MEREKA KETAWA DI DEPAN ISTRIKU, DI DEPAN ANAKKU, SEAKAN-AKAN HARGAKU CUMA SEBESAR MOBIL YANG KUPARKIR.
Toa masjid sebelah rumah nenek sudah mulai cek sound. Suara “tes… tes…” pecah di udara sore. Bau tanah basah habis disiram bercampur asap bakaran jagung.
Mobil Avanza 2008-ku berhenti pelan di depan rumah orang tua.
Mesinnya masih hidup sebentar.
Seperti butuh napas.
Istriku turun duluan. Sandalnya bunyi cetak-cetak di paving. Dia senyum. Senyum yang selalu dia pakai kalau lagi capek tapi nggak mau kelihatan capek.
Anakku loncat turun. Kaosnya gambar kartun pudar.
Belum juga koper diturunkan, suara itu datang.
“Loh… ini mobilnya masih yang itu?”
Sepupuku berdiri di teras. Tangannya pegang kunci Fortuner baru. Plastik seat-nya bahkan belum dilepas.
Beberapa kepala menoleh.
Ada yang senyum tipis.
Ada yang saling bisik.
Istriku pura-pura nggak dengar.
Dia buka bagasi. Angkat kardus isi oleh-oleh. Kue kering dalam toples plastik.
“Yang penting sampai, ya,” katanya pelan ke aku.
Aku angguk.
Di teras, obrolan makin keras.
“Sekarang zamannya cicilan ringan, Bro. Masa masih pakai yang itu terus?”
Tawa kecil.
Anakku tarik bajuku.
“Yah, kenapa om itu ketawa?”
Aku jongkok. Rapikan rambutnya.
“Nggak apa-apa. Om lagi senang aja.”
Padahal rahangku kencang.
Aku sudah terbiasa. Dari dulu memang begitu. Kalau pulang nggak bawa apa-apa yang bisa dipamerkan, kamu dianggap gagal.
Magrib makin dekat. Azan mulai berkumandang. Orang-orang masuk rumah.
Kami juga.
Di ruang tamu, kipas angin berdiri berderit pelan. TV nyala suara berita saham berjalan di bawah layar.
Aku lihat sekilas.
Nama yang sering kulihat bertahun-tahun lalu lewat di ticker.
Prajogo Pangestu.
Tanganku otomatis berhenti.
Istriku duduk di sampingku. Dia lagi cerita ke ibu tentang harga sembako yang naik.
Tak satu pun dari mereka tahu.
Bahwa lima tahun lalu, saat orang-orang sibuk cicil mobil baru, aku justru menaruh uangku di tempat yang tidak terlihat.
Pelan.
Konsisten.
Tanpa cerita ke siapa pun.
Bukan karena mau sembunyi.
Tapi karena aku nggak suka ribut.
Sepupuku masuk ruang tamu. Duduk nyandar santai.
“Kerja masih di situ, kan?”
“Iya.”
“Gajinya naik nggak?”
Aku angkat bahu.
“Lumayan.”
Dia ketawa lagi.
“Kalau mau investasi, bilang-bilang. Jangan nabung doang. Duit diem itu rugi.”
Aku senyum.
TV masih jalan.
Ticker merah hijau bergerak cepat.
Angkanya sekarang jauh dari waktu aku beli dulu.
Jauh.
Istriku berdiri, ambil piring, bantu di dapur. Aku lihat punggungnya yang sedikit membungkuk.
Dia nggak pernah protes.
Nggak pernah nuntut.
Bahkan waktu mobil ini mogok tengah jalan tahun lalu, dia cuma bilang, “Pelan-pelan aja, yang penting bareng.”
Sepupuku berdiri. Lihat ke luar jendela.
“Eh, parkirnya jangan ganggu mobilku ya. Catnya masih baru.”
Kalimat itu pelan.
Tapi cukup keras.
Anakku dengar.
Dia nengok ke arahku lagi.
Aku pegang pundaknya.
Malam itu makan bersama.
Meja panjang.
Obrolan soal THR, bonus, proyek.
Istriku lebih banyak diam.
Sesekali senyum.
Saat semua orang cerita rencana beli ini itu, aku cuma dengar suara sendok kena piring.
Ting.
Ting.
Ting.
Aku buka HP di bawah meja.
Aplikasi sekuritas masih login.
Portofolio hijau semua.
Nominalnya…
Cukup untuk beli rumah baru cash.
Cukup untuk beli mobil yang diparkir sepupuku barusan, lima kali.
Tapi istriku nggak tahu.
Keluargaku nggak tahu.
Dan malam ini, mereka menganggap kami pulang “seadanya”.
Aku kunci HP.
Istriku bisik, “Besok kita ke pasar ya? Biar bantu ibu belanja.”
Aku angguk.
Sepupuku berdiri. Tepuk pundakku.
“Semangat ya. Jangan kalah sama keadaan.”
Aku lihat dia.
Lama.
Untuk pertama kali dalam hidupku, aku merasa bukan karena miskin.
Tapi karena dianggap miskin.
Dan itu lebih menyakitkan.
Azan isya berkumandang.
Lampu ruang tamu sedikit redup.
Aku tarik napas panjang.
Besok pagi.
Aku akan lakukan sesuatu.
Sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.
Dan istriku pun belum tahu.
PART 2
Subuh belum lama lewat.
Udara kampung masih dingin. Kabut tipis nempel di sawah belakang rumah.
Aku sudah bangun.
Duduk di ruang tamu sendirian.
Kipas angin masih berderit pelan.
HP di tanganku.
Layar terang di ruangan yang masih redup.
Notifikasi dari aplikasi sekuritas masuk sejak semalam.
Angka itu naik lagi.
Pelan.
Tapi pasti.
Aku geser layar.
Grafik lima tahun terakhir terbuka.
Garisnya menanjak tajam.
Tanganku tidak gemetar.
Aneh.
Justru tenang.
Dari dapur terdengar suara piring beradu. Istriku sudah bangun.
“Bang, ikut ke pasar ya nanti?” suaranya.
“Iya.”
Dia muncul dengan hijab sederhana. Wajahnya masih polos tanpa make up. Tetap cantik.
Dia duduk di sampingku.
“Semalam kamu diam banget.”
Aku tersenyum sedikit.
“Capek aja.”
Dia angguk. Tidak tanya lebih jauh.
Itu dia.
Dia tidak pernah maksa.
Di teras depan terdengar suara mesin mobil dinyalakan.
Sepupuku.
Jam segini sudah cuci mobilnya.
Air selang menyemprot keras. Musik dari speaker mobilnya nyala.
Seperti mau memastikan satu kampung tahu.
Aku berdiri.
Buka pintu.
Dia lihat aku.
“Pagi! Mau jogging?”
Aku geleng.
Dia ketawa kecil.
“Mobil tua itu masih kuat nanjak nggak sih ke kota?”
Aku tatap mobilnya.
Kilap.
Bersih.
Baru.
Lalu aku lihat Avanza-ku.
Catnya mulai kusam.
Ada gores tipis di pintu kiri.
Tapi mesin itu sudah bawa kami kemana-mana.
Tanpa cicilan.
Tanpa beban.
Anakku keluar sambil gosok mata.
“Yah, kita pulang hari ini?”
Belum.
Aku jongkok.
“Kita tinggal beberapa hari lagi.”
Sepupuku menyela.
“Kalau mau ganti mobil, bilang ya. Kenal leasing cepat kok.”
Aku angguk kecil.
“Iya.”
Dia pikir aku tersindir.
Padahal aku sedang menghitung.
Bukan cicilan.
Tapi keputusan.
Istriku keluar bawa tas belanja.
“Kita jalan sekarang?”
Aku lihat dia.
Lama.
Dia tidak tahu.
Bahwa angka di HP-ku bukan lagi sekadar tabungan.
Itu cukup untuk mengubah cara orang memandang kami.
Tapi aku tidak mau membalas dengan pamer.
Aku mau membalas dengan sesuatu yang tidak bisa ditertawakan.
Aku buka aplikasi lagi.
Tekan satu menu.
Transfer sebagian dana ke rekening utama.
Prosesing…
Lingkaran kecil berputar di layar.
Sepupuku masih berdiri dekat mobilnya.
Masih tersenyum meremehkan.
Tiba-tiba HP-ku berbunyi.
Notifikasi bank masuk.
Nominal besar.
Masuk penuh.
Aku kunci layar.
Masukkan HP ke saku.
Istriku lihat wajahku.
“Kamu kenapa?”
Aku tarik napas pelan.
“Habis dari pasar… kita ke kota sebentar ya.”
“Ngapain?”
Aku lihat ke arah teras.
Ke arah mobil mengkilap itu.
Lalu kembali ke istriku.
“Ngurus sesuatu.”
Sepupuku mendekat.
“Ke kota? Hati-hati ya. Jangan mogok di jalan.”
Aku tersenyum.
Kali ini berbeda.
“Tenang.”
Aku buka pintu Avanza.
Mesin menyala halus.
Aku pegang setir.
Hari ini.
Bukan tentang membuktikan siapa paling kaya.
Tapi tentang mengembalikan harga diri yang semalam diinjak pelan-pelan.
Dan mereka belum tahu…
Siang nanti,
semua akan berubah.
PART 3
Perjalanan ke kota tiga puluh menit.
Jalan aspalnya bergelombang. Kiri kanan sawah. Matahari mulai naik.
Istriku diam sejak tadi.
Dia tahu kalau aku diam terlalu lama, artinya ada sesuatu di kepalaku.
“Bang… sebenarnya mau ke mana?”
“Showroom dulu.”
Dia menoleh cepat.
“Showroom?”
Aku angguk.
Dia tidak langsung senyum.
Tidak langsung senang.
Yang keluar justru kalimat ini:
“Bang… jangan karena omongan semalam ya.”
Aku lihat ke depan.
Motor lewat nyalip dari kanan.
“Aku nggak marah.”
“Terus?”
“Aku cuma nggak mau kamu sama anak kita ditertawakan lagi.”
Dia diam.
Tangannya pelan memegang lenganku.
“Kalau cuma buat gengsi, nggak usah.”
Aku parkir di depan sebuah showroom mobil besar di tengah kota.
Kaca gedungnya tinggi. Refleksi Avanza tua kami kelihatan jelas di sana.
Kontras.
Sales keluar. Kemeja rapi. Senyum profesional.
“Selamat pagi, Pak. Mau cari unit apa?”
Aku tidak langsung jawab.
Mataku lihat deretan mobil baru. Kilap. Lampu menyala. Interior wangi kulit.
Istriku berdiri di sampingku. Hijab sederhana. Sandal biasa.
Tapi wajahnya tetap paling tenang di tempat itu.
“Cash atau kredit, Pak?” tanya sales lagi.
Aku keluarkan HP.
Buka aplikasi bank.
Tunjukkan saldo yang sudah masuk tadi pagi.
Sales itu terdiam setengah detik.
Senyumnya berubah.
“Silakan masuk, Pak.”
Istriku menatapku.
“Kamu serius?”
Aku mengangguk pelan.
“Lima tahun lalu aku beli sesuatu yang nggak kelihatan.”
Aku lihat ke arahnya.
“Sekarang waktunya kelihatan sedikit.”
Dia masih menatapku.
Bukan karena mobilnya.
Tapi karena dia baru sadar.
Bahwa selama ini aku menyimpan sesuatu sendirian.
“Kenapa nggak pernah cerita?”
Aku tersenyum tipis.
“Karena aku mau kamu mencintai aku bukan karena angka.”
Dia tidak jawab.
Tapi matanya berubah.
Bukan kaget.
Bukan bangga.
Lebih ke… tersentuh.
Sales menunjukkan unit yang harganya hampir sama dengan mobil sepupuku.
“Yang ini paling laris, Pak.”
Aku lihat sebentar.
Lalu geleng.
“Yang itu.”
Aku tunjuk unit yang sedikit lebih tinggi.
Sales terdiam lagi.
“Yang tipe tertinggi, Pak?”
“Iya.”
Istriku tarik pelan lenganku.
“Bang…”
Aku lihat dia.
“Tenang. Ini bukan buat balas dendam.”
Aku tanda tangan formulir.
Transfer dilakukan.
Notifikasi sukses masuk.
Cepat.
Bersih.
Tanpa cicilan.
Tanpa leasing.
Tanpa drama.
Sales tersenyum lebar.
“Unit bisa langsung kami kirim siang ini, Pak.”
Aku lihat jam.
Masih cukup waktu sebelum makan siang keluarga besar.
Aku angguk.
“Kirim ke alamat ini.”
Aku tulis alamat rumah orang tuaku di kampung.
Sales membaca.
“Siap, Pak.”
Istriku berdiri di sampingku.
Masih mencoba mencerna semuanya.
“Bang… kamu nggak takut mereka salah paham?”
Aku tatap dia.
“Aku nggak peduli mereka paham atau nggak.”
Aku tarik napas pelan.
“Aku cuma peduli kamu nggak lagi dipandang rendah.”
Di luar showroom, Avanza tua kami masih parkir.
Setia.
Diam.
Mobil itu tidak tahu.
Hari ini adalah hari terakhir dia pulang ke kampung sebagai mobil paling sederhana di halaman itu.
Siang nanti…
mobil baru itu akan berhenti tepat di depan teras.
Di depan sepupuku.
Dan tidak ada satu pun tawa yang tersisa.
PART 4
Menjelang dzuhur.
Halaman rumah sudah ramai.
Meja panjang dipasang. Piring disusun. Bau opor keluar dari dapur.
Sepupuku berdiri di dekat mobilnya lagi.
Lap microfiber di tangan.
Seperti biasa.
Mengelap yang sebenarnya sudah bersih.
“Kalau parkir, jangan terlalu mepet ya,” katanya ke salah satu saudara yang baru datang.
Aku duduk di kursi plastik dekat pintu.
Istriku di sampingku. Anak kami main gelembung sabun di pojok halaman.
Avanza tua kami masih parkir di tempat semalam.
Tidak berubah.
Tidak berkilau.
Tapi juga tidak pernah mengeluh.
Tiba-tiba dari ujung gang terdengar suara mesin mobil besar masuk pelan.
Bukan suara motor.
Bukan suara mobil tetangga.
Suara yang berbeda.
Beberapa kepala menoleh.
Mobil hitam baru masuk pelan ke halaman.
Masih pakai plastik pelindung di beberapa bagian.
Pelat sementara.
Logo besar mengkilap di grill depan.
Mobil itu berhenti tepat di belakang Avanza-ku.
Sunyi.
Sales turun.
Bawa map coklat.
“Permisi… Pak Bapak Sean?”
Beberapa orang langsung lihat ke arahku.
Sepupuku berhenti mengelap.
“Ada apa, Mas?” tanyanya, mungkin mengira itu untuk dirinya.
Sales itu melihat sekeliling.
“Pak Bapak Sean?”
Aku berdiri.
“Iya.”
Langkahku pelan mendekat.
Semua mata ikut bergerak.
Istriku ikut berdiri.
Wajahnya mulai mengerti.
Sales menyerahkan map itu.
“Unit sudah kami kirim sesuai permintaan. Surat-surat sementara di dalam. Terima kasih sudah melakukan pembelian secara cash tadi pagi, Pak.”
Kata “cash” itu terdengar jelas.
Terlalu jelas.
Beberapa orang langsung saling pandang.
Sepupuku menatap mobil itu.
Lalu menatapku.
“Ini… mobil siapa?”
Aku tidak langsung jawab.
Aku lihat ke arah istriku dulu.
Dia menutup mulutnya pelan.
Matanya berkaca.
Lalu aku buka pintu mobil baru itu.
Aroma interior baru keluar.
Bersih.
Dingin.
Aku menoleh ke sepupuku.
“Parkirnya nggak ganggu mobilmu, kan?”
Sunyi.
Tidak ada tawa.
Tidak ada bisik.
Hanya suara angin siang lewat sela daun mangga.
Anakku lari mendekat.
“Yah… ini mobil kita?”
Aku jongkok.
“Iya.”
Sepupuku masih berdiri.
Tangannya yang tadi pegang lap sekarang diam di samping badan.
Salah satu om mendekat.
“Lho… katanya masih yang lama?”
Aku senyum kecil.
“Yang lama tetap ada.”
Aku tepuk pelan kap Avanza-ku.
“Yang ini… tambahan.”
Sepupuku menelan ludah.
“Kok… nggak pernah cerita?”
Aku tatap dia.
“Memang perlu?”
Dia tidak jawab.
Istriku mendekat pelan.
“Bang…”
Suaranya bergetar.
Bukan karena mobilnya.
Tapi karena dia sadar satu hal:
Aku menahan semua itu sendirian.
Orang-orang mulai mendekat.
Lihat interior.
Lihat dashboard.
Lihat emblem.
Kali ini tidak ada yang tertawa.
Tapi aku tahu.
Kalau berhenti di sini saja,
itu cuma terlihat seperti balas gengsi.
Dan aku tidak mau cerita ini berhenti sebagai pamer.
Aku tutup pintu mobil pelan.
Lihat ke arah sepupuku lagi.
“Aku ke kota bukan cuma buat beli mobil.”
Beberapa orang langsung terdiam.
Sepupuku mengernyit.
“Maksudnya?”
Aku tarik napas pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak semalam,
aku bicara tanpa menahan diri.
“Masih ada yang harus gue selesaikan hari ini.”
PART 5 (FINAL)
Semua orang masih berdiri di halaman.
Angin siang terasa lebih panas dari tadi.
Sepupuku masih diam.
Aku lihat ke arah rumah orang tuaku.
Dindingnya sudah mulai kusam.
Cat terkelupas di beberapa sudut.
Atap seng bagian belakang sedikit melengkung.
Aku melangkah masuk ke ruang tamu.
Semua mengikuti.
Istriku tepat di belakangku.
Aku keluarkan map coklat kedua dari tas yang tadi kubawa dari kota.
Bukan dari showroom.
Dari bank.
Aku letakkan di meja kayu ruang tamu.
“Ayah… Ibu…”
Mereka berhenti bicara.
“Aku ke kota tadi bukan cuma beli mobil.”
Aku buka map itu.
Slip transfer.
Surat pembelian material.
Rencana renovasi.
“Rumah ini mau aku renovasi bulan depan.”
Sunyi.
Ibu langsung pegang mulutnya.
“Apa?”
“Aku sudah transfer DP ke kontraktor. Sisanya bertahap. Semua cash.”
Ayah berdiri perlahan dari kursinya.
“Kamu dari mana duitnya?”
Aku lihat istriku.
Lalu kembali ke ayah.
“Lima tahun lalu aku beli saham.”
Beberapa orang saling pandang.
“Saham siapa?” tanya omku.
Aku jawab pelan.
“Perusahaannya Prajogo Pangestu.”
Sepupuku langsung menoleh cepat.
“Serius?”
Aku angguk.
“Aku beli waktu harganya masih kecil. Pelan-pelan. Nggak banyak gaya.”
Ruangan itu hening.
Tidak ada lagi suara sendok.
Tidak ada tawa.
Hanya kipas angin yang masih berderit.
Istriku menatapku.
“Kenapa nggak pernah cerita?”
Aku genggam tangannya.
“Karena aku nggak mau kamu hidup dalam tekanan angka. Aku mau kita tetap sederhana. Apa pun isinya rekening.”
Matanya basah.
Bukan karena mobil.
Bukan karena rumah.
Tapi karena dia tahu.
Selama ini aku berjuang diam-diam.
Sepupuku berdiri.
Wajahnya tidak lagi meremehkan.
Lebih seperti… malu.
“Gue cuma bercanda semalam…”
Aku tatap dia.
“Nggak apa-apa.”
Aku senyum kecil.
“Kalau bukan karena itu, mungkin aku nggak akan pulang ke kota pagi-pagi.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Bukan tawa meremehkan.
Tapi tawa cair.
Ayah duduk lagi perlahan.
“Mobil lama itu jangan dijual.”
Aku menoleh.
“Kenapa, Yah?”
“Itu saksi kamu berjuang.”
Aku lihat Avanza tua di luar lewat jendela.
Cat kusam.
Gores tipis.
Setia.
Aku angguk.
“Iya. Nggak akan dijual.”
Anakku lari masuk.
“Yah, nanti kita naik mobil yang mana?”
Aku jongkok.
“Yang lama juga bisa. Yang baru juga bisa.”
Dia mikir sebentar.
“Yang lama aja. Aku suka yang itu.”
Semua orang tersenyum.
Istriku tertawa kecil sambil usap rambutnya.
Siang itu tidak ada lagi yang membicarakan cicilan.
Tidak ada lagi yang membandingkan mobil.
Obrolan berubah.
Tentang rencana renovasi.
Tentang kamar tambahan untuk cucu-cucu.
Tentang atap baru supaya nggak bocor kalau hujan.
Sepupuku duduk di sebelahku.
“Ajari gue soal saham nanti.”
Aku lihat dia.
Kali ini tanpa jarak.
“Nanti gue ajarin.”
Bukan karena aku lebih tinggi.
Tapi karena semuanya sudah rata.
Azan asar terdengar dari masjid.
Anginnya lebih sejuk.
Aku berdiri di teras.
Lihat dua mobil parkir berdampingan.
Yang lama.
Yang baru.
Bukan soal mana yang lebih mahal.
Tapi soal perjalanan.
Semalam aku merasa dianggap miskin.
Hari ini aku tidak merasa kaya.
Aku merasa cukup.
Dan untuk pertama kalinya sejak turun dari mobil tua itu,
aku melihat istriku tersenyum tanpa menahan apa pun.
Akhirnya.
Selesai.