GUE NINGGALIN DIA KARENA GAJI UMR. TERNYATA DIA ANAK ORANG YANG PERNAH NGANCURIN HIDUP KELUARGA GUE. DAN MALAM INI… DIA BALIK BAWA SESUATU YANG BIKIN GUE NGERASA PALING BODOH SEDUNIA.
Kipas angin di kamar bunyi “tek… tek… tek…” tiap muter. Anginnya nggak terlalu kerasa, cuma muter panas.
Gue duduk di lantai, paha nempel ke ubin yang dingin. Punggung gue sandarin ke lemari kayu lama. Catnya udah retak-retak, ada bekas tempelan stiker lama yang udah pudar.
HP gue mati.
Charger entah ke mana.
Besok gue masuk kerja jam tujuh. Harus bangun jam lima. Kalau telat lagi, potong gaji. Bulan ini aja udah dua kali.
Gue ngeluh pelan.
“Dimana sih…”
Gue buka laci pertama. Isinya baju-baju yang gue lipat asal. Ada kaos yang belum sempet gue setrika.
Laci kedua—kabel kusut, nota belanja, plastik kresek, charger lama yang udah rusak.
Gue tarik napas.
“Yang bawah deh…”
Laci ketiga agak seret. Gue tarik lebih kuat.
“krek…”
Ada bunyi kayu kegesek.
Pas kebuka, gue lihat beberapa map lama. Dokumen-dokumen sekolah, fotokopi KTP, kartu BPJS.
Dan di bawahnya…
Amplop cokelat.
Tipis. Ujungnya agak lecek.
Gue tarik.
Debu halus naik sedikit.
Awalnya gue nggak mikir apa-apa.
Sampai mata gue nangkep tulisan di depannya.
“Dina Pratiwi.”
Nama gue.
Tulisan tangan.
Gue langsung berhenti.
Jari gue nahan amplop itu di udara.
Ada tulisan kecil di bawahnya.
Lebih kecil. Tapi jelas.
“Untuk dibuka setelah menikah.”
Jantung gue langsung kayak ditarik.
Gue belum nikah.
Bahkan hubungan terakhir gue baru hancur tiga bulan lalu.
Pelan-pelan gue balik amplop itu.
Segelnya udah kebuka.
Bukan gue yang buka.
Berarti ada orang lain yang udah baca.
Dan nyimpen lagi.
Di lemari gue.
Gue duduk lebih tegak.
Kipas masih bunyi.
“tek… tek… tek…”
Di luar ada suara motor lewat gang. Knalpotnya berisik. Anak-anak belum bubar.
Gue buka amplop itu.
Isinya satu kertas.
Dilipat rapi.
Gue buka.
Tulisan tangan.
Dan gue langsung kenal.
Itu tulisan Mama.
—
Gue tarik napas panjang.
Gue baca pelan.
“Dina,
Kalau kamu baca ini, berarti kamu sudah menikah. Mama harap kamu membacanya dalam keadaan tenang.
Mama tahu kamu selalu bilang kamu tidak mau menikah kalau belum siap. Kamu selalu bilang kamu tidak mau hidup susah.”
Gue ketawa kecil.
Kering.
Itu kalimat gue banget.
Masih sering gue ulang-ulang.
Bahkan terakhir gue bilang itu…
Ke Raka.
—
Flashback itu langsung nyeruduk.
Di depan minimarket. Lampu putih terang. Bau kopi sachet.
Raka berdiri di depan gue.
Kaos polos, jeans, sandal jepit.
Motor tuanya diparkir di samping.
Gue masih inget kata-kata gue.
“Gue bukan nolak lo, Rak. Tapi gue realistis. Gaji lo UMR. Hidup berdua bakal berat.”
Dia diam.
Nggak langsung jawab.
Cuma lihat gue.
Matanya nggak marah.
Lebih ke… kecewa.
“Jadi ini soal uang?”
“Iya. Dan masa depan.”
Dia tarik napas.
Pelan.
“Gue kira lo beda, Din.”
Gue nggak jawab.
Dan itu terakhir kali gue lihat dia.
—
Gue balik ke surat.
Tangan gue mulai dingin.
“Laki-laki yang selama ini dekat dengan kamu, yang Mama bilang kurang cocok, bukan karena dia tidak baik.
Dia baik.
Sangat baik.
Tapi Mama tahu sesuatu tentang dia yang kamu tidak tahu.”
Nama itu langsung muncul.
Raka.
Jantung gue mulai lebih kencang.
Gue lanjut baca.
“Raka bukan seperti yang kamu lihat sekarang.
Dia tidak miskin.
Dia hanya memilih terlihat sederhana.”
Gue berhenti.
Kening gue langsung berkerut.
“Apaan sih…”
Gue lanjut.
“Dia melakukan itu karena satu alasan.
Alasan yang berhubungan dengan masa lalu keluarga kita.”
Napas gue mulai berat.
Gue duduk lebih tegak.
Ubin dingin makin kerasa.
“Mama tidak pernah cerita ini ke kamu.
Ayah kamu dulu punya usaha.
Tidak besar, tapi cukup.
Sampai suatu hari, partner bisnisnya mengkhianati dia.
Semua uang dibawa kabur.
Ayah kamu jatuh sakit.
Dan akhirnya meninggal.”
Gue langsung nelen ludah.
Itu cerita lama.
Yang gue tahu.
Tapi…
Nama orang itu nggak pernah disebut.
Sampai sekarang.
Gue lanjut.
“Orang itu adalah ayah Raka.”
Dunia gue kayak direm mendadak.
Sunyi.
Cuma suara kipas.
“tek… tek… tek…”
Gue berdiri.
Kertas itu hampir jatuh dari tangan gue.
“Anjir…”
Kaki gue lemes.
Gue duduk lagi, lebih keras.
Punggung gue nabrak lemari.
Gue baca lagi, lebih cepat.
“Raka tahu semua ini.
Dia mendekati kamu bukan untuk balas dendam.
Tapi untuk memperbaiki kesalahan ayahnya.”
Kepala gue langsung penuh.
Semua potongan kejadian…
Mulai nyambung.
Raka yang selalu nolak kalau gue bayarin.
“Gue bayar sendiri aja.”
Raka yang selalu pakai motor tua.
Padahal temennya pernah nyeletuk:
“Lah, mobil lo mana?”
Dan dia cuma ketawa.
“Dipinjem orang.”
Waktu itu gue nggak terlalu mikir.
Sekarang…
Semua jadi beda.
Gue lanjut baca.
“Dia sengaja hidup sederhana.
Dia ingin kamu mencintai dia apa adanya.
Bukan karena siapa dia sebenarnya.”
Tangan gue makin dingin.
Jantung gue kayak dipukul dari dalam.
“Dia sudah datang ke Mama.
Dia cerita semuanya.
Dia bilang dia serius sama kamu.
Dia ingin menikahi kamu.
Dan dia siap bertanggung jawab.”
Gue langsung nutup mata.
Seketika.
Nahan sesuatu yang naik dari dada.
Tapi belum keluar.
“Namun Mama menolak.
Bukan karena dia tidak mampu.
Tapi karena Mama takut.”
Gue buka mata lagi.
“Takut masa lalu terulang.
Takut kamu terluka.
Takut kamu hidup dengan bayangan orang yang pernah menghancurkan keluarga kita.”
Napas gue makin pendek.
“Namun Mama salah.
Mama lihat kamu bahagia dengan dia.
Dan Mama juga lihat kamu menjauh.
Karena alasan yang salah.”
Tangan gue mulai gemetar.
Gue baca bagian terakhir.
“Kalau suatu hari kamu membaca ini…
Mama hanya ingin kamu tahu:
Kamu meninggalkan orang yang mencintai kamu dengan cara paling jujur.
Dan kamu menilai dia dari sesuatu yang bukan kenyataannya.”
Kertas itu jatuh.
Nyentuh ubin.
Gue nggak nangis.
Cuma bengong.
Kosong.
—
HP gue tiba-tiba nyala.
Layar terang sebentar.
Getar kecil.
Gue nengok.
Nama di layar bikin dada gue langsung sesak.
Raka.
WhatsApp.
Jam 23:48.
“Din, gue di depan rumah lo.”
Jantung gue langsung ngebut.
Gue berdiri.
Kaki gue masih goyang.
Gue jalan ke jendela.
Geser gorden sedikit.
Lampu jalan redup.
Dan di bawahnya…
Motor tua itu.
Dan dia.
Duduk di atas motor.
Diam.
Kayak nunggu keputusan.
—
Tangan gue masih pegang surat.
Kepala gue penuh.
Semua ucapan gue ke dia.
Semua alasan gue.
“Realistis.”
Sekarang kerasa kayak tamparan.
Gue tarik napas.
Pelan.
Gue buka pintu kamar.
Langkah gue berat.
Ubin ruang tamu dingin.
TV masih nyala pelan.
Mama tidur di sofa.
Gue lewat pelan.
Buka pintu depan.
“krek…”
Angin malam langsung kena muka gue.
Raka angkat kepala.
Tatapan kita ketemu.
Dia nggak senyum.
Nggak marah.
Kosong.
Dia turun dari motor.
Ngambil sesuatu dari tas.
Kotak kecil.
Kayak kotak cincin.
Dia jalan ke gue.
Langkahnya pelan.
Berhenti di depan gue.
Nyerahin kotak itu.
“Gue nggak jadi pakai ini.”
Suara dia datar.
Gue nggak langsung ambil.
Gue lihat wajahnya.
Capek.
Matanya merah.
Dia balik badan.
Mau pergi.
Dan di saat itu…
Mata gue nangkep sesuatu.
Di pergelangan tangannya.
Jam.
Jam mahal itu.
Yang dulu dia bilang…
“Hadiah dari temen.”
Gue baru sadar.
Itu bukan sekadar jam.
Itu petunjuk.
Yang gue abaikan.
Dia mau naik motor.
Gue ngomong.
Suara gue serak.
“Raka…”
Dia berhenti.
Nggak langsung nengok.
“Bokap lo… yang ngancurin usaha bokap gue ya?”
Dia diam.
Beberapa detik.
Lama.
Lalu pelan…
Dia nengok.
Tatapannya langsung ke mata gue.
Nggak lari.
Nggak ngeles.
Dan dia bilang pelan:
“Iya.”
Jantung gue kayak jatuh.
Tapi dia belum selesai.
“Makanya gue datang malam ini.”
Gue langsung kaku.
Dia buka tas lagi.
Ngambil sesuatu.
Bukan kotak cincin.
Sebuah map tebal.
Dia sodorin ke gue.
“Ini semua bukti… kalau yang selama ini lo percaya… nggak sepenuhnya bener.”
Gue langsung menegang.
“Apaan maksud lo?”
Dia nggak jawab.
Cuma bilang:
“Lo baca sendiri.”
Dan saat gue pegang map itu…
Gue lihat tulisan di depannya.
Nama ayah gue.
Dan satu kata besar di bawahnya:
“PERJANJIAN.”
Angin malam masuk pelan dari pintu yang masih kebuka setengah. Bau tanah basah kecium samar. Dari kejauhan, suara toa masjid mulai uji coba mic, “cek… cek…”
Gue berdiri di depan Raka.
Map itu ada di tangan gue.
Tebal.
Pinggirannya agak kusut, kayak udah sering dibuka-tutup.
“Ini apaan?” suara gue serak.
Raka nggak langsung jawab.
“Lo baca aja dulu.”
Gue nengok ke dalam. Mama masih tidur di sofa, TV nyala pelan. Berita tengah malam. Gambar orang ribut di layar, tapi suaranya kecil.
Gue balik ke Raka.
“Sekarang.”
Dia tarik napas.
Pelan.
“Gue nggak mau lo salah paham lebih lama.”
Jantung gue makin cepet.
Gue buka map itu.
Di halaman pertama—kop surat notaris.
Nama ayah gue.
Nama ayah Raka.
Tanggal.
Dua puluh tahun lalu.
Gue langsung nelen ludah.
Tangan gue mulai dingin.
Gue baca cepat.
Perjanjian kerja sama.
Bagi hasil.
Modal usaha.
Semuanya kelihatan normal.
Sampai halaman berikutnya.
Ada tanda tangan.
Ayah gue.
Ayah Raka.
Dan satu lagi…
Nama yang gue nggak kenal.
“Ini siapa?” gue nunjuk nama itu.
Raka jawab pelan, “Saksi.”
Gue lanjut.
Halaman berikutnya…
Ada catatan tambahan.
Tulisan tangan.
Dan itu bukan tulisan notaris.
Tulisan itu…
Gue kenal.
Tulisan ayah gue.
Napas gue langsung ketahan.
“Jika terjadi kerugian, seluruh tanggung jawab ditanggung oleh pihak pertama.”
Pihak pertama.
Nama ayah gue.
Gue langsung nengok Raka.
“Ini maksudnya apa?”
Raka nggak menghindar.
“Bokap lo yang ambil risiko itu.”
“NGGAK MUNGKIN!” suara gue langsung naik.
Mama di dalam gerak sedikit. Gue langsung nurunin suara.
“Bokap gue yang ditipu!”
Raka geleng pelan.
“Gue juga dulu percaya itu.”
Gue berhenti.
“Apa?”
Dia geser posisi, berdiri lebih dekat ke lampu jalan.
Wajahnya kelihatan jelas sekarang.
“Bokap gue dituduh kabur bawa uang. Tapi sebelum dia meninggal… dia kasih ini ke gue.”
Dia nunjuk map di tangan gue.
“Dia bilang, ‘Cari Dina. Jelasin semuanya. Jangan biarin dia hidup dengan kebohongan.’”
Dada gue makin sesak.
“Terus lo nunggu sampe sekarang?”
Raka ketawa kecil.
Pahit.
“Gue nyari lo dari dulu. Tapi Mama lo…”
Dia berhenti.
Gue langsung ngerti.
Mama.
Surat itu.
Penolakan itu.
“Dia nolak lo.”
Raka ngangguk.
“Dia bilang gue nggak cocok buat lo.”
Gue ketawa.
Kosong.
“Iya. Karena gue mikir lo miskin.”
Kalimat itu keluar tanpa gue tahan.
Dan langsung nusuk gue sendiri.
Raka cuma diam.
Nggak nyela.
Gue lanjut baca.
Halaman terakhir.
Ada bukti transfer.
Jumlah besar.
Masuk ke rekening…
Ayah gue.
Gue langsung kaku.
“Ini…”
Raka pelan, “Uang itu masuk ke bokap lo, Din. Bukan dibawa kabur bokap gue.”
Kepala gue langsung penuh.
Semua cerita yang gue percaya selama ini…
Mulai retak.
“Terus kenapa bokap gue bilang dia ditipu?”
Raka geleng.
“Gue nggak tahu. Tapi satu hal yang pasti…”
Dia nunjuk kertas itu.
“Bokap gue nggak kabur.”
Gue mundur satu langkah.
Ubin terasa makin dingin.
Angin malam makin kerasa.
HP gue tiba-tiba bunyi.
Notifikasi.
Mama.
“Dina? Kamu di luar ya?”
Gue nengok ke dalam.
Mama udah bangun.
Duduk di sofa.
Ngeliatin gue dari jauh.
Dan di detik itu…
Gue sadar.
Malam ini bukan cuma tentang Raka.
Tapi tentang Mama.
—
Mama berdiri pelan.
Langkahnya ke arah pintu.
Sendalnya bunyi “ceklek… ceklek…” di lantai.
Gue masih berdiri di teras.
Map itu di tangan gue.
Raka di samping gue.
Sunyi.
Mama berhenti di depan pintu.
Tatapannya langsung ke Raka.
Dingin.
“Kamu datang lagi.”
Suara Mama datar.
Raka nunduk sedikit.
“Iya, Tante.”
Mama nengok ke gue.
“Kamu masuk, Dina.”
Gue geleng.
“Nggak. Kita ngomong di sini aja.”
Mama diem.
Beberapa detik.
Lalu dia jalan keluar.
Berdiri sejajar sama gue.
Dekat.
Gue bisa cium bau minyak kayu putih dari badannya.
Gue angkat map itu.
“Ini apa, Ma?”
Mama langsung kaku.
Cuma sebentar.
Tapi gue lihat.
“Kamu dapat dari mana?”
“Dari dia.”
Gue nunjuk Raka.
Mama langsung nengok ke Raka.
Tatapannya tajam.
“Kamu nggak punya hak.”
Raka tarik napas.
“Justru dia yang paling berhak tahu.”
Gue langsung potong.
“MA, INI BENER?”
Suara gue naik.
Mama diem.
Nggak jawab.
Dan itu…
Jawaban.
Dada gue langsung panas.
“Jadi selama ini… yang gue percaya…”
Suara gue mulai pecah.
“…itu bohong?”
Mama akhirnya ngomong.
“Bukan bohong.”
“TERUS APA?”
“Pilihan.”
Gue langsung bengong.
“Apa maksudnya pilihan?”
Mama ngelangkah satu langkah ke depan.
“Papa kamu ambil keputusan yang salah.”
Gue langsung mundur.
Kayak ditampar.
“Jadi… Papa salah?”
Suara gue pelan.
Mama nggak langsung jawab.
“Tapi Mama yang tanggung semuanya setelah itu.”
Gue ketawa.
Nggak percaya.
“Jadi solusinya… lo bikin gue benci orang yang nggak salah?”
Mama langsung tegas.
“Dia tetap anak orang itu.”
Gue langsung nengok Raka.
Dia cuma diam.
Tangan di samping badan.
Nggak melawan.
Gue balik ke Mama.
“Dan gue ninggalin dia… karena lo.”
Mama jawab cepat.
“Karena kamu sendiri.”
Kalimat itu langsung nusuk.
Gue diam.
Mama lanjut.
“Kamu yang pilih ‘realistis’. Bukan Mama.”
Gue langsung keinget semua kata-kata gue ke Raka.
Semua.
Satu-satu.
Kayak diputar ulang.
Dan gue nggak punya pembelaan.
—
Tiba-tiba Raka ngomong.
Pelan.
“Tante… gue nggak datang buat nyalahin siapa-siapa.”
Mama nengok ke dia.
“Terus untuk apa?”
Raka jawab:
“Buat nutup semuanya.”
Gue langsung nengok.
“Maksud lo?”
Raka buka tas.
Ngambil satu kertas lagi.
Lebih baru.
“Ini pelunasan.”
Gue langsung bingung.
“Pelunasan apa?”
Raka lihat ke Mama.
“Utang yang belum pernah selesai.”
Mama langsung kaku.
“Udah selesai.”
“Belum.”
Suara Raka tegas.
“Bokap gue mati bawa nama buruk. Dan itu nggak adil.”
Gue makin nggak ngerti.
“Utang apa sih?”
Raka nengok ke gue.
“Uang itu, Din… bukan hasil penipuan.”
Gue diam.
“Bokap gue sebenarnya pinjemin uang itu ke bokap lo. Tapi di kertas… dibuat seolah-olah investasi.”
Kepala gue langsung panas.
“Kenapa?”
Raka jawab pelan.
“Biar bokap lo nggak malu.”
Gue langsung lemes.
“Terus…”
“Waktu usaha itu gagal… bokap lo nggak bisa balikin.”
Sunyi.
Cuma suara kipas dari dalam rumah.
“Dan dia… milih cerita lain.”
Gue langsung jatuh duduk di teras.
Lantai dingin.
Tangan gue gemetar.
Semua yang gue percaya…
Hancur.
—
Gue duduk di lantai teras.
Punggung gue nempel ke tembok.
Kepala gue berat.
Kayak ada yang neken dari dalam.
Mama berdiri di depan gue.
Raka di samping.
Sunyi.
Gue pelan ngomong.
“Jadi selama ini…”
Suara gue pelan.
“…gue bangga sama cerita itu.”
Mama nggak jawab.
Gue ketawa kecil.
Kosong.
“Gue pikir kita korban.”
Air mata akhirnya jatuh.
Pelan.
Nggak deras.
Cuma satu-satu.
“Padahal…”
Gue nggak lanjut.
Nggak kuat.
Mama akhirnya duduk di kursi plastik.
Mukanya lelah.
“Papa kamu bukan orang jahat.”
Gue langsung nengok.
“Tapi dia takut.”
Gue diam.
Mama lanjut.
“Takut kamu tahu dia gagal. Takut kamu lihat dia lemah.”
Napas gue berat.
“Dan Mama… milih jagain cerita itu.”
Gue langsung tanya:
“Sampai gue hancurin hidup orang lain?”
Mama nggak jawab.
Dan itu cukup.
—
Raka jongkok di depan gue.
Pelan.
“Din.”
Gue nggak nengok.
“Gue nggak pernah benci lo.”
Kalimat itu bikin dada gue makin sesak.
“Walaupun lo ninggalin gue…”
Gue langsung nutup muka.
“Gue salah…”
Suara gue pecah.
“Parah banget…”
Raka geleng.
“Lo cuma nggak tahu.”
Gue angkat kepala.
Mata gue merah.
“Terus sekarang? Gue harus gimana?”
Sunyi.
Beberapa detik.
Lalu Raka dorong pelan kotak cincin itu ke arah gue.
Yang tadi gue tolak.
“Gue datang buat nutup semuanya.”
Gue langsung kaku.
“Nutup?”
Dia angguk.
“Kalau lo mau… kita mulai lagi.”
Gue langsung nangis.
Kali ini nggak bisa ditahan.
Bahu gue naik turun.
Semua rasa bersalah, malu, nyesel…
Keluar semua.
Mama cuma diam.
Ngeliatin.
Dan akhirnya…
Dia ngomong pelan.
“Maafin Mama.”
Gue nengok.
Mama nangis.
Pelan.
Itu pertama kali gue lihat dia kayak gitu.
“Harusnya Mama jujur dari awal.”
Gue nggak jawab.
Cuma nangis.
—
Subuh mulai kedengeran.
Toa masjid azan.
Suara “Allahu Akbar…” pelan tapi jelas.
Langit mulai terang sedikit.
Udara lebih dingin.
Gue masih duduk di teras.
Air mata gue udah kering.
Tapi mata gue masih berat.
Raka masih di depan gue.
Kotak cincin itu di antara kita.
Mama duduk di kursi.
Diam.
Gue tarik napas.
Dalam.
Pelan gue ambil kotak itu.
Tangan gue masih gemetar.
Gue buka.
Cincin sederhana.
Nggak mewah.
Tapi rapi.
Gue lihat ke Raka.
“Lo masih mau… sama gue?”
Suara gue pelan.
Raka jawab tanpa mikir.
“Iya.”
Gue langsung ketawa kecil.
Di tengah sisa tangis.
“Gue aja nggak yakin sama diri gue sendiri.”
Raka senyum dikit.
“Gue yakin.”
Kalimat sederhana.
Tapi cukup.
—
Gue berdiri.
Kaki gue masih agak lemes.
Gue lihat Mama.
“Ma…”
Mama nengok.
Mata merah.
“Gue nggak mau hidup dari kebohongan lagi.”
Mama angguk.
Pelan.
“Dan gue juga nggak mau ulang kesalahan yang sama.”
Mama nunduk.
“Maafin Mama.”
Gue jalan pelan ke dia.
Peluk.
Badan Mama hangat.
Dia nangis lagi.
Gue juga.
Tapi kali ini…
Rasanya beda.
Lebih lega.
—
Beberapa hari kemudian.
Ruang tamu lebih rapi.
Map itu sekarang ada di meja.
Bukan disembunyiin lagi.
Gue, Mama, dan Raka duduk bareng.
Ngomong.
Pelan.
Jujur.
Nggak ada yang ditutupin lagi.
Utang itu diselesaikan.
Bukan cuma uang.
Tapi nama.
Cerita.
Dan rasa.
—
Beberapa bulan kemudian.
Gue masih kerja.
Masih bangun subuh.
Masih naik motor.
Tapi sekarang…
Nggak sendirian.
Kadang Raka yang jemput.
Kadang gue yang nunggu dia.
Gue masih realistis.
Tapi sekarang…
Gue ngerti.
Realistis bukan berarti takut.
—
Suatu sore.
Di depan rumah.
Motor tua itu masih ada.
Tapi sekarang…
Di sampingnya ada mobil.
Gue nengok Raka.
“Jadi selama ini lo bohong ya?”
Raka ketawa.
“Gue cuma nahan diri.”
Gue geleng.
“Gila sih lo.”
Dia senyum.
“Worth it nggak?”
Gue lihat dia.
Lama.
Terus gue jawab:
“Iya.”
—
Gue pernah ninggalin dia karena gue pikir hidup itu soal cukup atau nggak.
Sekarang gue tahu…
Hidup itu soal jujur atau nggak.
Dan akhirnya…
Gue milih yang benar.
Dan kali ini…
Gue nggak pergi.