| | |

AKU MEMULAI PERNIKAHANKU DENGAN SATU KEBOHONGAN BESAR.

DAN SAMPAI HARI INI…
AKU MASIH MEMBAYAR HARGANYA.

Kalau saja waktu itu aku jujur sejak awal…

mungkin hidupku tidak akan seberantakan ini.

Ayah dan ibuku meninggal ketika aku masih kecil.

Satu kecelakaan mobil.

Dua peti.

Satu rumah yang tiba-tiba kosong.

Aku masih ingat bau rumah sakit malam itu.

Dingin.

Lampunya putih terang.

Orang-orang bicara pelan di luar ruangan.

Aku duduk di kursi plastik.

Memegang mobil mainan kecil.

Tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi.

Sampai seorang pria menepuk bahuku.

“Mulai hari ini kamu ikut om ya.”

Dia kakak dari ibuku.

Namanya Om Rudi.

Seorang pengusaha.

Dan sejak hari itu…

hidupku berubah total.


Rumah Om Rudi sangat besar.

Lantainya marmer.

Ada kolam ikan di tengah halaman.

Garasi penuh mobil.

Di dalam rumah ada beberapa pembantu.

Aku anak kecil dari rumah sederhana.

Masuk ke rumah itu rasanya seperti masuk dunia lain.

Aku bahkan takut melangkah terlalu keras.

Takut merusak sesuatu.


Tapi Om Rudi tidak pernah membuatku merasa orang asing.

Dia hanya berkata satu kalimat waktu itu.

“Kamu tetap keluarga.”

Sejak hari itu…

aku sekolah di sekolah bagus.

Diantar mobil.

Kuliah di kampus mahal.

Orang-orang yang mengenalku selalu berpikir satu hal.

Aku anak orang kaya.

Dan aku…

tidak pernah membantah.


Masalahnya cuma satu.

Aku tahu kenyataannya.

Semua itu bukan milikku.

Rumah itu bukan rumahku.

Uang itu bukan uangku.

Dan sejak awal Om Rudi sudah pernah berkata satu hal kepadaku.

Kalimat yang waktu itu tidak terlalu kupikirkan.

“Kamu aku besarkan sampai kamu bisa berdiri sendiri.”

Aku cuma mengangguk waktu itu.

Tidak pernah benar-benar memikirkan artinya.


Sampai suatu hari aku bertemu Nadia.

Aku pertama kali melihat dia di kafe dekat kampus.

Dia duduk sendirian.

Laptop terbuka.

Segelas es kopi di depannya.

Rambutnya panjang.

Matanya tajam.

Cantik.

Cantik yang membuat orang refleks melihat dua kali.

Temanku menyenggol bahuku.

“Coba deketin.”

Aku tertawa kecil.

“Gila. Dia kelas atas.”

Temanku nyengir.

“Lah lu juga.”

Aku hanya tersenyum.

Padahal dalam hati aku tahu…

aku tidak benar-benar termasuk dunia itu.


Entah bagaimana akhirnya kami mulai sering bertemu.

Ngopi.

Makan.

Nonton.

Jalan malam.

Dan setiap kali aku menjemput Nadia dengan mobil dari rumah Om Rudi…

dia selalu melihat rumah itu dengan kagum.

“Rumah kamu besar ya.”

Aku hanya tersenyum.

Aku tidak pernah menjelaskan apa pun.

Dia juga tidak pernah bertanya.

Dan entah kenapa…

itu membuat kebohongan kecil ini terasa semakin mudah.


Bulan demi bulan hubungan kami semakin dekat.

Terlalu dekat.

Sampai satu malam…

semuanya berubah.


Malam itu hujan deras.

Kami berada di apartemen temannya yang sedang ke luar kota.

Film di TV sudah selesai sejak lama.

Lampu ruang tamu redup.

Suara hujan memukul jendela.

Dan malam itu…

kami melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.


Beberapa minggu kemudian Nadia datang menemuiku.

Wajahnya pucat.

Tangannya gemetar memegang test pack.

Dua garis merah.

Dia menatapku lama.

Lalu berkata pelan.

“Aku hamil.”


Dunia seperti berhenti.

Aku tahu satu hal.

Kami harus menikah.

Tidak ada pilihan lain.

Dan aku juga tahu satu hal lain.

Begitu aku menikah…

aku harus jujur kepada Om Rudi.


Aku datang ke ruang kerjanya malam itu.

Ruangan itu dingin.

AC menyala pelan.

Om Rudi duduk di belakang meja kayu besar.

Dia menatapku lama.

“Ada apa?”

Tanganku dingin.

Aku menelan ludah.

“Om… Nadia hamil.”

Ruangan itu langsung sunyi.

Jam dinding berdetak pelan.

Tik…
Tik…
Tik…

Om Rudi tidak marah.

Dia hanya menghela napas panjang.

Lalu berkata pelan.

“Aku membesarkan kamu dari kecil.”

Aku diam.

“Aku sekolahkan kamu.”

Matanya menatap lurus ke arahku.

Tidak ada kemarahan di sana.

Yang ada hanya satu hal.

Kecewa.

“Aku tidak pernah mengajari kamu jadi laki-laki yang seperti ini.”

Aku tidak bisa mengangkat kepala.

Rasa malu menekan dadaku.

Kalimat berikutnya keluar sangat tenang.

“Kalau kamu sudah berani mengambil keputusan seperti ini…”

dia berhenti sebentar.

“…berarti kamu juga harus berani menanggung hidupmu sendiri.”

Dia membuka laci.

Mengeluarkan amplop.

Mendorongnya ke arahku.

“Ini untuk mulai hidup.”

Aku tidak berani menyentuhnya.

“Mulai hari ini…”

dia menarik napas panjang.

“…rumah ini bukan lagi tempatmu.”


Seminggu kemudian aku menikah dengan Nadia.

Tanpa pesta besar.

Tanpa keluarga besar.

Dan setelah itu…

aku keluar dari rumah Om Rudi.


Bukan ke rumah baru.

Bukan ke apartemen.

Tapi ke kamar kos kecil di gang sempit.

Dengan kipas angin tua yang berderit setiap malam.


Hari pertama Nadia masuk kamar kos itu…

dia berdiri lama di pintu.

Melihat sekeliling.

Tempat tidur kecil.

Lemari plastik.

Dapur bersama di luar.

Dia tidak bicara.

Tidak satu kata pun.

Aku mencoba tersenyum.

“Nanti kita bangun semuanya pelan-pelan ya…”

Dia masih diam.

Lama sekali.

Lalu akhirnya dia menoleh ke arahku.

Tatapannya berbeda.

Dingin.

Dan kalimat pertama yang keluar dari mulutnya membuat jantungku seperti jatuh.

Dia berkata pelan.

“Jadi selama ini…”

dia berhenti sebentar.

“…kamu bukan orang kaya?”


Dan saat itulah aku sadar.

Kesalahan terbesar dalam hidupku…

baru saja benar-benar dimulai.

PART 2

Nadia masih berdiri di depan pintu kamar kos itu.

Matanya menyapu ruangan sempit di depannya.

Tempat tidur besi.

Lemari plastik.

Kipas angin tua yang berderit di langit-langit.

Kreeeet…
kreeeet…

Dia menatapku lagi.

“Jadi selama ini…”

suara Nadia pelan.

“…kamu bukan orang kaya?”

Aku tidak langsung menjawab.

Karena sebenarnya…

aku juga tidak tahu harus menjelaskan dari mana.

Aku duduk di ujung kasur.

Tanganku meremas lutut.

“Aku tinggal di rumah omku…”

Nadia tidak memotong.

Dia hanya menunggu.

“Ayah ibuku meninggal waktu aku kecil.”

Dia masih diam.

“Om Rudi yang membesarkan aku.”

Sunyi.

Suara motor lewat di gang sempit di luar.

“Jadi rumah itu…”

aku menarik napas.

“…bukan rumahku.”

Wajah Nadia berubah pelan.

Bukan marah.

Lebih seperti seseorang yang baru sadar sedang ditipu.

“Berarti selama ini…”

dia menatapku tajam.

“…kamu bohong?”

Aku cepat menggeleng.

“Aku tidak pernah bilang aku kaya.”

Kalimat itu keluar refleks.

Tapi bahkan aku sendiri tahu itu terdengar bodoh.

Karena memang benar.

Aku tidak pernah bilang.

Tapi aku juga tidak pernah meluruskan.

Dan Nadia tahu itu.

Dia tertawa kecil.

Bukan tertawa senang.

Lebih seperti orang yang baru sadar sesuatu yang pahit.

“Kamu tahu nggak…”

dia menunjuk kamar kos itu.

“…ini bahkan lebih kecil dari kamar pembantu di rumahmu.”

Kalimat itu menampar lebih keras daripada makian.

Aku menunduk.

“Maaf.”

Nadia tidak menjawab.

Dia hanya masuk pelan.

Meletakkan tasnya.

Duduk di kursi plastik dekat meja kecil.

Perutnya belum terlihat.

Tapi kami berdua tahu ada satu kehidupan kecil di sana.

Dan tanggung jawab itu sekarang ada di pundakku.


Minggu-minggu pertama setelah itu terasa aneh.

Nadia tidak banyak bicara.

Dia tetap tinggal.

Tapi jaraknya terasa.

Seperti ada tembok tipis di antara kami.

Aku mulai bekerja.

Pekerjaan pertama yang bisa aku dapat.

Staf administrasi di sebuah perusahaan logistik kecil.

Gajinya tidak besar.

Tapi cukup untuk bayar kos dan makan.

Setiap pagi aku berangkat naik motor tua pinjaman teman.

Setiap malam pulang dengan badan pegal.

Kadang Nadia sudah tidur.

Kadang dia duduk menonton TV kecil di kamar.

Kadang kami makan bareng.

Kadang tidak.


Bulan-bulan berjalan.

Perut Nadia mulai membesar.

Aku mulai bekerja lebih keras.

Sering lembur.

Sering pulang tengah malam.

Kadang bahkan mengambil pekerjaan tambahan di akhir pekan.

Karena satu hal yang selalu terlintas di kepalaku.

Aku harus membuktikan sesuatu.

Aku harus menunjukkan kepada Nadia bahwa aku bisa.

Walaupun aku bukan orang kaya.


Suatu malam aku pulang hampir jam dua belas.

Gang sudah sepi.

Lampu jalan redup.

Ketika aku membuka pintu kamar kos…

Nadia duduk di kasur.

Lampu menyala.

Dia tidak tidur.

Di depannya ada buku catatan kecil.

Aku melepas jaket.

“Kamu belum tidur?”

Dia tidak menjawab.

Dia hanya menggeser buku itu ke arahku.

Di dalamnya ada daftar.

Susu hamil.

Vitamin.

Biaya kontrol dokter.

Perlengkapan bayi.

Angkanya panjang.

Aku menelan ludah.

“Ini… kebutuhan beberapa bulan ke depan.”

Aku duduk pelan.

Kertas itu terasa berat di tangan.

“Totalnya?”

Nadia menyebut angka.

Aku terdiam.

Karena angka itu hampir sama dengan dua bulan gajiku.


Aku mencoba tersenyum.

“Nanti aku usahakan ya.”

Nadia menatapku lama.

Tatapannya datar.

“Usahakan?”

Aku tidak menjawab.

Dia menutup buku itu pelan.

“Kadang aku berpikir…”

dia menarik napas.

“…hidupku berubah terlalu jauh.”

Aku menunduk.

“Kamu tahu nggak?”

suara Nadia pelan.

“Dulu aku pikir aku akan menikah dengan orang yang hidupnya sudah mapan.”

Kalimat itu seperti pisau tipis.

Tidak menusuk sekali.

Tapi menggores pelan.

Dalam.


Sejak malam itu…

aku bekerja lebih keras lagi.

Aku mengambil semua lembur yang bisa aku ambil.

Aku hampir tidak pernah tidur cukup.

Gajiku sebagian besar aku berikan ke Nadia.

Untuk kebutuhan dia.

Untuk bayi kami.

Aku hampir tidak pernah membeli apa pun untuk diriku sendiri.

Aku pikir…

kalau aku terus berusaha seperti ini…

suatu hari Nadia akan melihat.

Bahwa aku benar-benar berjuang.


Tapi ternyata…

masalah kami tidak berhenti di situ.

Justru semuanya mulai berubah…

pada malam ketika aku pulang kerja lebih cepat dari biasanya.

Dan menemukan sesuatu di kamar kos itu…

yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

PART 3

Malam itu aku pulang lebih cepat.

Biasanya aku pulang hampir tengah malam.

Tapi hari itu kantor sedang sepi.
Bos bilang semua boleh pulang lebih awal.

Jam di HP menunjukkan pukul 20:15.

Gang menuju kos masih ramai.

Ada anak-anak main bola plastik.
Ada ibu-ibu duduk di depan rumah sambil ngobrol.

Lampu warung nasi kuning masih terang.

Aku parkir motor di depan kos.

Aneh.

Lampu kamar kami menyala.

Biasanya Nadia sudah mematikannya dan tidur lebih awal.

Aku membuka pintu pelan.

Krieeet.


Begitu pintu terbuka…

aku langsung berhenti di ambang pintu.

Di dalam kamar…

ada seorang pria.

Dia berdiri di dekat meja kecil.

Baju kemeja rapi.

Sepatu kulit.

Tangannya memegang kantong plastik besar dari apotek.

Nadia duduk di kasur.

Perutnya yang mulai membesar terlihat jelas.

Mereka berdua langsung menoleh ke arah pintu.

Suasana tiba-tiba kaku.

Pria itu menatapku.

Aku menatapnya balik.

Aku tidak mengenalnya.


Pria itu akhirnya yang bicara dulu.

“Ini suamimu?”

Dia bertanya ke Nadia.

Nadia mengangguk pelan.

“Ini Arman.”

Nadia menunjuk pria itu.

“Temanku.”

Teman.

Aku tidak tahu kenapa kata itu terdengar aneh.

Aku menutup pintu.

“Teman dari mana?”

Arman tersenyum sopan.

“Teman lama Nadia.”

Dia mengangkat kantong plastik.

“Saya cuma bantu belikan vitamin sama susu.”

Aku melihat isi kantong itu.

Kotak vitamin mahal.

Susu hamil.

Beberapa obat dari dokter.

Jumlahnya tidak sedikit.

Aku langsung tahu.

Semua itu mahal.

Sangat mahal.


Arman menatapku lagi.

“Maaf ya saya datang tiba-tiba.”

Dia berbicara santai.

Seperti orang yang sudah sering datang ke sini.

“Dia bilang kamu sering pulang malam.”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya melihat Nadia.

Dia tidak menatapku.

Matanya justru melihat ke lantai.


Beberapa detik terasa sangat panjang.

Akhirnya Arman menepuk bahunya sendiri pelan.

“Ya sudah, saya pamit dulu.”

Dia berjalan ke arah pintu.

Saat melewatiku, dia berkata pelan.

“Jaga Nadia baik-baik.”

Kalimat itu terdengar seperti nasihat.

Tapi entah kenapa terasa seperti sindiran.


Motor Arman terdengar menjauh dari gang.

Kamar kembali sunyi.

Kipas angin di langit-langit kembali berderit.

Kreeeet…
kreeeet…

Aku berdiri di tengah kamar.

Nadia masih duduk di kasur.

Akhirnya aku bertanya.

“Dia siapa sebenarnya?”

Nadia menjawab cepat.

“Teman.”

Aku menghela napas.

“Teman dari mana?”

“Teman lama.”

Jawabannya pendek.

Seperti tidak ingin dibahas.


Aku menunjuk kantong dari apotek.

“Semua itu dia yang beli?”

Nadia mengangguk.

Aku menatapnya.

“Kamu minta?”

Dia menggeleng.

“Dia yang menawarkan.”

Sunyi lagi.


Aku duduk di kursi plastik.

Tanganku mengusap wajah.

Ada sesuatu yang terasa aneh.

Tapi aku tidak tahu tepatnya apa.

Aku akhirnya berkata pelan.

“Kamu tidak perlu minta bantuan orang lain.”

Nadia langsung menatapku.

“Memang kamu bisa?”

Kalimat itu keluar cepat.

Tanpa ditahan.

Ruangan kembali sunyi.


Aku tidak menjawab.

Karena aku sendiri tahu jawabannya.

Aku sedang berusaha.

Tapi aku belum sampai di sana.


Sejak malam itu…

nama Arman mulai sering muncul di kamar kos kami.

Kadang dia datang mengantar makanan.

Kadang vitamin.

Kadang buah.

Kadang dia hanya mampir sebentar.

Aku tidak pernah benar-benar suka itu.

Tapi setiap kali aku ingin protes…

aku selalu teringat satu hal.

Aku belum mampu memberi semuanya.


Sampai suatu malam…

ketika aku pulang kerja lebih awal lagi.

Dan kali ini…

yang aku dengar dari balik pintu kamar kos itu…

membuat darahku langsung dingin.

Karena aku mendengar Nadia berkata pelan kepada Arman:

“Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa hidup seperti ini…”

PART 4

Aku berhenti di depan pintu kamar kos.

Tanganku sudah memegang gagang pintu.

Tapi aku tidak langsung masuk.

Karena dari dalam kamar…

aku mendengar suara Nadia.

Pelan.

Hampir seperti berbisik.

“Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa hidup seperti ini…”

Jantungku langsung berdetak keras.

Aku tidak bergerak.

Di dalam kamar ada suara pria menjawab.

Suara Arman.

“Kamu masih bisa berubah pikiran.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Nadia berkata lagi.

“Terlambat.”

Suara kursi bergeser.

Arman kembali bicara.

“Kamu tidak harus menderita hanya karena merasa bersalah.”

Tanganku mulai dingin.

Aku masih berdiri di luar pintu.

Tidak berani masuk.

Tidak berani juga pergi.


Nadia menarik napas panjang.

“Aku cuma tidak menyangka hidupku akan seperti ini.”

Arman tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian dia berkata pelan.

“Kalau kamu mau…”

dia berhenti sebentar.

“…aku bisa bantu.”

Sunyi lagi.

Aku tidak tahu kenapa kalimat itu terasa berat.

Sangat berat.


Akhirnya aku membuka pintu.

Krieeet.

Kedua kepala langsung menoleh ke arahku.

Arman berdiri di dekat meja kecil.

Nadia duduk di kasur.

Suasana langsung berubah canggung.

Aku masuk.

Menutup pintu.

Tidak ada yang bicara beberapa detik.


Arman akhirnya berdiri tegak.

“Oh, kamu sudah pulang.”

Nada suaranya biasa saja.

Seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku hanya mengangguk.

Mataku bergantian melihat mereka.

“Lanjut saja.”

Aku berkata pelan.

“Tidak usah berhenti karena aku.”

Nadia langsung berkata cepat.

“Kami cuma ngobrol.”

Aku tidak menjawab.

Aku duduk di kursi plastik.

Kipas angin di atas berderit.

Kreeeet…
kreeeet…

Ruangan kecil itu terasa semakin sempit.


Arman akhirnya meraih jaketnya.

“Ya sudah, saya pamit dulu.”

Dia berjalan ke pintu.

Tapi sebelum keluar, dia berhenti sebentar.

Menoleh ke arahku.

“Kadang…”

dia berkata pelan.

“…hidup itu bukan cuma soal bertahan.”

Dia membuka pintu.

“Kadang kita juga harus memikirkan masa depan.”

Pintu tertutup.

Langkah kakinya menjauh di gang.


Aku menatap Nadia.

“Sejak kapan dia sering ke sini?”

Nadia tidak langsung menjawab.

Dia hanya melihat ke arah kantong plastik dari supermarket di meja.

“Aku tidak minta dia datang.”

Aku menghela napas.

“Tapi kamu juga tidak menolak.”

Nadia menatapku.

Matanya lelah.

“Salah ya kalau ada orang yang peduli?”

Kalimat itu membuat dadaku terasa berat.


Aku berdiri.

Berjalan ke arah jendela kecil.

Di luar terdengar suara motor lewat.

Aku berkata pelan.

“Aku sedang berusaha.”

Nadia menjawab cepat.

“Berusaha saja tidak cukup.”

Sunyi.

Beberapa detik.


Akhirnya Nadia berkata lagi.

“Aku cuma takut.”

Aku menoleh.

“Takut apa?”

Dia memegang perutnya pelan.

“Takut anak ini lahir dalam hidup yang seperti ini.”

Kalimat itu membuat semua kemarahanku hilang.

Tinggal rasa lelah.

Aku duduk kembali.

Menatap lantai.


Malam itu kami tidak bertengkar.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada drama.

Hanya dua orang yang duduk dalam kamar sempit.

Dengan masa depan yang terasa sangat jauh.


Hari-hari setelah itu terasa lebih berat.

Aku bekerja lebih keras lagi.

Lebih sering lembur.

Lebih sering pulang larut.

Kadang ketika aku pulang…

Arman sudah tidak ada.

Tapi aku tahu dia sering datang.

Karena selalu ada sesuatu yang baru di kamar.

Buah.

Vitamin.

Susu.

Kadang bahkan makanan mahal yang aku sendiri jarang beli.


Aku tidak pernah benar-benar bertanya lagi.

Karena setiap kali aku ingin bicara…

aku selalu ingat satu hal.

Aku belum mampu memberi semuanya.


Sampai suatu sore…

ketika aku pulang kerja lebih awal karena kantor tiba-tiba libur.

Aku masuk ke kamar kos.

Dan melihat Nadia duduk di kasur.

Matanya merah.

Di tangannya ada satu amplop putih.

Begitu aku masuk…

dia langsung menatapku.

Tangannya gemetar.

Lalu dia berkata pelan:

“Aku baru tahu sesuatu tentang Arman…”

Dan kalimat berikutnya…

membuat seluruh dunia di kepalaku terasa berhenti.

PART 5

“Aku baru tahu sesuatu tentang Arman…”

Suara Nadia pelan.

Tangannya masih memegang amplop putih itu.

Aku berdiri di dekat pintu.

“Kenapa?”

Nadia tidak langsung menjawab.

Dia membuka amplop itu pelan.

Mengeluarkan beberapa lembar kertas.

Tangannya sedikit gemetar.

“Kamu kenal perusahaan tempat kamu kerja sekarang…?”

Aku mengangguk.

“PT Surya Logistik.”

Nadia menatapku.

“Kamu masuk ke sana lewat siapa?”

Aku mengerutkan kening.

“HRD.”

“Siapa yang merekomendasikan kamu?”

Aku diam.

Karena sebenarnya aku tidak pernah tahu.

Waktu itu aku hanya mengirim lamaran.

Dua hari kemudian langsung dipanggil interview.

Seminggu kemudian langsung diterima.

Aku pikir itu cuma keberuntungan.


Nadia menggeser kertas itu ke arahku.

Di atas kertas itu ada kop perusahaan.

Di bagian bawah…

ada satu nama yang membuat napasku tertahan.

Arman Rudi Hartono

Direktur Operasional.


Aku menatap Nadia.

“Kamu serius?”

Nadia mengangguk pelan.

“Aku baru tahu tadi.”

Aku membaca ulang nama itu.

Rudi.

Nama itu terasa aneh di kepalaku.

Aku mengangkat kepala.

“Kenapa marganya sama?”

Nadia menelan ludah.

“Karena…”

dia berhenti sebentar.

“…Arman itu anaknya Om Rudi.”


Ruangan terasa tiba-tiba sunyi sekali.

Seperti semua suara hilang.

Kipas angin masih berderit.

Tapi aku seperti tidak mendengarnya.

“Apa?”

Suara itu keluar dari mulutku hampir seperti bisikan.

Nadia mengangguk lagi.

“Dia cerita semuanya tadi.”

Tanganku terasa dingin.

“Dia tahu aku kerja di situ?”

Nadia mengangguk.

“Dia bilang… sejak awal dia tahu.”


Aku duduk pelan di kursi plastik.

Otakku mencoba menyusun semuanya.

Arman.

Sering datang.

Membantu.

Membawakan vitamin.

Makanan.

Susu.

Aku selalu berpikir dia cuma teman Nadia.

Ternyata…

dia anak Om Rudi.


Aku menatap Nadia lagi.

“Dia bilang apa lagi?”

Nadia menarik napas panjang.

“Dia bilang kamu tidak pernah tahu.”

“Tahu apa?”

Nadia menatapku dalam-dalam.

“Kalau sebenarnya…”

dia berhenti sebentar.

“…Om Rudi masih memantau kamu.”

Jantungku berdetak keras.

“Apa maksudnya?”

Nadia membuka lembar kertas lain.

Di sana ada bukti transfer.

Beberapa bulan terakhir.

Jumlahnya tidak kecil.

Aku membaca keterangan pengirimnya.

ARH Holdings

Aku menatap Nadia.

“Ini apa?”

Nadia berkata pelan.

“Biaya kontrol dokter.”

Dia menunjuk kertas lain.

“Biaya vitamin.”

Lembar lain.

“Biaya rumah sakit nanti.”

Aku mengangkat kepala.

“Tunggu…”

suara ku serak.

“Semua itu dari Arman?”

Nadia menggeleng.

“Bukan.”

Dia menatapku lama.

“Dari Om Rudi.”


Dadaku terasa seperti ditekan sesuatu.

“Tapi…”

aku hampir tidak bisa menyelesaikan kalimat.

“Dia mengusir aku.”

Nadia mengangguk.

“Iya.”

“Tapi dia juga tidak pernah benar-benar meninggalkan kamu.”

Ruangan kembali sunyi.


Nadia berkata pelan.

“Tadi Arman bilang sesuatu.”

Aku menatapnya.

“Dia bilang…”

Nadia meniru suara Arman.

“Bapak kecewa waktu itu.”

Dia berhenti sebentar.

“Tapi dia tidak pernah berhenti menganggap kamu keluarga.”


Aku menatap lantai.

Semua potongan kejadian tiba-tiba terasa masuk akal.

Kenapa aku mudah diterima kerja.

Kenapa setiap kali aku hampir kehabisan uang…

tiba-tiba ada jalan.

Kenapa Arman sering datang.


Nadia berkata lagi.

“Arman juga bilang satu hal lagi.”

Aku mengangkat kepala.

“Apa?”

Nadia menatapku.

“Besok…”

dia menarik napas.

“…Om Rudi ingin bertemu kamu.”


Aku menatap Nadia.

Jantungku berdetak keras.

Sudah hampir dua tahun aku tidak bertemu Om Rudi.

Dua tahun sejak malam itu.

Dua tahun sejak aku keluar dari rumahnya.


Aku menelan ludah.

“Di mana?”

Nadia menjawab pelan.

“Di rumahnya.”


Malam itu aku hampir tidak bisa tidur.

Kipas angin terus berderit.

Kreeeet…

kreeeet…

Di kepalaku hanya ada satu pertanyaan.

Kenapa sekarang?

Kenapa setelah semua ini?


Dan aku sama sekali tidak tahu…

bahwa pertemuan besok pagi itu…

akan mengubah seluruh hidupku.

PART 6 — FINAL

Pagi itu aku bangun sebelum subuh.

Padahal semalaman aku hampir tidak tidur.

Kipas angin di kamar kos masih berderit seperti biasa.

Kreeeet…
kreeeet…

Nadia masih tidur di sampingku.

Perutnya sudah besar sekarang.

Beberapa bulan lagi anak kami lahir.

Aku duduk di ujung kasur.

Menatap lantai.

Hari ini aku akan bertemu Om Rudi lagi.

Setelah hampir dua tahun.


Aku berangkat pagi.

Motor tua yang biasa kupakai terasa berbeda hari itu.

Setiap lampu merah terasa lebih lama.

Setiap kilometer terasa lebih berat.

Sampai akhirnya aku masuk ke jalan yang sangat aku kenal.

Jalan menuju rumah Om Rudi.


Rumah itu masih sama.

Gerbang besar.

Kolam ikan di halaman.

Garasi dengan beberapa mobil.

Semuanya sama.

Tapi aku merasa seperti orang asing.

Satpam di gerbang langsung mengenaliku.

“Mas…”

dia tersenyum kecil.

“Sudah lama tidak ke sini.”

Aku hanya mengangguk.

Gerbang terbuka perlahan.


Aku berjalan masuk ke rumah itu.

Langkahku terasa aneh di lantai marmer yang dulu sangat akrab.

Di ruang tamu…

Om Rudi sudah duduk.

Kemeja putih.

Rambutnya sedikit lebih banyak uban sekarang.

Tapi wajahnya masih sama.

Tenang.


Aku berdiri di depan sofa.

Tidak tahu harus duduk atau tidak.

Om Rudi yang akhirnya bicara.

“Duduk.”

Aku duduk pelan.

Beberapa detik kami hanya saling diam.

Jam dinding berdetak.

Tik…
Tik…
Tik…


Akhirnya aku berkata pelan.

“Maaf.”

Itu kata pertama yang keluar dari mulutku.

Om Rudi tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatapku lama.

Lalu berkata pelan.

“Kamu tahu kenapa aku memanggil kamu hari ini?”

Aku menggeleng.


Om Rudi menarik napas panjang.

“Arman cerita semuanya.”

Aku menunduk.

“Termasuk bagaimana kamu bekerja.”

Aku masih diam.

“Termasuk bagaimana kamu memberi semua gajimu untuk Nadia.”

Dadaku terasa berat.

Aku tidak pernah berpikir semua itu diketahui.


Om Rudi akhirnya berkata pelan.

“Waktu kamu datang ke ruang kerja aku dua tahun lalu…”

dia berhenti sebentar.

“…aku sangat kecewa.”

Aku mengangguk.

“Aku tahu.”

Om Rudi menggeleng.

“Tidak.”

Dia menatapku.

“Kamu tidak tahu.”


“Aku kecewa…”

dia melanjutkan.

“…bukan karena kamu membuat Nadia hamil.”

Aku mengangkat kepala.

“Lalu?”

Dia berkata pelan.

“Karena aku pikir aku gagal mendidik kamu.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.


Om Rudi melanjutkan.

“Aku membesarkan kamu seperti anak sendiri.”

Sunyi.

“Aku berharap kamu akan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab.”

Dia menatapku dalam.

“Dan waktu itu aku pikir kamu belum siap.”


Aku menelan ludah.

“Makanya om mengusir aku?”

Om Rudi menggeleng.

“Aku tidak mengusir kamu.”

Dia berkata pelan.

“Aku memaksa kamu berdiri sendiri.”


Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Om Rudi melanjutkan.

“Kalau kamu tetap tinggal di rumah ini…”

dia menunjuk sekeliling rumah.

“…kamu tidak akan pernah benar-benar belajar menjadi kepala keluarga.”

Aku menunduk.

Air mataku hampir jatuh.


Beberapa detik kemudian Om Rudi berkata lagi.

“Makanya aku tetap memantau kamu.”

Aku mengangkat kepala.

“Lewat Arman.”

Dia mengangguk.

“Dia yang mengatur pekerjaan kamu.”

Dadaku terasa sesak.

“Kenapa om tidak bilang?”

Om Rudi tersenyum kecil.

“Karena kalau kamu tahu…”

dia berkata pelan.

“…kamu tidak akan pernah benar-benar berjuang.”


Ruangan itu tiba-tiba terasa sangat sunyi.

Akhirnya aku berkata dengan suara serak.

“Om…”

aku hampir tidak bisa melanjutkan.

“…aku benar-benar minta maaf.”

Tanganku gemetar.

“Aku sudah membuat om kecewa.”


Om Rudi menatapku lama.

Lalu dia berkata pelan.

“Sekarang aku mau tanya satu hal.”

Aku mengangkat kepala.

“Kamu masih mau bertanggung jawab atas Nadia dan anakmu?”

Aku langsung menjawab.

“Iya.”

Tanpa ragu.


Om Rudi mengangguk pelan.

Lalu untuk pertama kalinya sejak aku datang…

dia tersenyum.

“Bagus.”

Dia berdiri.

Berjalan ke arahku.

Menepuk bahuku.

“Karena itulah yang ingin aku lihat dari kamu.”


Dia menarik napas panjang.

“Dan sekarang…”

dia berkata pelan.

“…sudah waktunya kamu pulang.”

Aku terdiam.

“Pulang?”

Om Rudi mengangguk.

“Bawa Nadia ke sini.”

Dia tersenyum kecil.

“Rumah ini masih rumahmu juga.”


Dadaku terasa penuh.

Untuk pertama kalinya setelah dua tahun…

beban itu seperti terangkat.


Beberapa bulan kemudian…

anak kami lahir.

Seorang bayi laki-laki.

Om Rudi yang pertama kali menggendongnya.

Dia menatap bayi itu lama.

Lalu berkata pelan.

“Sekarang keluarga kita bertambah.”


Kadang aku masih ingat malam ketika aku diusir dari rumah ini.

Waktu itu aku pikir…

itu adalah akhir dari segalanya.

Ternyata…

itu justru awal dari semuanya.

Dan hari ini aku akhirnya mengerti satu hal.

Kadang…

orang yang terlihat meninggalkan kita…

sebenarnya hanya sedang mengajari kita bagaimana berdiri sendiri.

TAMAT…

Similar Posts

2 Comments

  1. Bagaimana bisa gak ketemu om rudi 2 tahun tapi nadia belum lahiran juga? Padahal diusirnya kan setelah menghamili? Timeline nya keliru dikit ya bang

    1. Wah iya juga. Terima kasih sudah mengingatkan. Sepertinya timeline di bagian itu memang agak meleset, nanti saya perbaiki supaya lebih masuk akal…. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *