang ingin ditanyakan?”

Sunyi.

Gue lihat ke Ibu.

Ibu nggak lihat gue.

Gue lihat ke Rian.

Dia lagi ketawa kecil baca chat.

Gue lihat ke Sari.

Dia lagi bales pesan.

Gue tarik napas.

Pelan.

Tapi dada gue mulai panas.

“Ma…”

Suara gue keluar.

Semua nengok.

Akhirnya.

“Gue?”

Cuma satu kata.

Tapi ruang tamu langsung berubah.

Kipas masih bunyi.

Ayam masih ribut.

Tapi suasana jadi berat.

Ibu nengok ke gue.

Tatapannya datar.

“Kamu sudah dapat duluan.”

Kalimat itu jatuh.

Keras.

Langsung ke dada gue.

“Dapet… apa?”

Suara gue pelan.

Ibu jawab cepat.

“Yang selama ini kamu pakai.”

Gue bengong.

Nggak langsung ngerti.

Rian nyeletuk.

“Ya rumah lo itu.”

Gue nengok cepat.

“Rumah gue?”

Dia ketawa kecil.

“Yang lo tempatin. Kontrakan itu.”

Gue langsung berdiri.

Kursi bunyi geser.

“Gue ngontrak.”

Rian santai.

“Siapa bilang?”

Kepala gue langsung panas.

“Setiap bulan gue bayar!”

Dia miringin kepala.

“Ke siapa?”

Gue langsung diem.

Iya.

Ke siapa?

Gue selalu transfer.

Setiap tanggal lima.

Ke rekening…

Ibu.

Gue nengok pelan.

“Ma… itu kontrakan kan?”

Ibu diam sebentar.

Lalu jawab:

“Itu rumah kamu.”

Sunyi.

Total.

“Gue… nggak ngerti.”

Om Darto masuk.

“Rumah itu dibeli lima tahun lalu. Atas nama Ibu, tapi untuk kamu.”

Lima tahun lalu.

Gue masih kerja di toko.

Gaji pas-pasan.

Sering pinjem uang.

Sering dimarahin.

“Kenapa gue nggak dikasih tahu?”

Ibu jawab singkat.

“Supaya kamu belajar tanggung jawab.”

Gue ketawa.

Pelan.

Kosong.

“Dengan cara gue bayar rumah gue sendiri?”

Nggak ada yang jawab.

Gue duduk lagi.

Pelan.

Kaki gue lemes.

“Jadi… itu bagian gue?”

Ibu angguk.

“Iya.”

Gue lihat meja.

Map-map itu.

Semua yang dibagi.

“Terus… yang lain?”

Rian jawab.

“Ya kita juga dapet bagian masing-masing.”

Gue angkat kepala.

“Tapi gue nggak pernah ngerasa punya apa-apa.”

Sari nyeletuk.

“Ya itu salah lo sendiri.”

Gue nengok.

“Maksud lo?”

“Lo yang dari dulu maunya sendiri. Nggak pernah ikut keluarga.”

Kalimat itu nusuk.

Langsung.

Gue inget.

Gue sering pulang telat.

Jarang makan bareng.

Milih ngekos dulu.

Tapi…

“Gue tetap anak di rumah ini.”

Suara gue tegas sekarang.

Ibu jawab:

“Iya. Tapi kamu sudah ambil bagian kamu.”

Gue diem.

Nelen ludah.

Ada yang nggak beres.

Masih.

“Ma…”

Gue pelan.

“Bokap pernah bilang… ruko itu buat gue.”

Ruangan langsung hening.

Rian ketawa.

“Ngaco.”

Sari nyengir.

“Ngimpi.”

Gue nggak lihat mereka.

Gue cuma lihat Ibu.

Tatapan Ibu berubah.

Sedikit.

“Papa kamu nggak pernah bilang begitu.”

Cepat.

Terlalu cepat.

Di situ…

Gue yakin.

Ada yang disembunyiin.

Gue berdiri.

Langsung.

Gue jalan ke lemari tua di pojok.

Lemari yang dulu sering dibuka Bokap.

Sekarang jarang disentuh.

“Dina, mau apa kamu?”

Suara Ibu mulai tegang.

Gue nggak jawab.

Gue buka lemari.

“krek…”

Bau kayu tua keluar.

Di dalam…

Map kuning.

Pinggirnya sobek.

Tangan gue gemetar.

Gue ambil.

Di depan map itu…

Tulisan tangan.

Tulisan Bokap.

“UNTUK DINA.”

Jantung gue langsung berhenti sesaat.

Gue balik.

Semua lihat gue sekarang.

“Ini apa?”

Suara gue pelan.

Tapi tajam.

Ibu langsung berdiri.

Cepat.

“Kamu nggak usah buka itu.”

Terlambat.

Gue buka.

Di dalam…

Satu surat.

Satu sertifikat.

Nama di sertifikat itu…

Bikin tangan gue langsung dingin.

Atas nama:

DINA PRATIWI.

Alamatnya…

Ruko di jalan utama.

Gue langsung nengok ke Ibu.

Mata gue panas.

“Ini…”

Suara gue pecah.

Ibu diam.

Gue buka suratnya.

Tulisan Bokap.

“Kalau kamu baca ini, berarti Papa sudah tidak ada.

Ruko itu Papa siapkan untuk kamu.

Bukan karena kamu paling lemah.

Tapi karena kamu yang paling sering sendirian.

Papa tahu kamu nggak akan minta.

Makanya Papa simpan ini diam-diam.

Jangan bilang ke siapa-siapa dulu.

Nanti Mama yang akan jelasin ke kamu saat waktunya tepat.”

Gue berhenti.

Napas gue nggak beraturan.

Gue angkat kepala.

Tatap Ibu.

“Waktunya… kapan, Ma?”

Ibu nggak jawab.

Dan di detik itu…

Pintu depan tiba-tiba diketuk.

“tok… tok… tok…”

Semua nengok.

Om Darto berdiri.

“Siapa ya?”

Pintu dibuka.

Seorang laki-laki masuk.

Kemeja rapi.

Bawa map hitam.

Dia lihat ke dalam.

Lalu ngomong:

“Saya dari bank.”

Jantung gue langsung turun.

“Ruko atas nama Dina Pratiwi…”

Dia buka map.

“…akan disita hari ini.”

“Ruko atas nama Dina Pratiwi… akan disita hari ini.”

Kalimat itu kayak dijatuhin pelan… tapi bunyinya keras di kepala gue.

Sunyi.

Kipas masih bunyi.

“kreeet… kreeet…”

Tapi sekarang berasa makin nyaring.

“Maaf, maksudnya apa ya?” Om Darto berdiri, nyoba netral.

Laki-laki dari bank itu buka map hitamnya.

“Ini surat peringatan terakhir. Kredit atas ruko tersebut menunggak selama 8 bulan.”

Jantung gue langsung kenceng.

“Gue… nggak pernah ngajuin kredit.”

Suara gue keluar, tapi kecil.

Petugas itu nengok ke gue.

“Nama Anda tertera sebagai pemilik sekaligus penanggung jawab.”

Gue langsung nengok ke Ibu.

“Ma…”

Ibu nggak langsung jawab.

Tatapannya turun.

Itu pertama kalinya.

“Bu?” suara gue naik sedikit.

Rian langsung nyeletuk, setengah bisik tapi jelas.

“Udah dibilangin kan… jangan dibuka.”

Gue langsung nengok ke dia.

“Lo tau?”

Dia nggak jawab.

Cuma geser badan.

Petugas bank lanjut.

“Kami sudah kirim beberapa kali surat ke alamat terdaftar.”

Dia lihat kertas.

“Dan pembayaran terakhir dilakukan… sembilan bulan lalu.”

Gue langsung lemes.

“Siapa yang bayar sebelumnya?”

Petugas itu diam sebentar.

Ngeliat berkas.

“Nama pengirim… atas nama Ibu Ratna.”

Ibu.

Gue ketawa kecil.

Kosong.

“Jadi… selama ini…”

Napas gue mulai berat.

“…ini semua… bukan cuma disembunyiin…”

Gue lihat Ibu.

“…tapi juga… dibiarin?”

Ibu akhirnya ngomong.

Pelan.

“Mama pikir… bisa selesai sebelum kamu tahu.”

Gue langsung berdiri.

“SELESAI GIMANA?!”

Suara gue pecah.

Mama langsung kaget.

“Delapan bulan nunggak, Ma! Itu bukan ‘sebentar’!”

Petugas bank angkat tangan.

“Mohon tenang. Kami hanya menjalankan prosedur.”

Gue nggak denger lagi.

Kepala gue penuh.

Ruko itu…

Bokap kasih ke gue.

Tapi…

Dijadiin jaminan.

Tanpa gue tahu.

“Kenapa, Ma?”

Suara gue sekarang pelan.

Lebih sakit.

Mama nutup mata sebentar.

“Karena Mama butuh uang.”

Kalimat itu…

Nusuk lebih dalam dari semua yang tadi.

“Buat apa?”

Gue langsung tanya.

Cepat.

Mama nggak jawab.

“BUAT APA, MA?!”

Suara gue naik lagi.

Sari langsung berdiri.

“Udah, jangan teriak-teriak!”

Gue nengok ke dia.

“Mending lo diem.”

Rian ikut berdiri.

“Eh, santai dikit bisa nggak sih?”

Gue ketawa.

Nggak percaya.

“Gue yang santai?”

Petugas bank mundur sedikit.

Situasi mulai panas.

Mama akhirnya ngomong.

Pelan.

“Buat nutup utang.”

“UTANG APA?!”

Sunyi.

Mama lihat ke Rian.

Lalu ke Sari.

Dan di situ…

Gue mulai ngerti.

Gue nengok pelan.

Ke dua orang itu.

“Utang kalian?”

Rian langsung jawab cepat.

“Bukan utang gue doang!”

Sari langsung nyela.

“Eh jangan lempar-lempar!”

Gue bengong.

“Jadi… kalian berdua…?”

Mama potong.

“Bukan cuma mereka.”

Gue langsung kaku.

“Terus siapa lagi?”

Mama nelen ludah.

“Usaha Papa… sebelum meninggal… ada masalah.”

Gue langsung inget.

Bokap sempet sering keluar malam.

Sering telepon.

Sering marah sendiri.

“Tapi Papa nggak pernah cerita…”

Mama jawab pelan.

“Karena dia nggak mau kamu tahu.”

Gue langsung ketawa kecil.

Lagi.

Kosong.

“Semua orang di rumah ini hobi banget ya… nyembunyiin sesuatu dari gue.”

Mama nggak jawab.

Om Darto masuk.

“Bu Ratna… ini berarti ruko tersebut dijaminkan tanpa persetujuan pemilik sah.”

Mama diem.

“Itu bisa jadi masalah hukum.”

Petugas bank langsung nimpalin.

“Kami hanya melihat dokumen yang ditandatangani.”

Gue langsung nengok.

“Ditandatangani siapa?”

Petugas buka berkas.

“Dina Pratiwi.”

Gue langsung beku.

“NGGAK MUNGKIN.”

Dia kasih kertasnya ke gue.

Tanda tangan itu…

Mirip.

Banget.

Tapi…

Itu bukan tanda tangan gue.

“Ini dipalsuin.”

Suara gue dingin sekarang.

Semua langsung diem.

Gue lihat ke Mama.

Mama langsung nangis.

Pelan.

Dan itu…

Jawaban.

Gue duduk lagi.

Kali ini bukan karena lemes.

Tapi karena… semuanya kebuka.

“Jadi… lo palsuin tanda tangan gue?”

Suara gue pelan.

Mama nangis.

“Iya…”

Rian langsung ngomong.

“Udah lah, itu kan buat keluarga juga!”

Gue langsung nengok.

“FAMILY?!”

“Gue yang nanggung semuanya, Rian!”

Sari nyela.

“Kita juga nggak enak, tau!”

Gue ketawa.

Keras.

“NGGAK ENAK TAPI MAKAN ENAK?!”

Sunyi.

Gue berdiri.

Pelan.

“Rumah lo dapet.”

Gue tunjuk Rian.

“Tanah lo dapet.”

Gue tunjuk Sari.

“Utang… gue yang dapet?”

Nggak ada yang jawab.

Air mata gue jatuh lagi.

Tapi sekarang beda.

Bukan sedih.

Lebih ke… marah yang capek.

Petugas bank buka suara.

“Kalau tidak ada penyelesaian hari ini… kami akan lanjut proses penyitaan.”

Gue tarik napas.

Dalam.

“Berapa?”

Semua nengok ke gue.

“Totalnya berapa?”

Petugas jawab.

“Sekitar 480 juta.”

Kepala gue langsung kosong.

Itu bukan angka kecil.

Gue tutup mata sebentar.

Terus gue buka.

“Kasih gue waktu.”

Petugas mikir sebentar.

“Dua minggu.”

Gue angguk.

Dia pergi.

Pintu ditutup.

Sunyi.

Gue nengok ke Mama.

“Dua minggu, Ma.”

Mama nangis lagi.

“Kalau nggak… gue kehilangan satu-satunya yang Bokap kasih ke gue.”

Dan untuk pertama kalinya…

Mama nggak punya jawaban.

Dua minggu.

Cepat.

Tapi juga lama.

Hari pertama…

Gue jual motor.

Motor yang gue pakai kerja.

Hari ketiga…

Gue ambil tabungan.

Habis.

Hari kelima…

Gue datengin Rian.

“Gue butuh bantuan lo.”

Dia geleng.

“Gue lagi banyak cicilan.”

Gue ketawa kecil.

“Ironi ya.”

Hari ketujuh…

Gue ke Sari.

Dia cuma bilang:

“Gue baru renov tanah.”

Gue pulang.

Tanpa harapan.

Hari kesepuluh…

Mama datang ke kamar gue.

Bawa map.

“Ini…”

Gue buka.

Sertifikat rumah.

Gue langsung nengok.

“Ma…”

Mama nangis.

“Jual aja.”

Gue langsung geleng.

“Nggak.”

“Ini satu-satunya yang Mama punya.”

Gue pegang tangan Mama.

“Dan ruko itu satu-satunya yang Bokap kasih ke gue.”

Sunyi.

Hari ke-13.

Om Darto datang.

“Kalau kalian mau… ruko itu bisa dialihkan ke investor. Utangnya dilunasi, sisanya tetap jadi milik Dina.”

Gue langsung nengok.

“Berapa sisanya?”

“Masih cukup.”

Gue diam.

Mikir.

Gue lihat Mama.

Mama angguk.

“Ambil.”

Hari ke-14.

Di kantor notaris.

Semua tanda tangan.

Kali ini…

Gue lihat jelas.

Gue pegang sendiri.

Utang lunas.

Ruko tetap atas nama gue.

Dan yang lebih penting…

Nggak ada lagi yang disembunyiin.

Beberapa bulan kemudian.

Ruko itu jadi tempat usaha kecil.

Gue buka kedai kopi.

Sederhana.

Mama sering bantu.

Rian kadang datang.

Beli kopi.

Nggak banyak ngomong.

Sari juga.

Lebih sering.

Nggak semuanya langsung baik.

Tapi…

Mulai.

Suatu sore.

Gue duduk di depan ruko.

Lihat jalan.

Mama duduk di samping gue.

“Ma…”

“Iya?”

“Gue nggak marah lagi.”

Mama diem.

“Gue cuma… pengen kita jujur dari awal.”

Mama angguk.

Pelan.

Gue lihat papan nama di atas ruko.

“Dina Coffee.”

Gue senyum.

Bokap nggak ninggalin gue kosong.

Cuma…

Selama ini…

Gue baru ngerti caranya nerima.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *