GUE NINGGALIN DIA DEMI JADI SUKSES. GUE BALIK BAWA SEMUANYA… TAPI DIA CUMA LIHAT GUE, TERUS BILANG: “GUE DULU CUMA BUTUH LO.”

Suara sendal gue nyeret pelan di teras.

Rumah itu masih sama.

Cat temboknya mulai kusam. Pagar besinya sedikit berkarat. Pot bunga di samping pintu masih ada—yang dulu gue beli waktu pertama kali main ke sini, waktu gue belum punya apa-apa selain waktu buat dia.

Gue berhenti di depan pintu.

Tangan gue gemetar.

Empat tahun.

Empat tahun gue nggak pernah balik.

Gue tarik napas.

Ketuk pintu.

“Tok.”

Nggak ada jawaban.

Gue ketuk lagi.

“Tok… tok…”

Suara langkah dari dalam.

Pelan.

Mendekat.

Jantung gue langsung kencang.

Pintu dibuka.

Dan…

Dia.

Wajah yang sama.

Sedikit lebih dewasa. Rambutnya lebih panjang. Tapi matanya…

Masih yang dulu.

Dia kaget.

Gue juga.

Beberapa detik… cuma saling lihat.

“Lo…”

Gue angguk.

“Iya.”

Sunyi.

Dia lihat gue dari ujung kepala sampai kaki.

Baju gue rapi. Jam di tangan gue mahal. Sepatu gue bersih.

Hal-hal yang dulu dia tunggu.

Sekarang… ada.

Tapi…

Dia cuma bilang satu kata.

“Telat.”

Jantung gue langsung turun.

Belum sempat gue jawab…

Suara dari dalam.

“Sayang, siapa?”

Langkah kaki lain.

Lebih berat.

Seorang pria keluar.

Berdiri di samping dia.

Tangan pria itu langsung ke pundaknya.

Refleks.

Kayak sudah biasa.

Gue lihat tangan itu.

Terus lihat dia.

Dia nggak nolak.

Pria itu lihat gue.

“Siapa?”

Dia jawab pelan.

“Teman lama.”

Teman.

Kata itu ringan.

Tapi rasanya… berat banget.

Pria itu senyum sedikit.

“Oh… masuk dulu.”

Gue ragu.

Tapi tetap masuk.

Ruang tamunya masih sama.

Sofa coklat.

Meja kecil.

Kipas angin di pojok.

Bunyi berderit pelan.

Tapi sekarang…

Ada satu hal baru.

Foto di dinding.

Gue lihat.

Dan dada gue langsung kosong.

Foto dia.

Pakai kebaya putih.

Senyum.

Di samping pria itu.

Gue langsung alihin pandangan.

Duduk.

Sunyi.

Pria itu duduk di depan gue.

“Gue Arif.”

“Dimas.”

Dia angguk.

“Teman lama ya?”

Gue lihat dia.

Dia cuma angguk kecil.

“Iya.”

Arif berdiri.

“Gue ambil minum dulu.”

Dia ke dapur.

Tinggal gue sama dia.

Berdua.

Empat tahun… dan sekarang ketemu lagi kayak orang asing.

Gue lihat dia.

“Lo nikah…”

Dia langsung potong.

“Sudah dua tahun.”

Dua tahun.

Berarti dia nunggu…

Nggak lama setelah gue pergi.

Gue tarik napas.

“Kenapa nggak bilang?”

Dia ketawa kecil.

Kering.

“Ke siapa?”

Sunyi.

Dia lanjut.

“Nomor lo mati.”

“Lo hilang.”

“Lo pergi tanpa kabar.”

Satu-satu.

Semua masuk.

Dan gue nggak bisa bantah.

Karena itu semua…

Benar.

Empat tahun lalu.

Gue berdiri di tempat yang sama.

Bukan pakai kemeja.

Cuma kaos.

Motor butut di depan.

Dompet tipis.

Mimpi besar.

“Gue mau pergi.”

Dia lihat gue.

“Ke mana?”

“Jakarta.”

“Ngapain?”

“Kerja.”

Sunyi.

Dia duduk.

Pelan.

“Terus gue?”

Gue nggak jawab langsung.

Karena gue tahu…

Jawaban gue bakal nyakitin.

“Gue mau fokus dulu.”

Kalimat itu keluar.

Dan langsung bikin wajah dia berubah.

“Fokus… tanpa gue?”

Gue tarik napas.

“Iya.”

Sunyi.

Matanya mulai merah.

“Berarti gue nggak penting ya?”

Gue cepat jawab.

“Bukan gitu.”

“Terus apa?”

Gue diam.

Karena jawabannya…

Itu.

Gue milih.

Dan gue nggak milih dia.

Dia berdiri.

“Jadi selama ini…”

Dia berhenti.

Nahan nangis.

“Gue cuma pelengkap?”

Gue maju.

“Bukan—”

Dia mundur.

“Udah.”

Sunyi.

Dia lihat gue.

Lama.

“Pergi aja.”

Kalimat terakhir.

Gue pergi.

Tanpa balik.

Tanpa kabar.

Tanpa penjelasan.

Arif balik bawa minum.

Gue ambil.

Tangan gue dingin.

“Lo kerja di mana sekarang?” tanya dia.

“Jakarta.”

“Ngapain?”

“Proyek.”

Dia angguk.

“Pantes rapi sekarang.”

Gue senyum kecil.

Dia nggak tahu.

Semua yang gue punya sekarang…

Gue bangun dari nol.

Dari tidur di lantai kontrakan.

Dari makan mie instan tiap hari.

Dari kerja sampai pagi.

Semua itu…

Karena gue mau balik.

Ke sini.

Ke dia.

Gue lihat dia.

Pelan.

“Gue balik buat lo.”

Arif langsung lihat gue.

Dia juga.

Sunyi.

Gue lanjut.

“Sekarang gue sudah siap.”

“Gue bisa kasih semuanya.”

Kalimat itu keluar.

Jujur.

Terlambat.

Dia diam.

Lihat gue.

Lama.

Terus…

Dia senyum kecil.

Tipis.

Dan dia bilang.

Pelan.

Datar.

“Gue dulu cuma butuh lo ada.”

Dunia gue langsung runtuh.

Sunyi.

Bukan karena dia nikah.

Tapi karena…

Semua yang gue kejar selama ini…

Ternyata bukan yang dia butuhin.

Arif lihat kami.

Ngerasa aneh.

Dia berdiri.

“Gue keluar dulu.”

Dia ngerti.

Tinggal gue sama dia.

Lagi.

Gue lihat dia.

“Lo bahagia?”

Dia diam.

Lihat tangannya sendiri.

Baru angguk.

“Iya.”

Satu kata.

Cukup.

Gue berdiri.

Pelan.

“Gue telat ya…”

Dia nggak jawab.

Gue jalan ke pintu.

Pegang gagang.

Berhenti.

Balik lagi.

“Kalau waktu itu gue nggak pergi…”

Suara gue mulai pecah.

“Lo bakal nunggu gue?”

Sunyi.

Dia lihat gue.

Lama.

Banget.

Terus dia jawab.

Pelan.

“Gue nunggu.”

Jantung gue langsung berhenti.

Dia lanjut.

“Tiga tahun.”

Dunia gue langsung hancur.

Tapi belum selesai.

Dia tambah satu kalimat lagi.

Lebih pelan.

Lebih dalam.

“Dan di tahun keempat… gue hamil.”

Semua suara di kepala gue langsung hilang.

Kalimat itu nggak langsung masuk.

“Dan di tahun keempat… gue hamil.”

Gue masih berdiri di depan pintu.

Tangan gue masih di gagang.

Nggak gerak.

“Lo… apa?”

Suara gue pelan. Hampir nggak keluar.

Dia tetap duduk.

Tatap gue.

“Gue hamil.”

Sunyi.

Kepala gue penuh.

“Anak… siapa?”

Pertanyaan itu keluar… refleks.

Dan gue langsung nyesel.

Dia senyum kecil.

Pahit.

“Harus gue jawab?”

Gue diam.

Karena gue tahu.

Tapi gue tetap nanya.

“Arif?”

Dia angguk.

“Iya.”

Jantung gue turun.

Habis.

Dia lanjut.

“Di tahun keempat… gue berhenti nunggu.”

Sunyi.

Gue duduk lagi.

Lemes.

“Kenapa lo nggak cari gue?”

Dia ketawa kecil.

“Ke mana?”

Gue diam.

“Lo hilang, Dim.”

Dia lanjut.

“Nggak ada kabar. Nggak ada nomor. Nggak ada siapa-siapa.”

Gue pegang kepala.

“Iya… tapi—”

Dia potong.

“Gue sudah coba.”

Gue langsung angkat kepala.

“Hah?”

Dia berdiri.

Ambil sesuatu dari laci.

Ditaruh di meja.

HP lama.

Retak.

“Nomor lo dulu.”

Gue lihat.

Itu nomor gue.

Yang lama.

Yang gue buang.

“Gue chat.”

“Gue telepon.”

“Gue nunggu.”

Satu-satu.

“Setiap malam.”

Suara dia mulai bergetar.

“Tiga tahun, Dim.”

Gue nggak bisa ngomong.

Dia lanjut.

“Sampai akhirnya… gue capek.”

Sunyi.

Dari luar, suara Arif ngobrol sama tetangga.

Kehidupan tetap jalan.

Sementara di dalam…

Gue berhenti.

Gue lihat dia.

“Lo nikah karena itu?”

Dia geleng.

“Bukan.”

Sunyi.

Dia tarik napas.

“Gue nikah… karena dia ada.”

Kalimat itu…

Kena.

Dia lanjut.

“Dia nggak pergi.”

Gue langsung menunduk.

Semua yang gue kira…

Salah.

Gue pikir gue pergi demi masa depan.

Tapi buat dia…

Gue cuma pergi.

Tanpa alasan.

Tanpa janji.

Tanpa balik.

Gue berdiri.

Pelan.

“Maaf.”

Kata itu keluar.

Telat.

Dia cuma angguk.

Nggak marah.

Nggak nangis.

Itu justru lebih sakit.

Arif masuk lagi.

Bawa senyum.

“Udah selesai nostalgia?”

Dia bercanda.

Tapi suasananya nggak ikut.

Gue berdiri.

“Gue pulang.”

Arif angguk.

“Iya.”

Dia nggak nahan.

Nggak perlu.

Gue jalan ke pintu.

Buka.

Keluar.

Udara luar terasa beda.

Lebih berat.

Gue jalan ke mobil.

Buka pintu.

Duduk.

Nggak langsung nyalain mesin.

Gue lihat rumah itu lagi.

Dan untuk pertama kalinya…

Gue sadar.

Gue nggak kehilangan dia hari ini.

Gue kehilangan dia…

Empat tahun lalu.

Dan gue baru nyadar sekarang.

HP gue bunyi.

Pesan masuk.

Nomor nggak dikenal.

“Besok datang lagi.”

Gue mengerut.

Siapa ini?

Pesan kedua masuk.

“Kalau lo mau tahu yang sebenarnya.”

Jantung gue langsung kencang.

Sebenarnya… apa?

Pesan itu gue baca berkali-kali.

“Besok datang lagi.”

“Kalau lo mau tahu yang sebenarnya.”

Gue nggak langsung balas.

Gue cuma lihat rumah itu lagi.

Lampunya masih nyala.

Di dalam…

Dia.

Dengan hidup yang sekarang.

Tanpa gue.

Gue tarik napas.

Nyalain mobil.

Pulang.

Malamnya gue nggak bisa tidur.

Kipas angin bunyi.

Jam di HP jalan pelan.

02.41.

Gue masih melek.

Pesan itu masih di kepala.

“Sebenarnya…”

Sebenarnya apa?

Apa lagi yang belum gue tahu?

Jam 03.10.

Gue akhirnya balas.

“Siapa ini?”

Centang dua.

Langsung biru.

Balasan cepat.

“Besok jam 10. Warung kopi depan gang.”

Gue kaku.

Dia tahu gue di mana.

Jantung gue langsung naik.

Besoknya.

Gue datang.

Warung kopi kecil.

Kursi plastik.

Meja kayu.

Bau kopi tubruk.

Gue duduk.

Nunggu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas.

Terus…

Seseorang duduk di depan gue.

Arif.

Gue kaget.

“Lo?”

Dia angguk.

“Gue.”

Sunyi.

Gue langsung tegang.

“Lo yang kirim pesan?”

Dia angguk.

“Iya.”

Gue langsung berdiri sedikit.

“Kenapa?”

Dia angkat tangan.

“Duduk dulu.”

Gue duduk lagi.

Tegang.

Dia lihat gue.

“Lo mau tahu yang sebenarnya kan?”

Gue diam.

Dia lanjut.

“Bukan soal dia nikah.”

“Bukan soal dia hamil.”

Gue mengerut.

“Terus?”

Dia tarik napas.

Pelan.

“Anak itu…”

Dia berhenti.

Lihat gue.

Lama.

“…bukan anak gue.”

Dunia gue langsung berhenti.

“Anak itu… bukan anak gue.”

Kalimat itu nggak masuk.

Gue bengong.

“Hah?”

Arif tetap tenang.

Tatap gue.

“Gue nikah sama dia… waktu dia sudah hamil.”

Jantung gue langsung berisik.

“Terus…?”

Gue nahan napas.

Dia jawab pelan.

“Gue tahu dari awal.”

Sunyi.

Kepala gue mulai panas.

“Kenapa lo nikahin?”

Dia senyum kecil.

“Karena gue sayang dia.”

Sunyi.

Kalimat itu sederhana.

Tapi berat.

Gue nelen ludah.

“Terus… anak itu…”

Dia lihat gue.

Langsung ke mata gue.

“Hitung sendiri waktunya.”

Gue langsung berhenti.

Otak gue muter.

Empat tahun.

Tiga tahun nunggu.

Tahun keempat…

Dia hamil.

Gue langsung berdiri.

Kursi geser keras.

“Anjing…”

Suara gue keluar.

Nggak terkontrol.

Arif tetap duduk.

“Nah, sekarang lo ngerti.”

Gue jalan mundar-mandir.

Kepala gue penuh.

“Kenapa lo baru bilang sekarang?!”

Dia jawab tenang.

“Karena dia nggak mau lo tahu.”

Gue langsung berhenti.

“Hah?”

Dia lanjut.

“Dia mau lo pergi dengan tenang.”

Sunyi.

Gue langsung lemes.

Duduk lagi.

“Dia… tahu itu anak gue?”

Arif angguk.

“Iya.”

Sunyi.

Dada gue sesak.

“Terus kenapa dia nggak bilang?!”

Suara gue naik.

Arif tetap tenang.

“Karena lo pergi.”

Kata itu…

Nusuk.

Dia lanjut.

“Dia nggak mau maksa.”

“Dia nggak mau jadi beban.”

Sunyi.

Semua potongan…

Masuk.

Dia nunggu.

Dia cari.

Dia sendiri.

Dia hamil.

Dan dia tetap…

Nggak ganggu gue.

Gue tutup muka.

Tangan gue gemetar.

“Sekarang… gue harus gimana…”

Suara gue pecah.

Arif diam.

Lama.

Terus dia bilang pelan.

“Datang lagi.”

Gue angkat kepala.

“Ngapain?”

Dia jawab.

“Bukan buat balikin masa lalu.”

Sunyi.

Dia lanjut.

“Tapi buat tanggung jawab.”

Jantung gue langsung berdebar.

Gue berdiri di depan rumah itu lagi.

Hari yang sama.

Jam beda.

Kali ini…

Tangan gue lebih gemetar.

Bukan karena kehilangan.

Tapi karena…

Gue tahu kebenarannya.

Gue ketuk.

“Tok.”

Pintu dibuka.

Dia.

Lihat gue lagi.

Kaget.

“Lo lagi?”

Gue langsung bilang.

“Kita harus ngomong.”

Dia lihat gue.

Curiga.

Arif muncul dari belakang.

Dia cuma angguk kecil ke dia.

Dia bingung.

“Kenapa?”

Gue masuk.

Nggak nunggu.

Gue lihat dia.

Dalam.

“Anak itu…”

Dia langsung kaku.

Sunyi.

Matanya berubah.

“Lo tahu?”

Suara dia pelan.

Gue angguk.

“Iya.”

Sunyi.

Air matanya langsung jatuh.

“Kenapa lo kasih tahu…”

Dia lihat Arif.

Arif cuma diam.

Dia nggak marah.

Dia cuma… capek.

Gue maju satu langkah.

“Kenapa lo nggak bilang ke gue?”

Dia jawab pelan.

“Karena lo pergi.”

Sunyi.

Gue tahan napas.

Dia lanjut.

“Gue nggak mau jadi alasan lo gagal.”

Kalimat itu…

Lebih sakit dari apa pun.

Gue langsung mendekat.

“Gue nggak gagal.”

Suara gue pelan.

“Tapi gue kehilangan.”

Sunyi.

Dia nangis.

Gue juga hampir.

“Sekarang… gue di sini.”

Gue lihat dia.

Lihat perutnya.

Yang dulu…

Gue nggak tahu.

“Itu anak gue.”

Sunyi.

Dia nggak jawab.

Gue lanjut.

“Dan gue mau tanggung jawab.”

Arif lihat gue.

Lama.

Terus dia jalan mendekat.

Berdiri di samping dia.

“Dia sudah punya gue.”

Kalimat itu tenang.

Tapi tegas.

Gue lihat dia.

“Iya.”

Gue angguk.

“Gue nggak mau ambil.”

Sunyi.

Gue lanjut.

“Gue cuma mau jadi bapaknya.”

Sunyi.

Udara di ruangan itu berat.

Dia lihat gue.

Arif.

Balik ke gue.

Air matanya jatuh.

“Lo telat…”

Suara dia pelan.

Gue angguk.

“Iya.”

“Banget.”

Gue tarik napas.

“Makanya… sekarang gue nggak mau telat lagi.”

Sunyi.

Arif lihat dia.

Dia lihat Arif.

Lama.

Terus…

Arif tarik napas.

Dan bilang pelan.

“Kita atur.”

Gue langsung angkat kepala.

Dia lanjut.

“Anak itu butuh bapaknya.”

Sunyi.

Dia nggak nolak.

Dia nggak marah.

Dia cuma…

Terima.

Dia lihat gue.

Pelan.

“Jangan hilang lagi.”

Gue langsung angguk.

“Nggak.”

Kali ini…

Beneran.

Beberapa bulan kemudian.

Gue duduk di taman.

Rafa kecil.

Anak gue.

Lari ke gue.

“Papa!”

Kata itu keluar.

Dan dunia gue…

Akhirnya…

Kembali.

Dia duduk di bangku.

Arif di sebelahnya.

Kami nggak sempurna.

Tapi…

Kami jujur.

Dan untuk pertama kalinya…

Gue nggak cuma sukses.

Gue pulang.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *