WAKTU KECIL, GUE DIPAKSA BERHENTI BERTEMAN SAMA DIA.

TANPA PENJELASAN. TANPA PERPISAHAN.
HARI INI, DIA JADI ORANG PALING CANTIK DI RUANG KELAS INI.
Padahal dulu, kita cuma anak kecil yang rebutan ayunan di halaman kantor orang tua.
Namanya Jeyslin.
Dulu, setiap sore, gang kecil di belakang kantor jadi arena perang imajinasi kita. Sendal jepit jadi kapal. Kardus bekas jadi benteng. Nyokap gue teriak dari jendela lantai dua.
“Jangan lari ke parkiran!”
Nyokapnya dia balas teriak.
“Jeyslin, jangan pulang magrib!”
Semua biasa. Sampai suatu malam.
Gue ingat jelas.
Suara piring pecah.
Suara pintu dibanting.
Suara bapak gue teriak pakai nama ayahnya dia.
Besoknya, nyokap bilang singkat.
“Kamu nggak usah main sama Jeyslin lagi.”
Di kantor, katanya ada masalah proyek. Tender gagal. Tuduh-menuduh. Uang. Nama baik. Harga diri.
Yang kena? Kita.
Waktu itu gue cuma berdiri di depan pagar rumahnya. Dia juga di sana. Kita saling lihat.
Tapi nggak ada yang berani nyebrang.
Besoknya, keluarganya pindah.
Gang jadi sepi.
Ayunan berkarat.
Dan gue tumbuh dengan satu bagian masa kecil yang kayak dicabut paksa.
—
Bertahun-tahun lewat.
Gue kuliah di Bandung.
Kampus negeri. Gedung fakultas catnya mulai kusam. Kipas kelas bunyinya “tek-tek-tek” tiap muter. Toa masjid kampus sering feedback sebelum azan.
Hari pertama ospek jurusan.
Gue duduk di bangku tengah. Lagi buka HP. Grup keluarga rame.
Bapak kirim pesan panjang soal politik kantor lama. Masih aja.
Tiba-tiba pintu kelas kebuka.
Cewek masuk.
Rambut panjang, jatuh rapi di bahu. Kemeja putih sederhana. Tas hitam kecil.
Dia lihat sekeliling.
Terus mata kita ketemu.
Dunia nggak slow motion.
Nggak ada musik dramatis.
Cuma jantung gue yang mendadak berisik sendiri.
Itu dia.
Jeyslin.
Dia juga diam setengah detik. Terus pura-pura cari bangku.
Duduk dua baris di depan.
Gue bisa lihat ujung rambutnya bergerak kena angin kipas.
Dosen masuk. Perkenalan satu-satu.
“Nama saya Jeyslin Aditya.”
Suaranya lebih tenang dari yang gue ingat.
Giliran gue.
“Raka Pratama.”
Kelas biasa aja.
Tapi meja kita kayak punya sejarah sendiri.
—
Istirahat.
Orang-orang keluar beli kopi. Gue masih duduk.
Tiba-tiba ada bayangan berhenti di samping meja.
“Rak.”
Gue nengok.
Dia.
Tangannya pegang botol minum. Jemarinya masih kebiasaan muter-muter tutup botol kalau gugup.
“Udah lama ya.”
Gue cuma angguk.
Hening. Canggung. Padahal dulu kita nggak pernah kehabisan bahan ngomong.
“Aku nggak nyangka satu kampus,” dia bilang pelan.
“Gue juga.”
Di luar, suara motor knalpot brong lewat. Ada yang ketawa keras dari lorong.
Dia tarik napas.
“Orang tua kamu… gimana?”
Gue tahu maksudnya.
“Masih sama.”
Dia senyum tipis. Bukan senyum bahagia.
“Kita… jangan sampai mereka tahu kita satu kampus dulu ya.”
Kalimatnya pelan, tapi jelas.
Gue angguk lagi.
Aneh.
Baru ketemu lagi, tapi langsung ada rahasia.
—
Hari-hari berikutnya, kita mulai duduk bareng.
Awalnya cuma bahas tugas.
Lama-lama bahas dosen killer.
Lama-lama lagi bahas masa kecil.
“Lo masih simpan foto kita waktu lomba 17-an?” dia tanya suatu sore di kantin.
Gue ketawa kecil.
“Masih.”
Dia diam. Lihat gue agak lama.
Dan entah kenapa, sore itu dia kelihatan beda.
Bukan cuma teman kecil.
Ada sesuatu yang berubah.
Waktu magrib, azan dari masjid kampus terdengar. Orang-orang bubar.
Kita masih duduk.
“Rak,” dia bilang pelan.
“Kita nggak mungkin kan?”
Gue tahu pertanyaannya bukan soal tugas.
Gue nggak jawab.
Karena di kepala gue cuma satu bayangan: bapak gue dan ayahnya dia berdiri saling tunjuk, wajah merah, suara tinggi.
Dan sekarang gue duduk di depan anak perempuan yang dulu dilarang keras buat gue dekati.
HP gue getar.
Notifikasi WA dari Bapak.
“Besok ayah ada urusan di Bandung. Kita makan malam.”
Gue langsung lihat Jeyslin.
Dia juga lagi lihat HP.
Wajahnya berubah.
“Ayahku juga ke Bandung besok.”
Hening.
Kipas kelas masih bunyi “tek-tek-tek”.
Dan untuk pertama kalinya sejak kita ketemu lagi, gue sadar sesuatu.
Bandung mungkin terlalu kecil.
Dan rahasia ini… nggak akan lama tersembunyi.
Keesokan harinya, udara Bandung lebih dingin dari biasanya. Langit abu-abu, tipis gerimis turun kayak ragu-ragu.
Gue berdiri di depan sebuah restoran Sunda dekat Dago. Lampu kuningnya hangat, kontras sama jalanan yang basah. Tangan gue dingin, entah karena cuaca atau karena isi kepala.
HP gue getar.
Bapak: “Sudah di dalam.”
Gue tarik napas. Masuk.
Dan dunia rasanya langsung menyempit.
Di meja tengah, bapak gue duduk tegap. Di depannya… ayahnya Jeyslin.
Wajah yang terakhir gue lihat belasan tahun lalu dalam keadaan merah dan penuh amarah.
Sekarang lebih tua. Garis wajahnya lebih dalam. Tapi sorot matanya masih sama.
Dan di sebelahnya—
Jeyslin.
Dia juga baru duduk. Mata kita ketemu. Kagetnya nggak dibuat-buat. Jelas ini bukan kebetulan kecil.
Bapak gue menoleh.
“Rak. Duduk.”
Nada suaranya datar. Terlalu datar.
Gue duduk di kursi kosong, tepat di seberang Jeyslin. Jarak meja cuma selebar piring. Tapi rasanya kayak jurang.
Pelayan datang. Teh hangat disajikan. Uapnya naik pelan.
Nggak ada yang langsung ngomong.
Sendok beradu sama cangkir. Bunyi kecil, tapi tajam di telinga.
Akhirnya ayahnya Jeyslin buka suara.
“Anak-anak kita satu kampus.”
Bukan tanya. Pernyataan.
Bapak gue menatap gue.
“Kamu nggak cerita.”
Gue buka mulut. Tutup lagi. Lidah terasa berat.
Jeyslin angkat wajah.
“Kami baru tahu juga kalau… orang tua lagi ada urusan bareng.”
Dia berusaha tenang. Tapi jemarinya di bawah meja saling menggenggam kuat.
Bapak gue tertawa kecil. Nggak ada lucunya.
“Bandung memang kecil.”
Hening lagi.
Makanan datang. Nasi panas, ikan bakar, sambal. Bau asap ikan harusnya bikin lapar. Tapi perut gue kayak diikat.
Ayahnya Jeyslin meletakkan sendok.
“Pak Arman,” katanya ke bapak gue, suaranya lebih rendah sekarang. “Saya rasa… sudah terlalu lama.”
Kalimat itu menggantung.
Bapak gue diam. Tatapannya turun ke meja, ke piringnya sendiri.
“Proyek itu gagal,” lanjutnya pelan. “Saya juga rugi. Bukan cuma Anda.”
Nggak ada nada menyerang. Cuma lelah.
Gue lihat rahang bapak gue mengeras. Tapi bukan marah. Lebih ke… menahan sesuatu.
“Waktu itu,” bapak gue akhirnya bicara, “saya merasa dikhianati.”
Ayahnya Jeyslin mengangguk pelan.
“Saya juga.”
Dua lelaki yang dulu saling teriak sekarang cuma saling tatap dalam diam.
Gerimis di luar makin deras. Kaca restoran dipenuhi titik air.
Dan di antara mereka, gue dan Jeyslin duduk seperti bukti hidup dari perang yang bahkan nggak kami pahami waktu kecil.
Tiba-tiba bapak gue menoleh ke gue.
“Kamu dekat sama dia lagi?”
Pertanyaannya langsung. Tajam.
Jantung gue kayak jatuh.
Gue lihat Jeyslin. Wajahnya pucat, tapi dia nggak menunduk.
Untuk pertama kalinya sejak kecil, gue nggak mau cuma diam.
“Iya,” suara gue serak, tapi keluar juga. “Kami teman.”
Sunyi.
Ayahnya Jeyslin menatap putrinya.
“Kamu?”
Jeyslin tarik napas panjang. Bahunya naik turun pelan.
“Iya, Yah.”
Detik itu terasa panjang banget.
Gue siap kalau meja ini meledak lagi. Siap kalau suara naik, kalau kami disuruh pilih, kalau semuanya hancur lagi seperti dulu.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Bapak gue bersandar ke kursi. Nafasnya keluar pelan.
“Kita sudah pisahkan mereka dulu,” katanya lirih. “Apa hasilnya?”
Nggak ada yang jawab.
Ayahnya Jeyslin menatap ke luar jendela. Hujan mulai reda.
“Kita marah karena uang,” katanya pelan. “Karena harga diri.”
Lalu dia lihat ke kami berdua.
“Mereka nggak tahu apa-apa.”
Bapak gue menutup mata sebentar. Seperti menelan sesuatu yang pahit.
“Rak,” katanya tanpa lihat gue. “Kalau kamu memang mau berteman… atau lebih dari itu…”
Kalimatnya terhenti. Tenggorokannya bergerak.
“…jangan ulangi kesalahan kami. Jangan campur ego dengan keputusan.”
Gue menelan ludah.
Jeyslin sudah berkaca-kaca, tapi dia tersenyum kecil. Senyum yang dulu sering gue lihat waktu kita berhasil bikin “benteng kardus” berdiri.
Ayahnya Jeyslin menghela napas panjang.
“Pak Arman… mungkin sudah waktunya kita berhenti jadi musuh.”
Bapak gue diam beberapa detik.
Lalu, pelan-pelan, dia mengulurkan tangan ke atas meja.
Bukan cepat. Bukan dramatis.
Cuma tangan seorang lelaki yang lelah memelihara dendam.
Ayahnya Jeyslin melihat tangan itu.
Lalu menjabatnya.
Genggamannya kuat. Lama.
Nggak ada tepuk tangan. Nggak ada musik.
Cuma dua orang tua yang akhirnya memilih selesai.
Dan gue sadar dada gue yang sejak kecil terasa kosong… perlahan penuh lagi.
—
Beberapa minggu kemudian, sore di kampus.
Langit cerah. Angin ringan. Ayunan di taman kecil dekat fakultas berderit pelan.
Jeyslin duduk di salah satunya, kaki mendorong tanah pelan.
“Lucu ya,” katanya. “Dulu kita dilarang nyebrang pagar.”
Gue berdiri di depannya, pegang rantai ayunan.
“Sekarang?”
Dia angkat alis.
“Sekarang kayaknya nggak ada pagar lagi.”
Gue dorong ayunannya pelan. Dia tertawa kecil. Bukan tawa canggung. Tawa lepas.
Azan magrib mulai terdengar dari masjid kampus. Kali ini nggak ada feedback toa.
Cuma suara yang bersih dan tenang.
Jeyslin berhenti mengayun. Turun. Berdiri di depan gue.
“Kita pelan-pelan aja ya, Rak.”
Gue angguk.
“Nggak usah sembunyi lagi.”
Angin lewat, bawa bau rumput basah.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam piring pecah itu, gue merasa masa kecil gue benar-benar selesai—bukan karena dipaksa berhenti, tapi karena akhirnya diberi kesempatan lanjut.
Di bawah langit Bandung yang mulai jingga, gue dan Jeyslin berdiri tanpa pagar, tanpa rahasia.
Cuma dua orang yang akhirnya diizinkan tumbuh tanpa mewarisi dendam.