AKU PIKIR SEMUANYA SUDAH SELESAI. TIGA BULAN. TIGA BULAN AKU BERHASIL HIDUP SEOLAH DIA TIDAK ADA. SAMPAI MALAM INI — WAKTU HP-KU BUNYI, DAN AKU BACA NAMANYA DI LAYAR.
Aku sedang ngelipet baju di kamar waktu itu.
Suamiku, Dimas, lagi nemenin Kayla mandi. Suara ciprat-ciprat air sama ketawa anakku yang empat tahun itu kedengeran dari balik pintu kamar mandi. Momen paling normal dari hari yang paling normal.
Aku ambil kaus putih Dimas, lipatnya rapi, taro di tumpukan. Ambil piyama Kayla yang motif bintang-bintang. Lipat. Taro.
Normal.
Aman.
Cukup.
Itu yang selalu aku bilang ke diri sendiri belakangan ini. Ini cukup. Kamu udah punya ini semua. Jangan bodoh lagi.
Notifikasi WhatsApp bunyi.
Aku lirik sekilas ke layar HP yang nangkring di ujung kasur.
Nama yang muncul bikin tanganku berhenti di tengah-tengah ngelipet celana.
Arga.
Satu kata itu aja.
Bukan pesan. Bukan dua kata. Cuma namanya, di notifikasi, dengan preview tiga titik yang artinya dia lagi ngetik.
Perutku langsung turun.
Aku kenal Arga sudah empat tahun. Kami satu divisi di kantor. Dia senior, aku junior waktu pertama masuk. Dia yang ngajarin aku cara baca laporan keuangan yang bener, cara presentasi di depan klien, cara survive di kantor yang culture-nya lumayan toxic.
Tiga puluh tujuh tahun. Sudah punya istri. Sudah punya anak satu, laki-laki, namanya Rizki, umur enam tahun.
Dan aku?
Tiga puluh tiga. Istri orang. Ibu dari Kayla yang sekarang lagi dinyanyiin lagu nina bobo sama bapaknya di kamar mandi sebelah.
Kami goblok. Dua-duanya.
Empat bulan itu terjadi kayak gaya gravitasi — pelan-pelan, tanpa drama besar, tanpa rencana. Cuma kelebihan kerja lembur, cuma dua orang yang energinya sama-sama meledak-ledak, cuma adrenaline yang kecanduan, cuma ketawa yang terlalu nyambung, cuma satu momen yang harusnya nggak terjadi tapi terjadi juga di akhir Oktober tahun lalu.
Dan aku benci diri sendiri setiap kali inget itu.
Tapi aku lebih benci fakta bahwa empat bulan itu… aku nggak pernah ngerasa lebih hidup.
Yang bikin mual.
Tiga bulan lalu aku potong semuanya.
Bukan karena Dimas curiga. Bukan karena ada yang ketahuan. Cuma karena suatu pagi aku bangun, liat Kayla tidur di antara aku dan Dimas, dan aku nggak bisa napas.
Aku nggak mau jadi orang ini.
Besoknya aku bilang ke Arga di pantry kantor, waktu nggak ada orang. Singkat. Dingin. Aku hafal kalimatnya sampai sekarang.
“Arga, ini selesai. Mulai hari ini kita balik jadi rekan kerja. Tolong jangan bikin ini susah.”
Dia nggak ngomong apa-apa. Cuma ngangguk.
Dan dua minggu pertama memang susah. Canggung. Aku hindarin dia di meeting, aku nggak jawab kalau dia chat soal kerjaan lebih dari yang perlu, aku duduk di sisi berlawanan pas makan siang.
Tapi lama-lama jadi biasa. Dia juga kayak jalan terus. Aku lega.
Aku pikir kami berdua udah sepakat ini selesai.
HP-ku bunyi lagi.
Aku ambil. Baca.
Arga: “Rat.”
Satu kata. Panggilan singkat itu. Dulu aku suka dipanggil gitu sama dia.
Sekarang bikin aku eneg.
Aku skip, masukin HP ke saku daster, terusin ngelipet baju.
Kamar mandi kebuka. Dimas keluar sambil gendong Kayla yang udah dibungkus handuk. Anak itu langsung ngacir ke arahku, masuk di bawah timbunan baju yang belum dilipet.
“Kayla, jangan berantakin—”
“Mamaaaa.” Dia ngintip dari balik tumpukan. “Besok Kayla mau bawa bekel nasi goreng ya.”
“Iya. Tidur dulu.”
Dimas duduk di pinggir kasur. Lihat mukaku sebentar.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
Dia nggak tanya lagi. Itu yang aku suka sekaligus kadang bikin aku takut — Dimas nggak banyak nanya. Dia percaya aku.
Itu yang bikin semuanya makin berat.
Malam itu aku tidur jam sebelas. Atau pura-pura tidur.
Dimas udah napasnya teratur di sebelah kiriku. Kayla ngglundung di tengah kayak biasa. Aku telentang, matain plafon yang gelap, dengerin suara kipas angin yang rodanya udah sedikit berdecit.
HP aku taro di atas meja. Silent.
Tapi aku tau ada pesan di sana.
Aku tunggu setengah jam. Dimas napasnya makin dalam. Aku pelan-pelan ambil HP.
Layar nyala.
Empat pesan dari Arga.
Arga 21:47: “Rat.”
Arga 21:52: “Kamu masih marah?”
Arga 22:03: “Gue kangen. Serius. Ini bukan basa-basi.”
Arga 22:58: “Gue tau ini salah. Tapi gue nggak bisa pura-pura nggak ada perasaan. Lo juga pasti tau.”
Aku matiin layar.
Tarik napas.
Ini bukan yang pertama. Dua minggu belakangan ini dia udah mulai lagi. Awalnya chat kerjaan yang sedikit kelamaan. Terus jadi celetukan kecil di kantor yang kelihatannya innocent tapi aku tau nggak innocent. Terus makin eksplisit.
Kemarin dia nggak sengaja — atau pura-pura nggak sengaja — duduk di sebelahku waktu meeting. Dan waktu semua orang lagi fokus ke layar proyektor, dia bisik.
“Gue kangen ngobrol sama lo.”
Aku diem. Pura-pura nggak denger.
“Rat.”
Aku balik laptop, geser ke sisi lain meja.
Dia nggak bilang apa-apa lagi. Tapi pas meeting bubar dan semua orang keluar duluan, dia pegang siku tanganku sebentar — cuma sepersekian detik — dan bisik satu kalimat yang sampe sekarang masih muter di kepalaku.
“Gue mau ngajakin lo jalan. Beneran. Bukan kayak dulu. Lebih dari itu.”
Aku tarik tanganku. Aku keluar duluan.
Dan malamnya aku nggak bisa tidur.
Aku buka HP lagi.
Jempol aku hover di atas nama kontaknya. Ada satu bagian dari otak aku yang capek banget — capek nolak, capek ngehindarin, capek ngerasa bersalah setiap kali dia muncul lagi.
Aku pengen ini selesai. Beneran selesai. Bukan cuma dihindarin.
Tapi gimana caranya?
Aku nggak bisa cerita ke Dimas. Nggak mungkin. Itu bukan pilihan.
Aku nggak bisa lapor HR karena itu bakal buka semua yang pernah terjadi. Dan aku sama-sama salahnya.
Aku nggak bisa pindah divisi karena project kami masih satu tim sampe Agustus.
Aku udah nolak baik-baik. Aku udah diem. Aku udah pura-pura nggak ada. Dan dia tetap balik.
Satu malam itu aku kepikiran satu hal.
Kalau istrinya tau — mungkin dia bakal berhenti.
Bukan dari aku. Dari orang ketiga. Anonim. Pake nomor baru. Cukup kirimin screenshot atau info yang cukup buat dia jaga suaminya. Nggak perlu ada namaku di mana-mana.
Tapi…
Aku nggak tau siapa istrinya. Cuma tau namanya Santi. Pernah muncul sekali di foto profil Arga yang sekarang udah digantin pemandangan. Perempuan, rambut pendek, senyum lebar.
Dan di situ ada satu hal yang dari tadi mengganjel.
Aku pernah lihat perempuan itu sebelumnya.
Bukan di foto profil Arga. Sebelum itu.
Tapi aku nggak bisa inget di mana.
Paginya kantor.
Aku dateng lebih awal dari biasa. Beli kopi di minimarket bawah gedung, naik lift, langsung duduk di meja sendiri.
Arga belum masuk.
Aku buka laptop, mulai kerja. Atau pura-pura kerja. Jari aku di keyboard tapi mata aku sesekali ngintip ke arah pintu masuk.
Jam delapan lewat dua puluh, dia masuk.
Kemeja abu-abu. Rambut masih agak basah. Tas selempang di bahu kiri. Dia langsung ke mejanya, naro tas, nyalain laptop.
Terus lihat ke arahku.
Aku balik lihat layar.
Beberapa menit kemudian ada chat masuk di laptop.
Jalur chat internal kantor.
Arga: “Pagi.”
Aku nggak bales.
Arga: “Kita perlu ngobrol. Serius. Bukan soal kerjaan.”
Aku tutup jendela chat itu.
Jam istirahat aku keluar sendiri. Bawa makan dari rumah, makan di taman kecil belakang gedung yang jarang ada orangnya.
Duduk di bangku beton. Buka tempat makan. Nasi sama tempe goreng yang Dimas masakin tadi pagi.
Aku makan pelan. Nggak kerasa enak, nggak kerasa nggak enak. Cuma ngunyah.
HP aku taro di sebelah.
Dan itu bunyi.
Bukan dari Arga.
Dari nomor yang nggak aku kenal.
Aku buka.
Satu pesan. Nggak ada nama.
“Kamu Ratna? Yang kerja di Meridian Konsultan lantai 7?”
Aku diem.
Siapa ini?
Aku scroll ke atas. Nggak ada pesan sebelumnya. Nomor baru. Nggak ada foto profil. Nggak ada nama.
Jantungku tiba-tiba berdetak nggak karuan.
Aku ketik: “Siapa ini?”
Tiga titik muncul. Orang itu lagi ngetik.
Aku tunggu.
Pesan masuk.
“Nama saya Santi. Istri Arga.”
Tempat makanku hampir jatuh.
Aku tangkep di detik terakhir. Nasi berantakan sedikit di pinggir baju. Aku nggak peduli.
Mataku baca ulang kalimat itu tiga kali.
Santi. Istri Arga.
Tangan aku gemetar waktu aku bales.
“Ada apa, Bu?”
Tiga titik lagi.
Lama banget.
Aku nggak bisa napas.
Terus pesan itu masuk. Pendek. Cuma dua kalimat.
Dua kalimat yang bikin seluruh isi kepalaku tiba-tiba putih.
“Saya tau semuanya, Ratna. Dan saya perlu ketemu kamu — bukan untuk berantem. Saya butuh bantuan kamu.”
Kafe itu di basement mal yang nggak terlalu ramai.Santi yang pilih tempatnya. Pesan lewat WhatsApp, singkat, sopan. “Bisa jam 12 siang? Saya udah di sini duluan.”Aku bilang bisa. Tapi sampai lift mal itu kebuka, kakiku masih mau balik arah.Aku masuk juga.Dia duduk di pojok. Meja paling ujung, jauh dari kasir. Rambut pendek, kerudung krem, baju polos abu-abu. Muka yang aku pernah lihat sekali di foto profil Arga sebelum fotonya diganti pemandangan.Dia lihat aku duluan. Angkat tangan pelan.Aku jalan ke sana. Duduk di depannya.Dua detik pertama cuma sunyi.Aku siap dicaci. Siap ditampar. Siap nangis di sini. Apapun.Yang nggak aku siap adalah ini:Dia senyum. Kecil. Lelah.”Makasih udah mau dateng,” katanya.Suaranya nggak gemetar.Kopi pesanannya udah setengah. Dia dorong menu ke arahku tapi aku geleng. Perut aku nggak bisa nerima apa-apa sekarang.”Santi tau dari kapan?” aku akhirnya tanya.”Empat bulan lalu.” Dia pegang cangkirnya. “Waktu kamu dan Arga masih… jalan.”Aku nggak bisa lihat mukanya.”Arga ceroboh,” lanjutnya. “Dia sering lupa log out WhatsApp Web. Aku liat dari laptop yang dipake bareng.””Dan kamu nggak—””Konfrontasi waktu itu?” Dia menggeleng. “Aku perlu waktu. Dan aku perlu sesuatu yang lebih dari sekedar screenshot.”Dia cerita pelan. Tertata. Kayak orang yang udah latihan ngomong ini berkali-kali sendirian.Arga bukan pertama kali.Sebelum aku, ada perempuan lain. Namanya Devi. Rekan kerja di kantor lama Arga sebelum dia pindah ke tempatku sekarang. Santi nemuin fotonya di folder tersembunyi di HP Arga dua tahun lalu.”Waktu aku konfrontasi Arga soal Devi, dia minta maaf. Nangis. Bilang khilaf. Aku percaya.” Dia berhenti sebentar. “Ternyata itu bukan khilaf. Itu pola.”Aku menelan ludah.”Kamu bukan salah satu-satunya yang kena pola itu, Ratna.”Kalimat itu nggak bikin aku merasa lebih baik. Justru makin sesak.”Terus kamu butuh bantuan aku untuk apa?” aku tanya.Santi keluarin HP. Buka galeri foto. Geser-geser sebentar.Dia taro HP di meja, dorong ke arahku.Screenshot chat. Panjang.Aku baca.Itu chat Arga sama seseorang — nomornya nggak aku kenal, mungkin teman lama. Mereka ngobrol soal kantor. Soal “perempuan di divisi yang bikin gue nggak bisa move on.” Soal rencana.Aku scroll pelan.Dan di baris ketiga dari bawah, aku lihat satu kalimat yang bikin darahku dingin.”Kalau dia tetep keukeuh nggak mau, ya gue kasih tau suaminya. Namanya Dimas kan? Gampang dilacak.”Aku taruh HP itu.Tanganku gemetar di atas meja.”Ini—” aku mulai.”Dikirim tiga minggu lalu,” kata Santi. “Aku dapet ini dari orang yang sama yang Arga chat. Teman lama Arga yang akhirnya ngasih ke aku karena dia nggak nyaman.”Aku nggak bisa ngomong.Nama suamiku ada di sana. Di rencana Arga. Bukan kebetulan, bukan ancaman kosong — dia udah riset. Udah tau nama Dimas.”Arga bukan cuma pengen balik sama kamu, Ratna.” Santi lihat mataku. “Dia pengen kontrol. Kalau nggak bisa dapet kamu, dia pastiin situasinya tetap di tangannya.””Kamu minta aku ngapain?” suaraku serak.”Aku mau cerai. Aku udah konsultasi pengacara.” Dia tenang. Terlalu tenang untuk situasi ini. “Tapi Arga tau rencana aku. Dia ancam soal aset bersama, soal hak asuh Rizki. Dia bilang kalau aku terusin proses cerai, dia bakal buka-bukaan soal ‘kelakuan aku yang nggak becus jaga suami.'””Dia balik nyalahin kamu?””Itu bukan yang pertama kali.”Aku diam.”Yang aku butuh,” lanjut Santi, “adalah saksi bahwa Arga yang aktif mengejar. Bukan aku yang gagal. Bukan kamu yang goda-goda. Tapi dia — yang punya pola, yang punya rencana, yang bahkan udah nyebut nama suami kamu sebagai kartu ancaman.”Aku ngerti sekarang.Dia nggak butuh aku ngaku di pengadilan. Dia butuh aku jadi bukti bahwa ini sistematis. Bahwa ini bukan kecelakaan sekali.Bahwa Arga adalah bahaya yang terencana.Aku staring ke meja. Lama.”Kalau aku bantu,” aku bilang pelan, “suamiku bisa tau semuanya.””Aku nggak akan kasih nama kamu ke siapapun tanpa izin kamu.” Santi langsung. “Tapi kamu juga perlu tau satu hal.”Dia ambil HP lagi. Buka sesuatu. Taro di depanku lagi.Bukan screenshot. Bukan chat.Email.Terkirim kemarin malam. Ke alamat yang aku kenal.Alamat email kantor suamiku.Isi emailnya baru aku baca tiga baris pertama waktu HP-ku bunyi.Notifikasi WhatsApp.Dari Dimas.”Rat, pulang jam berapa? Ada yang mau aku obrolin.”
Aku bilang ke Santi aku perlu pulang.Dia ngangguk. Nggak nahan. Cuma bilang satu hal sebelum aku berdiri.”Baca dulu emailnya sampai habis, Ratna. Kamu perlu tau persis apa yang udah dia kirim.”Aku bawa screenshot emailnya di HP. Di dalam Grab yang aku pesan dadakan, aku baca.Email itu panjang. Rapi. Bahasanya formal, hati-hati.Pengirimnya pakai alamat email yang nggak aku kenal — bukan nama Arga, bukan nama perusahaan. Akun baru.Tapi aku kenal cara susun kalimatnya.Isinya kurang lebih: “Sebagai sesama rekan kerja, saya merasa perlu menyampaikan bahwa ada hubungan yang kurang profesional antara istri Bapak dan seorang kolega di tempat kerja yang sama. Saya khawatir Bapak tidak menyadari situasi ini. Saya harap Bapak bisa lebih cermat.”Nggak ada nama. Nggak ada bukti spesifik.Tapi cukup untuk bikin Dimas curiga.Dan baris paling bawah — yang bikin aku mual di dalam mobil itu — emailnya di-CC ke satu alamat lagi.Alamat HR kantorku.Aku tarik napas dalam-dalam.Keluar pelan.Sopir Grab-nya lagi dengerin podcast, nggak perhatiin aku. Bagus.Aku pikir cepat.Kalau Dimas baca emailnya sekarang, dia pasti nanya. Dan aku belum siap jawab. Belum tau harus jawab apa, seberapa jujur, seberapa yang harus ditutup.Kalau HR baca emailnya duluan, ini bisa jadi masalah kerja. Aku bisa dipanggil. Diinvestigasi. Dan kalau Arga ngomong duluan di sana, versinya versi dia.Aku nggak punya waktu banyak.Aku buka WhatsApp. Balas Dimas.”Bentar ya, masih di luar. Macet. Jam 3 an nyampe.”Dia baca. Nggak langsung bales. Dua centang biru aja.Aku nggak bisa baca itu sebagai apa-apa. Mungkin dia lagi sibuk. Mungkin emang nggak ada apa-apa.Mungkin dia udah baca emailnya.Rumah kami di lantai dua kompleks kecil yang gang masuknya sempit. Biasanya aku suka gang itu — pohon rambutan di ujung, suara anak-anak sore, bau masakan dari rumah sebelah.Sore itu aku nggak ngerasa itu semua.Aku dorong pintu.Dimas duduk di sofa. Laptop buka di pangkuannya. Kayla nggak ada — mungkin masih di TK, belum dijemput.Dia lihat ke arahku.Aku scan mukanya secepat mungkin.Bukan marah. Bukan dingin. Tapi ada sesuatu yang nggak biasa di matanya. Semacam capek yang aneh.”Dari mana?” tanyanya.”Urusan kantor bentar.” Aku lepas sepatu. “Kayla?””Belum aku jemput. Masih sejam lagi.”Aku duduk di kursi sebelah. Laptop-nya masih nyala. Aku coba lihat layarnya dari sudut mata — spreadsheet. Kerjaan.Bukan email.Aku hembuskan napas yang dari tadi aku tahan.”Kamu mau ngobrol soal apa?” aku tanya. Wajar. Santai. Semampuku.”Soal bulan depan.” Dia tutup laptop. “Mama minta kita ke Semarang pas long weekend. Kamu bisa izin nggak dari kantor?”Aku diam sedetik.”Itu aja?””Itu aja.” Dia ngelirik aku. “Kenapa? Kamu nyangka apa?””Nggak. Nggak ada.”Malam itu aku nunggu Dimas tidur.Jam sebelas lewat. Napasnya udah teratur. Kayla udah nggak gerak.Aku ambil laptop Dimas dari meja kerjanya. Pelan. Tanpa suara.Aku tau passwordnya. Kami pernah sepakat share akun buat bayar tagihan bersama.Aku buka. Masuk ke emailnya.Cari di folder masuk.Nggak ketemu.Cek spam.Ada.Email itu masuk ke spam. Belum dibuka.Aku baca ulang sampai habis. Makin jelas betapa rapinya Arga nyusun kalimat — nggak ada yang bisa langsung dijadiin bukti, tapi cukup untuk nanam benih curiga yang bakal tumbuh.Dan CC ke HR itu yang paling berbahaya.Aku tutup email itu. Nggak aku hapus — belum. Kalau tiba-tiba hilang dan Dimas nyarinya, itu malah mencurigakan.Aku kembalikan laptop. Balik ke kasur.Telentang. Matain plafon.Besok aku harus ke kantor.Dan aku harus bergerak duluan sebelum HR baca email itu.Pagi-pagi aku udah di kantor jam tujuh empat puluh lima.Gedung belum penuh. Satpam di lobby masih nyapu. Lift kosong.Aku naik ke lantai tujuh. Bukan ke meja aku. Tapi ke ujung koridor — ruangan HR.Pintu masih tutup. Tapi ada lampu nyala dari celah bawah pintu.Aku ketuk.”Masuk.”Bu Hesti, Head of HR. Perempuan lima puluh an, rambut pendek, kacamata kotak. Dia lihat aku masuk dengan ekspresi netral yang biasa.”Ratna? Ada apa pagi-pagi?”Aku duduk di kursi depan mejanya. Taruh HP di atas meja. Udah aku buka aplikasi pesan internal Arga ke aku — semua chat selama dua minggu terakhir. Yang soal “kangen.” Yang soal “ajak jalan.” Yang soal “lebih dari itu.””Bu Hesti, saya mau lapor resmi.” Suaraku lebih stabil dari yang aku kira. “Saya mengalami harassment dari rekan kerja. Dan saya khawatir dia akan bergerak duluan dengan versinya sendiri.”Bu Hesti pasang kacamatanya. Lihat HP-ku. Mulai baca.Aku liatin mukanya berubah pelan-pelan.Dan di detik itu aku denger pintu lift di ujung koridor kebuka.Aku nggak perlu lihat buat tau itu siapa.Suara sepatunya. Langkah yang aku kenal dari empat tahun.Arga.
Aku nggak gerak dari kursi Bu Hesti.
Langkah itu lewat di depan ruangan HR. Nggak berhenti. Terus ke arah ruang kerja.
Bu Hesti angkat muka dari HP-ku. Lihat ekspresi aku. Turunkan suaranya.
“Ini Arga Saputra yang dimaksud?”
“Iya, Bu.”
Dia ngangguk pelan. Taruh HP-ku di meja dengan hati-hati. Ambil pulpen. Buka buku catatannya.
“Saya minta kamu ceritakan kronologinya dari awal.”
Aku cerita selama hampir empat puluh menit.
Bukan semuanya. Bukan bagian yang menyangkut empat bulan itu.
Tapi yang aku ceritain cukup — tiga minggu belakangan. Chat-chat yang terus dateng meski udah ditolak. Momen di meeting. Bisikan di siku tanganku. Nada yang makin lama makin nggak bisa dibaca sebagai “cuma rekan kerja.”
Bu Hesti nulis. Sesekali nanya.
“Apakah ada ancaman langsung?”
“Nggak eksplisit, Bu. Tapi nada pesannya terasa menekan.”
“Apakah ada saksi lain?”
“Nggak ada yang lihat langsung. Tapi chat-nya ada semua.”
“Baik.” Dia tutup buku catatannya. “Saya akan proses ini secara formal, Ratna. Arga akan dipanggil untuk klarifikasi. Sementara itu, hindari kontak yang tidak perlu.”
Aku ngangguk. Berdiri. Mau keluar.
“Ratna.”
Aku berhenti.
“Tadi ada email masuk ke inbox HR.” Bu Hesti lihat mataku. “Anonim. Soal kamu.”
Perut aku turun.
“Kami akan lihat apakah itu relevan dengan laporan kamu, atau justru bagian dari pola yang kamu laporin.”
Nggak ada yang aku bisa bilang selain, “Terima kasih, Bu.”
Aku balik ke meja. Buka laptop. Pura-pura kerja.
Setengah jam kemudian, aku lihat dari sudut mata — dua orang HRD masuk ke ruang Arga. Pintu ditutup.
Arga nggak keluar sampai jam sebelas.
Waktu dia keluar, dia langsung ke lift. Nggak lirik ke arahku sekalipun.
Tapi sebelum lift kebuka — dia berhenti sedetik. Nggak berbalik. Cuma berdiri.
Terus masuk lift.
Pintu nutup.
Siangnya aku dapat pesan dari nomor Santi.
“Arga baru aja hubungin aku. Nanya aku tau apa. Aku bilang aku tau semuanya.”
Aku ketik: “Gimana dia?”
“Diem. Terus matiin telpon.”
“Kamu aman?”
“Aku di rumah orang tua dari tadi pagi. Rizki juga di sini.”
Aku lepas napas.
“Proses cerainya gimana?”
“Pengacara aku udah file tadi pagi. Arga belum tau detailnya, tapi sekarang dia tau aku serius.”
Aku balas: “Santi — ada email yang dia kirim ke inbox HR kantorku. Aku udah lapor lebih dulu. Tapi mungkin dia juga kirim ke suamiku.”
Jeda sebentar.
“Aku tau. Email yang sama dia kirim ke beberapa alamat. Ini polanya, Ratna. Dia scatter ancaman supaya kamu nggak bisa kontrol semuanya sekaligus.”
Aku diam baca itu.
“Suami kamu udah baca?”
“Belum. Masih di folder spam.”
“Kamu mau gimana?”
Pertanyaan itu duduk di dadaku sampai aku pulang.
Aku jemput Kayla dari TK. Dia cerita soal teman barunya yang bisa salto, soal crayon ungu miliknya yang dipatah-patahin teman, soal bu guru yang pakai baju bunga hari ini.
Aku dengerin. Jawab. Ketawa di tempat yang harusnya aku ketawa.
Tapi kepala aku nggak di sana.
Kepala aku ada di laptop Dimas yang sekarang di atas meja kerjanya. Di email yang masih duduk di folder spam. Yang bisa kebuka kapan saja.
Malam itu Dimas masak sendiri karena aku bilang agak nggak enak badan. Dia masakin sop yang bumbunya kurang garam, tapi dia semangat banget nyajiin. Taruh di depan aku dengan tampang yang minta dihargai.
“Gimana?”
“Enak,” aku bohong.
Dia puas. Duduk di depanku. Makan sambil cerita soal proyek yang deadlinenya mau mepet.
Aku lihat mukanya.
Sudut matanya yang mulai ada garis halus. Kebiasaannya ngaduk kuah sop dari tepi ke tengah. Cara dia ketawa kecil di kalimat sendiri sebelum selesai diceritain.
Empat tahun menikah.
Dan aku duduk di sini dengan satu kebohongan yang kalau terbuka bisa menghancurkan semua ini.
Jam sepuluh malam, Dimas mandi. Kayla udah tidur.
Aku buka laptop Dimas.
Masuk ke email. Spam. Email Arga masih di sana. Belum dibuka.
Aku gerakin kursor ke tombol hapus.
Tahan.
Aku baca ulang isinya sekali lagi.
Nggak ada nama. Nggak ada bukti konkret. Tapi cukup buat menanam tanya di kepala suami manapun yang baca.
Kalau aku hapus dan Dimas nggak pernah tau — aku aman. Tapi aku hidup dengan ini selamanya. Dimas nggak pernah tau dia hampir kehilangan kepercayaan sama aku. Nggak pernah tau ada yang nyoba hancurin pernikahannya dari luar.
Kalau aku jujur—
Suara shower berhenti.
Aku tutup laptop. Cepat. Taruh balik ke posisi semula.
Dimas keluar. Handukan. Lihat aku di sofa.
“Belum tidur?”
“Bentar.”
Dia duduk di sebelah. Bau sabun. Rambut masih basah.
“Rat.”
“Hm?”
“Kamu kenapa belakangan ini?”
Aku nggak jawab langsung.
“Bukan mau nyalahin,” lanjutnya. “Cuma ngerasa ada yang kamu simpen. Kalau ada masalah di kantor, boleh cerita.”
Tenggorokanku kering.
Satu bagian dari aku mau ngomong sekarang. Muntahin semuanya. Minta maaf untuk hal yang aku nggak tau gimana minta maafnya.
Tapi yang keluar cuma:
“Ada kolega yang ganggu aku di kantor. Udah aku tangani. Aku nggak cerita karena nggak mau kamu khawatir.”
Dimas diam.
“Ganggu gimana?”
“Terlalu sering chat. Nggak profesional.” Aku jaga napas aku. “Udah aku laporin ke HR tadi pagi.”
Dia nggak ngomong apa-apa beberapa detik.
Terus dia taruh tangannya di punggungku.
“Kenapa nggak bilang dari awal?”
Aku nggak bisa jawab itu.
“Itu tugasku, Rat. Khawatirin kamu.”
Pagi itu aku bangun lebih dulu dari semua orang.
Duduk di dapur. Tunggu air mendidih. Dengerin suara komplek yang pelan-pelan hidup — motor lewat, suara toa masjid, langkah sendal di teras tetangga.
HP-ku di meja. Notifikasi dari Santi masuk jam enam pagi.
“Ratna, bisa telpon?”
Aku keluar ke teras belakang. Tutup pintu pelan.
Telpon.
Santi angkat sebelum nada kedua.
“Arga tadi malam dateng ke rumah orang tuaku.”
Aku langsung tegang. “Dia ngapain?”
“Dia minta ngobrol. Aku nggak bukain pintu. Dia teriak-teriak dari luar hampir sejam.” Suara Santi datar, tapi aku denger napasnya. “Tetangga udah pada keluar. Akhirnya dia pergi sendiri.”
“Kamu aman?”
“Aku aman. Tapi ini yang pengacara aku tunggu.” Satu jeda. “Aku rekam semuanya, Ratna. Dari awal dia dateng. Suara dia teriak. Ada tetangga yang juga jadi saksi. Ini bukti pelecehan psikologis yang pengacara aku butuh.”
Aku pegang pagar teras. Besi itu dingin di telapak tangan.
“Pengacara kamu bilang gimana?”
“Proses dipercepat. Dengan bukti kemarin malam, hakim bisa pertimbangin hak asuh Rizki langsung ke aku.” Santi berhenti sebentar. “Arga terlalu percaya diri. Dia pikir dengan bikin semua orang takut, dia bisa kontrol semua orang.”
“Tapi kamu nggak takut.”
“Aku udah takut terlalu lama, Ratna. Aku capek.”
Jam sembilan pagi aku dapat email resmi dari Bu Hesti.
Subjek: Tindak Lanjut Laporan Internal — Saputra, Arga.
Isinya singkat. Arga Saputra dibebastugaskan sementara dari semua proyek aktif sambil proses investigasi berjalan. Dia diminta nggak masuk kantor sampai ada keputusan lebih lanjut. Semua komunikasi kerja yang melibatkan aku akan dialihkan ke koordinator lain.
Satu paragraf terakhir:
“Terkait email anonim yang diterima HR pada tanggal yang sama, setelah ditelaah bersama laporan yang masuk, email tersebut dinilai sebagai bagian dari situasi yang sedang diinvestigasi dan tidak akan diproses sebagai pengaduan terpisah.”
Aku baca itu tiga kali.
Email ke HR sudah dikubur dalam prosesnya sendiri.
Aku tutup laptop. Taruh kepala di atas tangan sebentar.
Satu ancaman selesai.
Tapi masih ada satu yang belum.
Email di folder spam Dimas.
Aku buka HP. Masuk ke akun email bersama kami — yang kami buat buat bayar listrik, cicilan, tagihan kartu kredit. Dari sana aku bisa akses inbox Dimas.
Email itu masih ada. Masih belum dibuka.
Aku berdiri lama di depan layar.
Kalau aku hapus — Dimas nggak pernah tau. Bersih. Aman.
Tapi selama tiga hari ini, setiap kali Dimas lihat aku dengan cara itu — tenang, percaya, nggak nanya terlalu banyak — ada sesuatu di dadaku yang sakit bukan karena ketakutan.
Tapi karena dia layak tau. Bukan semuanya. Tapi cukup untuk nggak jadi orang yang paling nggak tau di cerita hidupnya sendiri.
Sore itu, setelah Kayla tidur siang, aku duduk di depan Dimas.
Dia lagi baca di sofa. Dia turunin bukunya waktu lihat mukaku.
“Ada apa?”
Aku ambil napas.
“Mas, aku mau jujur soal satu hal.”
Dia tutup buku. Sepenuhnya perhatiin aku.
“Kolega yang aku bilang ganggu itu—” aku pilih kata-kata pelan. “Ini udah agak lama. Bukan baru kemarin. Aku nggak cerita karena… aku pikir bisa handle sendiri. Dan aku malu nggak cerita dari awal.”
Dimas diam. Dengerin.
“Dia beberapa kali kirim pesan yang nggak profesional. Aku udah nolak. Aku udah diemin. Tapi dia nggak berhenti. Dan waktu dia mulai cari-cari informasi soal kamu — soal nama kamu — aku baru sadar ini udah keluar batas.”
Matanya berubah.
“Dia nyari info soal aku?”
“Iya. Makanya aku langsung lapor HR.”
Beberapa detik sunyi.
“Nggak ada yang dia tau soal aku?”
“Nggak ada yang dia bisa pake.”
Dimas taruh bukunya. Berdiri. Jalan ke arahku. Duduk di sebelah, bukan di depan.
“Ratna.”
“Iya.”
“Kenapa nggak cerita dari awal?”
Aku nggak langsung jawab.
“Takut kamu khawatir. Takut kamu ngerasa aku nggak bisa jaga diri.”
“Itu bukan tugasmu sendirian.” Suaranya nggak marah. Pelan. “Kita kan bareng.”
Tenggorokanku kencang.
“Iya,” aku bilang. “Aku tau sekarang.”
Dia pegang tanganku. Nggak bilang apa-apa lagi.
Nggak perlu.
Tiga hari kemudian, aku hapus email di folder spam Dimas.
Bukan karena takut. Tapi karena email itu bukan kebenaran — itu jebakan yang dibuat seseorang yang marah karena kehilangan kontrol. Dan aku nggak mau satu kalimat dari orang itu masih punya tempat di hidup kami.
Yang nyata, aku udah bilang. Dengan cara aku. Dengan kata-kata aku.
Itu cukup.
Seminggu kemudian, pesan dari Santi masuk jam delapan pagi.
“Sidang pertama kemarin lancar. Hakim terima semua bukti. Arga nggak bisa banyak ngomong.”
Aku ketik: “Rizki gimana?”
“Dia sama aku. Arga minta waktu ketemu, tapi harus lewat pengacara dulu. Lebih aman.”
“Kamu kuat banget, San.”
Jeda sebentar.
“Kita sama-sama, Rat. Makasih udah percaya waktu aku duluan yang hubungi. Aku tau itu nggak mudah buat kamu juga.”
Aku taruh HP.
Keluar ke teras depan. Pagi Minggu, jalanan komplek sepi. Bau tanah habis hujan semalam masih ada. Suara Kayla dari dalam — dia lagi minta Dimas bacain buku, suara Dimas yang pura-pura jadi karakter dengan suara aneh sampai Kayla ngakak.
Aku berdiri di sana sebentar.
Nggak ada yang sepenuhnya bersih dari semua ini. Aku tau itu. Aku bawa bagian ini — yang nggak bisa aku ceritakan ke siapa-siapa, yang akan aku proses sendiri, yang mungkin butuh waktu lama buat berdamai dengannya.
Tapi hari ini, di teras ini, dengan suara ketawa anakku dari balik pintu—
Ini nyata.
Ini milik aku.
Dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilnya.