| |

SAYA PERNAH MEMBUAT SALAH SATU SALES PALING RAJIN DI TIM SAYA MEMUTUSKAN PERGI.

Dan waktu itu…

saya sama sekali tidak merasa bersalah.

Padahal kalau dia tahu kebenarannya…

mungkin dia tidak akan pernah mau
menyalami saya hari itu.

Jam 9 pagi.

Dealer sudah buka.

Kaca showroom mengkilap.
Mobil-mobil baru berjejer rapi.

Lampu putih memantul di kap mobil seperti di iklan TV.

Di luar, suara motor lewat gang depan dealer bercampur dengan klakson angkot yang berhenti sebentar di pinggir jalan.

Saya berdiri di meja supervisor.

Kemeja putih.
Lengan digulung sampai siku.

Di tangan kanan saya ada kopi sachet yang baru diseduh office boy.

Hangat.
Manis.
Nyaman.

Di depan saya, lima orang sales duduk di kursi plastik.

Ada yang main HP.
Ada yang pura-pura sibuk buka brosur.

Target bulan ini belum tercapai.

Seperti biasa.

“Siapa yang sudah dapat SPK hari ini?” tanya saya.

Sunyi.

Lalu satu tangan terangkat.

Budi.

Sales paling rajin di tim.

Anaknya kurus.
Rambut selalu disisir rapi.

Dia selalu datang paling pagi.

Dan pulang paling malam.

Banyak konsumen bahkan lebih sering
menghubungi dia langsung
daripada menghubungi dealer.

“Pak… saya dapat satu,” katanya pelan.

Saya angkat alis.

“Mobil apa?”

“Brio putih, Pak. Konsumen mau cepat. Katanya buat dipakai anaknya kuliah.”

Saya mengangguk pelan.

Dalam hati saya sudah tahu.

Unit itu ada.

Gudang masih ada dua.

Tapi wajah saya berubah serius.

Saya tarik napas panjang.

“Unitnya… lagi susah.”

Budi langsung tegang.

“Lho Pak… kemarin katanya masih ada.”

Saya menatap layar komputer.

Padahal saya sudah tahu jawabannya.

“Sekarang inden.”

Budi menggigit bibir.

“Inden berapa lama, Pak?”

Saya sengaja diam beberapa detik.

Lalu saya menoleh pelan.

“Kalau normal… dua bulan.”

Wajah Budi langsung pucat.

“Pak… konsumen saya butuh cepat…”

Saya mengangkat tangan.

“Tenang.”

Saya berdiri.

Berjalan pelan mendekatinya.

Semua sales lain ikut memperhatikan.

Saya turunkan suara.

Seolah sedang membantu.

“Sebenarnya… ada cara.”

Budi langsung menatap saya.

Harapan muncul di matanya.

“Cara apa, Pak?”

Saya melirik kiri kanan.

Lalu saya mendekat.

“Kalau mau dipercepat… biasanya ada biaya bantu cari unit.”

Dia mengerutkan kening.

“Biaya apa, Pak?”

Saya bicara pelan.

“Uang cari unit.”

Dia menelan ludah.

“Berapa, Pak?”

Saya mengangkat dua jari.

“Dua juta.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa sunyi.

Kipas angin di pojok berderit pelan.

Budi menunduk.

Dia bukan orang kaya.

Saya tahu.

Gajinya tidak besar.

Komisi belum tentu cair cepat.

Tapi kalau unitnya lama…

konsumennya bisa batal.

Akhirnya dia mengangguk pelan.

“Kalau memang itu satu-satunya cara…”

Saya tepuk bahunya.

“Tenang. Saya bantu.”

Semua sales di ruangan itu melihat saya seperti pahlawan.

Seperti orang dalam.

Seperti orang yang bisa membuka jalan.

Padahal…

unitnya sebenarnya ada dari awal.

Itu baru satu cara.

Masih banyak cara lain.

Kadang saya main database konsumen.

Kalau ada data bagus dari pameran…
saya kasih ke sales favorit.

Yang saya tahu suka bagi “kopi”.

Kadang saya main diskon.

Dealer kasih diskon 15 juta.

Saya bilang ke sales:

“maksimal 12 juta.”

Sisa tiga juta?

Ya… buat kopi juga.

Saya selalu bilang ke diri sendiri:

Ini bukan mencuri.

Ini cuma “memanfaatkan sistem.”

Saya pikir saya pintar.

Saya pikir saya mengendalikan permainan.

Sampai suatu pagi.

Dealer masih sepi.

Saya baru duduk di meja.

Kopi masih panas.

Tiba-tiba pintu kaca terbuka.

Budi masuk.

Dia tidak pakai seragam.

Kaos polos.

Tas selempang.

Wajahnya tenang.

“Pak,” katanya.

Saya menatapnya.

“Ada apa?”

Dia mengeluarkan sebuah amplop coklat dari tasnya.

Meletakkannya di meja saya.

Amplop itu tipis.

Saya sudah tahu isinya.

Surat resign.

“Kenapa?” tanya saya.

Dia menghela napas.

“Saya pindah, Pak.”

Saya tersenyum tipis.

“Dealer mana?”

Dia menyebut nama dealer di kota sebelah.

Saya mengangguk.

Biasa.

Sales pindah dealer itu hal normal.

“Tapi jangan bawa database ya,” saya bercanda.

Dia tersenyum kecil.

Lalu berkata pelan.

“Saya tidak bawa database, Pak.”

Dia berhenti sebentar.

Lalu menatap saya langsung.

“Tapi konsumen… biasanya tahu sendiri siapa yang jujur.”

Kalimat itu terasa aneh.

Seperti ada sesuatu yang dia tahu.

Tapi saya tidak terlalu memikirkannya.

Saya tanda tangan surat resignnya.

Budi berdiri.

Menyalami saya.

Tangannya hangat.

“Terima kasih selama ini, Pak.”

Dia keluar dari showroom.

Pintu kaca menutup pelan.

Saya kembali duduk.

Menyeruput kopi.

Hidup terus berjalan.

Dealer tetap ramai.

Sales tetap bekerja.

Saya tetap jadi supervisor.

Sampai tiga bulan kemudian.

Satu per satu…

konsumen mulai menghilang.

Awalnya satu.

Lalu dua.

Lalu lima.

Sales saya mulai mengeluh.

“Pak… konsumen saya tiba-tiba batal.”

“Pak… katanya mereka sudah beli di tempat lain.”

“Pak… kok banyak yang pindah dealer ya?”

Saya mulai merasa aneh.

Suatu sore…

saya menerima telepon dari salah satu konsumen lama.

“Pak, terima kasih ya dulu sudah bantu.”

Saya bingung.

“Bantu apa, Bu?”

“Iya… kemarin mobilnya sudah dikirim.”

Saya langsung tegak di kursi.

“Mobil apa?”

“Brio putih.”

Jantung saya tiba-tiba berdetak lebih cepat.

Dealer kami belum kirim mobil apa pun ke dia.

“Belinya di mana, Bu?”

Wanita itu menjawab santai.

“Di dealer sebelah.”

Saya menelan ludah.

“Salesnya siapa?”

Wanita itu menjawab tanpa ragu.

“Budi.”

Di saat itu juga…

HP saya bergetar.

Masuk pesan dari salah satu sales.

Saya buka.

Foto.

Foto parkiran dealer sebelah.

Di tengah parkiran…

Budi berdiri.

Memakai seragam dealer barunya.

Di belakangnya ada lima mobil baru dengan pita merah.

Dan di sekelilingnya…

saya mengenali wajah-wajah itu.

Mereka semua…

mantan konsumen tim saya.

Saat itulah saya sadar sesuatu yang membuat tangan saya dingin.

Budi bukan hanya pindah dealer.

Dia membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari database.

Sesuatu yang selama ini saya kira saya miliki.

Ternyata…

itu tidak pernah
benar-benar milik saya.

PART 2

Malam itu dealer sudah sepi.

Lampu showroom masih menyala terang.

Pantulan mobil-mobil baru terlihat di kaca besar depan ruangan.

Saya duduk sendirian di meja supervisor.

HP di tangan.

Foto itu masih terbuka.

Budi berdiri di parkiran dealer sebelah.

Di belakangnya lima mobil baru.

Ho**** putih.

H**** merah.

Mobil-mobil yang seharusnya keluar dari dealer saya.

Di sekelilingnya ada beberapa orang.

Saya mengenali wajah mereka.

Ibu yang dulu sering chat tanya simulasi kredit.

Seorang bapak yang pernah saya temui di ruang tunggu.

Seorang mahasiswa yang dulu datang bersama ayahnya.

Semua itu… dulu prospek tim saya.

Sekarang berdiri di belakang Budi.

Tersenyum.

Seperti foto keluarga.

Saya memperbesar foto itu.

Di pojok kanan… ada sesuatu yang membuat dada saya sedikit panas.

Di tangan Budi ada kunci mobil.

Dia memegangnya sambil tertawa dengan konsumennya.

Persis seperti yang dulu sering dia lakukan di showroom kami.

Besok paginya dealer terasa berbeda.

Masih jam 9.

Tapi kursi-kursi sales sudah tidak seramai biasanya.

Dua sales datang terlambat.

Satu lagi izin sakit.

Saya berdiri di depan meja.

“Siapa yang sudah follow up prospek lama?”

Sunyi.

Tidak ada yang menjawab.

Saya mulai kesal.

“Prospek itu jangan didiamkan. Dikejar.”

Akhirnya Andi, salah satu sales, bicara pelan.

“Pak… sebagian sudah beli.”

Saya menatapnya.

“Beli di mana?”

Andi ragu sebentar.

Lalu menjawab pelan.

“Di dealer sebelah.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih panas.

Saya tahu maksudnya.

Dealer tempat Budi bekerja sekarang.

Siang itu saya membuka database lama.

File Excel besar.

Ratusan nama.

Nomor WhatsApp.

Catatan follow up.

Saya mulai menelepon beberapa konsumen.

Sebagian tidak diangkat.

Sebagian menjawab singkat.

“Sudah beli, Pak.”

“Sudah ada mobil.”

“Sudah diantar kemarin.”

Dan setiap kali saya tanya salesnya siapa…

jawabannya sama.

“Budi.”

Malamnya saya tidak bisa tidur.

Kipas angin kamar berputar pelan.

Bunyi kretek kecil di setiap putaran.

Istri saya sudah tidur lebih dulu.

Saya duduk di ruang tamu.

HP di tangan.

Saya membuka Instagram.

Mengetik nama Budi.

Akun muncul.

Foto profilnya pakai seragam dealer baru.

Saya buka.

Ada foto baru.

Upload tiga jam yang lalu.

Foto serah terima mobil.

Captionnya pendek.

“Terima kasih sudah percaya.”

Saya memperbesar foto itu.

Konsumennya tersenyum.

Di belakang mereka ada mobil baru dengan pita merah.

Di bawah foto itu… ada banyak komentar.

Saya membaca satu per satu.

“Mas Budi memang paling jujur.”

“Dari dulu kalau beli mobil selalu ke Mas Budi.”

“Terima kasih sudah bantu prosesnya cepat.”

Tangan saya berhenti di layar.

Kalimat terakhir membuat saya diam lama.

Salah satu komentar berbunyi:

“Untung ketemu Mas Budi lagi. Dulu hampir saja beli di dealer lama, tapi ternyata banyak permainan.”

Jantung saya berdetak lebih keras.

Saya membuka profil orang yang menulis komentar itu.

Nama itu saya kenal.

Dia pernah datang ke showroom kami.

Duduk di kursi tamu.

Minum kopi dari gelas kertas.

Dia hampir membeli mobil dari salah satu sales saya.

Tapi waktu itu…

prosesnya saya buat “lama”.

Karena salesnya tidak pernah mau bagi “kopi”.

Tiba-tiba HP saya berbunyi.

Pesan WhatsApp masuk.

Dari Andi.

“Pak, ada konsumen yang tanya langsung ke saya.”

Saya balas.

“Kenapa?”

Beberapa detik kemudian dia mengirim screenshot chat.

Saya membaca pesan dari konsumen itu.

“Mas, kalau beli di tempat Mas… ada uang cari unit juga nggak?”

Tangan saya langsung berhenti.

Di bawahnya ada pesan kedua.

“Mas Budi bilang di tempat dia nggak ada begituan.”

Ruangan terasa sunyi.

Saya menatap layar HP lama.

Pagi berikutnya…

jumlah sales di ruangan semakin sedikit.

Andi datang mendekati meja saya.

Wajahnya ragu.

“Pak… saya mau tanya sesuatu.”

Saya mengangkat kepala.

“Apa?”

Dia menarik kursi.

Duduk pelan.

“Pak… sebenarnya uang cari unit itu… beneran ada nggak sih?”

Jantung saya berdetak pelan.

Saya menatap wajahnya.

Dia terlihat serius.

Bukan bercanda.

Saya menjawab cepat.

“Itu biasa di dealer.”

Dia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian dia berkata pelan.

“Tapi konsumen saya bilang… di dealer tempat Budi kerja nggak ada.”

Ruangan terasa lebih sempit.

Kipas angin di pojok masih berderit pelan.

Saya menelan ludah.

“Setiap dealer beda aturan.”

Andi mengangguk pelan.

Tapi wajahnya tidak terlihat yakin.

Sebelum dia berdiri…

dia mengatakan sesuatu yang membuat dada saya terasa berat.

“Pak… kalau memang nggak ada… kenapa kita harus ada?”

Hari itu…

untuk pertama kalinya sejak saya jadi supervisor…

saya mulai merasa sesuatu yang aneh.

Bukan takut kehilangan jabatan.

Bukan takut target tidak tercapai.

Tapi sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Sesuatu yang selama ini saya anggap remeh.

Kepercayaan.

Dan yang membuat saya semakin tidak tenang…

satu per satu sales di tim saya mulai melihat saya…

bukan seperti dulu lagi.

Sampai sore itu…

salah satu sales datang membawa sebuah kabar.

Kabar yang membuat saya sadar…

masalah ini ternyata jauh lebih besar daripada sekadar kehilangan beberapa konsumen.

Dia berkata pelan:

“Pak… tadi saya ketemu mantan konsumen kita.”

Saya menatapnya.

“Terus?”

Dia menelan ludah.

Lalu berkata pelan.

“Katanya… Budi tahu semua cara kita main di dealer ini.”

PART 3

Kalimat itu menggantung di ruangan.

“Katanya… Budi tahu semua cara kita main di dealer ini.”

Saya menatap wajah Rian.

“Siapa yang bilang begitu?”

Rian mengangkat bahu.

“Tadi saya ketemu konsumen di parkiran mall. Dia bilang dulu sempat hampir beli di sini. Tapi sekarang sudah beli di tempat Budi.”

Saya menarik napas.

“Terus?”

Rian menggaruk kepala.

“Dia bilang… Budi sudah cerita semuanya.”

Saya diam.

“Cerita apa?”

Rian menjawab pelan.

“Katanya… di dealer kita ada uang cari unit. Ada main diskon. Dan kalau salesnya bukan favorit… unit bisa dibuat lama.”

Ruangan itu terasa hening.

Saya menatap layar komputer di meja.

Angka target bulan ini masih jauh dari aman.

Biasanya tim saya sudah mulai closing di minggu kedua.

Sekarang…

bahkan prospek baru saja sulit.

“Sudah kerja saja,” kata saya akhirnya.

Rian mengangguk.

Dia kembali ke kursinya.

Tapi suasana ruangan itu sudah berubah.

Biasanya mereka tertawa.

Sekarang semua terlihat lebih hati-hati.

Siang itu saya keluar dari dealer.

Udara panas.

Aspal parkiran memantulkan cahaya.

Saya duduk di mobil kantor.

Mesin menyala.

AC langsung terasa dingin.

Saya membuka HP.

Mencari nomor Budi.

Nomornya masih ada.

Nama kontaknya masih sama.

“Budi Sales”.

Saya menatap layar lama.

Lalu menekan tombol telepon.

Nada sambung.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Klik.

“Assalamualaikum, Pak.”

Suara itu tenang.

Sama seperti dulu.

“Budi,” kata saya.

“Iya Pak.”

“Lagi sibuk?”

“Lumayan, Pak. Baru selesai kirim mobil.”

Saya menatap kaca depan mobil.

Parkiran dealer terlihat lengang.

“Budi… saya mau tanya.”

“Silakan, Pak.”

Saya menahan napas sebentar.

“Kamu cerita apa saja ke konsumen saya?”

Beberapa detik sunyi.

Lalu Budi tertawa kecil.

“Pak… saya tidak cerita apa-apa.”

Saya mengerutkan kening.

“Tapi mereka tahu semuanya.”

Jawaban Budi pelan.

“Karena mereka mengalami sendiri, Pak.”

Saya langsung diam.

Di ujung sana suara orang lewat.

Suara pintu mobil ditutup.

Lalu Budi melanjutkan.

“Dulu waktu mereka tanya kenapa mobilnya lama… saya juga bingung harus jawab apa.”

Tangan saya mencengkeram setir.

“Budi—”

Dia memotong pelan.

“Tapi sekarang saya cuma bilang satu hal ke mereka.”

“Apa?”

Jawaban Budi sederhana.

“Kalau mobilnya ada… ya bilang ada.”

Kalimat itu terasa seperti menampar.

Saya menelan ludah.

“Jadi kamu sengaja ambil konsumen saya?”

Budi langsung menjawab.

“Pak.”

Nada suaranya tetap sopan.

“Saya tidak pernah ambil konsumen siapa pun.”

Dia berhenti sebentar.

Lalu berkata pelan.

“Mereka yang datang sendiri.”

Telepon terasa lebih sunyi.

Saya tidak tahu harus menjawab apa.

Sore itu hujan turun.

Gerimis tipis.

Air menetes dari atap showroom.

Beberapa sales berdiri di depan pintu kaca.

Menunggu konsumen yang mungkin datang.

Biasanya sore hari ramai.

Sekarang kosong.

Saya berdiri di belakang mereka.

Melihat jalan depan dealer.

Motor lewat.

Angkot lewat.

Tapi tidak ada mobil yang masuk ke parkiran.

Andi mendekati saya.

“Pak.”

Saya menoleh.

“Iya?”

Dia berkata pelan.

“Tadi ada konsumen lama chat saya.”

“Terus?”

“Dia bilang… dulu hampir beli di sini.”

Saya mengangguk.

“Kenapa batal?”

Andi membuka HP.

Menunjukkan chatnya.

Saya membaca pesan itu.

“Mas, waktu itu saya batal karena mobilnya katanya inden dua bulan.”

Pesan berikutnya.

“Padahal kemarin saya tanya Mas Budi… ternyata unitnya ada dari dulu.”

Tangan saya terasa dingin.

Andi menatap saya.

“Pak… ini benar?”

Saya tidak langsung menjawab.

Hujan di luar semakin deras.

Air mengalir di kaca showroom.

Suara tetesannya terdengar jelas.

Andi masih menunggu jawaban.

Akhirnya saya berkata pelan.

“Kadang… sistemnya memang begitu.”

Andi tidak berkata apa-apa lagi.

Dia hanya mengangguk.

Tapi dari cara dia menatap saya…

saya tahu sesuatu sudah berubah.

Malam itu saya pulang lebih lambat dari biasanya.

Rumah sudah sepi.

Lampu ruang tamu menyala redup.

Saya duduk di sofa.

HP di tangan.

Saya membuka grup WhatsApp tim sales.

Biasanya ramai.

Sekarang sunyi.

Tidak ada yang kirim prospek.

Tidak ada yang kirim foto SPK.

Saya menatap layar lama.

Lalu membuka satu chat pribadi.

Chat dengan Budi.

Saya scroll ke atas.

Pesan lama masih ada.

Foto-foto serah terima mobil.

Ucapan terima kasih dari konsumen.

Dan di tengah chat itu…

ada satu pesan lama dari Budi yang baru sekarang terasa aneh.

Pesan itu dikirim beberapa minggu sebelum dia resign.

“Pak, saya mau tanya sesuatu.”

Saya waktu itu hanya menjawab singkat.

“Apa?”

Lalu Budi menulis:

“Kalau mobil sebenarnya ada… kenapa kita bilang ke konsumen tidak ada?”

Saya waktu itu menjawab cepat.

“Supaya sistem jalan.”

Chat itu berhenti di situ.

Saya tidak pernah menjelaskan apa-apa lagi.

Saya menutup HP.

Kipas angin di ruang tamu berputar pelan.

Suara jarum jam terdengar jelas.

Tik.

Tik.

Tik.

Baru sekarang saya sadar sesuatu.

Budi sebenarnya sudah tahu semuanya…

jauh sebelum dia resign.

Dan yang membuat dada saya semakin berat…

keesokan paginya…

ketika saya masuk ke dealer…

saya menemukan sesuatu di meja saya.

Sebuah amplop coklat.

Persis seperti yang dulu Budi letakkan di sana.

Bedanya sekarang…

bukan satu.

Tapi tiga.

PART 4

Tiga amplop coklat tergeletak di meja saya.

Tipis.

Rapih.

Disusun sejajar.

Saya berdiri di depan meja beberapa detik.

Tidak langsung menyentuhnya.

Di ruangan itu hanya ada suara kipas angin berderit.

Kursi-kursi sales masih kosong.

Jam dinding menunjukkan pukul 08.40.

Dua puluh menit lagi briefing pagi.

Saya akhirnya mengambil amplop pertama.

Nama di sudut kiri.

Andi.

Saya membuka perlahan.

Satu lembar kertas.

“Surat Pengunduran Diri.”

Tanggalnya hari ini.

Saya tidak membaca sampai bawah.

Saya sudah tahu isinya.

Saya mengambil amplop kedua.

Nama di sudutnya.

Rian.

Isinya sama.

Resign.

Saya membuka amplop terakhir.

Nama yang saya kenal sejak lama.

Hendra.

Sales yang sudah bekerja hampir lima tahun di dealer ini.

Tangan saya berhenti di meja.

Tiga orang.

Sekaligus.

Ruangan terasa kosong.

Padahal belum satu pun kursi terisi.

Jam 9 tepat.

Satu per satu mereka masuk.

Andi.

Rian.

Hendra.

Tidak ada yang duduk.

Mereka berdiri di depan meja saya.

Saya menatap mereka bergantian.

“Ini apa?”

Saya mengangkat tiga amplop itu.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Akhirnya Hendra yang bicara.

“Pak… kami mau pindah.”

Suara saya datar.

“Ke mana?”

Andi menjawab pelan.

“Dealer sebelah.”

Tidak perlu mereka sebut namanya.

Saya sudah tahu.

Tempat Budi sekarang.

Saya menatap mereka lama.

“Kalian sudah lama kerja di sini.”

Hendra mengangguk.

“Iya, Pak.”

“Kenapa tiba-tiba?”

Rian menatap lantai.

Andi yang akhirnya menjawab.

“Karena kami capek, Pak.”

Saya mengerutkan kening.

“Capek apa?”

Andi menarik napas panjang.

“Capek jelasin sesuatu ke konsumen… yang sebenarnya kami sendiri tahu itu tidak benar.”

Kalimat itu menggantung.

Tidak ada yang bicara beberapa detik.

Saya berdiri dari kursi.

“Jadi kalian percaya semua cerita Budi?”

Hendra menggeleng.

“Pak… bukan soal percaya Budi.”

Dia berhenti sebentar.

Lalu menatap saya langsung.

“Kami sendiri yang melihatnya.”

Ruangan terasa semakin sempit.

Saya tidak menjawab.

Tidak ada yang bergerak.

Akhirnya Hendra berkata pelan.

“Pak… dulu kami pikir semua dealer memang begitu.”

Dia menelan ludah.

“Tapi setelah lihat cara Budi kerja di tempat baru…”

Kalimatnya berhenti.

Saya menyela.

“Dia pasti janji macam-macam ke kalian.”

Rian menggeleng pelan.

“Dia cuma bilang satu hal, Pak.”

Saya menatapnya.

“Apa?”

Jawaban Rian sederhana.

“Kalau unit ada… bilang ada.”

Kalimat itu terasa seperti mengulang sesuatu yang pernah saya dengar.

Dan memang benar.

Kalimat itu sama persis seperti yang Budi katakan di telepon beberapa hari lalu.

Mereka akhirnya keluar dari ruangan itu.

Tidak ada yang marah.

Tidak ada yang membanting pintu.

Hanya suara langkah sandal di lantai keramik.

Satu per satu.

Pintu kaca showroom terbuka.

Lalu tertutup lagi.

Saya berdiri sendirian di ruangan itu.

Kursi-kursi kosong.

Meja-meja kosong.

Target penjualan di papan tulis masih tertulis besar.

Angkanya jauh dari tercapai.

Dua minggu kemudian.

Dealer terasa seperti bangunan besar yang terlalu sunyi.

Sales tinggal dua orang.

Prospek hampir tidak ada.

Telepon jarang berbunyi.

Manager mulai sering memanggil saya ke ruangannya.

Hari itu saya duduk di kursi depan meja manager.

AC ruangan terasa terlalu dingin.

Manager membuka laptop.

Menunjukkan grafik penjualan.

Garis merah turun tajam.

“Ini kenapa?”

Saya diam.

“Tim kamu dulu paling kuat.”

Saya tetap diam.

Manager menutup laptop.

Lalu berkata pelan.

“Sekarang hampir tidak ada penjualan.”

Saya menelan ludah.

“Beberapa sales resign.”

Manager menatap saya lama.

“Saya tahu.”

Dia membuka sebuah file di laptop.

Lalu memutar layar ke arah saya.

Itu foto.

Foto yang sangat saya kenal.

Foto parkiran dealer sebelah.

Budi berdiri di tengah.

Di belakangnya mobil-mobil baru dengan pita merah.

Manager menunjuk layar itu.

“Kamu tahu ini?”

Saya mengangguk pelan.

Manager berkata lagi.

“Setengah dari konsumen di foto ini dulu prospek dealer kita.”

Dada saya terasa berat.

Manager bersandar di kursi.

“Budi sekarang salah satu sales paling laku di sana.”

Ruangan itu sunyi.

Beberapa detik kemudian manager berkata pelan.

“Lucunya… banyak konsumen bilang mereka pindah karena satu hal.”

Saya menatapnya.

Manager menghela napas.

“Mereka bilang… di sana tidak ada permainan.”

Kalimat itu jatuh seperti batu.

Saya tidak menjawab.

Tidak bisa menjawab.

Malam itu saya pulang sangat lambat.

Rumah sudah gelap.

Lampu teras menyala redup.

Saya duduk di kursi ruang tamu.

Sepatu masih di kaki.

HP di tangan.

Saya membuka Instagram lagi.

Akun Budi muncul di layar.

Ada postingan baru.

Foto showroom dealer barunya.

Di foto itu Budi berdiri bersama beberapa sales lain.

Mereka tertawa.

Di belakang mereka ada tulisan besar di dinding showroom.

Tulisan itu sederhana.

Tapi membuat dada saya terasa semakin berat.

Tulisan itu berbunyi:

“JUJUR ITU LEBIH CEPAT.”

Saya menatap layar lama.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi…

saya tidak merasa marah pada Budi.

Saya hanya merasa…

sangat lelah.

Dan keesokan paginya…

saya menerima satu telepon yang membuat saya sadar…

saya mungkin akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar daripada tim sales saya.

Telepon itu…

dari manager pusat.

PART 5

Telepon itu datang jam 08.15 pagi.

Saya baru saja parkir di depan dealer.

Mesin mobil masih menyala.

HP di dashboard bergetar.

Nama yang muncul di layar membuat perut saya terasa kosong.

Manager Pusat.

Orang yang jarang sekali menelepon langsung.

Biasanya semua lewat manager cabang.

Saya menarik napas.

Lalu menjawab.

“Selamat pagi, Pak.”

Suara di ujung sana tenang.

“Pagi.”

Beberapa detik hening.

Lalu dia langsung bicara.

“Kamu lagi di dealer?”

“Iya, Pak.”

“Ada waktu sebentar?”

Nada suaranya biasa saja.

Tapi jantung saya mulai berdetak lebih cepat.

“Ada, Pak.”

“Bagus.”

Dia berhenti sebentar.

Lalu berkata pelan.

“Saya lagi di dealer sebelah.”

Saya langsung tegak di kursi.

Dealer sebelah.

Tempat Budi bekerja sekarang.

Saya tidak langsung menjawab.

“Datang sebentar ke sini.”

Klik.

Telepon langsung ditutup.

Lima belas menit kemudian saya sudah berdiri di depan showroom dealer itu.

Bangunannya hampir sama dengan dealer kami.

Kaca besar.

Mobil-mobil baru berjejer.

Bedanya cuma satu.

Tempat ini ramai.

Ada dua keluarga sedang melihat mobil.

Seorang sales sedang menjelaskan sesuatu sambil membuka pintu mobil.

Saya melangkah masuk.

AC dingin langsung menyambut.

Suara obrolan terdengar dari beberapa sudut ruangan.

Dan di tengah showroom…

saya melihat seseorang yang sangat saya kenal.

Budi.

Dia sedang berdiri bersama seorang konsumen.

Menjelaskan sesuatu sambil tersenyum.

Ketika matanya melihat saya…

dia berhenti bicara sebentar.

Wajahnya sedikit kaget.

Lalu dia menunduk sopan ke konsumennya.

“Sebentar ya, Pak.”

Dia berjalan mendekati saya.

“Pak.”

Saya mengangguk pelan.

“Manager pusat di mana?”

Budi menunjuk ke arah ruang kaca di ujung showroom.

“Di sana.”

Saya berjalan ke arah itu.

Pintu kaca terbuka.

Manager pusat duduk di kursi.

Di depannya ada dua cangkir kopi.

Dia mengangkat tangan.

“Duduk.”

Saya duduk.

Ruangan itu sunyi beberapa detik.

Manager pusat menatap ke arah showroom melalui kaca.

Di luar terlihat Budi kembali menjelaskan mobil ke konsumennya.

Manager pusat menunjuk ke arah itu.

“Itu Budi?”

Saya mengangguk.

“Iya, Pak.”

Dia mengangguk pelan.

“Saya sudah dengar banyak cerita tentang dia.”

Saya tidak menjawab.

Manager pusat lalu menoleh ke arah saya.

“Kamu tahu kenapa saya panggil kamu ke sini?”

Saya menggeleng.

Dia tersenyum tipis.

“Saya ingin kamu melihat sesuatu.”

Dia menunjuk ke luar ruangan.

Seorang keluarga baru saja menerima kunci mobil dari Budi.

Anak kecil di keluarga itu memegang balon merah.

Orang tuanya tersenyum lebar.

Budi menyerahkan kunci mobil sambil tertawa.

Manager pusat berkata pelan.

“Ini mobil ketiga yang dia jual hari ini.”

Saya diam.

Manager pusat melanjutkan.

“Kemarin dia jual empat.”

Dia berhenti sebentar.

Lalu menatap saya.

“Dan hampir semua konsumennya… dulunya pernah datang ke dealer kamu.”

Kalimat itu terasa berat.

Saya tidak bisa menyangkal.

Manager pusat bersandar di kursi.

“Awalnya saya pikir ini cuma soal persaingan dealer.”

Dia menghela napas.

“Tapi setelah saya tanya beberapa konsumen…”

Dia berhenti.

Menatap saya langsung.

“Masalahnya ternyata bukan di harga.”

Saya menelan ludah.

“Lalu apa, Pak?”

Jawabannya pendek.

“Kepercayaan.”

Ruangan itu sunyi.

Manager pusat berdiri.

Berjalan ke arah kaca.

Melihat Budi di showroom.

Beberapa detik kemudian dia berkata pelan.

“Kamu tahu yang menarik?”

Saya menggeleng.

Manager pusat tersenyum tipis.

“Budi tidak pernah cerita buruk tentang kamu.”

Saya mengangkat kepala.

“Tidak pernah.”

Dia menoleh ke arah saya.

“Semua konsumen yang saya tanya bilang… mereka sendiri yang cerita pengalaman mereka.”

Dada saya terasa berat.

Manager pusat kembali duduk.

Lalu berkata sesuatu yang tidak saya duga.

“Dealer kamu masih bisa diselamatkan.”

Saya menatapnya.

“Bagaimana caranya, Pak?”

Dia menunjuk ke arah showroom.

Ke arah Budi.

“Belajar dari orang yang dulu kamu pimpin.”

Saya terdiam.

Manager pusat melanjutkan.

“Saya sudah bicara dengan pemilik dealer ini.”

Dia berhenti sebentar.

“Dan juga dengan Budi.”

Jantung saya berdetak lebih cepat.

Manager pusat berkata pelan.

“Mereka bersedia membantu.”

Saya mengerutkan kening.

“Membantu bagaimana?”

Dia menjawab tenang.

“Budi bersedia datang ke dealer kamu… untuk melatih tim baru.”

Saya menatapnya lama.

Sulit dipercaya.

Orang yang dulu saya perlakukan seperti itu…

sekarang justru diminta membantu saya.

Manager pusat menambahkan satu kalimat lagi.

“Kalau kamu mau berubah.”

Sepuluh menit kemudian saya keluar dari ruang kaca itu.

Showroom masih ramai.

Budi baru saja selesai berbicara dengan konsumennya.

Dia menoleh ketika melihat saya berjalan ke arahnya.

Kami berdiri berhadapan.

Beberapa detik tidak ada yang bicara.

Akhirnya saya berkata pelan.

“Budi.”

“Iya, Pak.”

Saya menelan ludah.

Kalimat ini terasa jauh lebih berat daripada semua briefing yang pernah saya lakukan.

“Saya… butuh bantuan kamu.”

Budi tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatap saya.

Beberapa detik kemudian dia berkata pelan.

“Saya bantu, Pak.”

Jawaban itu terlalu cepat.

Terlalu tulus.

Dan justru itu yang membuat dada saya terasa semakin sesak.

Tapi saya belum tahu satu hal.

Keputusan itu…

akan membawa sesuatu yang sama sekali tidak saya bayangkan.

Sesuatu yang akan mengubah dealer saya… dan diri saya… untuk selamanya.

PART 6

Tiga hari kemudian.

Dealer saya terasa seperti tempat baru.

Beberapa meja sales sudah terisi lagi.

Ada wajah-wajah baru.

Anak-anak muda.

Sebagian masih canggung memakai seragam.

Sebagian masih terlihat gugup memegang brosur mobil.

Saya berdiri di dekat pintu showroom.

Jam menunjukkan pukul 09.05.

Pintu kaca terbuka.

Budi masuk.

Dia masih memakai seragam dealer tempatnya bekerja sekarang.

Langkahnya santai.

Beberapa sales baru langsung berdiri.

Saya berjalan mendekatinya.

“Terima kasih sudah datang.”

Budi tersenyum kecil.

“Iya, Pak.”

Kami berdiri beberapa detik di tengah showroom.

Mobil-mobil baru masih berjejer.

Lampu putih memantul di kap mobil.

Suasana terasa sedikit tegang.

Saya menoleh ke arah tim baru.

“Teman-teman… ini Budi.”

Beberapa dari mereka langsung mengenali namanya.

Ada yang berbisik pelan.

“Yang jualannya paling banyak itu ya?”

Budi hanya tersenyum.

Dia tidak terlihat seperti orang yang sedang datang untuk mengajari siapa pun.

Dia terlihat seperti sales biasa.

Briefing dimulai.

Semua duduk di kursi plastik.

Budi berdiri di depan.

Tidak ada slide.

Tidak ada presentasi.

Dia hanya memegang satu brosur mobil.

“Kalau konsumen datang,” katanya.

“Hal pertama yang harus kalian lakukan bukan jual mobil.”

Beberapa sales saling melihat.

Salah satu dari mereka bertanya.

“Terus apa, Mas?”

Budi menjawab singkat.

“Dengar.”

Ruangan itu sunyi.

Budi melanjutkan.

“Kadang konsumen cuma ingin didengar.”

Dia menunjuk ke arah mobil di showroom.

“Mobil itu bisa dijelaskan siapa saja.”

Lalu dia menunjuk ke arah kursi tamu.

“Tapi orang yang membuat konsumen merasa nyaman… itu yang akan mereka ingat.”

Semua sales mendengarkan.

Tidak ada yang membuka HP.

Tidak ada yang bercanda.

Budi melanjutkan.

“Dan satu lagi.”

Dia berhenti sebentar.

“Kalau unit ada… bilang ada.”

Saya berdiri di belakang ruangan.

Kalimat itu terdengar sangat sederhana.

Tapi di dada saya terasa berat.

Karena saya tahu…

berapa banyak masalah yang dulu saya buat hanya karena satu kalimat itu tidak pernah saya lakukan.

Hari pertama hanya ada satu konsumen datang.

Seorang bapak.

Usianya sekitar lima puluhan.

Dia datang bersama istrinya.

Biasanya saya akan menyuruh sales langsung menawarkan mobil.

Hari itu saya hanya berdiri di belakang.

Melihat.

Salah satu sales baru mendekat.

“Selamat siang, Pak.”

Dia terlihat gugup.

Budi berdiri beberapa meter di belakangnya.

Tidak ikut bicara.

Hanya memperhatikan.

Sales itu bertanya pelan.

“Bapak lagi cari mobil buat apa?”

Pria itu menjawab.

“Buat anak saya kerja.”

Sales itu mengangguk.

“Anaknya kerja di mana, Pak?”

Percakapan mereka mengalir pelan.

Tidak terburu-buru.

Tidak langsung bicara harga.

Tidak langsung bicara promo.

Saya melihat sesuatu yang sudah lama tidak saya lihat di dealer ini.

Konsumen yang duduk santai.

Tertawa kecil.

Bercerita.

Satu jam kemudian…

SPK pertama bulan itu ditandatangani.

Sales baru itu hampir melompat kegirangan.

Budi hanya menepuk bahunya.

“Bagus.”

Minggu demi minggu berlalu.

Dealer mulai ramai lagi.

Prospek mulai datang.

Telepon mulai sering berbunyi.

Target perlahan naik.

Saya juga berubah.

Saya tidak lagi memegang semua keputusan sendirian.

Stok unit sekarang terbuka untuk semua sales.

Diskon dijelaskan apa adanya.

Tidak ada lagi “uang cari unit”.

Awalnya terasa aneh.

Pendapatan “kopi” saya hilang.

Tapi sesuatu yang lain datang menggantikannya.

Tim yang mulai percaya lagi.

Suatu sore.

Showroom sedang ramai.

Dua keluarga sedang melihat mobil.

Seorang anak kecil berlari-lari di dekat kursi tamu.

Saya berdiri di dekat pintu.

Budi sedang berbicara dengan salah satu sales baru.

Tiba-tiba seorang wanita masuk.

Dia berhenti di tengah showroom.

Melihat ke sekeliling.

Lalu berjalan ke arah meja saya.

“Pak.”

Saya menatapnya.

Wajahnya terasa familiar.

“Dulu saya pernah ke sini,” katanya.

Saya mengangguk pelan.

Dia tersenyum.

“Waktu itu hampir beli mobil di sini.”

Jantung saya berdetak sedikit lebih cepat.

“Lalu kenapa tidak jadi, Bu?”

Dia tertawa kecil.

“Karena katanya mobilnya tidak ada.”

Dia menunjuk ke arah mobil yang sekarang dipajang di showroom.

“Padahal ternyata ada.”

Beberapa detik saya tidak tahu harus menjawab apa.

Wanita itu melanjutkan.

“Tapi kemarin teman saya bilang… sekarang di sini sudah beda.”

Dia melihat ke arah Budi.

“Katanya sekarang lebih jujur.”

Saya menarik napas.

Lalu menjawab pelan.

“Iya, Bu.”

Wanita itu tersenyum.

“Kalau begitu… saya mau lihat mobilnya.”

Malam itu showroom akhirnya tutup.

Lampu dimatikan satu per satu.

Kursi-kursi sudah kosong.

Hanya saya dan Budi yang masih berdiri di dalam ruangan.

Suasana sunyi.

Saya menatap mobil-mobil di showroom.

Lalu berkata pelan.

“Bud.”

“Iya, Pak.”

Saya menatapnya.

“Dulu… kamu sudah tahu semuanya ya?”

Budi tersenyum kecil.

“Iya, Pak.”

Saya mengangguk pelan.

Tidak ada alasan lagi untuk menyangkal.

Saya menghela napas.

“Kenapa kamu masih mau bantu saya?”

Budi menjawab sederhana.

“Karena dulu Bapak juga pernah bantu saya.”

Saya terdiam.

Dia melanjutkan.

“Waktu saya pertama masuk kerja… Bapak yang ngajarin saya cara bicara ke konsumen.”

Memori lama muncul di kepala saya.

Hari pertama Budi masuk dealer.

Masih gugup.

Masih kaku.

Saya yang mengajarinya berdiri di depan mobil.

Saya yang mengajarinya menyapa konsumen.

Saya tersenyum tipis.

“Berarti sekarang kamu yang ngajarin saya.”

Budi tertawa kecil.

“Iya, Pak.”

Kami berdiri beberapa detik di tengah showroom yang sudah gelap.

Di luar terdengar suara motor lewat.

Angin malam masuk dari pintu kaca yang sedikit terbuka.

Untuk pertama kalinya setelah semua kejadian ini…

saya merasa lega.

Dulu saya punya kursi supervisor.

Tapi tidak punya tim yang percaya.

Sekarang…

saya masih punya kursi yang sama.

Bedanya cuma satu.

Tim saya kembali percaya.

Dan anehnya…

itu terasa jauh lebih berharga daripada semua “uang kopi” yang dulu pernah saya ambil.

Dunia kerja kadang tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Tapi satu hal yang saya pelajari dari semua ini:

kepercayaan jauh lebih mahal daripada uang cepat.

Kalau kamu jadi Budi…

apakah kamu akan membantu orang yang dulu pernah merugikan kamu?

Tulis jawabanmu di kolom komentar.