|

Cerita Kantor: Rekan Kerja Diam-Diam Mencuri Presentasiku

LALU DIA LAPOR KE HR… BAHWA AKULAH YANG MENCURI MILIKNYA.

DAN PAGI INI, AKU DIPANGGIL DIREKTUR SEBAGAI TERSANGKA.

Jam 07.42 pagi.

Kantor belum terlalu ramai.

Lampu neon di ruang kerja masih setengah menyala.

AC baru saja dinyalakan, masih menghembuskan udara yang belum terlalu dingin.

Aku menaruh tas di bawah meja.

Komputer menyala perlahan.

Di sebelah kiri, kipas kecil milik Rudi berderit pelan.

Di luar jendela, suara motor lewat gang kantor bercampur dengan suara pedagang bubur yang mangkal tiap pagi.

Hari itu harusnya hari penting buatku.

Presentasi proyek tender.

Proyek besar.

Kalau lolos, kemungkinan besar aku naik jabatan.

Sudah tiga bulan aku menyiapkan semuanya.

Proposal.

Perhitungan.

Simulasi biaya.

Semua.

Aku menarik napas panjang.

Tanganku meraih flashdisk hitam kecil di saku tas.

Masih ada.

Aku memutarnya di jari.

Di dalam flashdisk itu ada file presentasi final.

Versi terakhir yang baru aku edit sampai jam dua pagi tadi.

Di meja seberang, seseorang duduk santai sambil menyeruput kopi sachet.

Dimas.

Teman sekantor.

Atau… dulu aku kira begitu.

Dia melirik ke arahku.

Senyumnya tipis.

“Siap presentasi, bro?”

Aku mengangguk.

“Lumayan.”

Dia berdiri.

Berjalan mendekat.

Aroma kopi instan ikut terbawa.

“Gue penasaran sih sama konsep lo. Katanya keren.”

Aku tersenyum kecil.

“Ya… mudah-mudahan aja.”

Dia tertawa pelan.

Lalu kembali ke mejanya.

Hal kecil.

Normal.

Tidak ada yang aneh.

Jam 08.55.

Meeting dimulai.

Ruang rapat sudah penuh.

Manajer.

Direktur operasional.

Beberapa kepala divisi.

Aku duduk di ujung meja.

Laptop sudah terhubung ke layar besar.

Tanganku agak dingin.

Ini momen yang aku tunggu berbulan-bulan.

Direktur mengangguk.

“Silakan mulai.”

Aku membuka flashdisk.

Klik.

Folder proyek muncul.

Aku membuka file presentasi.

Klik.

Layar putih.

Kosong.

Aku mengerutkan dahi.

Klik lagi.

File kedua.

Kosong.

File ketiga.

Masih kosong.

Dadaku mulai terasa aneh.

Aku membuka folder lain.

Semua file powerpoint… kosong.

Hanya halaman putih.

Tidak ada satu pun slide.

Ruangan tiba-tiba terasa sangat sunyi.

Direktur menatapku.

“Masalah?”

Aku menelan ludah.

“Sebentar, Pak… mungkin salah file.”

Aku membuka lagi.

Tetap kosong.

Tanganku mulai berkeringat.

Di ujung meja, seseorang tertawa kecil.

Aku menoleh.

Dimas.

Dia bersandar santai di kursinya.

Tangannya menyilang.

Senyumnya… terlalu tenang.

Direktur mengetuk meja.

“Kita tidak punya banyak waktu.”

Aku menutup file.

Cepat membuka laptop.

Mencari backup di email.

Tidak ada.

File terakhir yang terkirim… versi lama.

Versi dua minggu lalu.

Belum final.

Belum lengkap.

Direktur menghela napas.

“Kalau belum siap, kita lanjut ke proposal berikutnya.”

Dadaku seperti ditarik ke bawah.

Semua orang mulai membuka dokumen lain.

Kesempatan itu… hilang.

Begitu saja.

Aku duduk diam.

Tidak bisa berkata apa-apa.

Meeting selesai satu jam kemudian.

Orang-orang keluar ruangan.

Aku masih duduk.

Laptop masih terbuka.

Layar putih masih menatapku.

Langkah seseorang berhenti di sebelahku.

Dimas.

Dia menepuk bahuku pelan.

“Sayang banget ya.”

Nada suaranya terdengar… simpati.

Tapi matanya tidak.

Dia mencondongkan badan sedikit.

Berbisik pelan.

“Lain kali jangan taruh flashdisk sembarangan di meja.”

Jantungku berhenti sesaat.

Aku menoleh cepat.

“Apa?”

Dia tersenyum.

Santai.

Lalu berjalan keluar ruangan.

Siang itu aku kembali ke meja kerja.

Kantor sudah ramai.

Suara keyboard.

Telepon berdering.

Printer berdengung.

Aku duduk diam.

Menatap flashdisk di tanganku.

Pikiranku memutar ulang pagi tadi.

Flashdisk itu sempat aku taruh di meja saat ke pantry.

Hanya sebentar.

Kurang dari lima menit.

Saat kembali…

Dimas ada di dekat mejaku.

Aku mengingat itu sekarang.

Perutku terasa dingin.

Aku membuka laptop lagi.

Memeriksa flashdisk.

Semua file presentasi berubah.

Bukan hanya kosong.

Tanggal modifikasinya… pagi ini.

Jam 07.31.

Saat aku belum sampai kantor.

Tanganku mulai gemetar.

Aku menoleh ke meja Dimas.

Dia sedang tertawa dengan beberapa orang.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Tiba-tiba Rudi dari meja sebelah berbisik.

“Eh… lo tau nggak?”

Aku menoleh.

“Apa?”

Rudi mendekat sedikit.

Suara dipelankan.

“Proposal proyek tender tadi… katanya bakal dipimpin Dimas.”

Dadaku terasa kosong.

“Kenapa?”

Rudi mengangkat bahu.

“Katanya dia punya konsep yang lebih siap.”

Aku langsung menoleh ke meja Dimas lagi.

Dia sedang membuka laptopnya.

Di layar… aku melihat sesuatu yang membuat darahku langsung dingin.

Slide pertama.

Desain yang sangat familiar.

Judulnya sama.

Diagramnya sama.

Angkanya sama.

Itu… presentasiku.

Tapi sekarang… dibawakan oleh Dimas.

Dan dia menatapku.

Sambil tersenyum kecil.

Saat itu juga notifikasi WhatsApp muncul di layar laptopku.

Pesan dari HR.

“Mas Arga, bisa ke ruang direktur sekarang?”

Tanganku terasa dingin saat membaca pesan berikutnya.

“Ini terkait laporan bahwa Anda mencoba mengklaim proposal milik rekan kerja.”

Aku menatap layar.

Tidak percaya.

Di seberang ruangan, Dimas berdiri.

Mengambil map.

Lalu berjalan menuju ruang direktur.

Dengan proposal yang… aku buat sendiri.

Dan saat pintu ruang direktur tertutup…

Aku baru sadar satu hal yang jauh lebih buruk.

Dimas bukan cuma mencuri pekerjaanku.

Dia sedang membuatku terlihat seperti pencuri.

Dan semua orang di kantor mulai percaya itu.

PART 2

Pintu ruang direktur tertutup.

Aku masih berdiri di luar.

Koridor kantor terasa lebih panjang dari biasanya.

Lampu putih di langit-langit berdengung pelan.

Dari dalam ruangan terdengar suara samar.

Suara direktur.

Suara Dimas.

Kadang terdengar tawa kecil.

Perutku terasa dingin.

Di belakangku, dua orang staf lewat sambil berbisik.

“Yang itu ya?”

“Iya… katanya nyolong proposal.”

Langkah mereka menjauh.

Tapi bisikan itu seperti masih menempel di telingaku.

Aku menunduk.

Tanganku menggenggam flashdisk kecil itu.

Plastiknya terasa dingin.

Lima menit kemudian pintu terbuka.

Dimas keluar lebih dulu.

Dia terlihat santai.

Sangat santai.

Di tangannya ada map biru yang tadi dia bawa.

Map yang berisi proposal… milikku.

Dia berhenti tepat di depanku.

Menatapku.

Senyumnya tipis.

“Semangat ya.”

Nada suaranya seperti orang yang baru saja memenangkan lomba.

Aku menatapnya.

“Kenapa lo lakukan ini?”

Dia pura-pura tidak mengerti.

“Maksud lo?”

“Proposal itu.”

Dia tertawa kecil.

Lalu mendekat sedikit.

“Di kantor ini, yang penting bukan siapa yang kerja paling keras.”

Dia menepuk map itu pelan.

“Tapi siapa yang kelihatan paling siap.”

Dia berjalan pergi.

Sepatunya berdecit pelan di lantai koridor.

Aku berdiri diam.

Darahku mendidih.

“Mas Arga.”

Suara dari dalam ruangan.

Direktur memanggil.

Aku masuk.

Ruangan itu dingin sekali.

AC di pojok ruangan berdengung keras.

Direktur duduk di belakang meja besar.

Di sampingnya ada satu orang dari HR.

Laptop terbuka.

Beberapa dokumen di meja.

Direktur menatapku.

“Silakan duduk.”

Aku duduk perlahan.

HR membuka laptop.

“Mas Arga, kami menerima laporan dari Mas Dimas bahwa proposal proyek tender yang Anda gunakan pagi ini… identik dengan proposal yang dia kerjakan.”

Aku menatap mereka.

“Karena memang itu proposal saya.”

Direktur mengangkat alis sedikit.

HR melanjutkan.

“Mas Dimas mengaku sudah mengerjakan proposal itu sejak dua bulan lalu.”

Dua bulan.

Dadaku langsung terasa panas.

Aku menggeleng.

“Tidak mungkin.”

HR memutar layar laptop sedikit ke arahku.

Di layar terlihat file presentasi.

Judulnya sama.

Diagramnya sama.

Angkanya sama.

Persis.

“Ini file yang dikirim Mas Dimas ke email direktur… tiga hari lalu.”

Tanggalnya jelas.

Tiga hari lalu.

Tanganku mulai gemetar.

Direktur menyilangkan tangan.

“Mas Arga, apakah Anda punya bukti bahwa proposal ini milik Anda?”

Aku membuka mulut.

Lalu menutupnya lagi.

File di flashdiskku sudah diubah.

Backup di email hanya versi lama.

Versi yang belum lengkap.

Direktur menatapku lama.

“Kalau memang ada kesalahpahaman, kita bisa selesaikan. Tapi kami perlu bukti.”

Aku menelan ludah.

Tidak ada.

Tidak ada bukti.

HR menutup laptop.

“Untuk sementara, kami minta Mas Arga tidak terlibat dulu di proyek tender ini.”

Kalimat itu terasa seperti palu.

Direktur menambahkan.

“Kami akan melakukan investigasi.”

Investigasi.

Kata yang terdengar seperti… masalah besar.

Aku berdiri perlahan.

Kakiku terasa berat.

Saat keluar ruangan, kantor terasa berbeda.

Orang-orang yang biasanya santai sekarang terlihat berhenti bicara saat aku lewat.

Beberapa menatap.

Beberapa pura-pura sibuk.

Aku kembali ke meja.

Duduk.

Laptop masih terbuka.

Layar putih.

Flashdisk di tanganku terasa semakin ringan.

Seolah tidak ada isinya.

Rudi mendekat pelan.

“Bro…”

Aku menoleh.

Dia terlihat ragu.

“Gue sih nggak percaya lo nyolong.”

Aku menghela napas pelan.

“Tapi semua orang percaya.”

Rudi menunduk.

Tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian dia berbisik.

“Lo tau nggak… ini bukan pertama kalinya.”

Aku menoleh cepat.

“Maksud lo?”

Rudi melihat ke arah meja Dimas.

Memastikan dia tidak ada.

Lalu dia berkata pelan.

“Dua orang sebelum lo… juga pernah jatuh gara-gara dia.”

Dadaku langsung terasa dingin.

“Kenapa nggak ada yang ngomong?”

Rudi menggeleng.

“Karena dia selalu punya bukti.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Aku menatap laptopku lagi.

Lalu perlahan membuka folder file proyek.

Tanganku berhenti.

Ada satu file kecil yang tadi tidak aku perhatikan.

Ukuran filenya cuma beberapa kilobyte.

Namanya aneh.

system_log_temp

Aku mengkliknya.

File teks terbuka.

Beberapa baris kode.

Beberapa catatan sistem.

Lalu satu baris yang membuat napasku langsung tertahan.

USB device accessed — 07:28 — user: DIMAS_PC

Aku menatap layar.

Tanganku perlahan mengepal.

Jadi benar.

Dia yang membuka flashdisk itu.

Dia yang mengubah semua file.

Aku berdiri perlahan.

Mataku langsung mencari meja Dimas.

Tapi kursinya kosong.

Laptopnya juga tidak ada.

Rudi menoleh ke arah pintu kantor.

“Eh… itu bukan dia?”

Aku mengikuti arah pandangnya.

Di ujung ruangan…

Dimas sedang berjalan keluar kantor.

Membawa tas laptop.

Padahal jam kerja… baru setengah hari.

Dan sesuatu dalam kepalaku langsung berteriak satu hal.

Dia tidak sedang pulang.

Dia sedang… menghilangkan sesuatu.

PART 3

Aku langsung berdiri.

Kursiku terdorong ke belakang sampai menabrak meja Rudi.

“Bro—”

Aku sudah berjalan cepat ke arah pintu.

Di ujung ruangan, punggung Dimas terlihat hampir sampai ke pintu kaca kantor.

Tangannya memegang tas laptop hitam.

Langkahnya santai.

Terlalu santai untuk seseorang yang baru saja menjatuhkan orang lain.

Pintu kaca terbuka.

Dia keluar.

Aku hampir berlari menyusul.

“Mas Arga!”

Suara dari belakang.

Resepsionis memanggil.

“Ada tamu HR tadi nyari Bapak lagi.”

Aku tidak berhenti.

“Sebentar!”

Pintu kaca berayun saat aku mendorongnya.

Udara siang langsung terasa panas di wajahku.

Parkiran kantor penuh mobil.

Beberapa motor berderet di pinggir.

Aku melihat ke kanan.

Dimas berjalan menuju mobilnya.

Sedan hitam.

Dia membuka bagasi.

Memasukkan tas laptopnya.

Tanganku mengepal.

Aku berjalan cepat mendekat.

“DIMAS!”

Dia menoleh.

Wajahnya tenang.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kenapa?”

Aku berhenti dua langkah di depannya.

“Lo ngapain keluar kantor?”

Dia mengangkat bahu.

“Mau makan siang.”

Aku menatap mobilnya.

Jam di HPku menunjukkan 11.07.

Masih terlalu pagi untuk makan siang.

“Dengan tas laptop?”

Dia tertawa kecil.

“Kenapa? Mau periksa?”

Aku menatap bagasi mobilnya.

Bagasi itu masih terbuka.

Di dalamnya ada beberapa map.

Satu kotak sepatu.

Dan tas laptop hitam itu.

Dimas mengikuti arah pandangku.

Lalu perlahan menutup bagasi.

Duk.

Suara itu terasa seperti menutup kesempatan terakhirku.

Dia melangkah mendekat.

Suara mobil lewat di jalan depan kantor.

Beberapa karyawan keluar untuk merokok di dekat gerbang.

Dimas berbicara pelan.

“Lo harus belajar satu hal, Ga.”

Aku menatapnya tajam.

“Apa?”

“Di kantor ini… orang nggak peduli siapa yang benar.”

Dia tersenyum tipis.

“Mereka cuma peduli siapa yang punya bukti.”

Perutku terasa seperti ditinju.

Dia menepuk bahuku.

“Dan sekarang… bukti ada di gue.”

Dia membuka pintu mobil.

Masuk.

Mesin mobil menyala.

Aku berdiri di samping mobilnya.

Tiba-tiba satu pikiran muncul di kepalaku.

“Flashdisk.”

Dimas menoleh dari dalam mobil.

Aku mengangkat flashdisk kecil di tanganku.

“Lo lupa satu hal.”

Dia menatap flashdisk itu.

Senyumnya tidak hilang.

“Gue udah lihat.”

Dia menunjuk ke arah kantorku.

“Dan gue juga tahu lo pasti bakal nemu log itu.”

Dadaku terasa dingin.

“Makanya…”

Dia mengangkat satu map dari kursi penumpang.

Map yang sangat aku kenal.

Proposal tender.

“Sekarang semua file aslinya ada di sini.”

Dia mengetuk map itu.

“Di laptop gue juga.”

Dia menatapku.

“Dan di email direktur… atas nama gue.”

Mobilnya mundur perlahan.

Aku berdiri di tempat.

Tidak bisa bergerak.

Jendela mobilnya terbuka sedikit.

Dia menatapku sekali lagi.

“Investigasi HR bakal selesai cepat.”

Dia tersenyum.

“Dan tebakan gue… lo yang keluar dari kantor ini duluan.”

Mobilnya melaju keluar parkiran.

Debu tipis terangkat dari aspal.

Aku masih berdiri di sana.

Flashdisk di tanganku terasa sangat kecil.

Seolah tidak ada gunanya.

Dari belakang, suara Rudi terdengar.

“Bro!”

Aku menoleh.

Dia berdiri di pintu kantor.

Terengah.

“Gue baru ingat sesuatu!”

Aku berjalan mendekat.

“Apa?”

Rudi melihat ke kiri kanan.

Lalu menurunkan suara.

“Tiga minggu lalu… Dimas pinjam ruang meeting kecil buat kerja sendirian.”

Aku mengerutkan dahi.

“Terus?”

Rudi menelan ludah.

“Dia nggak bawa laptopnya.”

Aku menatapnya.

“Dia pakai laptop siapa?”

Rudi menunjuk ke arah dalam kantor.

Ke arah meja yang sekarang kosong.

Meja milik…

IT support kantor.

Dan saat itu juga satu kemungkinan langsung muncul di kepalaku.

Kalau Dimas pernah masuk ke laptop IT…

Berarti dia mungkin tidak cuma mengubah file.

Dia bisa saja…

mengubah sesuatu yang jauh lebih besar di sistem kantor.

PART 4

Aku dan Rudi kembali masuk ke kantor. Udara AC langsung terasa dingin setelah panas parkiran tadi. Tapi kepalaku masih terasa panas. Orang-orang di ruangan kerja masih sibuk dengan laptop mereka, tapi beberapa pasang mata jelas memperhatikan saat aku lewat. Aku bisa merasakan bisikan pelan yang berhenti begitu aku melangkah lebih dekat. Rasanya seperti berjalan di ruangan yang semua orang sudah punya kesimpulan sendiri tentangku.

Aku berhenti di depan meja IT support. Meja itu kosong. Kursinya juga kosong. Laptop kantor yang biasanya ada di situ juga tidak ada. Rudi berdiri di sebelahku. “Masih inget nggak?” katanya pelan. “Tiga minggu lalu Dimas pinjam ruang meeting kecil. Dia ambil laptop dari sini.” Aku menatap meja itu beberapa detik. Ada bekas lingkaran kopi di atas meja. Ada kabel LAN yang masih menjuntai ke lantai. Aku menelan ludah. “Siapa IT di kantor hari ini?” tanyaku. Rudi langsung menjawab, “Pak Fajar.”

Pak Fajar biasanya duduk di ruang kecil dekat pantry. Aku langsung berjalan ke sana. Rudi mengikuti di belakangku. Di dalam ruangan kecil itu, Pak Fajar sedang duduk sambil membuka casing CPU komputer. Bau logam dan debu komputer langsung terasa. Dia menoleh saat kami masuk. “Eh Mas Arga. Ada apa?” Aku langsung berkata, “Pak, saya mau tanya sesuatu. Penting.” Dia meletakkan obeng di meja. “Apa?”

Aku menutup pintu ruangan pelan. “Tiga minggu lalu… Dimas pernah pinjam laptop kantor dari meja IT.” Pak Fajar mengerutkan dahi, mencoba mengingat. “Laptop kantor?” Aku mengangguk. Rudi ikut menambahkan, “Dia pakai di ruang meeting kecil.” Pak Fajar diam beberapa detik. Lalu dia berkata pelan, “Oh iya… saya ingat sekarang.” Dadaku langsung menegang. “Dia bilang laptopnya rusak. Jadi dia pinjam laptop admin server.”

Kata server langsung membuat kepalaku terasa bergetar. “Laptop admin server?” tanyaku. Pak Fajar mengangguk santai. “Iya, yang biasa dipakai buat akses file server kantor.” Aku dan Rudi saling menatap. Itu berarti Dimas pernah punya akses ke seluruh file kantor. Bukan cuma file presentasiku. Tapi semua file proyek.

Aku berkata pelan, “Pak… kalau seseorang pakai laptop itu… dia bisa mengubah log file sistem?” Pak Fajar langsung menatapku. Kali ini wajahnya tidak santai lagi. “Bisa.” Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sunyi. Aku mengeluarkan flashdisk dari sakuku lalu menunjukkannya. “Di flashdisk saya ada log yang menunjukkan komputer Dimas mengaksesnya.” Pak Fajar mencondongkan badan melihat layar laptopku saat aku membuka file log itu lagi. Dia membaca baris tulisan kecil itu beberapa detik.

USB device accessed — 07:28 — user: DIMAS_PC.

Pak Fajar menarik napas pendek. “Ini log dari sistem Windows biasa.” Aku menatapnya. “Maksudnya?” Dia menunjuk layar. “Log ini bisa diubah kalau seseorang punya akses admin.” Perutku terasa jatuh ke bawah. “Jadi… ini bisa dipalsukan?” tanyaku. Pak Fajar mengangguk pelan. “Bisa.”

Beberapa detik tidak ada yang bicara. Aku menatap layar laptop. Artinya bukti yang aku temukan tadi… bisa saja tidak berarti apa-apa. Rudi menggaruk kepala. “Jadi kita nggak punya bukti?” Pak Fajar tiba-tiba berkata, “Belum tentu.”

Aku dan Rudi langsung menoleh ke arahnya. Pak Fajar berdiri lalu berjalan ke komputer server kecil di pojok ruangan. Dia menyalakan monitor. Layar hitam itu menyala perlahan. Suara kipas komputer berdengung. Dia mulai mengetik sesuatu di keyboard. Jari-jarinya bergerak cepat. Beberapa jendela sistem muncul di layar.

Aku berdiri di belakangnya. “Pak… kalau seseorang mengubah file server… apa ada jejaknya?” tanyaku. Pak Fajar tidak berhenti mengetik. “Kalau dia cukup pintar… dia bisa menghapus jejak di log biasa.” Jantungku berdetak lebih cepat. “Tapi?” tanyaku. Pak Fajar berhenti mengetik. Dia membuka satu folder kecil di layar. “Server backup tidak bisa diubah dari laptop biasa.”

Aku menatap layar itu. Ada daftar tanggal. Daftar aktivitas file. Pak Fajar menggulir layar perlahan. “Semua perubahan file di server kantor otomatis tercatat di backup server.” Rudi mendekat. “Termasuk file proposal tender?” Pak Fajar mengangguk.

Tanganku mulai berkeringat.

Pak Fajar mengetik nama folder proyek tender.

Beberapa detik kemudian layar menampilkan daftar aktivitas file.

Ada puluhan baris log.

Tanggal.

Waktu.

Nama komputer.

Pak Fajar menggulir layar ke bawah.

Lalu tiba-tiba kursor berhenti.

Mataku langsung membaca satu baris yang membuat dadaku berhenti berdetak.

Proposal_Tender_Final.pptx — copied — user: DIMAS_PC

Tanggalnya tiga hari lalu.

Jamnya… 22:14 malam.

Aku menatap layar.

Jam sepuluh malam.

Jam dimana kantor sudah kosong.

Dan saat itu aku baru sadar sesuatu yang membuat tengkukku langsung dingin.

Tiga hari lalu…

jam sepuluh malam…

hanya ada dua orang yang masih di kantor.

PART 5

Tiga hari lalu. Jam sepuluh malam. Kantor sudah gelap hampir seluruhnya. Lampu hanya menyala di beberapa sudut. Aku masih ingat malam itu dengan jelas, karena aku sendiri juga pulang sangat larut. Tapi saat melihat baris log di layar server itu, tengkukku langsung terasa dingin.

Aku berdiri di belakang Pak Fajar. Rudi di sampingku. Kami bertiga menatap layar yang sama. Baris log itu tidak bergerak. Tidak berubah. Seolah menunggu aku mengakui sesuatu. Proposal_Tender_Final.pptx — copied — user: DIMAS_PC — 22:14.

Aku menelan ludah. “Pak… log ini tidak bisa diubah?” tanyaku pelan. Pak Fajar menggeleng tanpa menoleh dari layar. “Kalau yang ini, hampir tidak bisa. Ini dari server backup. Dia mencatat otomatis setiap aktivitas file yang lewat jaringan kantor.” Rudi bersiul pelan. “Jadi… kalau file itu disalin… pasti tercatat di sini.” Pak Fajar mengangguk. “Iya.”

Dadaku mulai terasa hangat lagi. Untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, aku merasa mungkin… aku belum kalah.

Aku menunjuk layar. “Bisa dilihat file itu disalin ke mana?” Pak Fajar mengetik lagi. Beberapa detik kemudian muncul detail tambahan. Nama komputer. Lokasi jaringan. Waktu akses. Pak Fajar membaca pelan. “User: DIMAS_PC. Device: Laptop-Office-23.” Rudi langsung berkata, “Itu laptop kantor yang dipakai Dimas.”

Aku menatap layar tanpa berkedip. “Artinya dia menyalin file dari server kantor ke laptopnya.” Pak Fajar mengangguk. “Iya. Tiga hari lalu.” Aku mengingat kembali malam itu. Aku memang masih di kantor, tapi di ruangan berbeda. Aku sedang memperbaiki beberapa angka di proposal. Setelah itu aku pulang sekitar jam setengah sepuluh. Jam 22:14… berarti setelah aku pulang.

Aku menghela napas panjang. “Kalau log ini ditunjukkan ke direktur… jelas dia yang ambil file.” Rudi langsung tersenyum lebar. “Ini dia bukti kita!” Tapi Pak Fajar tidak ikut tersenyum. Dia justru menatap layar dengan dahi berkerut.

Aku memperhatikan wajahnya. “Kenapa Pak?” tanyaku. Dia tidak langsung menjawab. Jarinya menggulir layar ke bawah lagi. Ada beberapa baris log lain. Mataku mengikuti gerakan kursor itu. Lalu tiba-tiba dia berhenti.

Ada satu baris lagi.

Baris yang sebelumnya tidak kami lihat.

Proposal_Tender_Final.pptx — created — user: ARGA_PC — 21:02.

Aku langsung membeku.

Rudi ikut membaca keras-keras. “Created… user: ARGA_PC.”

Ruangan itu langsung terasa sangat sunyi.

Aku menatap layar itu. “Itu komputer saya.” suaraku pelan. Pak Fajar mengangguk. “Iya.” Rudi menggaruk kepalanya. “Tapi… itu kan benar? Lo memang buat file itu.” Aku mengangguk pelan. “Iya.”

Pak Fajar menatapku. “Masalahnya bukan itu.”

Aku menoleh padanya.

Dia menunjuk waktu di layar.

“File ini dibuat jam 21:02.” katanya.

Aku mengerutkan dahi. “Terus?”

Pak Fajar menatapku serius.

“Menurut data absensi kantor… Mas Arga sudah pulang jam 20:31 malam itu.”

Perutku langsung terasa kosong.

Rudi juga terlihat bingung. “Loh… tapi Arga bilang dia pulang jam setengah sepuluh.”

Pak Fajar menggeleng pelan.

“Data finger print kantor menunjukkan dia keluar gedung… jam delapan lewat tiga puluh satu.”

Aku menatap layar.

Jam 21:02.

File dibuat oleh komputerku.

Padahal menurut sistem… aku sudah tidak di kantor.

Pak Fajar berkata pelan, “Artinya setelah Mas Arga pulang… seseorang masih menggunakan komputer Mas Arga.”

Dadaku langsung berdetak lebih keras.

Rudi berbisik pelan.

“Dimas.”

Aku menatap layar itu lagi.

Sekarang semuanya mulai terlihat jelas.

Dimas masuk ke laptop IT tiga minggu lalu.

Dia mungkin sudah menyiapkan sesuatu di sistem.

Lalu tiga hari lalu, setelah aku pulang…

dia memakai komputerkku.

Membuka file proposalku.

Menyimpannya ulang.

Lalu menyalinnya ke laptopnya sendiri.

Dan sekarang dia punya semua bukti yang terlihat… sah.

Aku mengepalkan tangan.

“Pak… log ini bisa dicetak?” tanyaku.

Pak Fajar mengangguk. “Bisa.”

Rudi langsung berkata, “Kalau kita bawa ini ke direktur… selesai sudah Dimas.”

Tapi Pak Fajar masih menatap layar.

Wajahnya belum terlihat lega.

Aku memperhatikannya lagi.

“Kenapa Pak?” tanyaku.

Dia menarik napas pelan.

Lalu menunjuk satu kolom kecil di log server.

“Karena ada satu hal yang aneh.”

Aku menatap layar.

“Apa?”

Pak Fajar memperbesar satu detail kecil di log itu.

Alamat IP komputer yang membuat file.

Mataku membaca angka-angka itu perlahan.

Dan tiba-tiba jantungku seperti berhenti.

Karena alamat IP itu…

bukan berasal dari mejaku.

Bukan dari ruangan kerjaku.

Alamat itu berasal dari satu tempat lain di kantor.

Tempat yang membuat semua potongan cerita ini tiba-tiba terasa jauh lebih berbahaya.

Ruang direktur.

PART 6

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih dingin.

Aku masih menatap layar komputer server di depan Pak Fajar. Angka alamat IP itu tidak berubah. Tetap di sana. Diam. Tapi rasanya seperti menampar kepalaku berulang-ulang.

Rudi membaca pelan, seolah tidak percaya. “Ruang… direktur?”

Aku menelan ludah.

Pak Fajar mengangguk pelan. “Alamat jaringan ini khusus untuk komputer di ruang direktur.”

Tidak ada yang bicara beberapa detik.

Suara kipas server berdengung pelan di sudut ruangan.

Aku mencoba mencerna semuanya. Tiga hari lalu. Jam 21:02. File proposalku dibuat ulang dari komputerku. Tapi jaringan yang tercatat berasal dari ruang direktur.

Rudi berbisik, “Berarti Dimas masuk ruang direktur malam itu?”

Pak Fajar mengangkat bahu kecil. “Atau… seseorang menggunakan jaringan dari ruangan itu.”

Aku menatap layar lagi. Kepalaku mulai penuh kemungkinan yang membuat perutku semakin tidak nyaman.

Rudi tiba-tiba berkata, “Tapi ruang direktur kan selalu dikunci malam-malam.”

Pak Fajar tidak menjawab.

Aku mengingat sesuatu.

Tiga hari lalu.

Jam sembilan malam.

Aku memang sempat lewat koridor menuju lift.

Dan lampu ruang direktur masih menyala.

Aku berhenti berpikir.

Tanganku mengepal.

“Pak…” suaraku terdengar lebih pelan dari yang aku kira. “Kalau seseorang masuk ruang direktur malam hari… ada rekaman CCTV?”

Pak Fajar langsung menoleh.

“Harusnya ada.”

Harusnya.

Aku dan Rudi langsung saling pandang.

Tanpa bicara kami langsung mengerti hal yang sama.

Kalau ada rekaman itu…

semuanya bisa selesai.

Pak Fajar berdiri dari kursinya. “Ruang CCTV di lantai dua.”

Aku sudah berjalan ke pintu sebelum dia selesai bicara.

Rudi menyusul di belakangku.

Koridor kantor terasa lebih panjang dari biasanya. Beberapa karyawan masih bekerja di meja mereka. Tapi sekarang aku bahkan tidak memperhatikan tatapan mereka.

Kepalaku hanya memikirkan satu hal.

Kalau kamera menangkap Dimas masuk ruang direktur…

semua selesai.

Tangga menuju lantai dua terasa lebih curam dari biasanya. Napasku sedikit terengah saat kami sampai di depan ruang CCTV.

Pintu kayu itu setengah terbuka.

Di dalam, satpam kantor sedang duduk sambil menonton monitor kecil.

Empat layar CCTV menampilkan berbagai sudut kantor.

Parkiran.

Koridor.

Lobby.

Gudang.

“Pak,” kataku cepat.

Satpam itu menoleh.

“Mas Arga?”

Aku menunjuk monitor. “Bisa lihat rekaman tiga hari lalu?”

Dia terlihat bingung. “Kenapa?”

Rudi menjawab cepat, “Kami butuh lihat koridor ruang direktur malam hari.”

Satpam itu menggaruk kepala sebentar, lalu memutar kursinya menghadap komputer rekaman.

“Jam berapa?”

Aku berpikir sebentar.

“Sekitar jam sembilan sampai sepuluh malam.”

Dia mulai memutar rekaman.

Tanggal digeser.

Jam mundur.

Monitor memperlihatkan koridor kantor yang sepi.

Lampu putih menyala.

Tidak ada orang.

Satpam mempercepat rekaman.

Detik berjalan cepat.

Menit berlalu seperti bayangan.

Jam di pojok layar menunjukkan 21:05.

Koridor masih kosong.

21:12.

Masih kosong.

21:20.

Tiba-tiba Rudi menunjuk layar.

“Pak, berhenti!”

Rekaman berhenti.

Kami bertiga mendekat ke monitor.

Di layar terlihat seseorang berjalan di koridor menuju ruang direktur.

Orang itu memakai kemeja kantor.

Membawa tas laptop.

Satpam memperbesar gambar sedikit.

Dadaku langsung berdebar.

Itu Dimas.

Rudi berkata pelan, “Gue bilang juga…”

Di layar, Dimas berhenti di depan pintu ruang direktur.

Dia melihat kiri kanan.

Koridor kosong.

Lalu dia memasukkan sesuatu ke lubang kunci.

Pintu terbuka.

Dia masuk.

Rekaman terus berjalan.

Pintu ruang direktur tertutup lagi.

Aku menahan napas.

Satpam memajukan rekaman.

21:35.

21:47.

22:03.

Lalu pintu ruang direktur terbuka lagi.

Dimas keluar.

Masih membawa tas laptop.

Dia menutup pintu.

Lalu berjalan pergi ke arah tangga.

Rekaman berhenti.

Ruangan CCTV terasa sunyi.

Rudi tertawa kecil, setengah tidak percaya.

“Ini dia.”

Aku menatap layar.

Bukti.

Akhirnya ada bukti.

Aku menghela napas panjang.

Rasanya seperti beban berat yang sejak pagi menekan dadaku mulai sedikit terangkat.

“Pak…” kataku pada satpam. “Rekaman ini bisa disalin?”

Satpam mengangguk. “Bisa.”

Tapi sebelum dia sempat memutar kursinya ke komputer penyimpanan…

pintu ruang CCTV tiba-tiba terbuka.

Kami semua menoleh.

Di ambang pintu berdiri seseorang.

Direktur.

Dia menatap kami bertiga.

Lalu matanya berhenti pada layar monitor.

Tepat pada gambar Dimas yang sedang membuka pintu ruangannya sendiri.

Dan ekspresi wajah direktur itu…

bukan terlihat terkejut.

Dia terlihat…

sudah tahu.

PART 7

Ruangan CCTV mendadak terasa sempit. Aku berdiri di depan monitor bersama Rudi dan Pak Fajar ketika pintu terbuka. Direktur berdiri di ambang pintu. Jasnya masih rapi seperti biasanya, tapi wajahnya terlihat lebih serius dari yang pernah kulihat sebelumnya. Dia melangkah masuk perlahan. Sepatu kulitnya terdengar pelan di lantai keramik. Matanya langsung tertuju ke layar monitor. Tepat ke rekaman yang memperlihatkan Dimas membuka pintu ruangannya sendiri.

Tidak ada yang bicara beberapa detik.

Satpam yang duduk di kursi terlihat bingung. Tangannya masih memegang mouse.

Direktur mendekat satu langkah lagi.

“Lanjutkan.”

Suaranya tenang. Datar.

Satpam menekan tombol play lagi. Rekaman berjalan beberapa detik sebelum berhenti kembali di bagian ketika Dimas keluar dari ruangan. Direktur menatap layar tanpa berkedip. Aku memperhatikan wajahnya, mencoba membaca reaksinya. Tapi ekspresinya sulit ditebak.

Rudi akhirnya membuka suara. “Pak… berarti jelas kan? Dimas yang masuk ruang direktur malam itu.”

Direktur tidak langsung menjawab.

Dia justru menoleh padaku.

“Mas Arga.”

Aku menelan ludah. “Iya, Pak.”

“Dari mana Anda tahu harus melihat rekaman ini?”

Aku menarik napas pendek. “Dari log server, Pak. Alamat jaringan yang membuat file proposal… berasal dari ruang direktur.”

Pak Fajar mengangguk pelan di belakangku, membenarkan.

Direktur kembali menatap layar.

Rekaman masih berhenti di gambar Dimas di depan pintu ruangannya.

Dia berdiri beberapa detik tanpa bicara.

Lalu berkata pelan, “Saya sudah melihat rekaman ini.”

Kalimat itu membuat dadaku langsung terasa aneh.

Rudi juga terlihat bingung. “Maksudnya… Bapak sudah tahu?”

Direktur mengangguk pelan.

“Sejak kemarin malam.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Aku menatapnya. “Kalau Bapak sudah tahu… kenapa saya tetap dipanggil HR tadi pagi?”

Direktur akhirnya menoleh padaku.

Matanya tajam.

“Karena saya ingin melihat sampai sejauh mana Dimas akan melangkah.”

Aku tidak langsung mengerti.

Rudi juga terlihat semakin bingung.

Direktur melanjutkan, “Beberapa bulan terakhir saya menerima laporan aneh tentang beberapa proyek yang tiba-tiba berpindah tangan.”

Pak Fajar mengangkat alis.

Direktur berjalan mendekat ke monitor.

“Selalu ada satu pola yang sama.”

Dia menunjuk layar.

“Dimas.”

Aku merasa sesuatu mulai terbuka di kepalaku.

Direktur melipat tangan di dada.

“Masalahnya… setiap kali saya periksa, dia selalu punya dokumen yang terlihat sah.”

Aku langsung teringat ucapan Rudi sebelumnya.

Dua orang sebelum aku… juga pernah jatuh gara-gara dia.

Direktur menatap layar lagi.

“Saya menunggu dia membuat kesalahan.”

Dia menoleh padaku.

“Dan sepertinya… hari ini kita menemukannya.”

Perutku terasa sedikit lebih ringan.

“Berarti… saya tidak dipecat, Pak?”

Direktur menggeleng kecil.

“Belum ada keputusan apa pun.”

Rudi menghembuskan napas lega.

Tapi sebelum suasana benar-benar terasa aman, direktur menambahkan satu kalimat lagi.

“Masalahnya… kita masih punya satu masalah besar.”

Aku menatapnya.

“Masalah apa, Pak?”

Direktur menunjuk layar lagi.

“Rekaman ini menunjukkan Dimas masuk ruangan saya.”

Dia berhenti sebentar.

“Namun… tidak menunjukkan apa yang dia lakukan di dalam.”

Aku menatap monitor lagi.

Benar.

Kamera hanya menangkap koridor.

Bukan isi ruangan.

Direktur berkata pelan, “Artinya dia masih bisa berargumen bahwa dia hanya mengambil sesuatu… atau mencari dokumen.”

Rudi mengerutkan dahi. “Tapi log server jelas menunjukkan dia menyalin file.”

Pak Fajar tiba-tiba berkata, “Belum tentu.”

Kami semua menoleh padanya.

Pak Fajar menunjuk layar laptop server yang masih terbuka.

“Log menunjukkan file disalin dari server… tapi tidak menunjukkan siapa yang membuat file itu di awal.”

Dadaku langsung terasa dingin lagi.

Direktur menatapku.

“Dan saat ini, di sistem kantor…”

dia berhenti sebentar.

“…file itu tercatat dibuat oleh komputer Anda, Mas Arga.”

Kalimat itu terasa seperti menutup pintu yang baru saja sedikit terbuka.

Rudi langsung protes, “Tapi kita tahu itu dimanipulasi!”

Direktur mengangguk.

“Saya percaya.”

Dia menatap layar sekali lagi.

“Tapi kita butuh sesuatu yang tidak bisa diperdebatkan.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Satpam di kursinya terlihat semakin bingung.

Aku menatap monitor koridor itu lagi.

Dimas masuk.

Dimas keluar.

Tas laptop.

Jam 21:20.

Lalu tiba-tiba sesuatu di kepalaku terasa aneh.

Aku mencondongkan badan ke layar.

“Pak… mundurkan sedikit.”

Satpam memutar rekaman beberapa detik ke belakang.

21:19.

Dimas berjalan menuju pintu.

Aku memperhatikan tangannya.

Ada sesuatu di tangannya yang tadi tidak aku perhatikan.

Sebuah benda kecil.

Hitam.

Direktur ikut mendekat.

“Zoom.”

Satpam memperbesar gambar.

Benda itu sekarang terlihat lebih jelas.

Rudi berbisik pelan.

“Itu… flashdisk.”

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Flashdisk hitam kecil.

Sama persis seperti yang sekarang ada di tanganku.

Dan tiba-tiba satu pertanyaan muncul di kepalaku yang membuat seluruh cerita ini terasa jauh lebih besar.

Karena aku sadar satu hal.

Flashdisk itu…

bukan milikku.

PART 8

Aku menatap layar monitor tanpa berkedip. Gambar Dimas yang sedang membuka pintu ruang direktur masih membeku di sana. Di tangannya terlihat jelas sebuah flashdisk kecil berwarna hitam. Bentuknya sederhana. Tidak ada gantungan. Tidak ada stiker. Tapi aku tahu satu hal pasti: itu bukan flashdisk milikku. Flashdiskku sekarang masih ada di tanganku sejak tadi pagi. Aku bahkan masih bisa merasakan permukaan plastiknya yang dingin di telapak tanganku.

Rudi berdiri di sampingku sambil mengerutkan dahi. “Kalau itu bukan flashdisk lo… berarti dia bawa flashdisk lain?” katanya pelan. Aku tidak menjawab. Mataku masih terpaku pada layar. Di dalam kepalaku mulai muncul satu kemungkinan yang membuat seluruh tubuhku terasa semakin dingin. Direktur juga memperhatikan layar dengan serius. Dia melipat tangan di dada, lalu berkata pelan, “Putar lagi dari awal.”

Satpam memundurkan rekaman beberapa detik. Koridor terlihat kosong. Jam di pojok layar menunjukkan 21:18. Lalu beberapa detik kemudian Dimas muncul di ujung koridor, berjalan menuju pintu ruang direktur sambil membawa tas laptop di bahu dan flashdisk kecil di tangannya. Dia melihat kiri kanan, memastikan tidak ada orang di koridor, lalu memasukkan kunci ke pintu. Beberapa detik kemudian dia menghilang di balik pintu itu. Satpam menghentikan rekaman lagi.

Ruangan itu kembali sunyi.

Pak Fajar tiba-tiba berkata pelan, “Kalau dia membawa flashdisk sendiri… kemungkinan besar dia tidak hanya menyalin file dari server.” Aku menoleh cepat. “Maksudnya?” Pak Fajar menunjuk layar server yang masih terbuka di laptopnya. “Kalau seseorang masuk ruang direktur dengan flashdisk… dia bisa menyalin file langsung dari komputer di dalam ruangan itu.”

Aku mengerutkan dahi. “Tapi file proposal ada di server kantor.”

Pak Fajar menggeleng pelan. “Benar. Tapi file itu juga pernah dibuka dari komputer direktur beberapa kali. Artinya salinan sementara bisa saja tersimpan di sana.”

Dadaku langsung berdetak lebih keras.

Direktur menatap Pak Fajar. “Apakah mungkin seseorang menyalin file dari komputer saya… lalu memindahkannya ke server seolah-olah file itu dibuat dari komputer Arga?”

Pak Fajar berpikir beberapa detik sebelum menjawab. “Kalau dia sudah pernah menggunakan laptop admin server sebelumnya… sangat mungkin.”

Rudi langsung menghela napas keras. “Gila… berarti dia benar-benar merencanakan semuanya.”

Aku menatap layar lagi. Sekarang semuanya mulai terlihat seperti puzzle yang perlahan menyatu. Tiga minggu lalu Dimas meminjam laptop IT dan mendapatkan akses admin ke sistem kantor. Setelah itu dia menyiapkan perubahan di log server. Lalu tiga hari lalu dia masuk ruang direktur malam hari dengan flashdisknya sendiri. Dari situ dia bisa mengambil salinan file proposal yang pernah dibuka di komputer direktur, memindahkannya ke server, lalu mengatur log seolah-olah file itu dibuat dari komputerkku.

Direktur menghela napas panjang. “Jadi dia menciptakan bukti palsu… dengan menggunakan komputer saya.”

Pak Fajar mengangguk.

Rudi menatap layar monitor lagi. “Tapi kita masih punya rekaman CCTV ini.”

Direktur menggeleng pelan. “Rekaman ini hanya menunjukkan dia masuk ruangan saya. Dia bisa saja bilang dia hanya mengambil dokumen.”

Aku merasakan ketegangan kembali menekan dadaku. Rasanya seperti kami sudah hampir sampai pada jawaban… tapi masih ada satu potongan yang hilang.

Aku menatap layar sekali lagi.

Flashdisk di tangan Dimas.

Tas laptop di bahunya.

Lalu tiba-tiba satu hal terasa aneh.

Aku mencondongkan badan lebih dekat ke monitor.

“Pak… zoom lagi.”

Satpam memperbesar gambar.

Sekarang tangan Dimas terlihat lebih jelas.

Flashdisk hitam itu memang ada di tangannya.

Tapi di tangan yang lain… ada sesuatu lagi.

Sebuah kartu kecil.

Direktur ikut mencondongkan badan.

“Perbesar sedikit lagi.”

Gambar diperbesar sampai hampir pecah.

Aku membaca tulisan kecil di kartu itu perlahan.

Dadaku langsung berdetak keras.

Itu bukan kartu biasa.

Itu kartu akses kantor.

Dan nama yang tercetak di kartu itu…

bukan nama Dimas.

Direktur membaca lebih dulu.

Suaranya pelan.

“Arga.”

Aku membeku.

Rudi langsung menoleh padaku. “Bro… itu kartu akses lo.”

Tanganku langsung masuk ke saku celana.

Kosong.

Aku membuka tas.

Mencari di dalam dompet.

Tidak ada.

Perutku langsung terasa jatuh.

Aku baru sadar satu hal yang membuat semua potongan cerita ini tiba-tiba menjadi jauh lebih berbahaya.

Tiga hari lalu malam itu…

Dimas tidak hanya mencuri proposal.

Dia menggunakan kartu aksesku.

PART 9

Tanganku masih memegang dompet yang sudah kubuka berkali-kali. Kosong. Kartu akses itu benar-benar tidak ada. Dadaku terasa semakin berat saat menatap layar CCTV di depan kami. Di sana terlihat jelas Dimas memegang kartu akses dengan namaku tercetak di bagian depan. Direktur berdiri di sampingku dengan wajah serius, sementara Rudi menatapku seperti mencoba memastikan aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. “Lo yakin kartu itu hilang?” bisiknya pelan. Aku mengangguk pelan. “Sepertinya… sejak beberapa hari lalu. Aku kira cuma jatuh di rumah.”

Direktur menghela napas panjang lalu menatap layar lagi. “Kalau dia menggunakan kartu akses Arga, berarti dia sengaja ingin semua jejak mengarah ke Arga.” Pak Fajar mengangguk dari belakang kami. “Itu juga menjelaskan kenapa data absensi menunjukkan Arga sudah pulang, tapi file dibuat dari komputer Arga. Dimas bisa masuk lagi ke ruangan kerja menggunakan kartu itu.” Rudi menggeleng pelan. “Gila… dia benar-benar merancang semuanya.”

Aku menatap monitor tanpa berkedip. Sekarang semuanya terasa jauh lebih jelas. Dimas tidak hanya mencuri file. Dia juga mencuri identitasku di sistem kantor. Dengan kartu aksesku dia bisa masuk ruangan, menggunakan komputerkku, bahkan membuka ruang direktur tanpa terlihat mencurigakan di log keamanan. Semua jejak akan terlihat seperti aku yang melakukannya.

Direktur akhirnya berkata pelan, “Tapi ada satu hal yang tidak dia perhitungkan.”

Kami semua menoleh padanya.

Direktur menunjuk layar CCTV lagi. “Dia tidak tahu bahwa kamera koridor ini baru saja diganti bulan lalu dengan model yang lebih detail.” Satpam langsung mengangguk. “Betul, Pak. Kamera baru bisa membaca data kartu akses yang dipakai di pintu.”

Dadaku langsung berdetak lebih cepat. “Maksudnya… kartu yang dipakai di pintu bisa terbaca di rekaman?”

Satpam memutar kursinya ke komputer rekaman lalu membuka menu kecil di layar. “Kalau pintu dibuka dengan kartu akses, sistem kamera akan mencatat nomor kartu yang digunakan.” Dia mengetik beberapa detik sebelum membuka sebuah jendela kecil di samping rekaman CCTV.

Kami semua mencondongkan badan ke layar.

Ada satu baris data muncul.

Tanggal.

Jam.

Nomor kartu akses.

Satpam memperbesar tulisan itu.

Direktur membaca lebih dulu.

Suaranya pelan tapi jelas.

“Card ID… 1473.”

Pak Fajar langsung berkata, “Itu nomor kartu Arga.”

Dadaku langsung terasa campur aduk. Artinya benar, Dimas memang menggunakan kartu aksesku malam itu. Tapi Direktur masih menatap layar dengan tenang. Dia menunjuk satu kolom kecil di sebelah nomor kartu.

“Sekarang lihat ini.”

Aku membaca tulisan kecil itu perlahan.

Mataku langsung membesar.

Karena di samping nomor kartu akses itu… ada satu informasi tambahan yang sebelumnya tidak kami perhatikan.

Fingerprint verification: FAILED.

Aku menoleh cepat ke Direktur.

Dia tersenyum kecil untuk pertama kalinya sejak kami masuk ruangan CCTV.

“Pintu ruang saya tidak bisa dibuka hanya dengan kartu akses,” katanya pelan. “Harus ada sidik jari pemilik kartu juga.”

Rudi langsung berkata, “Berarti sidik jarinya tidak cocok.”

Direktur mengangguk.

“Artinya seseorang mencoba membuka pintu dengan kartu Arga… tapi bukan Arga yang menempelkan jarinya.”

Ruangan CCTV tiba-tiba terasa lebih terang.

Aku menatap layar lagi.

Sekarang semuanya terasa berbeda.

Semua potongan cerita yang sejak pagi terasa seperti jebakan… mulai berubah menjadi bukti.

Direktur menatapku lalu berkata pelan, “Besok pagi kita akan memanggil Dimas ke ruang rapat.”

Dia berhenti sebentar sebelum menambahkan kalimat terakhir.

“Dan kali ini… dia tidak akan bisa berbohong lagi.”

PART 10

Pagi berikutnya kantor terasa berbeda. Udara di ruangan kerja masih sama dinginnya, suara keyboard masih terdengar di mana-mana, tapi semua orang seolah menunggu sesuatu. Aku duduk di kursiku tanpa benar-benar bekerja. Di meja, flashdisk kecil itu masih tergeletak di samping laptop. Jam di layar menunjukkan pukul 09.03 ketika pesan dari sekretaris direktur muncul di WhatsApp. “Mas Arga diminta ke ruang rapat sekarang.” Dadaku langsung berdebar. Aku berdiri perlahan lalu berjalan menuju ruang rapat di lantai dua. Di dalam ruangan itu sudah ada beberapa orang: Direktur, Pak Fajar dari IT, HR, Rudi, dan dua manajer divisi. Di ujung meja duduk seseorang yang terlihat santai seperti biasa. Dimas.

Direktur menutup pintu ruangan lalu berkata, “Baik, kita mulai saja.” Dimas langsung berbicara lebih dulu seolah sudah siap dengan semuanya. Dia mengatakan proposal itu miliknya dan file aslinya ada di laptopnya. Direktur tidak menjawab. Dia hanya memberi isyarat pada Pak Fajar. Layar di dinding langsung menampilkan rekaman CCTV. Koridor kantor, jam 21:19 malam. Terlihat jelas Dimas berjalan menuju pintu ruang direktur sambil membawa tas laptop. Senyum di wajahnya langsung memudar sedikit. Direktur berkata tenang, “Anda masuk ruang saya malam itu.” Dimas menjawab santai bahwa dia hanya mengambil dokumen. Direktur lalu memperbesar gambar. Terlihat jelas kartu akses di tangan Dimas. “Masalahnya,” kata direktur pelan, “kartu itu bukan milik Anda. Itu kartu milik Arga.”

Dimas mencoba tetap tenang dan berkata mungkin aku meminjamkannya. Saat itu satpam membuka data akses pintu. Di layar muncul nomor kartu akses Arga dan satu baris tambahan: Fingerprint verification: FAILED. Direktur menjelaskan bahwa pintu ruangannya tidak bisa dibuka hanya dengan kartu; harus ada sidik jari pemilik kartu. Artinya kartu Arga digunakan, tapi bukan oleh Arga. Setelah itu Pak Fajar membuka log server yang menunjukkan file proposal disalin oleh komputer Dimas. Ruangan rapat menjadi sunyi. Untuk pertama kalinya Dimas tidak punya jawaban. Setelah beberapa detik HR bertanya apakah dia ingin memberi penjelasan. Dimas hanya menghela napas panjang dan berkata pelan bahwa dia ingin memastikan proyek itu berhasil. Direktur menatapnya lalu berkata singkat, “Dengan menjatuhkan orang lain?”

Keputusan diambil pagi itu juga. Dimas langsung diberhentikan dari perusahaan dan semua akses sistemnya ditutup. HR memintanya mengosongkan mejanya sebelum siang. Aku duduk diam setelah rapat selesai. Rasanya aneh. Kemarin aku hampir kehilangan pekerjaan, sekarang semuanya berbalik. Sebelum keluar ruangan direktur menepuk bahuku dan berkata proyek tender itu kembali menjadi tanggung jawabku. Beberapa minggu kemudian perusahaan kami benar-benar memenangkan proyek tersebut, dan untuk pertama kalinya namaku disebut di depan seluruh tim sebagai orang yang memimpin proyek itu. Saat itulah aku sadar satu hal: orang seperti Dimas mungkin bisa memanipulasi dokumen, sistem, bahkan kepercayaan orang lain untuk sementara waktu. Tapi cepat atau lambat… kebenaran selalu menemukan jalannya.

Sejak hari itu aku belajar satu hal…

di kantor, orang pintar bisa naik jabatan.

Tapi orang licik… cepat atau lambat akan jatuh oleh akalnya sendiri.

Similar Posts