AKU MENITIPKAN ANAKKU… DAN AKU PIKIR AKU MASIH IBUNYA. SAMPAI 18 TAHUN KEMUDIAN… DIA MEMANGGILKU “BU”… TANPA DIA TAU, AKU IBU KANDUNGNYA.
— Kipas angin di ruang tamu berputar pelan. “krek… krek… krek…” Bunyinya seperti sesuatu yang dipaksa hidup. Lantai keramik dingin. Retaknya memanjang sampai ke kaki kursi plastik tempat aku duduk. Di pangkuanku… bayi itu tertidur. Napasnya kecil. Teratur. Aku tidak berani bergerak. Seolah kalau aku bergerak sedikit saja… dia akan bangun… dan semuanya jadi lebih…